
Adara melempar asal ponselnya di atas kasur, ia keluar setelah melirik jam dinding dalam kamar itu. Jam delapan pagi, ia bahkan belum bertemu sapa dengan Uncle nya.
Adara keluar kamar dan menuruni anak tangga, menyapa Saida dan Brian.
"Pagi Bi, pagi Uncle ...," sapa Adara, Saida dan Brian tengah bersiap berangkat kerja.
"Hei Adara ..., bagaimana kabarmu? Maaf seharusnya uncle pulang lebih awal." Brian menyesal karena tidak hadir menyambut kedatangan ponakannya itu. Brian mengelus rambut panjang Adara lembut.
"Tidak masalah, Uncle. Oh iya, Uncle makin tampan saja." Puji Adara seraya mengandeng tangan Saida menuju pintu. Brian terkekeh, melihat penampilannya.
"Terima kasih, ini semua berkat istriku tercinta. Dia selalu tahu menjaga penampilanku."
Seketika Adara teringat Rion, pria itu selalu berucap hal yang sama jika ada yang memuji penampilannya. Adara tersenyum, menempelkan bahunya pada Saida.
"Maafkan kami sayang, tapi sepertinya kau akan kesepian di rumah." Saida berujar, seraya mengenakan sepatunya di depan pintu. Mereka hendak berangkat kerja.
"Umm, jangan pikirkan bibi aku tidak apa-apa." Adara mencium pipi Saida dengan manja.
"Sarapan sudah bibi siapkan di meja, makanlah dan kau bisa berkeliling di kompleks ini jika merasa bosan." Adara mengangguk.
"Kau sudah pikirkan tentang kuliahmu?" Adara membuang napas beratnya, menggeleng, lalu keduanya terkekeh. Saida tahu kalau Adara tidak berniat kuliah.
"Tunggu aku sampai terbiasa di negaramu ini, Bibi." ujarnya
"Baiklah, kami pergi." Adara melambaikan tangan kearah Brian yang sudah duduk di bangku kemudi menunggu istrinya.
Melihat Bibi aku jadi kangen Papah.
Seketika Adara merindukan mendiang Papahnya yang sudah lama tiada. Adara menutup pintu dan menghampiri meja makan.
_____________________________________________
Emre, perlahan membuka kelopak matanya. Ia memengangi kepalanya yang terasa berat. Berusaha sadar sepenuhnya, menyadari ia berada di tempat asing Emre spontan berdiri dan nyaris terjatuh lagi.
Apa ini? Aku tidak pulang semalam? Emre mencoba mengingat apa yang terjadi hingga berakhir diruangan itu.
Emre sama sekali tidak mengingat apapun selain minum dan setelahnya .... ia lupa.
Emre membuka pintu dan melihat beberapa pekerja Jie sedang membersihkan meja dan bar. Mereka menyapa, Emre hanya mengangguk masih berusaha mengingat apa yang terjadi hingga tidur di ruang istirahat kafe itu.
"Apa Nona Jie sudah datang?" Tanya Emre. Ia harus berterima kasih pada perempuan itu karena sudah mengizinkannya bermalam di kafe itu.
"Belum, Tuan. Ibu Jie biasanya datang jam sepuluh pagi." jawab salah satu dari mereka. Emre mengangguk.
"Baiklah terima kasih, saya akan kembali nanti." Emre segera keluar dari sana menuju mobilnya.
Jie Ranita, duduk terpaku di meja makan seraya memandangi sarapannya. Bayangan Emre menciumnya masih terngiang-ngiang dalam pikirannya. Perempuan itu meringis, merutuki dirinya kenapa membalas ciuman itu dan sialnya dia harus mendengar pria itu mendesahkan nama Adara.
Yah ... aku yang bodoh ... batin Jie mendorong sarapannya menjauh darinya. Seketika selera makannya hilang, belum lagi ia harus memikirkan bagaimana menghindari Emre jika bertemu nanti. Kejadian semalam memang berakhir pada ciuman saja, Jie menolak ketika Pria itu mengatakan cintanya pada Adara saat menciumnya.
