
"Emre," sapa Adara saat melihat pria itu menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit. Emre tersenyum, menyambut Adara dan menarik kursi untuk Adara.
"Cukup lama kita tidak bertemu, kau apa kabar?" Tanya Emre, menatap heran Adara yang berpakaian tebal di musim panas dan bahkan dipadukan dengan syal rajut melingkar di lehernya.
"Baik Emre, bagaimana denganmu?" Adara menusuk irisan buah milik Emre dan memakannya.
Emre mengangkat bahu santai, "Seperti yang kau lihat, tapi sepertinya kau tidak baik, Adara? Apa kau sakit?"
Adara menelan gigitan buahnya lalu terkekeh wajahnya memerah. "Aku baik, Emre." Jawabnya sambil mengibas- ibaskan tangannya ke arah wajahnya karena merasa panas.
"Gaya berpakaianmu sepertinya cocok di musim dingin." Adara terkekeh menahan malu.
"Atau mungkin kau mendapatkan segel di lehermu?" Tanya Emre dengan gablang, Adara memejamkan matanya sembari menghela napas lelah. Ia melepas syal lalu menggulungnya kemudian ia letakkan di pangkuannya.
"Aku akan menikah, jadi hal seperti ini menurutku biasa di lakukan pasangan kekasih," kata Adara, menatap Emre dengan berani.
Emre menunduk tersenyum kecewa, "kau kesini untuk memamerkan itu?"
Adara mendengus, "Emre," ia menyentuh tangan Emre yang ada di atas meja. Emre merasakan sentuhan dingin dan nyaman pada tangannya, ingin rasanya ia menggenggam tangan itu dan membawanya dalam ciumannya. Tapi Emre tidak memiliki hak, Adara menggariskan mereka tetap berteman.
"Kau temanku, kau tahu segalanya tentangku, bahkan perasaanku yang tidak bisa berubah dari cinta sahabat menjadi cinta seorang pacar. Maafkan aku sudah melukai hatimu, aku tidak bisa membalas cintamu dan terima kasih karena sudah menggenggam tanganku selama aku rapuh dan kau bersedia menjadi sandaranku. Terimakasih, Emre." ucap Adara lambat- lambat berharap Emre mendengarnya dengan jelas dan mengerti. Adara menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Aku masih menunggu, Dara. Kau boleh datang kepadaku kapan saja dan aku akan tetap menerimamu," ujar Emre, menggenggam erat tangan Adara, lalu mengulurkan satu tangannya menyeka air mata Adara yang sudah tumpah.
"Jangan Emre, jangan menungguku karena itu akan sia-sia. Berikan hatimu pada gadis lain yang mencintaimu," Adara menarik pelan tangannya, Emre kecewa.
"Kenapa begitu susah menerimaku, Adara? Apa aku tidak pantas untukmu?" Emre menggeser baki berisi sisa makananya ke samping.
Adara menggeleng, "Akulah yang tidak pantas untukmu, kau harus mendapatkan yang terbaik."
Emre menipiskan bibirnya, "hanya kau yang pantas mendampingiku," katanya.
"Kau salah, tapi ada seorang gadis yang lebih pantas mendampingimu," ujar Adara, mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakkan di atas meja.
Emre menatap lekat Adara dengan dahi berkerut, "kau hamil?"
"Aku berharap begitu, tapi Rion menghormatiku sebagai wanita lajang. Kami berkomitmen untuk tidak melewati batas sampai pernikahan itu tiba," ujar Adara, terdengar helaan napas berat dari Emre.
"Jadi apa ini?" Emre menatap testpack di depannya, bingung.
"Test pack," jawab Adara singkat
"Iya aku tahu,"
"Jie Hamil dan ini buktinya," kedua alis Emre bertautan menatap benda tipis itu. "Kau pasti ingat apa yang sudah kalian lakukan," gumam Adara berhasil membuat Emre membeliak terkejut.
Adara mengetahuinya?
"Jie Ranita mengandung bayimu," Adara mengecilkan suaranya mengingat mereka berada di tempat umum. Seketika Emre mengingat kejadian malam bersama Jie, saat Emre terbangun dan tidak menemukan perempuan itu disisinya.
Emre menyadari kesalahan yang ia lakukan, pria itu mencoba kembali ke kafe menemui Jie untuk meminta maaf. Namun, sesampainya di depan pintu kafe, ia mengurungkan niatnya masuk dan membatin lain waktu saja. Hingga hari ini Adara mendatanginya dan menunjukkan hasil perbuatanya malam itu.
"Emre ...," Adara membangunkan pria itu dari lamunannya.
"Itu cuma sebuah kesalahan, Dara." Emre menolak. Adara tersenyum kecut mendengarnya.
Menyedihkan!
"Dara! Kau sangat kasar." Merasa tersinggung dengan ucapan kasar Adara yang menyebut Jie sebagai bahan ejakulasi. Emre menghela napas berat. Wajahnya merah padam kombinasi marah dengan malu.
