
Abizard …
Rion tidak pernah berharap kalau Abizard akan mendatanginya, ia menelan salivanya sementara air mukanya tiba-tiba berubah pias. Pria yang berdiri tidak jauh darinya menampilkan senyum ramah.
“Lama kita tidak bertemu, kau apa kabar, teman? Abizard menghampiri, lalu mengulurkan tangan pada Rion.
“Untuk apa kau kesini?” Tanya Rion mengabaikan uluran tangan pria itu, merasa diabaikan Abizard menarik kembali tangannya sambil menyeringai melihat sikap arogan Rion.
“Kau tidak merindukanku, teman? Ah, sayang sekali padahal aku sangat merindukanmu. Kerinduanku tidak terbalas.” Abizard terkekeh,
bersandar pada mobil Rion.
“ Mert, apa gedung ini milikmu?” Tanya Abizard sembari memandang gedung pencakar langit dimana pada lantai teratas ada huruf E sebagai logo perusahaan Emirat.
“Pergilah Izard dan satu lagi jangan pernah muncul dihadapanku, kita tidak saling mengenal.” Rion memberi peringatan dan ditanggapi kekehan ringan oleh Abizard.
“Kau bahkan mengingat nama panggilanku, Mert.” Abizard mendekat lalu mencengkram kerah kemeja Rion. “tenang saja aku tidak akan menganggumu, teman. Aku kesini bukan untukmu, tapi untuk perempuan yang bernama Adara.” Abizard melepas tangannya lalu tersenyum miring melihat tatapan suram
Rion.
“Kau pasti ingat bukan? Perempuan yang menatapku sinis saat di pantai, sampai sekarang tatapan itu terbayang olehku. Aku jatuh cinta pada padangan pertama." Ujar Abizard sembari merapikan kerah kemeja kusut Rion karena cengkramannya.
Rion menghempaskan tangan Abizard, dan dengan sigap menangkap pergelangan tangan Abizard kemudian memuntir kebelakang lalu menyudutkan Abizard pada body mobilnya.
“Jaga lidahmu sebelum aku memotongnya. Adara istriku! Jangan pernah menemuinya kalau masih ingin hidup!” Rion menggeramkan kata-katanya penuh penekanan. “Enyalah!” perintanya melepas Abizard dan masuk kedalam mobilnya.
Abizard terbahak, ia mengelurakan ponselnya dan mencari nama Adara disana lalu menunjukkannya pada Rion.
“Kau pasti mengenal nomer ini, bukan?” tanya Abizard sebelum rion menutup pintu mobilnya. Rion membeliak, ia merampas ponsel itu tapi dengan sigap Abizard menariknya sembari terkekeh-kekeh.
"Sttssst, ini jalanku bertemu denganya. Dia punya hutang padaku saat aku menyelamatkan putrinya."
"Aku akan membunuhmu, Izard." Ancam Rion dengan tatapan menusuk.
"Aku takut!" tatapan Abizard ketakutan tapi sedetik kemudian pria itu tergelak. "Lakukan kalau kau punya nyali." sambungnya dengan raut menakutkan.
“Mert, Ipek merindukanmu dia masih tunanganmu dan sementara Adara hanya mantan istrimu. Sebelum menemuimu aku sudah menyisir info mengenai
wanita cantik itu.” Ucap Abizard dan diakhiri dengan kekehan kemenangan.
“Baj*gan!" Rion memukul stir mobilnya kesal, melihat Abizard menjauh sembari melambaikan tangan padanya.
_______________________________
________________
Di Apartemen Jie Ranita.
“Terima kasih, Adara.” Jie memeluk Adara saat keduanya berada di apartemen Jie.
“Aku pikir keputusanku sudah benar untuk melahirkan bayi ini tanpa suami. Terima kasih, kau sangat memperhatikan aku,” ujar Jie, mengeratkan pelukannya pada Adara. Sementara Adara menepuk-nepuk pundak Jie pelan, ia turut bahagia melihat Jie bahagia.
“Itulah gunanya sahabat, Jie.”
“Dia bilang aku akan mendampinginya untuk mengobati luka hatinya. Aku tidak menyangka kalau Emre sangat patah hati padamu,”gumam Jie.