Aku mau mati saja .... Jie mengecam dirinya sendiri.
_____________________________________________
Kediaman Emirat.
"Hari ini aku akan menjemput Adara pulang," Rion memecah keheningan saat sarapan pagi mereka. Calista terlihat santai, tidak ada rasa kaget padanya. Berbeda dengan Hana, wanita itu langsung meletakkan sendoknya dan berdecak kesal ke arah Rion.
"Apa maksudmu? Kau ingin membawanya ke sini? Rion sadarlah istrimu bahkan belum melahirkan." Hana melirik Calista yang tampak tenang.
"Aku tidak akan membawanya kesini, Ma. Adara hari ini kembali dari London. Ia akan tetap tinggal dirumah ibunya sampai tanggal pernikahan kami di tentukan."
"Calista ada apa denganmu? Kau hanya diam saat mendengar suamimu menikah lagi?" Hana kali ini jengkel melihat diamnya Calista. Seolah apa yang di katakan Rion tidak masalah baginya.
Calista menunduk, tersenyum dan perlahan mengangkat kepalanya menatap Hana. " Ibu saja tidak dapat menghentikannya, apalagi saya. Tidak masalah jika Rion menikah dengan Adara. Aku bisa apa." Calista berujar lalu menyungingkan senyum tipis, pasrah.
"Terima kasih Calista," Rion tersenyum, senyuman tulus dari dalam hatinya. Calista membalas senyuman itu dengan manis pula. Hana mendengus, mendorong kursinya kebelakang dan meninggalkan meja makan.
Dalam kamar, Rion mengirim pesan memastikan kalau Adara sudah terbang dari London. Ia menghitung perjalanan yang akan di tempuh Adara memakan waktu kurang lebih enam belas jam.
Rion ingin menyambut dan memanjakan Adara begitu tiba. Rion berencana membooking spa kelas VVIP untuknya, dan restoran mewah untuk makan malam romantis.
Cincin pernikahan Adara yang ditinggalkan sudah ia siapkan untuk melamar kembali Adara. Rion mengeluarkan cincin itu dari dalam laci nakas dan meletakkan di atasnya. Tapi sebelum itu ia harus memastikan Adara tidak membangkang atau mengabaikan perkataanya.
đź“© Kesayangan : Honey, aku rasa kau sudah dalam perjalanan. Aku tunggu di bandara.
"Katakan! apa kau tidak pulang?" Tanya Rion begitu Panggilan terhubung.
"Rion," suara Adara terdengar memelas, menolak kembali.
"Pulang atau tidak!" hardik Rion, suara itu menggema di langit-langit kamarnya.
"Tidak!"
"Jangan salahkan aku, apapun yang terjadi Dara." Rion mematikan ponselnya, menendang bangku meja rias. Rion beranjak ke kamar mandi.
Lidia menerima telpon dari Adara, menanyakan kabar ibunya dan memberi sedikit peringatan supaya tidak keluar rumah lebih tepatnya berkendara.
"Jangan khawatirkan, Mama sayang." Lidia mengangkat gelasnya dan mencium aroma teh hijau kesukaanya.
"Mama please," suara Adara terdengar khawatir. Lidia bahkan bisa merasakan itu, ia tidak pernah mendengar hal semacam itu dari Adara. Lidia meletakkan gelas teh di tangannya, lalu menarik napas perlahan.
"Baiklah, mama akan menurut. Adara apa terjadi sesuatu?" Lidia mendengar Adara menarik napas berat. Terdiam sejanak lalu berujar dengan ragu.
"Tidak ada, semua baik-baik saja." ucap Adara, Lidia tersenyum ia tahu putrinya itu berbohong meski begitu ia tidak mengerti maksud khawatir Adara yang secara tiba-tiba.
