
Makan malam Emre dengan Adara berjalan lancar. Baru saja pelayan mengantarkan
Almond Strawberry Cheese Cake sebagai makanan penutup untuk mereka.
"Selamat menikmati, Tuan, Nona." ujar pelayan itu.
"Terima kasih," sahut Emre dan diangguki dengan sopan oleh pelayan, kemudian berlalu dari sana.
"Emre terima kasih untuk makan malam ini. Aku sangat terkesan." ucap Adara, menatap teman lamanya itu. Memamerkan senyumnya yang ramah nan manis. Emre memeleh dibuatnya.
"Ah, hanya makan malam biasa kok." Balas Emre, merasakan jantungnya sedikit berdegub dan sialnya telinganya yang tajam mendengarnya jelas. Emre berdehem, mencoba menetralkan degup jantungnya itu.
Adara memulai mencicipi dan merasakan bagaimana manisnya makanan penutup mereka.
"Mmm, ini sangat lezat" puji Adara di sela-sela kunyahanya.
"Sungguh? Kalau begitu habiskan." Kata Emre, menyerahkan miliknya juga.
Adara terkekeh, " Emre, apa kau pikir aku kelaparan?" tanya Adara melebarkan mata saat Emre memindahkan cake miliknya pada piring Adara.
Emre tertawa kecil, "bukan begitu, tapi saat kau makan kau terlihat sangat manis,"
"What?" Adara meletakkan sendoknya. "Alasan macam apa itu? Dasar kau ini, kita seumuran jangan bertingkah seperti seorang ayah." ujar Adara, kembali tersenyum manis.
"Yang benar saja," Emre terkekeh, tatapanya memindai Adara saat ini, "Aku tidak menyangka kalau gadis di depanku ini akan berubah menjadi sekuntum bunga yang indah," puji Emre.
"Apa maksudmu? Aku bukan gadis lagi, Emre." Pipi Adara bersemu sekaligus berdecih menatap temannya itu.
Janda muda! Jangan lupakan itu.
"Kau bukan lagi pemanjat pembatas sekolah gara-gara terlambat." Emre tertawa kecil saat mengatakan itu.
"Hei! Jangan ingatkan aku tentang itu." Adara membeliak sekaligus merasa malu karena diingatkan kembali tingkah masa remajanya. "Tapi, Emre ... mengingat masa sekolah dulu kau cukup banyak membantu." ujar Adara mengenang masa remaja mereka.
Saat Adara lupa membawa buku sekolahnya, pria ini akan memberikan miliknya dan bersedia di hukum berdiri di koridor sekolah.
Pria ini jugalah yang selalu membantu Adara mengerjakan tugas sekolah. Bagi Emre Adara cinta pertamanya.
"Terima kasih, Emre." ujar Adara menatap pria di hadapannya itu. Emre mengangguk.
Aku tidak menyangka rasa tertarikku padamu menjadi dua kali lipat. Emre membatin.
"Itulah gunanya teman," gumam Emre, menatap Adara dengan netranya yang indah. Adara mengangguk setuju atas pernyataan Emre.
______________________________________________
Setelah menghabiskan makan malam yang canggung dengan Hana, Calista duduk di ruang tamu menunggu Rion pulang dari tempat kerjanya.
Calista kembali mengingat bagaimana makan malam menegangkan itu terjadi. Tidak ada suara antara mertua menantu itu selain detingan sendok beradu pada piring.
Sembari menguyah makanannya, Hana melihat Calista yang duduk di hadapannya itu. Seketika mengingatkan akan Adara. Tempat yang di dudukin Adara kini beralih pada Calista.
Entah seperti apa perempuan itu menjalani kehidupannya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Mudah-mudahan.
Hana meletakkan sendoknya setelah menghabiskan makanan dalam piringnya.
"Makanlah yang banyak, kau harus sehat bersama bayi dalam perutmu," pada akhirnya Hana lah yang memulai obrolan.
"Terima kasih, Ibu mertua." Jawab Calista menatap mertuanya yang memberinya sedikit senyuman lalu mengalihkan tatapannya dari Calista.
Rasa bosan memenuhi dirinya, ia tidak tahu kenapa Rion selalu menghabiskan banyak waktu di luar sana ketimbang di rumah bersamanya.
