
Rion berteriak sembari menjambak rambutnya kesal, suaranya memenuhi kamar itu. Kedua alis tebal miliknya mengkerut, mata tajamnya terarah pada photo Adara yang menempel dinding. Sinis dan menghujam untuk siapapun yang melihatnya.
Adara sepertinya kau memang suka cara kasar. Aku akan akan menyeretmu kembali dengan caraku sendiri. Larilah sejauh yang kau mau sebelum kakimu tertangkap olehku.
Rion mengetatkan rahangnya dengan bibir mengecil, ia masih menatap photo Adara yang tengah tersenyum padanya.
Aku sangat mencintaimu, dasar bodoh.
Rion keluar dari kamar dan membanting pintu di belakangnya, Hana dan Calista yang tengah berdiri mematung di luar kamar Rion seketika menciut melihat tatapan sinis Rion.
"Rion, kau mau kemana?" tanya Calista saat Rion berjalan cepat menuruni anak tangga dan seperti biasa Rion mengabaikan wanita itu.
Calista berdecak kesal, melirik Hana yang mematung di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Aku seperti tidak mengenal putraku semenjak bercerai dengan Adara." gumam Hana, melangkah masuk kedalam kamarnya.
Jadi Adara membohonginya, wanita itu membuatku tertawa. Ada untungnya juga aku menemuinya.
Calista tersenyum, berjalan sembari menopang pinggangnya dengan tangan menuju kamarnya.
______________________________________________
Emre mengambil istirahat lebih, ia tidak ingin melakukan pekerjaannya dalam keadaan kalut. Sebagai dokter profesional Emre jelas tahu melayani pasien harus dengan pikiran tenang dan fokus. Salah -salah bisa merugikan pasien dan imbasnya adalah karirnya juga nama baik rumah sakit tempatnya bekerja.
Ia masih penasaran kemana Adara pergi dan alasannya apa. Itulah yang mendorongnya mendatangi rumah Adara.
Kini Emre berdiri di depan pintu rumah Adara, ia menekan bel rumah itu dan menunggu dibukakan.
Lidia membuka pintu, Emre menyapa dengan raut ramah.
"Siapa?" Tanya Lidia penasaran. Emre mengulurkan tangannya.
"Nama saya Emre, temannya Adara." Lidia memperhatikan tampilan Emre dan menilai dalam hati. Adara tidak pernah cerita tentang temannya itu.
"Apa Adara tidak memberitahumu kalau dia berangkat ke London?" Lidia menerima uluran tangan Emre, mereka berjabat tangan.
Jadi dia ke London?
Emre tersenyum tampak kecewa, " Dia pergi mendadak dan hanya mengirim pesan tapi tidak memberitahu tujuannya."
"Masuklah," Lidia membuka lebar pintunya, tapi Emre sepertinya memilih diam di tempatnya.
"Untuk apa dia kesana, Bibi?" Emre bertanya penasaran.
"Kuliah,"
Klise ... Emre mengangguk kecil, " Baiklah Bibi, lain kali aku akan mampir. Aku mohon kalau Adara menelpon katakan aku datang berkunjung dan tolong supaya dia menghubungiku." ujar Emre memelas.
"Kau tidak masuk?"
"Mungkin lain kali, Bibi." Kata Emre, membungkuk kecil kemudian berbalik meninggalkan rumah Adara.
Kuliah? Emre tersenyum pahit mendengar alasan Adara ke London. Emre yakin Rion lah alasan Adara ke sana. Tapi kenapa? Menghindar?
Apa kau menghindari Rion, Adara? Apa pria itu memaksamu rujuk?
Emre mengingat perkataan Rion, kalau ia akan menikah dengan Adara.
Bedebah! umpatnya memukul stir mobilnya.
______________________________________________
"Jie, aku mohon ..., Adara tidak mungkin merahasiakan kepergiannya darimu." Rion berdecak kesal melihat Jie yang menolak memberi info kemana perginya Adara.
"Sungguh Rion, aku bahkan kaget saat dia bilang pergi."