_____________________________________________
Rion menyesap sampanye di dalam kamarnya. Ia berharap Minuman anggur putih bergelembung itu bisa mengurangi stres yang melanda hatinya. Seringai iblis muncul di wajahnya. Ia sangat kesal lantaran Adara menolak kembali.
Ia membuang napas berat, tampak memikirkan sesuatu yang akan membuat Adara tercengang karena sudah menantangnya. Dengan sikap elengan ia meletakkan gelas sampanye di atas meja tepat disamping botolnya.
"Baiklah, honey kau benar-benar menggodaku berbuat jahat." katanya, meraih jas di atas sofa yang akan membungkus tubuh sempurnanya.
....
Pria tegap dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya sedang mengendari mobilnya ke suatu tempat. Setelah sampai ia keluar dan menghampiri sebuah mobil sedan yang terparkir di pinggir jalan.
Jendela mobil itu terbuka semuat tangan orang dewasa lalu mengeluarkan aplop tipis bewarna coklat.
Pria di luar mobil menyambut. Ia mengintip sedikit untuk memastikan siapa orang yang memakai jasanya, tapi sepertinya orang di dalam sangatlah berhati-hati bahkan kaca mobilnya sangat gelap hingga tidak bisa melihat tampilan orang itu.
Jendela mobil itu tertutup, pria itu terkekeh dan merasakan getaran pada saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel dan membaca isi pesan.
"Lakukan dengan benar, jangan sampai gagal aku ingin yang terbaik." perintahnya, lalu mobil di hadapannya itu berlalu.
Pria itu menyeringai, berdecih berpikir apa susahnya jika orang itu menyampaikan secara langsung.
Dasar orang munafik, tanganmu saja tidak kotor tapi hatimu lebih busuk daripadaku pekerja kotor ini.
Pria itu meninggalkan tempat itu dan menuju sasarannya. Tidaklah mudah memasuki perumahan elit itu tapi berdasarkan info yang di berikan penyuruhnya ia dapat masuk tanpa perlu di curigai.
Pria berkaca mata dengan tampilan lugu, menekan bel rumah. Matanya yang tajam lewat kaca mata tebal itu mengawasi tempat dan mencari cctv di area rumah. Ternyata aman.
Lidia membukakan pintu, " siapa?" tanya Lidia.
"Saya dari jasa perbaikan internet, anda menghubungi—"
"Oh maaf, anda salah alamat saya tidak menggunakan layanan internet di rumah ini." Sahut Lidia dan hendak menutup pintu tapi tertahan oleh tangan pria itu.
Mendorong memaksa masuk dan dengan sigap menutup mulut Lidia, Lidia mencakar wajah pria itu memberi perlawanan. Pria itu Memukul tengkuk dengan tangan kosong hingga wanita itu terjatuh lemas, pria itu menyeringai menyeret Lidia ke ruang tengah.
"Cuih, kenapa dia menyuruhku mencelakai wanita lemah seperti ini." Pria itu meringis perih pada wajahnya yang tercakar.
Pria itu membungkuk, dan memastikan kalau Lidia benar-benar terintimidasi. Ia memeriksa denyut nadi Lidia dan hasilnya membuatnya terkesiap nyaris melompat mendapati Lidia tidak bernapas.
"Apa ini? dia sungguh tiada," katanya panik, rencananya bukan begitu. Ia hanya menakuti dan membuat wanita itu shock hingga masuk rumah sakit. Pria itu kebingungan lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meletakkan di tempat Lidia tergeletak.
______________________________________________
Adara menjatuhkan gelas kopi di tangannya begitu menerima telpon dari pihak polisi mengenai Lidia. Ia berlutut lemas dan mengabaikan polisi yang sedang berbicara dengannya. Bahkan suaranya seolah tercegat dalam tenggorokan, terlalu kaget menerima kabar duka yang menimpa Lidia. Tubuh Adara berguncang terisak.
"Mama ... tidak mungkin," Isaknya. " Tidak mama, jangan begini. A-aku harus bagaimana mmm? Mama ...."
Bersambung .
photo gugel (mewek aja cantik bangat)