
Calista berdiri di depan kamar Rion, lama memperhatikan handle pintu di depannya. Selama ini dia sangat penasaran kenapa Rion melarangnya masuk ke sana.
Seistimewa apa wanita itu di hati Rion, hingga tidak perduli padanya. Ah, jangankan dirinya pada darah daginnya saja pria itu bisa abai.
Calista mengulurkan tangan menekan handle pintu dan mendorongnya pelan. Seiring terbukanya pintu itu jantung Calista berdegup kencang.
Ragu-ragu Calista menyeret langkahnya masuk, dan tercengang. Rasa terkejutnya bukan pada ornamen mewah dengan dekorasi warna lembut di kamar itu, melainkan pada pria yang meringkuk di atas ranjang sembari memeluk bingkai photo.
Pria gila! umpatnya dalam hati. Calista berpikir suami sialannya itu sudah berangkat kerja.
Pantasan saja pintu kamar ini tidak tertutup. Batin Calista.
Calista kecewa, Ia menghela napas untuk kesekian kalinya. Pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan itu. Senyum sinis terukir di wajahnya saat melihat Photo-photo Adara terpajang seolah kamar itu sebuah galeri.
Dia benar-benar gila, atau jangan-jangan dia juga mengajak photo itu bercinta. Cih ...
Calista jengkel, tidak ingin lama-lama disana dan menghacurkan hatinya dengan segala pemandangan yang menyakitkan. Calista berbalik dan meninggalkan tempat itu. Namun sebelum ia menutup pintu, Rion sudah bangun dan duduk di tepi ranjang. Menatap ke arah Calista dengan senyum mengejek.
"Aku sudah peringatkan, jangan kemari. Kau pasti kecewa bukan?" Kata Rion sekaligus bertanya. Calista mengangguk, jujur.
"Yah, aku kecewa dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bisa menerima rasa kecewa ini, tapi, bisakah kau tidak mengecewakan bayi dalam rahimku ini? Bagaimanapun bayi ini lebih berharga dari wanita itu." Calista berujar dengan santai berusahan menahan supaya suaranya tidak gemetar.
Rion mengusap rambutnya ke belakang, kemudian tersenyum dengan mulut tertutup.
"Yang terbaik akan kuberikan padanya, jadi jangan khawatir." ujar Rion.
Calista masih berdiri di ambang pintu, memperhatikan Rion mengurut-urut tengkuknya.
"Aku berharap kau memulainya dari sekarang, Rion. Karena bayi ini bukan hanya membutuhkan materi tapi kasih sayang darimu sebagai ayahnya." ujar Calista terdengar lebih ke sungut-sungut.
Rion mendelik, ada kilatan kesal di sorot matanya. Calista tersenyum miring sembari menutup pintu di belakangnya.
Mungkin dengan begini hatiku tenang, aku akan lihat sejauh mana kau bertahan dengan bayang-bayang wanita itu. ~ Calista.
______________________________________________
Mobil Emre memasuki halaman rumah Adara, di depan pintu ia sudah di sambut oleh wanita berpenampilan modis.
Rambut ikal miliknya ia kuncir asal ke atas hingga menujukkan ceruk leher yang jenjang dan indah. Adara mengenakan gaun lavender berleher V melekat pas di lekukan tubuhnya di padu dengan haihil warna cream muda menyempurnakan penampilannya sebagai wanita matang di usianya yang terbilang muda.
Emre yang tampan tersenyum dengan rasa kagum melihat penampilan cantik Adara. Ia keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk wanita yang sudah lama ia idamkan itu.
"Terima kasih, Emre." gumam Adara, masuk ke dalam dan duduk manis. Emre menghidupkan kembali mesin mobilnya dan memutar keluar halaman rumah itu.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Adara melirik Emre yang tampan dengan hanya mengenakan kemeja putih dengan tangan tergulung.
"Mmm ... nanti juga kau tahu." Emre terkekeh tanpa mengalihkan tatapannya dari depan.
Mobil melaju menaiki jembatan panjang, menuju pusat kota dan tidak lama mobil itu menuruni jembatan terpanjang yang ada di kota itu. Memasuki area parkiran sebuah restoran ternama di tengah-tengah kota.
Begitu mobil terparkir, Emre keluar lebih dulu lalu berlari kecil membukakan pintu untuk Adara. Tangan pria itu terulur, dengan senyum Adara menyambutnya.
"Kau selalu membuatku berterima kasih, Emre." kekehan ringan Adara terdengar indah di telinga Emre.