“Kau mau aku menghilang dari kehidupan kalian berdua?” tanya Adara dengan sorot serius. Adara akan melakukan itu untuk kebahagian Jie. Kemungkinan jika Adara tidak ada diantara mereka maka dengan cepat Emre akan mencintai Jie.
“Jangan coba-coba Adara, Emre harus mencintaiku sekalipun kau diantara kami,” sahut Jie.
Adara menghempaskan tubuhnya di atas ranjang Jie, begitu juga dengan wanita hamil itu, ia menidurkan dirinya pelan-pelan seolah –olah takut janin dalam perutnya terganggu. Adara terkekeh melihat Jie, ia berbalik dan
mengelus perut Jie lembut.
“Tidak akan terjadi apa-apa Jie, dia masih sebiji kacang dan menempel erat pada rahimmu. Dia pasti nyaman disana apalagi mengetahui kalau Ibunya tengah berbahagia.” Ujar adara mengelus lembut perut datar Jie.
Jie terkekeh, “Berhenti mengelus perutku, Nyonya Emirat. Jika rion melihat posisi kita ini dia akan salah paham, dan berpikir kalau kau
yang menghamiliku.”
“Cih, menyebalkan.” Mendengar nama Rion membuatnya spontan bangun.
“Ada apa?” Jie ikut panik tapi masih tetap di posisinya.
“Batre ponselku habis, Jie. Rion pasti menghubungi aku meniggalkannya
saat Rion memberi kata sambutan,” Adara turun dari ranjang dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. “Charger dong Jie,”
“Ada dalam tas, cari saja.”ujar Jie. Adara dengan cekatan mengeluarkan benda itu lalu menghubungkanya pada listrik.
“Kau gunakan saja ponselku, pacarmu itu kan orang gila,”
“Jie …”
“Baiklah, dia hanya gila kalau sudah menyangkut dirimu,” Adara terkekeh mendengarnya sambil menyalakan ponselnya yang sudah terisi lima persen.
“Astaga Jie, 99 panggilan,” Seru Adara menarik kursi meja rias Jie untuk ia duduki.
“Sudah kuduga,”
“Tanpa pesan, Jie,”
“Habislah kau,”
“Jadi wanita nakal di hadapannya,"
“Ide konyol,” Adara mengerucutkan bibir, Spontan Adara meletakkan ponsel di atas nakas, jantungnya berlari melihat ponselnya berdering, panggilan dari Rion.
“Jie, dia menelpon." Pekik Adara.
“Angkat, Dara,” Jie tergelak melihat raut Adara yang pucat, "wajahmu seperti orang tertangkap basa selingkuh," ujar Jie terbahak.
"Serius?" Adara menepuk wajahnya tiga kali, lalu meghela napas panjang.
“Astaga! Rasanya seperti dipanggil Tuhan,” gumam Adara mengambil ponselnya dan menekan tanda jawab.
"Sayang ...," sahut Adara tak lupa memasang closed smile andalannya. Matanya ikut tersenyum sangat cantik layaknya peri langit yang dikirim para dewa ke bumi.
Hanya melihat senyum dan tatapan Adara lewat Video call, mampu meluluhkan hati Rion yang sudah di penuh emosi.
"Kau ada dimana, Hun?" tanya Rion dengan suara datar, Rion menggariskan senyum simpul di wajahnya untuk Adara.
Pertemuannya dengan Abizard menjadi satu ketakutan untuknya. Rion tahu, Abizard bukan orang yang suka mundur saat menginginkan sesuatu. Dia ingin menikah Adara secepatnya.
"Di Apartemen Jie, maaf tidak menjawab panggilanmu, Batre pons __,"
"Pulang!" Belum selesai Adara menjelaskan Rion sudah memutus panggilan sepihak setelah memberi ultimatum. Adara mendengus dengan sikap Rion yang selalu seenak hati padanya.
Emre, andai beruntung pasti sangat bahagia mendapatkanmu, Adara. Rion pantas saja tergila-gila padamu. Kau bukan hanya cantik tapi hatimu juga baik.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jie setelah sebelumnya melamun melihat Adara. Sahabat yang dicintai ayah dari janin yang ada dalam kandungannya. Memang sangat cantik terlebih saat tersenyum.
