
"99,9 persen," meskipun Adara sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima kebenaran tetap saja hatinya sakit tak terperih. "Kau baik-baik saja, kan?" Suara Emre terdengar khawatir.
"Mmm, aku sudah menyiapkan hati untuk menerima itu." ujar Adara, menyeka air matanya yang menitik. " Terima kasih, Emre." Adara menghela napas panjang.
"Tidak masalah," Emre, mengetok-ngetok jemarinya di atas meja kerjanya. "Da-ra, aku bersedia jadi teman pendengarmu. Aku rasa tidak masalah kalau kita mengakrabkan diri seperti delapan tahun yang lalu." Wajah Emre memerah saat mengutarakan permintaanya.
Sejenak hening, Adara seolah memikirkannya kata-kata Emre.
"Baiklah, berikan aku nomer ponselmu." katanya. Emre tersenyum hatinya senang tanpa menunggu lama ia menyebutkan satu persatu nomer ponselnya pada Adara.
______________________________________________
Calista duduk dengan Hana di taman rumah sakit, setelah mengetahui hasil tes DNA itu Hana mengajaknya berbincang.
"Hasilnya positif, lalu apa rencana, Nyonya?" tanya Calista memulai obrolan. Hana menghela napas panjang. Menatap lurus ke hamparan taman di depannya.
"Aku akan merundingkannya dengan Rion." jawab Hana tanpa mengalihkan tatapannya pada Calista.
"Rion mengabaikan bayi ini dan aku rasa dia juga tidak akan mendengar perkataan, Nyonya." sahut Calista, ia butuh kejelasan masa depannya.
"Istrinya sudah tahu tentang ini," mata Calista membeliak mendengarnya. Ia terkejut tapi berpikir memang sudah seharunya begitu.
"Kehidupannya sangat sulit sekarang. Aku butuh waktu mengajaknya membuat keputusan." Tambah Hana, melihat Calista yang duduk di sampingnya.
"Aku berharap ini diselesaikan secepatnya, aku ingin kembali kerumah orang tuaku." Hana bingung mendengar ucapan Calista.
"Apa maksudmu, apa orang tuamu mengusirmu karena masalah ini?" tanya Hana penasaran.
Calista menggelengkan kepalanya, "mereka tidak tahu aku kembali dari Shanghai. Aku menyewa kost sampai Nyonya dan Rion memberiku kepastian. Hidupku sudah sangat rumit nyonya, ketakutan setiap saat. Jadi aku mohon tolong beri aku kebebasan untuk mengatakan pada dunia kalau aku sedang mengandung." Pinta Calista, nadanya sedikit memaksa. Untuk apa ia takut atau ragu lagi. keraguan wanita di sampingnya itu sudah terjawab melalui tes DNA yang mereka lakukan. Bertingkah sedikit, tidak masalah bukan?
"Ya ..., aku mengerti," ujar Hana, nada suaranya terdengar lelah.
"Nyonya, orang hamil perutnya akan semakin membesar bukan semakin mengecil. Aku tidak ingin malu atau di cap sebagai wanita rendahan. Aku mohon berikan kepastian secepatnya."
Calista, meraih tas tangannya dan bangun dari duduknya kemudian menganggukan kepala sedikit memberi hormat pada Hana sebelum kemudian ia berlalu dari tempat itu.
Hana menggertakkan gerahamnya, ia pikir kehidupannya akan akan bebas dari masalah mengingat usianya bertambah tua.
Rion putraku, kau benar-benar menjual harga diri ibumu ini.
Hana mengeluarkan ponsel dan kertas hasil lab dari dalam tas, lalu mengambil gambarnya dan mengirimnya pada Rion.
_____________________________________________
Rion memijit kepalanya yang berdenyut, setelah menerima screenshots hasil tes DNA dari Hana. Hembusan napas kasar berulang kali ia lakukan. Pekerjaanya pun berantakan tak terkendali. Beruntung Anatha mampu mengatasi keluhan para customer Emirat.
Rion menggulung tangan kemejanya hingga lengan, melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya. Kemudian meraih ponsel dari meja dan meminta Ahmed menyiapkan mobil lewat intercom ke ruangan Ahmed supir pribadinya.
"Siapkan mobil, aku mau pulang." Perintahnya. Rion keluar ruangan dan Anatha langsung berdiri saat pimpinannya itu melintasinya.
"Minta Mete mambatumu untuk mengurus pekerjaan yang tertunda. Untuk sementara aku akan bekerja dari rumah." Kata Rion sambil melangkah ke arah lift.
"Baik pak," Anatha mengangguk dan mengeryitkan kening, melihat atasannya itu tidak fokus dalam bekerja membuatnya kewalahan. Anatha kembali duduk, menekan telpon untuk menghubungi Mete yang ada di Warehouse.
