OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Kenapa kau melakukan itu



"Kapan itu terjadi?" Tanya Adara, melihat raut Adara menyedu, Emre merasa menyesal telah mengatakannya.


"Belum lama ini," ujarnya.


Bagaimana kehidupanmu Dara setelah menikah dengan pria itu? Apa kau bahagia atau sebaliknya?


Emre membatin, mengingat bagaimana Rion datang dan meminta untuk memalsukan hasil tes DNA dengan imbalan akan berdonasi ke rumah sakit itu dan juga menjanjikan posisi bagus untuk Emre.


"Terima kasih, Emre. Kau sangat baik, aku janji tidak akan membawa namamu dalam masalah ini."


"Kau tidak apa-apa, kan?" Emre khawatir.


"Entahlah, Emre." Air mata Adara menitik, pria itu ingin mendekat dan menenangkan Adara.Tapi seketika ia diingatkan bahwa Adara seorang istri dari pria lain.


Adara meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Emre merutuki kelancangannya telah berbagi rahasia pasien hanya karena tatapan sendu Adara.


Apa aku masih menyukainya? Yang benar saja.


Adara mengeratkan genggamannya pada stir mobil, menarik napasnya yang mengumpul dalam dadanya. Ia melakukannya berulang kali untuk dapat bernapas lega dan dalam seketika Adara tergelak, dalam tawa itu tersirat kesedihan, cemas, tidak percaya dan rasa putus asa bercampur menjadi satu.


______________________________________________


Warehouse Emirat logistic


Rion memantau pekerjaan karyawanya yang bekerja di gudang milik Emirat logistic.


"Bagaimana Master list sudah rampung?" Tanya Rion, pada Mete yang berdiri di sampingnya. Pria itu manager di Warehouse itu.


"Sudah pak," sahutnya


"Kirimkan report manifes pengiriman ke London hari ini pada Anatha, dan untuk pengiriman spareparts mobil ke cina ambil penerbagan sore!" Perintah Rion dan dengan cepat di Mete mengangguk.


"Baik pak,"


Rion keluar dari sana, melangkah dengan kaki panjangnya, menunjukkan sikap tegas tapi dengan raut ramah saat melewati para pekerjanya di Warehouse miliknya, Mete mengantarkan pimpinannya itu ke area parkiran dimana ratusan armada milik Rion terparkir.


"Saya balik ke office ya," ujar Rion dan di anggukin sopan oleh Mete. Pria setengah paru baya bernama Ardan membukakan pintu mobil untuknya lalu kemudian masuk ke kursi pengemudi untuk menyetir.


"Ardan, matikan pendingin mobilnya saya mau merokok." ujar Rion, mengulurkan tangan ke depan dan dengan sigap Ardan mengambil rokok dari laci mobil kemudian menyerahkannya pada tuannya itu.


"Baik Tuan," suara ponsel berdering sebelum ia menyalakan rokoknya. Rion melihat pemanggil, Hana ibunya.


"Halo, Ma." sahutnya, menyerahkan kembali rokok yang ada di tangannya pada Ardan.


"Kau bertengkar dengan Dara?" tanya Hana, mematung di ruang tamu dengan cemas.


Mendengar itu kening Rion mengkerut, "Tidak ma, ada apa?" Suara helaan napas Hana terdengar berat.


"Istrimu pulang dari luar marah-marah, Rion. Pintu rumah dibanting dan saat mama menyapa malah di plototin." Hana mengadu.


Beberapa saat yang lalu ...


Saat Hana duduk di sofa membaca tabloid langganannya, Adara membuka pintu dari luar lalu menutupnya keras hingga mengangetkan seisi rumah.


Hana berdiri, melihat menantunya itu dan berniat menyapa.


"Dara, vocer spa yang kemarin masih berlaku, kan?" Bukannya di jawab Adara malah melayangkan tatapan menusuk sama mertuanya itu. Lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Apa ada masalah, Dara? Bicara sama mama." Seru Hana dari lantai bawah, Hana terlonjak begitu mendengar pintu kamar Adara tertutup dengan keras.


Hana mengelus dadanya, ini yang pertama baginya melihat Adara semarah itu. Hana tersadar akan sesuatu lalu menghubungi Rion.


Dan saat sekarang ...


"Dara dari mana, Ma?" Tanya Rion menarik rambutnya kebelakang.


"Mama tidak tahu, istrimu sudah sejak pagi keluar rumah."


"Baiklah aku pulang." Rion memutuskan sambungan telpon. "Langsung ke rumah!" Perintahnya pada Ardan.


