OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Salah paham



Rion tersenyum memperhatikan buket bunga yang ada di bangku penumpang. Sebelum berkunjung ia mampir membelikan bunga mawar bewarna putih seratus tangkai untuk Adara, dengan penuh hati-hati Rion mengambil bunga itu dan mengendongnya layaknya bayi kecil keluar dari dalam mobil.


Sesampai di depan pintu rumah Adara, tangannya terulur hendak menekan bel tapi dengan cepat ia urungkan. Ia hampir lupa, sebelum berkunjung Rion sudah menelpon Adara dan mengatakan kalau ia tidak akan menemui Adara karena ada urusan dengan Ardan. Kejutan yang biasa dilakukan para lelaki tukang bohong, sepertiku.


Rion akhirnya menekan password kunci digital pintu rumah Adara dan menunggu terbuka, ia masuk dengan langkah ringan dan menutup pintu sepelan mungkin.


Sementara Adara sedang membersihkan diri dalam kamar mandi. Berdiri di bawah shower menyala, mengizinkan air membelai tubuh mungi itu.


Rion menempelkan telinga pada daun pintu kamar mandi, telinganya mendengar gemericik air terjatuh ke lantai. Ia tersenyum lalu beralih pada tempat tidur, meletakkan buket bunga di atas ranjang dan duduk sambil menunggu Adara selesai mandi.


Rion melihat ponsel Adara di atas ranjang, dan dia atas benda itu ada Tes kehamilan yang membuat Rion membeliak. Diambilnya benda itu dan membaca hasil garis dua tercetak jelas pada benda berukuran lima centi itu.


"I-ini apaan? Bukankah ini test pack? Kenapa Dara memiliki ini?" Rion bermonolog sendiri Wajah Rion berubah dingin, kecewa.


Disaat bersamaan Adara keluar dari kamar mandi mengenakan handuk berbentuk jubah Adara memekik terkejut melihat sosok Rion berada di kamarnya.


"Rion!" Adara mengelus dadanya, menetralkan napasnya yang berdegub tak karuan. Sementara pria itu diam tanpa ekspresi.


"Kau mengagetkan saja," Gertak Adara menghampiri dan mengayunkan tangannya memukul -mukul lengan Adara. Rion bergeming.


"Apa yang kau lakukan disini, bukankah kau sibuk? Kau bilang tidak akan menemuiku. Bagaimana kau bisa masuk? Tidak sopan!" gerutu Adara, suaranya manja. Ia menarik hidung mancung Rion dan langsung di tepis Rion dengan kasar.


Adara terkejut, "Rion ...," gumam Adara, melihat tatapan nyalang Rion padanya. "K-kau kenapa?" Tanya Adara gugup, takut bercampur jadi satu.


Rion menyeringai layaknya bandit-bandit dalam filim memperhatikan tubuh gadis murahan yang akan menjadi santapan sebagai pemuas rasa lapar hasrat, tatapan itu refleks membuat Adara mencengkram kerah jubahnya menutupi dadanya yang sedikit terbuka. Ia mundur selangkah dan berbalik, dan detik itu juga ia memekik tangan Rion menariknya paksa dan menjatuhkan Adara ke atas ranjang.


"Rion apa yang kau lakkkk—" Rion mencium kasar bibir Adara yang ada di bawah kungkugan tubuhnya, menyesap dengan liar sementara tangannya bergerilya memasuki jubah Adara dan mengelus tungkai mulus itu penuh hasrat.


Adara berusaha menolak dengan memalingkan wajahnya kekiri dan kekanan. Pria itu terasa asing baginya, Rion bukan pemerkosa seperti yang ia alami saat ini. Sebelah tangan Adara yang bebas dengan cepat terayung pada wajah yang kini memucat penuh hasrat di atasnya.


Plaakk


Rion berhenti, lalu menyeringai dan melancarkan aksinya lagi. Menggigit dagu Adara kemudian menyapukan lidahnya yang basah pada wajah Adara.


"Aaaahhh," Adara mendesah, saat Rion me*mas kasar dangin kenyal bagian dada Adara. "Hen ...ti ...kan Ri...on aaku mo aaahh," Leguhan itu semakin panjang, dengan kurang ajarnya Rion mencubit di sana.


Adara menangis, "kau tahu kesalahanmu? Aku akan menghabismu Adara, kau akan mengingat kejadian ini sepanjang hidupmu." Rion menyibak jubah Adara hingga mempertontonkan seluruh bagian tubuh depannya.


"Aku mohon jangan lakukan itu," Adara menyilangkan kedua tangan di dada. Rion tergesa melucuti kemejanya, "aku mohon Rion, aku mencintaimu."Adara berusaha bangun tapi itu sia-sia Rion berada di atas tubuhnya.


Rion terbahak, "mencintaiku? Katakan siapa yang menidurimu hingga kau hamil, Dara!" Hardik Rion.


"Aaapa maksudmu hamil?" tanya Adara terbata-bata.


"Katakan siapa pria itu," Rion menarik ikat pinggangnya dan melempar asal.


"Sssiapa yang hamil?" Adara menjawab dengan pertanyaan. Rion menggeram kesal, kilatan tajam yang sangat menusuk terlihat jelas dimatanya. Terdengar Rion menurunkan retsleting celananya dan itu membuat Adara semakin ketakutan. Sebelumnya Rion tidak pernah sekasar itu menyentuhnya. Pria itu selalu lembut menyentuhnya dan bertanya apa sakit? Tapi sekarang Rion berubah menjadi moster yang menakutkan.


"Kau menerima pria lain dalam tubuhmu? Siapa dia? Dokter itu?" Kata-kata itu menyakiti hati Adara.


