
Rumah yang tak jauh dari pantai itu. Berdiri dengan pondasi tinggi agar aman dari air pasang yang bisa kapan saja datang. Rumah itu ada dua dan berdampingan yang satu khusus di sewakan untuk penginapan para wisata sementara yang satu khusus untuk tinggal mereka.
Ipek dengan raut kesal masuk, menghampiri orang tuanya dan Kenan ayah Mert. Mereka sedang bersantai di balkon yang menghadap ke laut. Sungguh pemandangan yang indah, bisa merasakan hembusan angin laut dan melihat matahari tenggelam setiap hari.
"Berhenti menekuk wajahmu, Ipek." Ny. Denir, ibunya memperingatkan tingkah kekanak-kanakan putrinya itu.
"Dia menganggumu?" Tanya Kenan, menampilkan senyum ramah pada Ipek. Hubungan Mert dengan Ipek tidak menunjukkan sepasang tunangan. Mert tampak acuh pada perempuan berambut pirang itu.
"Mert selalu bisa membuatku kesal, Paman." Rajuk Ipek, mengambil posisi duduk di samping Ny. Denir. Mereka terkekeh melihat tingkah manja Ipek yang menurut Mert tidak pantas lagi.
Bagaimana aku hidup sebagai pasangan suami istri dengannya, sementara aku tergila-gila pada perempuan dalam mimpiku.
"Mert, kemarilah jagoan." Kenan memanggil putranya itu saat menyadari Mert memperhatikan mereka tertawa dari ambang pintu.
"Ayolah Ayah, aku bukan anak usia lima tahun yang harus bahagia saat di panggil Jagoan." protes Mert, melangkah dengan tegap, menunjukkan kalau dirinya pria dewasa.
"Tetap saja kau jagoan ayah," ucap Kenan, menepuk pundak Mert setelah pria itu menempatkan dirinya di kursi kayu bewarna coklat tua itu tepat di samping ayahnya.
Mert mengalihkan pandangannya saat melihat Ipek menikmati wajahnya lewat tatapan nakal perempuan itu.
Mert sangat mempesona dan itulah alasan Ipek setuju dijodohkan dengan Mert dan bersedia melupakan Carlie, kekasih Amerikanya.
Ny. Denir menangkap ketidaksukaan Mert pada tatapan Ipek, lalu kemudian ia menyenggol putrinya itu agar menjaga sikapnya. Ipek memutar bola matanya, saat melihat tatapan Ibunya memberi perintah.
"Kita sudah membahas persiapan pernikahan kalian. Mert, kau tahu kan apa yang harus kau siapkan bersama Ipek?" Tanya Kenan dan ditanggapi anggukan kecil oleh Mert.
"Paman, untuk masalah gaun pengantin aku berniat memesanya di kota A. Bagaimana Mert? Kau setuju kan?" Ipek terlihat bersemangat. Mert menggoyangkan bahu sebagai kata terserah.
Kenan tampak memikirkan sesuatu, ia ingat Mert berasal dari kota itu. Kenan tidak boleh lalai apalagi harus mengizinkan Mert dan Ipek pergi ke kota yang memakan waktu delapan jam perjalanan dan akan mengharuskan mereka menginap.
Kenan takut jika ada mengenali Mert dan menyapa putranya itu dengan nama yang sudah di tenggelamakan ke laut kurang lebih satu tahun lalu. Kenan tidak boleh kehilangan Mert.
Pria berusia lima puluh tahun itu melihat ke arah Iskak Denir, ayahnya Ipek yang tahu akan kejadian itu.
Iskak yang sedari tadi diam dan mengikuti alur pembicaraan mereka memahami tatapan Kenan. Lalu kemudian pria itu menganggukkan kepalanya sebagai kata setuju.
"Baiklah, kalian bisa kesana." Ipek kegirangan, setelah menanti sedikit lama persetujuan Kenan. "Tapi ... kalian tidak perlu menginap, kembalilah setelah melakukan pemesanan busana pengantin kalian." tambah Kenan, dan langsung mendapatkan protes dari Ipek.
"Ayolah Paman, perjalanan sangat jauh dan melelahkan, bagaimana kita bisa langsung kembali." protes Ipek, melihat pada Mert yang membisu seolah tidak tertarik dengan obrolan itu. Ipek minta bantuan Mert menyakinkan Ayahnya tapi sayangnya pria itu tidak berbuat apa-apa.
"Shakil akan ikut sebagai supir kalian." ucap Kenan.
"Benar Ipek, kalian pasangan belum menikah tidak baik tinggal dalam satu ruangan apalagi di malam hari."
"Oh, God ... Mom, tidak harus satu ruangan kan? Mert bisa mengatur penginapan untuk dua orang."
"Kalau kau membantah maka persiapan busana kalian pesan di kota ini saja." Kali ini, Iskak yang berujar dan itu mutlak tak dapat di bantah. Pria tua itu hanya berucap sekali -sekali tapi tak terbantahkan. Ucapannya adalah titah yang harus di patuhi.
Ipek berdecak sebal. "Baiklah, Daddy" ucapnya, ia memilih menurut daripada gagal ke kota terbesar di negara itu.
Mert menyungingkan senyum, melihat Ipek memerah menahan rasa kesal padanya yang tidak mau membantunya.
"Jadi ... kapan kalian kesana? Satu bulan bukan waktu yang panjang untuk mempersiapkan pernikahan. Kalian sudah harus menikah sebelum Mert berlayar." ucap Ny. Denir, melihat ke arah Mert. Pria itu hanya diam dan sibuk mengingat perempuan dalam mimpinya. Sekilas senyum terukir di bibirnya saat mengingat bagaimana ia menangkap dan membawa perempuan itu berputar -putar sembari tertawa riang.