"Baik tuan." Ardan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas 60 kilometer.


____________________________________________


Mengetahui Rion dan Hana melakukan tes DNA pada seorang perempuan hamil membuatnya marah, berpikir kalau dirinya terhianati dan sialnya kedua orang itu selalu bersikap manis padanya.


Hatinya sakit seolah diremas di dalam dadanya, dan itu mengharuskan dirinya menghembuskan napas panjang berulang kali.


Ia terkekeh, masih belum percaya apa yang terjadi hari ini. Rion suaminya yang selalu berkata cinta, sayang, memperlakukannya seperti permata berkilau dalam hidupnya ternyata hanya bualan untuk menutupi kebusukannya. Ya, begitulah Adara berasumsi.


Rion kau ... kau ... kenapa kau melakukan itu


Rion berlari kecil menaiki anak tangga, Hana melihatnya dan langsung menghampiri.


"Dara kenapa, Ma?" Hana mengendikkan bahunya.


"Entahlah," ujarnya, seraya menggelengkan kepala.


Rion menekan handle pintu, "Hun, bukan pintunya." Pinta Rion seraya mengetok pintu berulang kali. Tak ada sahutan, wanita di dalam sana diam di tempatnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Dara, ayolah ... ada apa denganmu? Apa kau punya masalah, Hun?" Rion mengetok pintu lebih keras.


"Hei ..., Adara!" Rion menggeram, menekan -nekan handle pintu kesal, sayangnya suara kekesalan itu tidak di hiraukan Adara.


"Kunci cadangan, Ma." Hana berdecak, berjalan kekamarnya. Rion mengeluarkan ponsel dan menghubungi Jie Ranita.


"Jie," sapanya begitu sambungan terhubung. "Tadi Dara dari sana?" Tanya Rion dengan nada kecil sembari mengawasi sekitarnya.


"Tidak Rion, kenapa?" Rion menghela napas panjang.


"Jie, kau belum cerita sama Adara, kan?" gumamnya.


"Belum, ada apa, Rion?" Rion langsung mematikan ponselnya begitu mendengar suara langkah ibunya.


"Sungguh kau tidak bertengkar dengannya?" Hana menyerahkan kunci ke tangan Rion.


"Sama sekali tidak," Rion hendak memasukkan anak kunci kelobangnya saat itupula Adara membuka pintu. Rion bernapas lega begitu juga dengan Hana.


"Dara, apa sesuatu terjadi? Kena—," Adara mendorong tubuh Rion yang hendak memeluknya. Menatap Rion dengan tatapan nyalang.


"Menyinkirlah!" Perintahnya dengan tatapan suram.


"Dara ada denganmu? Kalau ada masalah kau bisa bicarakan, bukan? Jangan begini." Hana menyahuti, hatinya sakit melihat putranya di dorong dan di tatap tajam oleh menantunya itu.


Adara melihat ke arah ibu mertuanya, lalu menatapnya seraya terkekeh. Kening Hana mengkerut, kenapa menantunya ini menakutkan sekali.


"Kalian berdua," katanya dengan nada datar, " telah menipuku!" Tambahnya, mengalihkan tatapannya pada Rion dengan tajam.


Hana dan Rion saling tatap, sinar wajah keduanya redup seketika.


"Apa maksudmu, Hun?" Rion berujar lembut, mendekat dan ingin mengambil tangan Adara tapi istrinya itu mundur dan menolak.


"Kau tahu maksudku! Mama juga pasti tahu bukan? Kalian tahu bukan?" Adara menatap mertua dan suaminya bergantian. Hana memejamkan matanya sambil menghembuskan napas perlahan.


"Honey, apa yang menganggumu? Kau bertingkah aneh, dokter bilang kau tidak boleh stres, supaya penanaman calon bayi kita berhasil" kata Rion, mengabaikan ucapan Adara.


Adara terbahak, suara tawanya sangat menyedihkan, "kau tidak membutuhkan itu lagi, Ion." Adara mendekat, berjinjit, mendongak meraih kerah baju suaminya. "Kau, sudah, punya, anak dari wanita lain." katanya lambat-lambat tepat di wajah suaminya itu, lalu seringai muncul di bibirnya ketika melihat wajah Rion pucat. Begitu juga dengan Hana ia sangat terkejut dengan mulut menganga. Adara melepaskan tangannya dari kerah baju Rion.


Bersambung ...


Catatan kecil : Boleh dong minta like


: Boleh dong minta poinnya🤗


: Boleh dong minta klik ❤️


: Boleh dong minta klik Rate 5


Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author!