"Aku muak mendengar kata kesalahan itu, Emre," ujarnya masih dengan mimik kesal. "Rion juga mengatakan hal yang sama waktu itu. Kau bisa melihat kehidupanku selama ini, hancur." Tambah Adara, wajahnya menyendu setiap mengingat penghianatan Rion kala itu.
Emre menyedot minumannya hingga kandas, "jam istirahatku sudah habis, Dara. Kau bisa pulang." Emre menggeser bangkunya kebelakang dan berlalu meninggalkan Adara.
Adara tersenyum getir menatap punggung Emre semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu.
Adara mengambil kembali test pack yang ada di meja dan menggenggamnya.
Emre tampak gusar di meja kerjanya, ia meminta pada perawatnya untuk memberinya tambahan istirahat. Kehamilan Jie mengisi pikirannya. Ia melepas bingkai matanya dan meletakkan pelan di atas meja, menarik napas lelah. Emre kemudian memijit pangkal hidungnya untuk membantu meredakan sakit kepala yang mendadak ia derita.
"Emre ...," Sontak Emre menolehkan kepala ke arah pintu, Adara kembali menemuinya. Langkah kaki Adara mendekat dan mengambil duduk di hadapan pria itu.
"Aku mohon ...." Tatapan Adara sangat lembut, ia berdiri dan berjalan mendekati Emre.
"Jangan jadi pria brengsek. Tolong pikirkan masa depan Jie dan bayi dalam kandungannya. Jie punya rencana pulang ke Toronto, kalau kau punya hati tolong cegah dia." ujar Adara sambil mengusap-usap punggung Emre.
"Tolong pikirkan apa yang aku katakan, aku pergi ya," Bujuk Adara sekalian berpamitan, Adara menepuk tiga kali bahu Emre. Memberi senyuman manisnya lalu meninggalkan ruangan itu.
"Dara ..., harus ya kau menyentuhku saat seperti ini," Emre bermonolog sendiri, ia memejamkan mata menghilangkan aroma Adara yang membaui ruangan itu.
______________________________________________
Rion bersiul menuruni anak tangga, setelah menidurkan Illy ia berniat menemui Adara.
Malam ini Rion mengenakan atasan lengan panjang bewarna hitam dengan model berkerah V di kombinasikan dengan celana panjang denim. Kakinya di balut dengan sneakers polos bewarna putih membuat penampilannya semakin muda.
"Rion ...," sapa Hana saat melihat Rion tampak girang melangkah sembari melempar-lempar kunci mobil ke atas lalu menangkapnya.
"Iya mama," sahut Rion, ia menghampiri Hana lalu memberi kecupan di pipi perempuan tua itu. Hana tersenyum, sorotnya menilai penampilan Rion yang tampak berbeda dari biasanya.
"Kau mau kemana dengan penampilan begini?" Tanya Hana, mengelus rahang Rion mengingat ini sudah di angka sepuluh malam.
"Ke rumah Dara, Ma. Kenapa dengan penampilanku? Aneh atau ...," Rion mengantung ucapannya.
"Tampan sayang, tapi ini sudah malam apa kalian berencana berkencan di larut malam?" Hana penasaran.
Rion hanya tersenyum, "Aku pergi," Rion pamit setelah mencium pipi Hana kedua kalinya. Hana bahagia, semejak Rion kembali pria itu lebih sering memeluk dan menciumnya.
Rion mengemudikan mobilnya sendiri ke rumah Adara, membuka jendela mobil dan mengizinkan angin malam menerpa kulit. Perjalanan memakan waktu satu jam ke rumah Adara.
Setibanya disana Rion menekan tombol kunci digital pintu rumah Adara lalu masuk dan menutup pintu dibelakangnya, ia menuju anak tangga lantai atas kemudian menekan gagang pintu pelan dan memasuki ruang kamar itu.
Rion tersenyum melihat Adara di peraduaanya, ia menghampiri dan duduk di tepian ranjang, Adara sangat menggoda meringkuk dengan gaun malam bewarna cream mempertontonkan tungkai mulusnya. Rion menelusuri lengan Adara dengan punggung jarinya lalu mengecup lembut bekas luka tusukan Calista pada lengan itu. Hatinya berdenyut melihat bekas luka itu, kemudian Rion menarik selimut yang teronggok di bawah kaki Adara dan menyelimuti tungkai jenjang yang mencuri perhatiannya.
"Dara ...," bisiknya membangunkan sambil membelai surai yang menutupi wajah manis Adara. Tidak ada tanda -tanda dari wanita itu untuk bangun, bahkan napasnya teratur menandakan betapa lelapnya dirinya.
Melihat Adara nyenyak, ia tersenyum dan tidak ingin menganggu. Rion melepas sepatunya kemudian masuk ke dalam selimut melingkarkan tangannya memeluk dari belakang.
"Selamat malam, Hun." Bisik Rion sembari mengecup tengkuk Adara mesra lalu memejamkan matanya.
Bersambung ....