OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Rindu suara Istriku



Aku rasa Rion cuma menggertak, kan? Ah pasti! Dia tidak mungkin menyakiti Mama.


Adara berpikir Rion tidaklah sejahat itu, yang sanggup menyakiti orang lain demi dirinya. Tapi ...


"Rion benar-benar melakukannya. Dia baru saja melakukannya " Katanya menarik kembali kata-katanya sambil menggigit-gigit kukunya mondar mandir dalam kamarnya.


Adara mengambil ponsel yang ada di atas kasur dan menghubungin Lidia.


"Ma ..., dari mana saja baru mengangkat telponku? Mama tidak apa-apa, kan?" Dua pertanyaan sekaligus ia lontarkan dengan perasaan khawatir.


"Mama? Ada apa sayang? Ponsel mama di silent jadi tidak kedengaran saat kau menelpon. Mama baru saja pulang dari bengkel." Lidia berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.


Sebenarnya wanita itu bukan dari bengkel melainkan dari rumah sakit karena merasakan dadanya sesak dan lemas pada tubuhnya setelah mengalami kecelakaan kecil. Beruntung Lidia tidak kenapa-napa dan hanya mengalami Shock.


"Mama ke bengkel? Kenapa? Apa mobil mama rusak?" Adara penasara, meski sudah tahu kejadian yang menimpa Lidia ia tetap ingin mendengar langsung dari ibunya.


"Sudah waktunya mobil itu masuk bengkel Dara. Pertanyaanmu terlalu banyak aku jadi pusing di buatnya." Lidia ber alasan.


Adara menarik napas panjang, " mama ... kau tidak apa apa kan?" suara Adara melunak tapi tetap pada rasa cemasnya.


"Jangan khawatirkan Mama, jaga dirimu mama mau makan."


Adara tersenyum, "mmm ..., baiklah." Adara menggenggam erat ponselnya.


Meski tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, setidaknya Adara sudah mendengar suara ibunya dan itu melegakan hatinya. Namun, pikirannya masih saja berkecamuk atas ancaman Rion.


Adara naik ke atas kasur, ia merasa tenaganya terkuras saat menerima pesan dari Rion, tubuhnya butuh istirahat dan Adara mulai memejamkan mata meringkuk menjadi posisi ternyaman baginya.


______________________________________________


Emre berkunjung ke kafe Adara yang di kelolah Jie Ranita. Pria itu terlihat suram, menopang dagu di atas meja bar sembari mengoyang-goyangkan es batu dalam gelas minumanya. Emre tampak mabuk dengan mata memerah.


Jie Ranita menghampiri setelah memperhatikan sejak lama pria itu. Wanita berwajah opal dengan mata sipit itu merasa bingung bagaimana caranya mengusir Emre mengingat malam sudah semakin tua dan sudah saatnya menutup kafe.


Jie, menuangkan Vodka kedalam gelas berisi es batu dan duduk di samping Emre.


"Sudah sejak lama aku menyukainya, Jie." gumam Emre, melirik Jie yang ada di sampingnya. Jie Ranita tersenyum, wanita itu tahu dari cara Emre menatap Adara saat pertama kali pria itu datang ke kafe.


"Aku pikir aku sudah tidak menyukainya mengingat hubungan kami tidak pernah terjalin semenjak Adara menikah, tapi ...," Emre meneguk minumnya dan bersendawa mengeluarkan gas dari perutnya.


"Rupanya perasaan itu masih sama. Kami dipertemukan secara kebetulan, apa menurutmu itu bukan takdir?" Emre berujar kembali, kini ia menatap utuh Jie.


"Entahlah," Jie Ranita mengangkat kedua bahunya. Ia tak tahu untuk berkomentar.


Kepala Emre berdenyut, ia melihat wanita di sampingnya itu menjadi dua. Emre mulai terkekeh, mengangkat tangannya untuk memastikan kalau penglihatannya masih normal.


Jie Ranita sontak kaget, kedua tangan pria itu kini menangkup kedua sisi wajahnya. Mereka bersitatap dalam lima detik sebelum Jie menyadarkan dirinya dari rasa kagum pada pesona Emre.


"Kenapa kau ada dua, Jie?" Jie melepas tangan Emre, wajahnya memerah padam bersamaan dengan detak jantungnya bergemuruh.


"Itu karena kau mabuk, Emre." Jie menghembuskan napas panjang, memalingkan wajah ke arah lain dan kafe miliknya benar-benar sudah hening.


"Aku rasa belum, Jie. Bahkan minuman ini masih sama rasanya. Kata orang kalau kita mabuk rasa alkohol akan berubah menjadi manis." Emre terkekeh, lalu sedetik kemudian sorot matanya sendu.


"Aku pikir ini kesempatanku untuk mendapatkanya, tapi wanita itu malah pergi menjauh." Emre tertawa dalam tawanya tersirat rasa kecewa yang kuat. " kuliah, itulah alasannya, Jie." Emre merasa kepalanya berputar-putar.


Brak ...


Jie Ranita tersentak melihat tubuh Emre tergeletak di lantai. Jie menutup mulutnya turun dari kursi Bar dan mencoba membangunkan Emre.