"Aku harus menunggunya, dan membuatnya terkesan" gumam Adara sembari mengelus perutnya yang besar dengan satu tangan sementara tangan yang satu memengan ponselnya.
Calista memainkan sesekali ponselnya sembari menahan rasa kantuk yang menyerbunya. Tapi pada akhirnya wanita itu tertidur juga di atas sofa.
Suara deru mobil terdengar dari luar, sudah di penghujung malam Rion baru kembali. Calista mengucek matanya, lalu melihat waktu di ponselnya. Jam 01.00 dini hari, jadi darimana saja pria ini.
Lulu yang setengah sadar berjalan hendak membukakan pintu sontak kaget melihat Calista bangun dari duduknya dan memberi isyarat lewat tangannya supaya pelayan itu kembali ke kamarnya.
"Biar aku saja," kata Calista bangun dari sofa seketika Lulu menyungingkan senyum lebih tepatnya senyum mengejek seolah tidak percaya apa yang ia lihat.
Nona Adara saja tidak pernah melakukan itu, Tuan akan marah kalau melihat istrinya terbangun membukakan pintu untuknya. Apa yang di harapkan Nona baru dari pria yang sudah menjual hatinya utuh untuk mantan istrinya itu?
"Kau sudah pulang?" Tanya Calista begitu melihat sosok Rion yang tengah berdiri di depan pintu. Penampilan pria itu berantakan dan bahkan tubuhnya mengeluarkan bau tak sedap. Perpaduan alkohol dengan nikotin.
Rion mengabaikan Calista dan langsung masuk ke dalam, malam ini wajahnya tampak suram.
"Rion ... setidaknya ucapkan sepatah kata untukku, aku sudah menunggumu." Suara nan lembut Calista yang di atur manis membuat Rion tersenyum kecut. Ia terus melangkah menaiki anak tangga ke kamarnya.
Lagi? Dia mengabaikan aku dan kenapa Rion selalu masuk ke kamar itu?
Calista mendengus menatap Rion memasuki kamar yang di larang keras untuk ia masuki. Kamar utama yang ada di rumah itu, kamar Rion dengan mantan istrinya.
Calista selalu penasaran ingin masuk kesana tapi kuncinya hanya Rion yang punya. Wanita itu sangat iri, begitu mengetahui hal itu dari Lulu di hari kedua ia berada di rumah itu.
"Bukankah itu kamar utama di rumah ini, Lulu?" Tanya Calista kala itu, saat melihat perbedaan kamarnya dengan kamar besar itu.
"Iya nona, kamar itu bekas kamar Nona Adara." Seperti mendapat tamparan keras mengenai pipinya saat mendengar itu dari Lulu. Bagaimana bisa kamar itu di biarkan kosong meski penghuninya tak lagi memiliki hak untuk itu. Calista berdecak, ia ingin membuang bayang -bayang Adara dari rumah itu.
Aku ratunya! Aku pemilik rumah ini! Tunggu sampai aku punya kekuatan untuk membuang kenangan wanita itu dari rumah ini.
Calista menatap dengan tatapan tajam ke arah pintu kamar dimana Rion kini berada.
Rion kesal, ia melempar ponselnya ke atas ranjang. Dalam tiga bulan ini, Rion menarik Mete managernya menjadi asisten pribadinya dan khusus di jadikan mengikuti pergerakan Adara.
Malam ini ia sangat jengkel begitu mendapatkan info lewat photo yang diambil Mete. Adara terlihat cantik menemui seorang pria dan makan malam di restoran mewah dan sialnya pria itu Emre dokter yang pernah ia tawari posisi bagus di rumah sakit tempatnya bekerja jika setuju dengan negoisasi yang ia buat saat itu.
Sejak kapan mereka saling kenal?
Rion tampak buruk, membentuk kepalan- kepalan di tangan dengan tatapan tajam.
Dara, apa kau sudah melupakan aku? tanyanya menatap photo yang menghisi dinding kamar mereka. Photo yang di cetak berukuran besar dan di tempel pada dinding kamar itu.
Bersambung ...
photo diambil dari gugel, Tampan kan Rion🥰 Adara juga cantik😍.
Inilah Rionku dan Adaraku. Emre dan Calista menyusul.
Catatan kecil : Boleh dong minta like
: Boleh dong minta poinnya🤗
: Boleh dong minta klik ❤️
: Boleh dong minta klik Rate 5
Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author