OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Adara Emirat jangan lupakan itu!



"Emre mengajakku menikah," Jie tampak gembira saat mengatakannya pada Adara.


"Oh ya ampun ... aku senang mendengarnya, Jie." Adara merentangkan kedua tangannya sahabatnya itu menyambut, mereka berpelukan.


"Selamat ya, Jie. Kau akan jadi istri sekaligus Ibu." Adara mengelus punggung Jie.


"Berkat kamu, Dara." Jie melepas pelukannya, setitik air mata perempuan itu terjatuh, menyuskuri kehadiran Adara baginya. Tuhan memberinya teman baik seperti, Adara.


"Kenapa kau menangis bodoh, bayimu akan sedih nanti," Adara menyeka sudut mata Jie yang masih berair. "kita sudah seperti keluarga, sudah seharusnya saling membantu." Adara kembali memeluk Jie.


"Astaga aku cemburu," Jie mengerutkan keningnya kemudian melepas pelukan Adara.


"Cemburu pada siapa?"


"Pada kamu,"


"Kau tidak—,"


"Hei! Aku tahu isi pikiranmu itu, aku tidak cemburu pada hubungan kalian. Aku hanya cemburu kenapa kau yang menikah duluan," Jie menghela napas panjang, ia mengutuk dirinya karena sudah berpikir Adara cemburu pada hubunganya dengan Emre.


"Tapi Dara," Jie menarik tangan Adara, menuju meja kosong di dalam kafe itu dan duduk santai. "Emre tidak mengatakan kalau dia menyukaiku," sambungnya, wajahnya sendu menatap Adara.


"Jie, dia butuh waktu. Kau tahu pesona Adara sangat susah untuk dilupakan," Adara tergelak melihat Jie yang sudah memerah. Adara hanya bergurau.


"Dia akan menyukaimu perlahan, Jie. Beri dia waktu, tidak mudah untuk langsung mencintai seseorang. Dia sudah memintamu untuk sabar, maka lakukanlah. Emre mengajakmu menikah, aku rasa itu sangat baik. Dia penuh tanggung jawab, dan dia menyukai bayi nya. Aku nyakin suatu saat nanti Emre akan sangat mencintaimu," Adara menggengam tangan Jie yang ada di atas meja.


"Ya kau benar, Dara. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu bukan? Aku akan coba menyakinkan diriku kalau suatu saat nanti Emre akan mencintaiku," Jie, tersenyum pada Adara. Benar keberanian Emre mengajaknya menikah patut di hargai.


"K-kau, kalian kapan akan menikah lagi, Dara? Hubungan kalian sudah baik, Rion mencintaimu dan kau juga begitu. Kenapa kalian tidak menikah saja?"


"Terima kasih," ucap Adara saat pelayan menyajikan cake dan coffee di meja mereka.


"Perceraian Rion sama Calista baru selesai dan ...," Adara, menghembuskan napas kasar mengingat kedatangan Ipek menemui Rion. Wanita itu sepertinya bukan wanita lemah yang akan tinggal diam. Adara bahkan mengingat ancaman Ipek, tidak akan membiarkan mereka bersatu.


"Dan ...?" Jie penasaran, ia berdehem saat melihat Adara membisu dan sibuk dengan pikirannya.


"Tunangannya kembali,"


"Apa? Wah, Rion memang banyak masalah ya?" Jie memukul meja dengan tangannya, mengangetkan Adara dan beberapa orang di dalam cafe itu. Wanita itu terlihat emosi.


"Hei, apa yang kau lakukan? Aku aja santai kenapa kau yang panas?" Adara mengangkat gelasnya lalu menyesap kopinya sembari menatap Jie yang berapi-api.


"Kau itu, seharusnya dari awal jangan menerima pria itu lagi, Dara."


"Lalu?"


"Kau harusnya ...." Jie mengantung kata-katanya, ia ingin mengatakan seharusnya Adara menerima Emre, tapi mulutnya kelu dan tiba-tiba terkunci rapat.


"Aku mencintai Rion, Jie. Aku pernah melepasnya sekali dan jujur aku menyesal. Terkadang pikiran bodoh menghampiriku, kenapa tidak menerima penghianatannya dan tetap menjadi istrinya sekalipun dia menikahi wanita gila itu menjadi istrinya. Seperti yang dikatakan Ibu Hana. Toh cinta putraku hanya untukmu. Biarkan mereka menikah demi bayi itu. " Adara mengingat ucapan Hana saat memintanya untuk tetap bertahan.


"Aku pikir cuma Rion yang gila sama kamu, ternyata kau juga sama," Jie mengaduk-aduk kopinya dengan sendok lalu menyesapnya.


"Kurangi minum kopi, kau lagi hamil," ujar Adara mengingatkan. Jie terkekeh menanggapinya.


"Ini permintaan bayi."


"Menyebalkan! Jie katakan pada Emre. Kalau dia harus mencintaimu sebelum bayi itu lahir. Ini permintaan bayi aku rasa itu cukup efektif untuk mendapatkan hatinya," Jie nyaris menyembur Adara dengan kopi dimulutnya. Adara terkekeh. Ide konyol temannya itu membuatnya tersenyum, mengancam Emre dengan keinginan wanita hamil, mengidam.


Waktu berjalan begitu cepat, Adara pamit hari ini ia akan makan malam dengan Abizard.


______________________________________________


Apartemen Abizard ...


Ipek mengetuk-ngetuk jemarinya pada dagu runcingnya. Ia kesal melihat kakaknya yang menata diri di depan cermin. Mengenakan pakaian formal, layaknya orang ingin pergi ke acara resmi bahkan pria itu mengenakan Jas dengan rompi di dalamnya menjadikannya makin gagah.


