
"Apa bisa begitu? Mengalihkan semua ini untuk seorang bayi ?" Adara mengerutkan kening bingung. Apa yang akan dilakukan bayi itu untuk pundi-pundi Emirat.
Ardan terkekeh ringan, "tentu saja Nyonya Adara.
"Panggil Dara saja," Sela Adara, merasa canggung sama panggilan itu. Ardan mengangguk kecil.
"Saya sangat menghormati, Anda. Anda orang istimewa Klien saya. " Adara tersenyum kecut.
Istimewa apaan?
"Jadi?" Adara ingin mendengar penjelasan Ardan mengenai ahli waris yang ingin dia alihkan pada keluarga Emirat.
"Sebelum bayi itu dewasa, anda bisa jadi walinya."
"Wali bagaimana?"
"Anda bisa mengelolah semua harta bayi itu sampai waktunya tiba."
"Apa kau gila? Kenapa aku repot mengurus harta Emirat. Dia punya orang tua. Akan aku pelajari, kirimkan apa saja hak sebagai wali ke email saya." kata Adara, ia menolak tapi tentu setelah mengetahui untung dan rugi sebagai Wali dari Ahli waris. Adara meletakkan ponselnya di hadapan Ardan. Pria tinggi berjambang itu segera mencatat alamat email Adara dari ponsel itu.
Kau sangat hebat Rion, kau suka membebaniku. Siapa yang memintamu melakukan itu? Bahkan saat aku menjadi istrimu. Aku tidak pernah peduli dengan uangmu.
____________________________________________
Di kediaman Emirat.
"Anak itu harus hidup Calista. Kau harus mengurus putrimu. Kalau tidak kau akan rugi. Rion menjadikan Adara ahli warisnya. Aku yakin Adara menghasut putraku hingga mau memberikan semua hartanya untuknya."
Mendengar itu wajah Calista menggelap, apa untungnya ia menjadi istri Rion. Saat mengetahui Rion terseret ombak ia sudah putus asa. Tapi dalam pikirannya, jika Cinta Rion tidak dapat ia jangkau maka harta Rion akan menjadi obat dari luka hatinya yang terabai. Dengan begitu ia bisa bangga mengangkat kepalanya mengatakan pada dunia kalau dia adalah Nyonya Emirat.
"Aku sudah menyuruh perawat mengurusnya." Calista menahan nada suaranya agar perutnya tidak terasa nyeri setelah operasi itu.
Hana berdecih, memandang Calista remeh.
"Apa kau seorang ibu?" Tanya Hana kesal, "Kau menolak menyusui, merawat bayi itu. Lalu apa gunanya kau, Calista? Kenapa dulu kau meminta putraku bertanggung jawab kalau kau saja tidak ingin merawat bayimu." Hana bersungut-sungut, menatap remeh Calista.
"Untuk apa aku melakukan itu? Sebelum menasihatiku, ibu seharusnya menasihati Rion. Apa dia pernah peduli denganku atau dengan bayi itu? Ibu juga begitu kan? Atau jangan-jangan ibu menerimaku hanya ingin pembuktian kalau putramu itu bukan seorang mandul."
Hana membeliak mendengar ucapan Calista. Ia lupa kalau wanita di hadapannya ini wanita berbahaya yang sudah merenggut hidup orang lain. Hana bergidik, melihat tatapan tajam Calista padanya.
"Kau! Wanita iblis, pantas saja putraku tidak tertarik padamu. Pergi dari rumahku!" ucap Hana penuh penekanan.
Calista terkikik, sebenarnya ia ingin terbahak tapi perutnya masih belum nyaman untuk itu.
"Lupa kalau aku istri Rion, Ibu mertua? Ini rumahku." katanya sinis, "Tidak satu orang pun yang bisa mengusirku dari rumah ini, termasuk Ibu." Calista berdecih, ditatapnya mertuanya itu dengan tatapan remeh seraya menghampiri.
"Aku lupa kalau ibu tidak lagi memiliki siapa-siapa. Jadi bersikap baiklah kalau masih ingin hidup yaman!"
