
Rion melepas bibirnya, ujung hidung keduanya masih menyatu. Rion terengah, posisi Adara kini benar-benar di atas pangkuaanya. Mereka bersitatap, Adara terlihat kesal menahan hasratnya begitu muda terpancing oleh pria ini. Tapi tidak dipungkiri ia merindukan sentuhan itu, tubuh hangat Rion yang selalu membuatnya nyaman.
"Lihatlah Honey, bahkan tubuh kita tidak menolak untuk menyatu." Napas Rion sangat hangat menerpa wajah Adara.
"Hanya mulut inilah yang menolak dengan kata munafik tapi, hati kita masih ingin kita bersama-sama. Hati kita terikat satu sama lain. Kita sepasang yang ditakdirkan bersama." Tambahnya, mengecup bibir Adara.
Tidak ada kata yang lolos dari mulut Adara. Ia malah terlihat seperti orang sakau. Nafkah batinya meminta lebih dari sekedar ciuman panas itu, ia mengingikan sentuhan yang lebih intim lagi.
Rion tersenyum melihat mata Adara berkabut hasrat. Lalu tangannya menyusuri wajah Adara dengan belaian- belaian menggoda yang membawa Adara semakin terbuai.
Adara menelan salivanya, memperhatikan bibir Rion yang sedikit memerah karena ciuman panas mereka. Adara ingin menyentuhnya, membelai lalu mengecup.
Dan anehnya Adara melakukan itu. Rion terpejam, merasakan sentuhan tangan Adara pada bibirnya.
Seperti ada segatan listrik pada tubuh Adara, mengingatkan dirinya. Mengingatkan akan harga dirinya.
Jangan! Kau tidak boleh melakukan ini! Dia tidak lagi milikmu. Jangan rendahkan dirimu di mata pria ini.
Sontak Adara menarik tangannya, membuat Rion membuka matanya yang terpejam karena sentuhan itu.
Adara menyadarkan diri, berusaha turun dari pangkuan Rion. Tapi Rion menahannya, mengeratkan tangannya pada pinggan Adara.
"Rion lepasin ...," Adara mendesis, lalu seringai muncul di bibir Rion.
Kau masih berusaha menahan diri? Aku tahu kita sama-sama menginginkan ini.
"Kau mau kita lakukan di mana? Aku tahu mobil bukan tempat yang nyaman untuk bercinta. Meski patut di coba untuk mendapatkan sensasi baru tapi mungkin lain kali. Aku ingin berlama-lama di ranjang yang empuk tanpa harus was-was. Tapi ... sebenarnya aku tidak masalah jika kau menginginkannya disini. Kita bisa melakukan koitus cepat." Dengan nada vulgar Rion mengatakan keinginannya. Tangannya menyusuri ceruk leher Adara, lalu turun membuka kacing kemeja bagian atas.
"Cepat katakan! Di dekat sini juga ada hotel, Honey," Kancing kedua terbuka, belahan dada itu terlihat sedikit.
Adara, menahan tangan Rion. Membuat pria itu menatap mata mantan istrinya yang tengah berhasrat itu.
Apa yang terjadi padaku? Kesepian? Atau hanya ingin mendapatkan sentuhan fisik sederhana, untuk melepaskan horman cinta pada tubuhku? Kenapa rumit begini? Aku bahkan ingin telanjang di hadapannya. Bodoh? Aku tidak waras.
Adara menggelengkan kepala, menolak. Rion tampak kecewa.
"Dara, jangan membohongi dirimu. Kau menginginkan aku bukan? Dengar, ini bukan hanya menyangkut keinginan tubuh kita. Tapi karena cinta. Cinta yang masih kuat di antara kita."
Adara melepaskan tangan Rion yang masih mengetat di pinggangnya.
"Maaf." Lirih Adara, tangan Rion mulai melonggar, pria itu bahkan melepaskannya.
"Aku mencintaimu, Dara. Aku tahu cara seperti ini salah untuk mendapatkanmu kembali." Rion membantu Adara mengancingkan kemeja yang sempat ia lepas.
"Tapi ... kalau kau menolakku aku tidak akan bersikap lembut lagi. Kau ingat delapan tahun yang lalu? Aku bisa melakukan apapun untuk menghentikanmu pergi kuliah ke London. Jangan sampai kejadian itu terjadi dan kau akan menyesal nantinya." ucap Rion dengan senyum mengancam.
Adara membeliak, mendengar ucapan Rion. Tentu ia tidak ingin hal seperti itu terjadi.
Rion mengeratkan kedua tangannya di bahu Adara.
"Aku pergi, Honey. Karena kalau aku masih disini, takutnya ..., aku tidak bisa mengontrol diri dan memakanmu bulat-bulat." ucapnya tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat jenaka tak lupa pria gila itu mengecup bibir Adara singkat dan memindahkan Adara ke bangku pengemudi.
"Aku pergi ...." Rion pamit membuka pintu dan meninggalkan Adara sendirian di dalam mobil. Adara menghembuskan napas panjang. Menyadari segala yang terjadi diantara mereka baru ini.
Apa katanya tadi? Kenapa dia mengingatkan kejadian delapan tahun itu? Apa dia mau mati seperti dulu. Rion pria payah.
______________________________________________
'Dia terobsesi dengan gadis remaja'
Adara mengingat kembali kata-kata Calista. Gadis remaja yang di maksud Calista adalah dirinya.
Rion melakukan itu karena dia sangat mencintaiku, bukan obsesi.
