
Hana mendekat bergumam tepat di wajah Calista. "Wanita licik, kau mau ambil jantung keluarga ini? Jangan berharap, lagipula bagaimana saya tahu kalau bayi dalam rahimmu itu darah putraku?"
Calista menelan salivanya, menarik sedikit wajahnya menjauh dari Hana.
"Kita bisa lakukan cek darah atau tes DNA untuk mengetahuinya," ucap Calista tanpa ragu. Hana menghembuskan napas panjang.
"Mama ...," Panggil Adara dari pintu, membuat suasana mencekam. Hana mendelik pada Calista memberi isyarat agar wanita itu pergi dari tempat itu.
Calista bergeming, bahkan mengabaikan mata tajam Hana. "Pergilah, temui aku di kantor Rion." Gumamnya, pura-pura tersenyum sembari menepuk bahu Calista.
"Ada apa, Dara?" Sahut Hana menghampiri Adara yang masih berdiri di pintu.
"Siapa?" Tanya Adara mengerutkan kening, menatap Calista yang juga menatapnya saat ini.
"Oh, entahlah orang salah alamat." Adara mengangguk, memperhatikan Calista keluar dari gerbang rumahnya.
"Vocer spa ada untuk dua orang, mama mau pergi?" Adara menunjukkan vocer kecantikan pada mertuanya itu.
"Oih ..., Mama mau tapi jangan hari ini, masih lama kan masa berlakunya? Soalnya mama mau keluar ada urusan mendadak." ujar Hana, ia harus menemui Calista secepatnya.
"Tiga hari, mama mau kemana?" Adara mengikuti langkah Hana masuk ke dalam rumah.
"Ketemu teman lama, aku sudah janji dan tidak enak kalau dibatalin."
"Oh, ya udah besok juga tidak apa-apa." Ibu mertuanya mengangguk mengelus lengan Adara.
______________________________________________
Rion Emirat menghentikan tangannya saat hendak menutup pintu ruangannya. Staf kantornya sudah pulang hanya menyisahkan beberapa orang saja. Seperti petugas kebersihan, security juga Anatha sekretaris Rion.
"Rion," sapa Calista menghampiri pria jangkung yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya.
Rion menarik napas panjang, "Anatha kau bisa pulang," kata Rion pada sekretarisnya yang masih terlihat sibuk merapikan meja kerja Rion. Anatha mengangguk begitu menyadari kehadiran Calista.
Sejenak hening menunggu Anatha meninggalkan ruang itu.
"Lain kali jangan injakkan kakimu di tempat ini!" Rion kembali ke mejanya, Calista mendengkus melihat betapa dinginnya pria ini.
"Mungkin kau akan terkejut siapa yang memintaku ke sini, Rion." Calista tersenyum menatap Rion yang mengerutkan keningnya dalam-dalam padanya.
"Apa maksudmu?"
Tap-tap-tap.
Suara hentakan sepatu menarik perhatian Rion dan segera menoleh ke arah pintu yang masih terbuka. Hana, ibunya. Membuatnya tercengang dengan mata melebar.
"Mama ...."
"Si kurang ajar ini!" Hana menggeram, mengigit giginya sendiri menatap Rion yang sudah pucat.
Hana menempatkan dirinya di sofa, menatap Calista yang masih berdiri di dekat pintu.
Rion mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Melirik Calista dengan sinis, ia tidak menyangka wanita itu begitu nekat dan bodohnya dirinya mengabaikan peringatan Calista saat itu.
Calista menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Suasana terasa mencekam, tak satupun diantara mereka yang ingin bicara. Hana menantikan suara Rion. Tapi pria itu hanya terdiam layaknya seorang pengecut.
"Hubungi Dara, katakan kau lembur." ucap Hana memecah keheningan. Rion mengangguk, mengambil ponselnya lalu menekan panggil pada nomer istrinya itu.
"Sayang?" sapa dari sambungan telpon.
"Honey, aku akan terlambat pulang. Makan dan tidurlah duluan. Jangan menungguku."
"Apa ada masalah?"
"Tidak ada, hanya saja ada kerjaan yang harus diselesaikan malam ini." Rion memejamkan matanya.
"Umm baiklah, jangan lupa makan ya."
"Baiklah, aku matiin ya." Rion mematikan sambungan telponnya.
"Duduklah kau bisa keguguran nanti." Calista dan juga Rion saling tatap mendengar ucapan Hana.