Hana tersentak, saat Calista menyentuh kedua bahu Hana sangat erat seolah menunjukkan kalau dirinya lah yang berkuasa saat ini.
"Maka dari itu ibu, bekerja samalah denganku untuk menghancurkan Adara. Kalau bukan karena wanita itu Rion tidak akan hilang." Hasut Calista, melonggarkan tangannya dari bahu Hana, lalu mengusap lembut lengan Hana seraya tersenyum manis.
Hana menelan saliva, ia gugup bercampur takut melihat Calista yang tampak mengerikan. Calista mendekatkan tubuhnya pada Hana dan berbisik di telinga mertuanya itu.
"Aku ingin menjadi ahli waris tunggal. Tugas ibu hanya satu. Kalau ingin hidup tenang dan bebas dirumah ini, ambil semua yang diberikan Rion pada wanita itu." katanya dengan nada mengancam sekaligus memerintah.
Hana tergugu, kekuatannya menjadi nyonya emirat tidak berlaku lagi. Rupanya pengaruh Rion dalam hidup Hana sangatlah besar. Wanita itu menciut, mengangguk patuh layaknya pesuruh. Calista tersenyum, menepuk lengan Hana lalu terkikik meninggalkan Hana.
"Bukan salahku menjadi orang kejam ibu mertua, kalianlah yang mengubahku begini." ucap Calista sembari menaiki anak tangga pelan-pelan. "Penolakan Rion sebuah penghinaan bagiku, jadi ibulah yang akan menebusnya." tambahnya.
Hana menjatuhkan dirinya duduk ke sofa, ia mengelus dada dan mencoba menarik napas pelan-pelan dan membuangnya kasar.
______________________________________________
Hana berjalan memasuki kafe adara, Ia mengedarkan pandangannya pada ruangan itu. Hana ingat kafe itu hadiah ulang tahun pernikahan dari Rion untuk Adara.
Jie menyambut dengan sopan dan langsung membawa Hana keruangan khusus di kafe itu.
Adara sudah di sana menunggu, duduk santai di sofa dengan gaya elegan. Hana menghela napas panjang.
"Hal penting apa yang membawa langkah Ibu kesini?" Hana mendudukkan diri di sofa.
Hana mengangkat wajahnya dengan pogah, ia tidak takut pada Adara. Wanita di hadapannya ini tidak akan tega bersikap kejam padanya. Adara berhati baik.
"Masalah Ahli waris, aku rasa kau sadar diri bukan? Kalau kau tidak berhak untuk itu?" Hana, mengeluarkan selembar surat yang sudah di siapkan dari rumah berupa surat wasiat.
Adara mengambil kertas yang di sodorkan Hana, dibaca lalu tersenyum geli.
"Jadi aku akan menyerahkan hak ahli waris itu untuk Calista?" Hana mengangguk, sebenarnya ia juga tidak sudi wanita sialan itu menguasai Emirat.
"Dia istri Rion, jadi aku rasa tidak masalah." ucap Hana yakin.
"Semalaman aku berpikir mantan ibu mertua, sejujurnya aku ingin menguasai semuanya. Toh Rion sudah memberikan hak untukku. Aku ingin berfoya-foya, menghabiskan uang itu selama aku hidup. Tapi sayangnya nuraniku masih peka. Aku setuju menyerahkan hak ahli warisku." ujar Adara, Hana sumringah jelas terlihat di wajah wanita itu. "Tapi ... bukan untuk Calista melainkan pada putri Rion. Siapa namanya?" Tambah Adara sekaligus bertanya.
"Apa? Kau gila! Apa yang bisa dilakukan bayi itu?" Hana kesal dan menggerutu.
"Menunggu sampai usianya delapan belas tahun."
"Jangan gila Adara. Untuk tumbuh butuh dana."
"Itu sebabnya, aku akan menjadi walinya, aku akan mengatur keuangannya." Adara mengatakannya dengan santai, ia bahkan tidak menatap Hana.