_____________________________________________
"Dadaku rasanya semakin sempit saja," gumam Adara, merasakan sesak pada dadanya. Ia melayangkan tatapannya ke segala arah di kamar itu. Kamar penuh kenangan, kamar hangat berubah menjadi dingin. Potret dengan senyum-senyum manis, ceria bersama Rion menghiasi kamar itu. Disana juga tergantung photo pernikahan mereka.
Adara melepaskan cincin nikahnya dan meletakkan di atas nakas.
Untuk kesekian kalinya air matanya menitik dan ia cepat menyekanya.
Adara menyeret kopernya keluar kamar, tertatih menuruni anak tangga tanpa minta bantuan siapapun di rumah itu.
"Nona, mau kemana?" Lulu bertanya, melihat Adara menarik koper besar miliknya. Raut pelayan itu kebingungan sekaligus sedih. Lulu sebagai pelayan tetap di sana merasakan adanya masalah yang menimpa Nona muda dan tuannya itu. Tapi sebagai orang asing ia berpura-pura menutup mata dan juga menulikan telinganya.
"Aku ingin pulang," ujar Adara, meski dalam netranya menyiratkan kesedihan. Wanita itu berusaha tersenyum. "Tolong jaga Mama dan Rion." Katanya, menepuk bahu Lulu lembut.
"Tapi Nona, kenapa bawa koper? Rumah nona kan tidak jauh." Adara hanya tersenyum, ia tidak berniat menjelaskan, nanti akan terjawab juga begitu pikirnya.
Adara menarik koper itu keluar rumah dan memasukkanya ke dalam bagasi mobil.
"Aku pergi, ya. Jangan terlalu kerja berat. Minta Rion memanggil pekerja paruh waktu untuk membantumu." Lulu mengangguk, Nonanya inilah yang selalu membantunya mengerjakan pekerjaan dapur. Kalau masalah bersih-bersih di rumah besar ini. Adara selalu menggunakan jasa pekerja paruh waktu.
______________________________________________
Dua wanita cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi, tampak serius membicarakan sesuatu di ruang tamu. Hana dan Lidia, duduk berdampingan ditemani kudapan juga kopi panas pada sore hari itu.
"Aku minta maaf mewakili putraku, karena sudah menyakiti perasaan menantuku tapi ini bukanlah keinginanya. Rion menyesalinya.
Aku sangat berharap yang terbaik dalam kehidupan pernikahan mereka." Hana mengambil tangan Lidia, besannya itu meminta untuk di mengerti.
Hana datang berkunjung dan memberi kejutan pahit pada Lidia tentang kehidupan pernikahan putrinya.
"Kejadian ini sangat mengejutkan semua orang. Putraku yang salah karena tidak dapat menjaga sikapnya. Silahkan membencinya semau besan, tapi aku mohon beri dia kesempatan untuk memperbaiki masalah ini."
Lidia menarik tangannya pelan. "Bagaimana keadaan putriku?" katanya, meski terkejut ia tetap menunjukkan sikap tenang. Apa yang bisa ia lakukan? Memaki pria yang sudah menjaga putrinya itu selama tujuh tahun ini? Atau mengusir wanita di hadapannya ini? Tidak ada gunanya juga. Saat ini ia hanya ingin tahu bagaimana keadan Adara.
Adara, putrinya itu bahkan tidak mengatakan apa-apa mengenai masalah yang terjadi.
Putrinya itu sudah pasti menanggung sendirian masalah yang menimpanya. Hatinya sudah pasti hancur berkeping tak terperih. Bukan hanya penghianatan Rion tapi masalah metode bayi tabung yang mereka rencanakan telah gagal. Adara pasti menyalahkan dirinya untuk itu. Ia pasti mengganggap kalau dirinyalah yang bermasalah hingga tak mampu memberikan anak untuk suaminya itu.
"Aku tidak bisa memastikan dia baik-baik saja. Menantuku itu sedang mengalami kesulitan untuk berdamai pada hatinya, dan aku sangat mengerti itu."
Lidia menghela napas panjang. " Kenapa Rion melakukan itu? Mungkinkah alasanya karena tidak memiliki anak dari Dara?"
"Maafkan aku, dia tidak peduli tentang itu. Rion bahkan mengabaikan bayi dalam kandungan wanita itu. Aku sebagai ibunya merasa punya tanggung jawab itu sebabnya aku mengajakmu berdiskusi."
Lidia tersenyum kejut, " kau ingin aku melakukan apa?"
Hening ..., suasana canggung diantara kedua orang itu.
"Mintalah Dara untuk berbagi suami."
Bersambung ...
Catatan kecil : Boleh dong minta like
: Boleh dong minta poinnya🤗
: Boleh dong minta klik ❤️
: Boleh dong minta klik Rate 5
Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author!