Plakk


Satu tamparan keras mendarat di wajah Rion, dan itu membuat Rion semakin ingin memaksakan keinginannya pada Adara. Rion membungkuk mencium kasar dan liar sebagai ciuman sarat amarah.


Dibawah sana Adara merasakan bagian intim Rion menegang dan menuntut kebebasan. Wanita itu ketakutan dan mencakar punggung Rion, sementara mulutnya di kuasai Rion.


Malaikat berbaik hati menolong Adara dengan cara menunjukkan wajah Jie dalam pikirannya. "J-jie hamil Rion," suara Adara samar-samar terdengar oleh Rion di sela-sela ciuman egoisnya. "Bukan aku," gumamnya lagi. Adara mengumpat dalam hati, kenapa otaknya berjalan lamban. Seharunya saat Rion menyebut kata hamil ia bisa mengerti kalau Rion salah paham.


"Siapa?" tanya Rion menelengkan kepala. Saat itu juga Adara menangis kuat.


"Jie yang hamil, Rion. Bukan aku ...." Adara terisak, menggerakkan tubuhnya untuk meringkuk menutupi dadanya yang telanjang.


"Shiit!" Umpat Rion menyugar rambutnya kasar. Rion menelan ludahnya kasar, ditatapnya Adara yang meringkuk sesugukan sementara dirinya masih duduk dia atas kedua kaki Adara. Menyesal? Tentu saja, bahkan Rion ingin menghabisi dirinya sendiri saat melihat Adara tak berdaya.


"Hun," gumam Rion, menyingkir dari kaki Adara. Ia menyentuh wajah Adara dan dengan cepat di tepis. Rion mengusap kasar wajahnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh Adara.


"Pergi brengsek," gumam Adara, mer*mas selimutnya erat.


"Pergi!! Aku membencimu! Kau moster Rion, brengsek, keparat, kurang ajar, sialan. Semua kata -kata jahanam ada pada dirimu." Teriak Adara menendang Rion dari dalam selimut.


"Hun ...,"


"Mati saja kau, brengsek." Teriak Adara lagi. Rion menjambak rambutnya sendiri, turun dari ranjang.


"Maaf Hun, kau tidak tahu betapa marahnya aku saat melihat benda sialan itu, kau membuatku salah paham. Kenapa kau menyimpan benda menjijikkan itu, Hah?" tanya Rion dengan suara keras.


Rion menonjok cermin hingga retak lebar dan melukai tangannya. Suara Pranggg! berasal dari cermin yang terjatuh mengagetkan Adara. Membuatnya semakin meringkuk ketakutan, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Rion mengusap kasar wajahnya, rasa perih di tangannya tidak sebanding dengan sakit hatinya melihat hati Adara terluka karena kebodohannya.


"Maaf Hun, aku sangat menyesal. Demi Tuhan jangan abaikan aku." Rion naik ke tempat tidur dan memeluk Adara yang terbungkus selimut.


Adara masih terisak, "Hun, aku mohon maafkan aku." bujuk Rion, ia menyibak selimut Adara


"Pergi Rion ...,"


"Tidak, aku akan tetap disini sampai kau memaafkan aku." Rion membantu Adara bangun, "maafkan aku, Hun." ujarnya lagi penuh penyesalan. Ia merapikan jubah Adara dan mengingatkan kembali tali jubah itu dengan rapi.


"Lain kali jangan tampar aku, tanganmu terlalu kecil untuk melakukan itu. Kalau aku membuat kesalahan seperti ini atau kesalahan apapun gunakan saja gigimu. Kau gigit saja sekuat yang kau mau, mengerti?" usul Rion, menganggap kalau tamparan Adara sama sekali tidak menyakitinya.


Adara masih sesugukan, ia memalingkan wajah dari tatapan Rion yang penuh harap pengampunan.


"Maafkan aku, Honey." Desis Rion mengusap wajahnya kasar.


"Apa itu sakit?" Adara melihat luka tangan Rion yang masih mengeluarkan darah.


"Tidak sama sekali, lebih sakit saat kau mengabaikan aku, Honey." gumam Rion, mulai mendekati Adara.


"Aku tidak mau mengobatinya, pergi saja kau ke neraka, bodoh,"


"Aku tidak mau ke neraka, aku ingin tetap tinggal bersamamu."


"Aku tidak butuh kamu, aku sudah pernah hidup tanpa kamu dan itu lebih menyenangkan,"


"Tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Dara. Sekalipun itu di surga." Isakan -isakan Adara berubah jadi kikikan kecil, katakan dia perempuan paling bodoh masih bisa terkekeh saat dirinya hampir di rendahkan.


"Maaf ya, Honey," Rion memohon sembari mengangsurkan ibu jarinya mengusap pipi Adara yang basah.


"Tidak akan kumaafkan."


"Aku mencintaimu,"


"Aku tidak percaya,"


"Demi Tuhan, Dara."


"Kalau kau mencitaiku, kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku," sahut Adara, menuding Rion dengan nada kesal.


"Maaf, Hun. Aku sangat marah tadi saat melihat benda sialan itu. Kau pikir aku akan hidup kalau kau dimiliki pria lain? Aku akan membunuh diriku hadapanmu." Rion membela diri.


"Aku muak mendengarnya, kau selalu punya jawaban." Rion menahan senyum, Adara mencebik bibir.


"Honey ... aku sangat mencintaimu," Rion menarik Adara ke dalam pelukannya dan seperti biasa Adara luluh. Pria posesif itu satu-satunya sandarannya di dunia ini, dengan ragu-ragu Adara membalas pelukan itu. Rion menghela napas lega kemudian mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih, Honey."


Bersambung...


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.