"Dia punya orang tua, Adara," Hana mulai resah. Ia takut gagal dan akan menjadi santapan kekejaman Calista.
"Kalau tidak setuju juga tidak apa-apa."
"Adara ...." Adara menggelengkan kepala, mengalihkan pandangannya dari Hana yang terlihat memohon.
Hana pulang tanpa hasil, entah apa alasan wanita itu pada Calista. Ia menyeret kakinya dari kafe Adara menuju parkiran. Ahmed membukakan pintu untuknya.
"Bahkan mobil ini juga milik Adara," gumamnya menatap sedan buatan negara ratu elisabet yang ia naiki.
Calista merusak pintu kamar Rion. Kamar utama, tempat yang tidak bisa ia jangkau selama ini. Langkahnya tertatih, masuk ke tengah ruangan. Kamar yang luas dan menghadap kolam renang. Calista menggertakkan gigi memandang photo pernikahan Adara dengan Rion yang terpajang rapi.
"Adara seharusnya kau menyusul Rion. Kalian sangat serasi." katanya dengan tatapan sinis.
Calista mengambil gelas yang ada di atas nakas, dan dilemparnya benda itu pada photo yang sedang tersenyum manis kepadanya. Suara keras yang di timbulkan benda itu membuat Lulu ketakutan di lantai satu. Ia segera berlari ke kamarnya dan mengkemasi barang-barangnya untuk pergi dari sana.
Seketika ia panik, tidak tahu harus kemana berlabuh. Karena itu ia menelpon Adara majikannya yang baik hati.
"Lulu ...," sapa Adara begitu tersambung.
"Nona, tolong saya,"
"Ada apa?" Tanya Adara cemas.
"Saya tidak sanggup tinggal disini lagi, Nona. Bawa saya dari sini." suara gemetar Lulu membuat Adara semakin khawatir.
"Tenang Lulu, kau ingin aku menjemputmu? Aku rasa tidak bisa. Tapi ... keluarlah dari sana aku akan pesan taksi online untukmu ke sini, oke?" Lulu mengangguk, seolah yang ia lakukan itu di lihat Adara.
"I-iya Nona, terima kasih." Lulu menutup telponnya dan menarik koper pelan keluar dari sana, ia masih bisa mendengar Calista mengobrak- abrik kamar Rion hingga berantakan.
______________________________________________
Hana tercengang melihat kamar Rion berantakan, ia masuk dan melihat Calista di dalam sana. Berdiri memandang ke kolam renang. Photo-photo yang menghiasi kamar itu pecah berserakan di lantai.
Hana menurunkan tatapannya tepat di kaki Calista. Sandal rumahan berbulu yang di kenakan wanita pemarah itu menginjak photo Rion dan Adara. Calista sengaja melakukan itu, dua insan itu begitu hina di matanya sekarang.
"Katakan hasilnya, Ibu mertua!" Rupanya tanpa menoleh Calista sudah tahu kalau Hana yang masuk.
"Dia tidak mau menyerahkan haknya untukmu, Adara ingin menunggu putrimu besar dan ia bersedia menjadi walinya." Calista menolehkan kepala, kilatan kemarahan di matanya terpancar. Hana ketakutan.
"Sudah kuduga kau akan gagal. Menyebalkan dan tak berguna."
"Tutup mulutmu Calista, kau menghinaku." Gertak Hana, memberanikan diri melawan. Calista berdecih, berbalik dan berjalan tenang kearah Hana.
"Pergilah ke neraka!" katanya mendorong Hana hingga terjatuh ke lantai. " Kau ada dalam awasanku. Jadi jangan bertingkah." ancam Calista, melihat Hana terduduk dilantai.
"Aku akan mengambilnya sendiri dari wanita itu." Gumam Calista, berjalan meninggalkan Hana menangis dalam diam.
Bersambung ...
Masih lama Rion muncul, mungkin dua part lagi. Jadi tetap stay di sini aja ya.
Tks buat komen terbaik kalian, bantu like juga Vote ya kk, aku senang dengan poin yang kalian sumbangin.
foto gugel