
"Dara, saat di kota pesisir aku melihatmu dengan seorang gadis kecil. Siapa dia?" tanya Rion. Dahi Adara berkerut ia mendongak melihat Rion yang tengah menjatuhkan tatapannya padanya.
"Aku pernah dengar ingatan seseorang itu bisa kembali jika kepalanya di benturkan, kau mau mencobanya?"
"Sejak kapan kau jadi bodoh begini?" Rion berbisik sembari menyentuhkan ujung hidungnya di ujung hidung Adara. Mata keduanya saling terkunci, posisi yang sangat intim. Adara menelan ludahnya menarik sedikit diri. Wajahnya memerah dan saat Rion menyadari itu ia menyeringai penuh ironi.
"A-aku hanya memberi saran." gumam Adara terbata-bata.
"Itu bukan saran, tapi Dara ... aku juga pernah dengar ingatan seseorang akan tajam kalau mereka sering bercinta. Kau mau mencobanya?"
"Dalam mimpimu, Rion."
"Aku sering bercinta dalam mimpi denganmu, Dara. Sekarang aku ingin melakukannya secara nyata." Rion sengaja menghembuskan napas panasnya dibelakang telinga Adara. Suara Rion parau dengan pupil membesar.
"Rion! Ayo kita bicara serius." Adara mendorong dada Rion menjauh lalu kemudian tangannya mengusap belakang telinganya, yang terasa panas.
"Honey, kau pikir kita ini lagi bercanda?"
"Selain pikiranmu tidak beres kau mengidap penyakit mesum juga ya?" Adara berusaha lepas dari pangkuan Rion tapi itu tidak mudah Rion semakin mengeratkan pelukannya.
"Rion lepasin, aku tidak nyaman."
"Kenapa?"
"A-aa ...entahlah."
"Kau juga menginginkannya, bukan?
"Apa maksudmu? Aku tidak nyaman karena sesuatu dibalik celanamu sangat aneh." Adara menyahutinya dengan cepat hingga terdengar gumam-gumam.
Rion menyeringai, ia semakin berniat menggoda Adara. Sebenarnya Rion juga masih waras dia tidak mungkin melakukan hal konyol di ruangan itu, tetapi saat melihat Adara geragapan dan bersemu Rion semakin tertarik menggodanya.
"Tapi dia nyaman denganmu, honey." Rion melepas satu tangannya dari pinggang Adara lalu menangkup dagu Adara dan membawa ketatapannya. "Dia tahu kalau kau punya sarangnya." bisik Rion tepat di wajah Adara.
Adara memekik mendengar perkataan kurang ajar Rion. "Bi-bicaramu tidak sopan." geram Adara mendorong kuat dada Rion. Pria itu terkekeh dan melepaskan Adara. Cukup menggoda, ia mengenal dirinya memiliki batasan karena saat Rion jahil dirinya yang paling menderita menahan diri untuk tidak meleburkan Adara dalam api hasratnya.
Adara beranjak dari pangkuan Rion, memalingkan wajahnya sambil menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rion.
"Jadi siapa dia?" tanya Rion, mengambil tangan Adara dan memainkan jari-jari cantik Adara.
"Putriku,"
Rion terdiam, perlahan melepas tangan Adara dan meletakkanya di pangkuannya. Ia tampak kecewa, Rion menatap Adara mencoba menyelam kedalam hati wanitanya itu. Cahaya cerah nan tulus yang di pancarkan mata Adara tidak menunjukkan kebohongan.
Adara mencintai Illy sepunuh hati dan menganggap Illy putrinya. Bayi malang yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya semenjak masih dalam rahim. Adara lah yang memperkenalkan diri sebagai Ibu untuk Illy.
"Putrimu dengan Calista." ujar Adara pelan, lalu menunduk sedih. "kau juga tidak mengingat itu?" tanya Adara, mengangkat kepala menatap Rion.
Pria itu menggelang, "tapi mungkin itulah alasan kita bercerai?" Adara mengangguk. Rion memejamkan matanya, berpikir sedalam apa ia menyakiti wanita itu.
"Besok aku akan membawanya kesini, kau mau bertemu?" Rion terdiam, masih sangat banyak yang belum ia ketahui mengenai masa lalunya.
"Ceritakan segalanya bagaimana kita bercerai dan kenapa aku menjadi Mert, Aku ... juga penasaran kenapa bisa di sini dan bertemu denganmu, Dara."
"Baiklah, dengarkan ...."
______________________________________________
Dua tahun yang lalu ...
putusan hakim mengirim Calista ke dalam penjaran dengan hukuman seumur hidup atas tindakan kriminal yang ia lakukan.
Adara memilih diam dirumah, sangat menyakitkan jika sampai ia mendengar nama ibunya disebut menjadi korban pembunuhan oleh karna itu ia menyerahkan segalanya pada Ardan sebagai pengacaranya.
Tiga bulan di penjara, Calista mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tanganya di dalam sel. Adara tidak ingin Calista meninggal dengan cara mengakhiri hidup, ia ingin wanita itu hidup dipenuhi rasa bersalah selama hidupnya.
Adara meminta Calista di pindahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan hingga pulih. Calista lebih banyak diam dengan tatapan kosong dan juga sering tersenyum sendiri. Dokter mengatakan ia terkena baby blues semenjak pasca melahirkan.
Tidak lama kemudian penyakit wanita itu semakin bertambah, histeris dan selalu bersumpah serapah pada Adara. Bahwa semua yang terjadi padanya karena Adara.
Calista akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa, dimana Adara bisa mengawasinya dan mendapatkan kabar mengenai perkembangan mental Calista. Dokter mengatakan kalau Calista tidak ada perubahan dan tampak semakin parah.