"Cuma kau yang bisa bantu aku, Jie." Jie Ranita dibuat pusing oleh Rion. Pria itu seperti setrikaan di tempat istirahat kafe milik Adara.
"Biarkan saja Adara pergi, Rion. Dia harus memulai hidup baru."
"Bersamaku, Jie. Dia hanya boleh hidup bersamaku." Rion menyahut cepat.
"Kau menakutkan, itulah kenapa Adara pergi."
"Kenapa seseorang yang memberi hati dan hidupnya di sebut menakutkan, Jie? Kalian para perempuan aneh." Rion mendengus, ia berkacak pinggang lalu berdecak pada Jie.
"London. Hanya itu yang aku tahu, untuk detailnya kau bisa cari tahu sendiri dan jangan mengangguku."
"London?" Rion bertanya tapi ia langsung keluar dari ruangan itu. Hanya itu yang Rion inginkan dari Jie, selebihnya ia akan mencari tahu sendiri dengan gampang.
Rion tahu kalau Bibi Adara ada di London, sudah pasti Adara membawa langkahnya ke sana. Rion duduk bersandar dengan santai di bangku penumpang, sementara Ahmed membawanya ke Office Emirat.
"Anatha tolong belikan ponsel baru untukku, semua data salin dari ponsel lama, suruh kurir mengambil ponsel itu dari rumah. Lakukan secepatnya." Perintah Rion begitu sampai di kantornya.
"Baik pak." Anatha segera melakukan tugasnya. Rion duduk di bangku kerjanya dengan kaki menyilang. Ia mengelus rahangnya sembari memikirkan sesuatu, lalu menyeringai dengan aura dingin.
______________________________________________
Adara di London ...
Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya Adara menginjakkan kakinya di negara itu. Ia menyeret kopernya keluar dari dalam bandara. Di pintu keluar ia sudah di tunggu oleh Saida adik ayahnya yang tinggal di London semenjak menikah.
"Dara ...," Panggil wanita yang mengenakan mantel dan syal terlilit di lehernya. Wanita itu membentangkan kedua tangannya menyambut hangat keponakannya itu.
"Bibi Saida ...," Adara menghambur memeluk. " Apa kabar, Bibi?" tanya Adara masih dalam pelukan Saida.
"Bibi turut prihatin atas apa yang terjadi padamu. Pasti sulit bagimu menghadapi semua ini, bukan?" Saidah mengambil alih koper Adara dan menyeretnya ke luar dari tempat itu.
"Jangan membahasnya, aku datang jauh-jauh ke London untuk melupakan itu dan sekarang? Bibi malah membahasanya." Adara mengeluh manja.
"Baiklah, baiklah maafkan bibi. Ayo kita ke pergi dan sambutlah hidupmu yang baru."
Mereka kini berada di area parkiran, Saida memasukkan koper milik ponakannya itu ke dalam bagasi lalu masuk kedalam untuk menyetir.
"Bibi, aku akan menghubungi Mama. Dia pasti menunggu kabar dariku."
Adara menyalakan ponselnya, dan hal yang pertama ia dapatkan adalah panggilan dari Emre dan Rion. Kedua pria itu seolah berlomba menelponnya.
Adara mengetik sebuah pesan untuk ibunya, lalu kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas.
______________________________________________
Lidia keluar dari supermarket, ia habis belanja kebutuhan dapurnya. Wanita itu memindahkan belanjaanya ke dalam bagasi kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Seseorang mengikuti mobilnya dari belakang keluar dari area parkiran supermarket. Sementara di tempat lain, seorang pria memberi perintah untuk melakukan tugasnya.
"Jangan sampai dia terluka, lakukan dengan benar dan kirimkan hasilnya padaku." perintahnya lewat telpon.
"Baik tuan," suara dari seberang menjawab. Pria itu memutus sambungan telponnya.
Honey, Sudah cukup berkunjungnya, dan saatnya pulang. Batinya, seringai jahat muncul di wajahnya yang tampan.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering dengan cekatan ia membuka dan melihat hasil kerja suruhannya.