"Tidak apa-apa aku sudah terbiasa," sahut Adara, melepas ponselnya dari charger dan menghampiri Jie yang masih duduk di ranjang.
"Jie, sering-sering hubungi Emre, ya. Mulai sekarang kau harus berusaha masuk kedalam kehidupannya dan mendapatkan cintanya, aku percaya dia pasti mencintaimu dengan tulus," Jie mengangguk, lalu kedua alisnya bertautan saat melihat Adara bersiap-siap pulang.
"Kau mau pulang, Dara?"
"Mmm, sudah jam sembilan malam," Adara melangkah keluar kamar dan di ikuti Jie.
"Dasar penurut," ujar Jie dengan nada bersungut-sungut.
"Aku pulang karena sudah malam bukan karena Rion," Protes Adara.
"Justru karena sudah malam, baiknya kau tidur disini. Lagipula tidak ada yang menunggumu di rumah," Adara mengenakan sepatunya, Jie benar tidak ada yang menunggu Adara pulang untuk saat ini, tapi nanti? Entahlah.
"Rumahku, dia menginginkan aku disana," ujar Adara, mencium kedua pipi Jie.
"Alasan," gumam Jie.
"Aku pergi,"
"Hati-hati, Dara." Adara melambaikan tangannya, meninggalkan Jie sendirian.
_______________________________
____________________
Hari ini adalah hari yang ditunggu Adara dan Rion.
Menikah.
Kini pengantin itu berada di depan Altar dengan di hadiri ratusan orang dekat dan beberapa kolega kerja Emirat yang datang dari berbagai kota.
Rion, semakin mempesona dengan balutan jas bewarna abu tua dipadukan dengan kemeja hitam dan dasi senada dengan warna jas nya, tak lupa di kantong jas itu tersemat bunga yang memberi sentuhan romantis dari penampilan pria itu.
Sementara Adara, ia mengenakan gaun bewarna putih, tampak seksi dengan leher V melekat di tubuhnya. Di kepala wanita itu tersemat mahkota bunga yang membuatnya semakin cantik bak peri.
"Adara Yash, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang dan sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang ...."
Seorang wanita berbalut gaun merah, memasuki gedung itu dengan langkah yang elegan. Banyak mata meliriknya dan memberinya senyum. Wanita itu membalas dengan senyum kepalsuan. Ia mengambil bangku di barisan belakang dan menikmati acara sakral kedua mempelai disana. Bibir yang bewarna merah semakin merekah ketika ia mengkulumnya sendiri. Senyumnya menyiratkan kebencian pada dua orang yang tengah mengikat janji di hadapan Tuhan.
"...Rion Emirat, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya__"
Dor ..., Dor ...,Dor ....
Tembakan menggema di ruangan itu, membuat para undangan panik dan berlarian keluar gedung. Emre menarik tangan Jie keluar dari gedung dan menyuruhnya pulang.
"Jie pulang, oke. Aku akan menemuimu nanti,"
Jie mengangguk, Emre berlari kembali ke gedung sembari menelpon anbulance.
Hana terdiam di tempatnya melihat pernikahan putranya berubah menjadi tragedi, Illy memeluk kaki Hana erat, menyembunyikan wajah takut melihat ibunya berubah warna jadi merah.
Saidah memeluk suaminya, sembari histeris. Keponakannya bersimbah darah. Tiga peluru menembus jantung Adara tapi wanita itu masih bisa bertahan dalam hitungan menit. Menatap pria yang belum sah menjadi suaminya. Janji pernikahan mereka belum selesai di ucapkan.
"Hun, bukan matamu, aku mohon jangan tutup, jangan tutup matamu. Ambulance akan datang. Please Hun, jangan tinggalin aku. Aku mohon jangan tutup matamu," Rion meringis memeluk Adara dalam pangkuanya. Wanita itu menyungingkan senyum dan napasnya terasa pendek sementara matanya mulai merabun. Berkedip perlahan menutup rapat. Adara meninggal.
"Dara ...."
Bersambung ....
Hidup seseorang tidak selalu berakhir bahagia, bukan? 😭