Calista menghampiri di mana Hana duduk dan mengambil posisi duduk di sofa panjang.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu, Rion?" tanya Hana, Rion menarik napasnya panjang bersamaan menarik rambutnya kebelakang, menghela napas berat melihat pada dua wanita yang ada di ruangan itu.
"Maafkan aku, Ma" katanya dengan tatapan merasa bersalah.
"Eih anak ini!" Geram Hana melempar tatapan membunuh pada putra malangnya itu.
"Sudah berapa bulan kandunganmu?" Calista sedikit terkejut, lalu matanya menoleh pada Rion yang seolah tidak peduli padanya.
"Tiga bulan," gumam Calista.
Hana menarik napas. Melihat Rion tak membantah membuatnya tidak punya pilihan selain menerimanya tapi dengan syarat yang seperti yang dikatakan Calista sebelumnya.
DNA!
"Datanglah ke rumah sakit MF kita akan tes DNA untuk memastikanya." ujar Hana.
"Lalu bagaimana kalau hasilnya positif?" Calista butuh kejelasan.
"Akan aku pikirkan jalan keluarnya."
"Mama?" Rion yang bungkam tiba-tiba saja protes.
"Apa?"
"Lalu bagaimana dengan Dara?" Tanya Rion membuat Hana bangun dari duduknya dan menghampiri Rion, memukul pundak putranya itu berulang kali dengan telapak tangannya.
"Dara? Kau baru memikirkan istrimu sekarang? Kau berani memacari wanita itu hingga hamil seharusnya saat kau bersenang-senang denganya kau harus ingat kau punya istri, Rion sialan!" Hana terus memukul hingga merasakan telapak tangannya memanas.
"Hentikan Mama!" Teriak Rion, menatap Calista yang tiba-tiba menunduk.
"Apa! Apa! Hah, kau harus —"
"Mama!" Rion berdiri, pundak pria itu terasa panas. "Aku tidak pernah berkencan denganya. Ini hanya kesalahan. Rion melakukannya cuma sekali." ujar Rion, Hana mengepal tangannya menoleh pada Calista yang mengaku sebagai pacar Rion.
Calista memerah, tak sanggup membalas tatapan Hana yang menatapnya penuh kebencian.
"Baiklah ...tes DNA jalan yang terbaik," Hana berjalan ke sofa, mengambil tasnya dan hendak keluar. "Pulanglah! Istrimu menunggu di rumah." kata Hana sebelum meninggalkan dua orang itu, saling diam di posisi masing-masing dengan tatapan bersitegang.
______________________________________________
Rion membelokkan mobilnya ke kafe Adara yang di kelola Jie Ranita sahabat Adara. Ia enggan pulang dengan hati berantakan. Kepalanya hampir pecah terbelah dua memikirkan bagaimana ia bersikap seolah -olah tidak terjadi apa-apa. Membohongi istrinya dengan alasan-alasan yang ia buat.
"Jie," sapa Rion dengan tampilan berantakan. Dasi yang melingkar rapi di ikat Adara saat berangkat kerja kini melonggar, berantakan. Rion seperti pria dalam proses gila.
Jie yang melihatnya berpikir apakah Adara sudah tahu hubungan satu malam Rion?
"Kau kesini?" Jie mengeluarkan gelas cristal dan mengisi batu es kemudian menuangkan minuman bir dan menyodorkannya pada Rion yang kini duduk di meja pantry.
"Mmm," Rion menegaknya hingga ludes dan mendorong gelasnya kembali pada Jie.
"Apa yang terjadi?" Jie mengisi kembali gelas itu, menatap Rion dengan prihatin.
"Wanita itu, mendatangi mama."
"Apa?" Jie terlonjak mendengarnya, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah Jie. "Lalu?" tanya Jie mengecilkan suaranya.
"Entahlah, mama minta tes DNA." Rion menghabiskan minumannya. "Aku harus bagaimana, Jie?"
"Kau harus mengatakannya pada Dara, jangan sampai istrimu mengetahuinya dari wanita itu." Jie mengingatkan. "Akan sangat sakit jika Adara mengetahui hal itu dari Calista." Tambahnya.
"Aku mencintainya, demi Tuhan aku tidak ingin melihatnya terluka, Jie."
Jie menggeleng melihat Rion kehilangan semangat hidup itu jelas terlihat dari wajah dan sorot matanya yang kosong.
"Kau sangat frustasi, Ck." gumam Jie.
Bersambung ...