"Binggo!"
Rion akan melakukan apapun untuk mendatangkan Adara kembali ke pelukannya, dengan cara apapun itu termasuk menakuti Mantan mertuanya. Ia tinggal mengirim pesan itu dan Adara nya akan pulang dengan sendirinya.
di London.
"Astaga aku prihatin, Dara." Adara tampak sedih saat menceritakan alasan sebenarnya ia datang ke London. Bukan karena kuliah bahkan Adara tidak lagi tertarik semacam belajar.
"Tapi sebenarnya, Rion butuh pendamping untuk menyadarkannya. Di butuh obat sesuai resep dokter."
"Biarkan saja, dia bukan lagi urusanku." Adara bangun dari duduknya, "aku ke kamar ya Bi." katanya meninggalkan ruang nonton. Saidah mengangguk.
Adara kembali membuka ponselnya saat berada di kamar. Ia mengerutkan keningnya begitu melihat pesan gambar dari Rion. Matanya membeliak dengan mulut terbuka.
Pulang honey, jika tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya dan tentu akan lebih parah.
begitu isi pesan itu di barengi gambar mobil Lidia terserempet.
"Mama ...," gumamnya, Jantungnya berdetak menyesakkan dadanya. Tangan Adara gemetaran ia menghubungi Lida tapi tidak dalam jangkauan.
Kaki yang menjadi penopang tubuhnya lemas Adara mendudukkan diri di lantai. Keputusannya meninggalkan Lidia berubah menjadi penyesalan.
Adara menelpon kembali, tapi hasilnya tetap sama. Siang tadi ia masih bicara dengan ibunya itu dan semua masih baik-baik saja.
A-apa yang harus aku lakukan?
Adara gugup, ia menggigit-gigit jemarinya yang gemetar. Air matanya menitik, mau tidak mau ia harus menelpon Rion si brengsek itu.
"Honey ...," suara lembut tanpa rasa bersalah terdengar di telinga Adara.
"Ri-Rion, tidak terjadi apa-apa, kan sama mama?" Suara Adara terdengar gemetar.
"Untuk sementara dia baik-baik saja,"
"A-apa maksudmu untuk sementara?"
"Aku tidak janji Mama mertua akan baik-baik saja jika kau tidak kembali." Nada mengancam.
"Kumohon Rion ..., Hentikan!"
"Hanya kau yang bisa menghentikanku."
"Dimana ibuku?" Adara berteriak kesal.
Terdengar suara tawa di ponselnya, "kau menggemaskan sekali, coba saja dekat sudah aku gigit. "
"Kau benar-benar tidak waras ...," Adara menggertak lagi.
"Mmm, aku sangat merindukanmu,"
"Apa?" Adara menggigit giginya sendiri. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Rion. "Aku mohon Rion, jangan lakukan ini."
"Pulang kalau tidak ingin terjadi apa-apa, Honey. Kau tahu seseorang yang hilang akal mampu melakukan apapun. Saat ini aku dalam tahap itu." Rion memutus telpon sepihak. Adara mengumpat dan kembali menelpon Lidia.
Bersambung ...
Ucapan Terima kasih.
Terima kasih untuk komentarnya teman-teman. Aku sangat antusias membacanya dan mungkin tidak dapat aku balas soalnya mata sudah mengantuk.
Banyak yang minta Adara di buat hamil, bahkan hampir semua. Aku minta maaf sepertinya memang salahku memberi pilihan sebelumnya. Aku tidak bisa mendatangkan Adara dalam keadaan hamil, karena memang mereka baru melakukan hubungan suami istri itu. Tidak mungkin langsung hamil kan? Maaf ini salahku, dan juga aku berharap Adara suatu hari nanti hamil dengan pria pilihannya.
Sekali lagi maaf sudah mengecewakan teman -teman. Dan dengan egois juga aku minta mohon dukung ya novel ini biar dapat masuk rekomendasi.
Terima kasih.