Adara menggelengkan kepala, menolak perkataan Calista dalam pikirannya. Adara duduk di tepi ranjang dan membawanya pada kisah kejadian delapan tahun yang lalu.
"Kak, aku akan kuliah di London." Adara dengan wajah ceria mengatakan keinginannya pada kekasihnya itu.
"Apa? Siapa yang bilang kau boleh kuliah?" Rion marah dan melepas tangan Adara dari genggamannya.
"Tapi itu mimpiku, Kak."
"Hubungan kita?"
"Kita bisa menjalin hubungan jarak jauh, Kak. Ada internet yang menyatukan kita." Rion menarik tangan Adara dan mengetatkan genggamanya.
"Kak, usiaku masih delapan belas tahun. Masih jauh dari keinginan menikah. Aku harus kuliah dan tumbuh dewasa. Baru kita rencanakan menikah." Adara menarik tangannya dari genggaman Rion. Pria itu mengetatkan rahang dan menarik kembali Adara hingga menabrak dadanya lalu berbisik.
"Pergilah! Kalau kau ingin aku mati."
______________________________________________
Rumah sakit MF
"Perbedaan obssesi dengan cinta?" Tanya Emre, meletakkan dua gelas kopi di atas meja. Ia memijit dahinya, kenapa Adara bertanya semacam itu.
"Terimakasih," gumam Adara, mengambil gelas kopinya dan mencium aroma enak dari kopi panas itu.
Emre memperhatikan Adara, yang terlihat pucat dan memiliki lingkaran hitam di matanya.
"Kau terlihat lelah," kata Emre, prihatin. Adara tersenyum.
"Benarkah?" Adara menarik napas panjang. " Akhir-akhir ini aku kurang tidur." Tambahnya.
"Apa dia menganggumu?" Emre, meraih gelas kopinya lalu mencicip kopinya.
"Siapa?" Adara mengerutkan kening bingung.
"Mantan suamimu," Emre mengingat bagaimana Rion mendatanginya waktu itu.
Adara terkekeh, "Kenapa dia mengangguku? Kami sudah benar-benar berpisah." Sanggah Adara, tapi sebagai pria yang pernah mempelajari gestur tubuh, Emre tahu Adara berbohong. Mata wanita itu bergerak-gerak dengan wajah memerah.
"Kenapa kau ingin tahu, perbedaan obsesi dan cinta?"
"Hanya ingin tahu saja, haha." Adara tertawa, "Apa sulit dibedakan, Emre?" tanya Adara penasaran.
"Mmm, tidak juga. Hanya saja banyak orang yang salah mengartikannya. Mereka menganggap kalau pasangan mereka melakukan seperti mengekang, cemburu buta, selalu ingin memiliki, gelisah atau menaruh curiga saat pasangannya tidak disisinya. Mereka cenderung menganggap itu 'cinta' tanpa menyadari kalau sebenarnya itu adalah obsesi." Emre menjelaskan sesuai pengetahuannya.
"Sementara cinta itu, lembut, memberi ketenangan, percaya, saling menghargai dan tidak egois." Tambah Emre.
Adara mengingat bagaimana Rion memperlakukannya selama menjadi istrinya.
Rion selalu memperlakukan aku lembut, dia juga tidak pernah membentakku dengan suara keras, Rion bilang aku bayinya. Yang harus dijaga dari apapun itu. Apa itu obsesi? Atau cinta? Tidak, tapi aku selalu merasa nyamam bersamanya.
Adara bingung dibuatnya. "Bagaimana kalau dia mengancam untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, Emre?" Adara spontan bertanya.
"Obsesi." Kata Emre. Jantung Adara berdegub, ia menggigit jemarinya yang gemetar mengingat bagaimana Rion menabrakkan mobilnya saat Adara menolak menikah muda dan memilih kuliah.
Rion, apa kau mencintaiku atau hanya terobsesi? Ini sangat membingungkan.
"Emre, apa obsesi itu berasal dari rasa cinta?"
Emre terkekeh, menunduk dan menautkan alisnya.
"Aku bukan psikiater, Adara. Aku hanya memberi penjelasan yang aku tahu saja. Bisa jadi rasa cinta berubah menjadi obsesi. Contohnya. Seseorang jatuh cinta padamu, kau menolaknya dan membuatnya terobsesi ingin memilikimu dan melakukan apupun untuk mendapatkanmu." ujar Emre menatap Adara yang tampak memikirkan sesuatu.
"Apa kau terobsesi pada seseorang?" tanya Emre bercanda.
"Eh? Kenapa aku terobsesi pada orang?" Adara kelimpungan melihat ke arah Emre lalu memperhatikan kopinya yang sudah dingin.
"Dara, aku ada luang di hari minggu. Apa kau mau berkencan denganku?" Emre terkekeh mengatakannya. Adara juga ikut tertawa mendengar ajakan temannya itu.
"Berkencanlah dengan gadis, Emre. Apa yang kau inginkan dari janda sepertiku." Adara tertawa melihat sikap terang-terangan Emre.
"Kenapa status jadi bahan pertimbangan, aku tidak peduli dengan statusmu." ujar Emre, suaranya terdengar serius. Adara tersenyum malu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku akan menjemputmu, yah ...?" pinta Emre, Adara mengangguk kecil sembari tersenyum hangat.
Bersambung ...
Catatan kecil : Boleh dong minta like
: Boleh dong minta poinnya🤗
: Boleh dong minta klik ❤️
: Boleh dong minta klik Rate 5
Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author.