"Rawat saja dia, usahakan sampai pulih. Aku sudah berdamai dengan hatiku dan mencoba menerima apa yang terjadi pada Ibuku." ujar Adara saat mengirimkan donasi ke rumah sakit jiwa itu.
Adara menyeret kakinya dari Rumah sakit jiwa itu dan memutuskan menerima Illy menjadi putrinya.
_____________________________________________
"Mommy ...." Teriak Illy saat melihat Adara keluar dari dalam mobil, Adara menunduk dan menangkap lompatan gadis kecil itu.
"Kau belum tidur?" tanya Adara mencium pipih Illy.
"Illy menunggu, Mommy."
"Apa harimu menyenangkan, sayang?" tanya Adara saat melihat Illy tampak bahagia.
"Waoh ... itu kabar bahagia, bukan?" Tanya Adara sambil membawa Illy masuk kedalam rumah, sementara pengasuh Illy mengekor dari belakang.
"Ummm..." Illy mengangguk, setuju.
"Dan Mom juga punya kejutan untuk, Illy." Adara menurunkan Illy, mencubit kedua pipih tembam milik putrinya itu. Illy tampak bahagia dan melompat-lompat tak sabar.
"Mana kejutannya, Mom?"
"Besok," Illy mengerucutkan bibirnya, kecewa.
"Okay my dear, saatnya tidur dan bermimpi indah. Jangan lupa ucapkan sebait doa sebelum tidur. Besok Mom akan membawamu pada kejutanmu itu."
"Baik, Mom."
______________________________________________
Adara merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu, ia tersenyum bagaimana Rion memperlakukan Adara siang tadi. Pria itu tidak berhenti membuat rona di wajahnya lalu keduanya saling terisak dan berpelukan erat saat Adara menceritakan semua kisah lama mereka.
Rion berulang kali meminta maaf, atas semua yang terjadi pada Adara. Rion mengatakan kalau dirinyalah sumber masalah bagi Adara.
"Dara, ayo kita mulai semua dari awal." kata Rion, menatap Adara penuh harap.
"Hubungan kita?" tanya Adara menyeka pipih Rion yang basah.
"Yah, aku mau kita bersama -sama lagi." Adara ingin mengatakan setuju, seketika ia mengingat Ipek tunangan Rion. Keluarga Denir tidak akan tinggal diam dengan kejadian yang menimpa putrinya. Adara juga tidak tahu bagaimana hubungan Rion dengan Ipek. Apakah saling mencintai atau tidak.
"Ba-bagaimana dengan Ipek?" tanya Adara ragu-ragu, terdengar helaan napas panjang dari Rion.
"Mereka sudah membunuh Mert tunangan putrinya. Diriku Rion seutuhnya, jangan khawatir aku akan mengatasinya. Hanya satu yang aku mau darimu, tetaplah berdiri di sampingku, sejajar denganku dan kita hadapi hidup ini bersama-sama, kau mau kan?" tanya Rion, menangkup kedua sisi wajah Adara.
Adara tampak menimbang lalu kemudian mengangguk. Terlihat wajah bahagia dari Rion. "Aku akan menciummu, apa kau mau?" tanya Rion tanpa rasa malu.
"Kau tidak pernah meminta ijin sebelumnya, kau selalu mengambilnya paksa." gumam Adara malu-malu.
"Kali ini aku meminta ijin," Adara mengangguk, Rion tersenyum puas lalu memiringkan kepalanya dan mencium lembut bibir Adara.
"Permisi," Rion dan Adara terkesiap, menolehkan kepala ke arah sumber suara. Ciuman yang hampir panas itu akhirnya terputus paksa.
Di ambang pintu kini Jie berdiri dengan keranjang buah tangan.
"Apa aku menganggu aktivitas kalian?" tanya Jie, menyadari kedekatan Adara dan Rion. Duduk menepel sementara tangan Rion masih mengenggam erat tangan Adara.
"Tidak. "Adara spontan menarik tangannya, dan segera menghampiri Jie di depan pintu.
Begitu kisah mereka sampai Adara kembali kerumah.
Ponsel Adara berdering, sebuah pesan masuk. Ia bangun dari rebahannya dan mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Nomer tanpa nama. Adara ingat meminta Mete membelikan ponsel untuk Rion, ia tidak mendunga akan secepat itu Rion mengirim pesan untuknya.
📩 : Honey, aku sangat merindukanmu padahal kita baru berpisah.
Adara tersenyum lebar.
📩 My Wife : Jadi ponselmu sudah sampai? Pria yang mengantar ponselmu itu namanya, Mete. Aku memintanya untuk tinggal semalam disana kalau kau butuh sesuatu mintalah padanya.
📩 : Tidak butuh apapun selain dirimu disini. Tapi aku lebih ingin kau tidur nyenyak malam ini dan bermimpilah tentangku, Honey."
Dasar kau Rion.
📩 My Wife: Selamat malam Rion.
📩 : Panggil sayang, Dara. Kau tidak sopan.
Wah, dia mulai mengaturku.
📩 My wife: aku akan tidur.
📩: Berikan aku ciuman.
📩 My Wife : Muah ...
Rion tersenyum bahagia, sementara Mete yang tengah duduk di sofa menghujat dalam hati. Pria dewasa itu terlihat seperti anak remaja yang lagi pacaran.
📩 : Muah ...... 10 kali, datanglah lebih awal besok dan bawa putri kita.
Adara terkekeh, lalu sedetik kemudian menggelengkan kepala menyadari sikap kekanak-kanakanya.
Ah ini memalukan, usiaku dua puluh delapan tahun tapi bertingkah seperti anak remaja. gumam Adara meletakkan ponselnya dan mengambil guling lalu memeluknya sembari senyum-senyum.
Bersambung ....
Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.