"Aku tidak suka sama wanita itu, Izard." Bukan kali pertama Abizard mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ipek. Bahkan dari awal pertemuan adiknya itu dengan Adara sudah menciptakan permusuhan.


"Tapi aku menyukainya, Ipek." Abizard melihat penampilannya di cermin. "Bagaimana? Apa aku sudah tampan?" Abizard meminta pendapat namun, Ipek mendengus kesal.


"Mereka akan menikah," Ipek mencoba memprovokasi. Abizard menghembuskan napas panjang, melihat adiknya itu kesal.


"Aku mencium Mert dan wanita itu melihatnya. Dia bahkan tidak perduli," Ipek melipat kedua tangannya di dada. "Mert bahkan menempel padanya." wajah Ipek menyedu, hatinya sakit mengingat perlakuan manis Rion pada Adara.


"Sudahlah, kau jangan sedih. Aku akan membantumu mendapatkannya." Abizard memeluk Ipek dan menepuk punggung adiknya itu lembut, ikut merasakan bagaimana sakitanya hati ipek di campakkan di hari pernikahannya.


Mert harus membayar sakit hati Ipek, itulah yang dipikirkan Abizard, ambisinya memiliki Adara bukan hanya karena cintanya pada wanita itu tapi ia ingin melihat Mert patah hati dan jika perlu lenyap.


_____________________________________________


"Kenapa kau sangat cantik sih, Hun?" Rion bertanya dengan bersungut-sungut melihat penampilan Adara yang mengenakan gaun tanpa lengan. Wanita itu bahkan mengenakan perona wajah berikut lipstik bewarna terang senada dengan gaun yang ia kenakan.


"Aku tampil cantik untukmu, bukan untuknya." Adara menggigit bibir merahnya. Rion memejam, entah kenapa ia ingin menarik wanita itu dan menciumnya hingga pewarna bibir itu berantakan. Ia benci warna itu.


"Aku tahu itu, tapi Izard akan menikmati penampilanmu juga, Hun."


"Ion, kau ingin penampilanku seperti apa? Pocong?"


"P-pocong? apa itu?


"Sejenis hantu,"


"Aku rasa ide bagus,"


"Apa?" Adara menghela napas berat. Melihat Rion benar-benar tidak nyaman dengan penampilan Adara. "Kau ingin aku dibungkus dengan kain putih dan di ikat pada ujung kepala? Jalan lompat-lompat?" Rion tergelak mendengarnya, ia bahkan membayakan Adara jadi mumi. Terbungkus rapi agar Abizard tidak mengenalinya.


"Aku khawatir pria itu semakin menyukaimu, itu saja." Rion menipiskan bibirnya.


"Bungaku, jangan pernah menatap matanya saat bicara nanti, Mengerti!" Rion mengasurkan jemarinya pada bibir merah Adara lalu mengecupnya sekilas.


"Satu lagi, jangan gunakan lagi pewarna bibir merah menyala begini, aku tidak suka." Rion mendesir melihat bibir itu, ia ingin menghapusnya. Rion menyukai Adara dengan penampilan natural atau dandan seadanya.


Perjalanan mereka tempuh cukup lama, Mobil yang membawa mereka ke restoran elite itu akhirnya berhenti di depan pintu masuk.


Ahmed membukakan pintu untuk Rion dan berlari kecil membuka pintu untuk Adara, Ia minta maaf karena Adara sudah keluar.


Adara tersenyum melihat pria paruh baya itu, "Mulai sekarang kau diam ditempatmu, jangan berlarian membuka pintu untukku atau Rion. Kau cukup mengemudi." Ahmed ragu-ragu mengangguk.


"Kecuali dalam keadaan terdesak," sahut Rion dari tempatnya berdiri. Wajahnya angkuh.


"Baik tuan," Ahmed menyahuti lalu berterima kasih pada Adara, "Terima kasih, Nyonya." ujarnya, merendahkan sedikit kepalanya. Adara mengangguk.


Rion mengulurkan tangan pada Adara, mereka bergandengan tangan masuk ke dalam dan disambut pelayan restoran di depan pintu.


"Ruang VIP atas nama Adara Yash," kata Adara pada pelayan yang menyambutnya. Air muka Rion berubah gelap.


"Baiklah, Nyonya. Mohon ikut saya. " Pelayan itu membawa keduanya pada lantai atas dan berjalan di koridor menuju tempat yang ia pesan.


"Honey, sejak kapan kau mengubah nama belakangmu?" Rion melepaskan tangan Adara dan menghentikan langkahnya.


"Nama apa? Yash? Itu nama Papaku." Rion menyugar rambutnya kasar.


"Sebelum ini kau masih mengenakan Emirat," Rion menggigit giginya kesal.


"Kita bahas ini nanti," pinta Adara, tak jauh dari mereka pelayan itu masih menunggu. "Ion aku mohon, apa kita harus bertengkar hanya karena ini?"


"Adara Emirat! Jangan lupakan itu!" Rion melanjutkan langkahnya. Adara menalan salivanya lalu menghembuskan napas panjang menatap punggung Rion yang mendahuluinya.


"Aku ingin kembali mengenakan nama Papaku, Rion. Sebelum kau menikahiku. Aku merindukan mereka." gumam Adara, melanjutkan langkah kakinya dengan raut sedih.


Bersambung ....


Mungkin banyak typo ya. Maaf tidak di koreksi lagi, semoga kalian nyaman membacanya. Makasih untuk vote, like dan ulasan kalian. Terus dukung Obsessive loves.


Makasih.


Salam


Rei