"Mert ...," panggil Ny. Denir
"Ah, dia mulai lagi," Ipek memutar bola matanya jengah melihat sikap Mert yang selalu begitu.
Kenan dan Iskak saling tatap, lalu kemudian Kenan mengoyangkan bahu Mert dan membuat pria itu terkesiap.
"Ayah ...," Mert kelimpungan saat melihat mata terarah padanya.
"Kau ... sedang memikirkan apa?"
"Tidak ada, aku serahkan semua kepadamu Ipek. Kau atur saja segalanya keperluan pernikahan kita. Aku mau ke kamar dulu." Mert berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Kenan menarik napas berat, ia melihat Iskak dan Ny.Denir bergantian. Ipek, berdecak sebal melihat punggung Mert menghilang di balik pintu.
"Kenapa sikapnya Aneh?" tanya Ny. Denir.
"Dia tidak menyukaiku, Mom. Itulah kenapa dia tidak tertarik dengan pernikahan ini." sahut Ipek kesal.
"Entahlah, tapi akhir-akhir ini dia terlihat berbeda. Dia lebih banyak mengurung diri di kamar."
"Pergilah Ipek,"
"Mom, mengusirku?
"Please ...." Sahut Ny. Denir. Ipek mendengkus, berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ia kesal atas pengusiran itu, bagaimanapun ia ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan mengenai Mert.
"Apa menurutmu, Mert mengingat sesuatu tentang masa lalunya?" tanya Ny. Denir.
"Husss ..., siapapun bisa mendengarnya. Jangan bahas itu di sini." Iskak mengingatkan istrinya.
"Pernikahan ini harus secepatnya dilakukan." Kenan berujar.
"Kenan, masalah ingatan Mert. Jika kembali apa kau bisa menjamin hubungan pernikahan mereka baik-baik saja?" tanya Ny. Denir, ia seorang ibu. Tentu rasa khawatirnya besar pada masa depan pernikahan putrinya itu.
"Itu tidak akan terjadi, kau tenang saja. Kalaupun itu terjadi Mert harus membalas budi atas kehidupannya sekarang." Kali ini Iskak yang menyahuti. Dengan datar dan tatapan tajam.
"Aku ingin dia lupa ingatan selamanya, supaya balas budi itu tidak terjadi." sahut Ny. Denir, mengalihkan tatapannya ke tempat lain.
Kenan membisu di tempat duduknya.
______________________________________________
Mert, mengingat wajah yang masih belum jelas dalam ingatannya. ia melukiskan wajah itu dalam kertas bagaimana rupa dari perempuan dalam mimpinya itu. Sesekali ia memejamkan mata mencoba mengingat jelas. Kemudian berdecak, melihat hasilnya. Ia bukan penggambar yang baik.
"Apa ini? Bukan seperti ini." katanya, mengepal lembar kertas itu dan mengulanginya di kertas baru. Hasilnya tetap saja tidak sesuai pemikirannya.
Mert menggeram, tangannya tidak sejalan dengan otaknya.
Mert kemudian memijit pangkal hidungnya untuk mendapatkan ketenangan dalam berpikir tapi malam membawanya ke dalam mimpi.
Menikalah denganku .... ucap Mert
Aku ingin kau lenyap!
Menikalah denganku ....
Aku ingin kau lenyap!
Mert tiba-tiba saja terbangun, ia menatap nyalang ke langit-langit kamarnya. Posisinya dalam keadaan duduk. Keringatnya mengucur, besar dan memenuhi dahi. Napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berkejaran atau melarikan diri dari tempat berbahaya.
Mimpi ini mengangguku ...
Kali ini suara itu semakin nyata, dan menggema dalam telinganya. Mert mengusap wajahnya, ia menelan air ludahnya kemudian berdiri dan keluar kamar untuk mengambil air minum.
Mert membuka kulkas dan mengeluarkan air dingin kemudian meneguknya sampai puas.
"Mert," Suara itu mengangetkannya hingga membuatnya nyaris tersendak.
"Apa?" Tanya Mert ketus, saat melihat Ipek masih di rumahnya. Ipek menghampiri dan memeluk Mert dari belakang.
"Apa begini sikapmu pada calon istrimu, Mert? Bersikaplah lembut, kau seorang pria yang harus melindungi wanita lemah seperti aku." ucap Ipek, menjalin jari-jarinya agar tetap memeluk Mert.
"Aku berkeringat dan ingin mandi. Aku juga ingin keluar sebentar." Mert memejamkan matanya, kedekatannya dengan Ipek membuatnya tidak nyaman. Apalagi aroma tubuh Ipek sangat menggoda ingin di belai.
Mert pria normal dan sedikit gila dengan hal-hal panas, bergelora dan memuaskan. Pria itu sering berfantasi dan berakhir dalam kamar mandi bekerja sendiri untuk menenangkan hatinya yang berhasrat.
Ipek masih menempel seperti lintah, menggoda pria itu dengan napasnya yang hangat. Sengaja meniupkan pada telinga Mert.
Mert menelan salivanya, ia berbalik menghadap Ipek lalu menangkup kedua sisi wajah perempuan itu. Mert menatap bibir seksi Ipek yang sengaja dijilati Ipek guna menggoda Mert untuk mencicipinya.
Bersambung ....
Ada yang setuju nggak Ipek dan Mert ouh ouh ouh..? kasih saran ...!