Jie berdecak, menghela napas panjang sembari berdiri. "Ah yang benar saja, dia bahkan masih mengoceh dengan jelas." gumam Jie, mencoba membangunkan Emre dengan menepuk -nepuk sisi wajah Emre.


Emre bergerak sedikit lalu menatap Jie tersenyum dan dalam detik berikutnya Jie sudah berada dalam kungkungan pria itu. Mencium bibir Jie dengan posesif, perempuan itu awalnya menolak lalu kemudian hayut dalam belaian bibir Emre.


"Aku mencintaimu, Adara." bisiknya ...


_____________________________________________


Matanya menyipit melihat pemanggil. Rion, oh tidak di sana masih tertulis 'Suamiku'. Ia berdecak kesal melihatnya. Panggilan itu berupa VC. Adara mengabaikannya, enggan menjawab atau malu karena masih tampak berantakan. Tapi bukan Rion kalau berhenti disitu saja. Pria itu kembali memanggil tapi sebelumnya ia sudah mengirim pesan.


📩 Suamiku : Angkat!


Aih dia mau apa sih? Adara sengaja memutusnya, sengaja menantang apa yang bisa dilakukan Rion kalau ia membangkang.


Memangnya dia siapa? Adara menutup tubuhnya dengan selimut.


📩 Suamiku : Angkat honey, jangan suka bikin marah. Kalau tidak dianggkat kau akan tahu hukumanya.


Ah menjengkelkan. Adara mengambil ponselnya dan membaca isi pesan.


"Kau!" Geram Adara, menekan -nekan nama 'Suamiku' pada layar ponsel itu.


" Apa ini aku bahkan belum mengganti nama panggilannya. Suami? Haha dasar bodo kau Dara, Ganti saja dengan nama 'Sinting tukang amcam!" Adara menghujat dirinya sendiri.


Adara hendak mengganti nama itu tapi Rion kembali menghubunginya. Adara mengangkatnya dan menunjukkan wajah datarnya pada layar itu.


"Hei Hun ... kenapa kau jelek sekali." Rion tertawa puas melihat penampilan Adara, rambutnya autautan dengan mata bengkak khas orang habis tidur. Adara menggigit giginya geram, Rion masih tampak tampan dengan kemeja kerjanya, bahkan dasinya masih betengger di lehernya meski sudah longgar.


"Kapan pulang? Jangan lama- lama larinya." Adara mencebik, yang di sana malah menggeram. "apa itu? Kau sengaja menggodaku, bibirmu minta di cium." Adara melotot.


"Tidurlah, Rion jangan mengangguku kau pasti lelah." Apa ini kenapa aku mengatakan itu. Aku sudah pasti tidak waras.


"Terima kasih, Hun. Aku senang kau perhatian. Aku merindukanmu lagipula disini masih jam satu pagi. Aku tahu disana sudah terang itu sebabnya aku menelponmu. Rindu suara istriku." Adara berdecih, Adara sengaja memutar-mutar ponselnya jengkel dengan ucapan Rion.


"Hun, kau semakin pintar membangkang ya. Lihat aku cepat!" Hardik Rion dari sana, Adara menahan tawa. Sekali-kali Rion di kerjaian tidak mengapa, pikirnya.


"Sinyal Rion," Adara menggigit bibir bawanya. Ia pikir Rion orang terdugu di dunia ini yang tidak bisa membedakan gangguan sinyal dengan keisengannya.


Rion mengabaikan alasan bodoh Adara, dan lebih menikmati aura seksi Adara di pagi hari lewat ponselnya. Rasa rindunya melanda semakin besar pikirannya terbawa saat-saat mereka masih di atap yang sama, di ranjang yang sama dan saling berbagi kehangatan.


Rion menarik kembali pikirannya menatap layar ponselnya. Rion tersenyum sangat manis. Ia ingin wanitanya itu secepatnya pulang dan tentu pulang kembali ke dekapannya.


"Pulang Hun, jangan abaikan perkataaku kemarin." Rion mengingatkan Adara dengan nada lembut.


"Rion, aku harus kuliah." Adara memalingkan wajah.


"Kuliah disini. Oke!" Masih lembut bahkan intonasi suaranya penuh harap.


"Tidak mau!"


"Dara, aku tahu itu cuma alasanmu. Pulang kalau tidak kau akan menyesal." Menekan di setiap kata-katanya.


"Apa yang akan terjadi kalau akau pulang?"


"Menikah denganku," Adara memejamkan matanya.


"Tidak mau!"


"Dara, bagaimana kalau mama mertua aku kirim ke rumah sakit?"


Mendengar itu Adara tercengang, menatap Rion yang bersikap santai seolah yang ia ucapkan bukanlah ancama.


"Ri-Rion kau tidak akan melakukan itu." Rion menyerigai menakutkan.


"Kemarin itu hanya peringatan, " Rion mengusap wajahnya kasar. " Besok aku akan menjemputmu di bandara. Jadi berkemaslah dari sekarang. Ingat! Kalau tidak kau akan menemui mama di rumah sakit." Panggilan terputus.



gambar milik gugel (EMRE) Nama asli Kubilay Aka.


Bersambung ...