"Karena itu jangan berterima kasih, aku senang melakukannya." Emre menggandeng tangan Adara masuk ke dalam restoran yang sudah di pesan Emre sebelumnya.
Di depan pintu mereka di sambut pelayan, Emre menyebutkan kode booking mejanya. Dan pria berjas hitam dengan tatapan ramah membawa mereka menuju lift dan diarahkan naik ke ruang VVIP yang ada di lantai 49 lebih tepatnya di atap gedung.
Ruangan terbuka yang langsung menampilkan pemandangan ke seluruh penjuru kota itu.
"Waoh, Emre ...," Adara kagum, ruangan dengan penerangan remang dan lampu kerlip-kerlip menjadikan suasana terlihat romantis. Emre terkekeh, melihat takjubnya Adara.
Aku rasa Rion tidak pernah membawanya kesini. Syukurlah, mengingat bagaimana banyaknya uang pria itu. Pasti tempat seperti ini bukanlah hal asing buat kalangan berduit.
Emre menarik kursi untuk Adara lalu menarik buatnya juga.
"Apa kau tidak rugi membawaku ke sini?" Emre terdiam ekspresi wajahnya datar saat mendengar perkataan Adara, meski wanita itu bertanya dengan nada bercanda. Emre tidak menyukainya karena Adara seperti merendahkan dirinya dan tidak pantas mendapatkan perlakukan istimewa dengan statusnya yang sekarang.
"Kenapa? apa menurutmu kau tidak pantas mendapatkan yang terbaik, Adara?" bukannya menjawab Emre malah melempar pertanyaan.
Adara menunduk, lalu tersenyum pahit.
Aku hanya tidak ingin kau kecewa padaku, Emre. Bukan masalah status yang aku sandang sekarang tapi ...
"Dara, dengar kau harus melangkah mendapatkan kebahagianmu. Jangan mempersulit dirimu hanya karena kau seorang janda." ujar Emre, mengambil tangan Adara yang diletakkan di atas meja. "Aku mohon, aku tidak ingin menyebut statusmu itu." Adara mengangguk, pria di hadapannya ini menampilkan senyum ramah nan lembut di wajah tampannya.
"Terima kasih, Adara." Emre melepas tangan Adara, dan mulai membuka lembaran baru menu. Kemudian memesan apa saja yang ia sukai, begitu juga dengan Adara.
"Sudah?" Emre bertanya dan dianggukin Adara memberi menu yang di tandai di sana. Emre mengangkat tangan memanggil pelayan yang tengah bersiap tak jauh dari mereka.
"Sajikan sesuai pesanan, dengan waktu yang tepat." kata Emre saat pelayan itu mendekat dan mengambil buku menu lalu mengangguk kemudian berlalu dari sana.
"Bagaimana? Kau suka tempatnya?" Tanya Emre, kali ini Adara mengangguk puas sembari mengalihkan tatapannya ke pusat kota yang terlihat indah di malam hari.
_____________________________________________
Sekembalinya mereka dari makan malam, Emre menggantar Adara pulang. Malam ini Emre belum mengutarakan isi hatinya. Ia masih butuh waktu menunggu kesiapan Adara memulihkan hati dari lukanya.
Emre tidak ingin berpacaran dengan wanita yang masih dibayangi masa lalu. Emre ingin Adara miliknya sepenuhnya dan itu sebabnya ia mendekati, memberi perhatian supaya Adara perlahan lupa pada mantan suaminya.
"Terima kasih, Emre."
"Lagi?" Keduanya pun terkekeh, mengingat perkataan Emre kalau Adara tidak perlu mengatakan hal semacam itu.
"Baiklah, sana pulang." Adara mengibaskan tangannya, dengan kekehan ringan.
"Selamat malam, Dara." Emre melambaikan tangan kembali masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Akan sangat sulit kedepannya Dara. Meski Emre menerima keadaanmu tapi belum tentu keluarganya. Karena itu jangan berharap lebih. Adara membatin, lalu menempelkan sidik jarinya pada kunci pintu digital rumahnya.
Melangkah masuk diam dan tenang, tidak ingin membangunkan Ibunya atau pelayan. Adara melepas sepatunya dan meletakkan begitu saja. Naik ke lantai atas dan membuka pintu.
Mata Adara tidak berkedip saat melihat pemandangan di depannya itu. Sosok pria tegap berdiri memandang Photo pernikahan yang sudah ia turunkan dan simpan di bawa lemari, terpajang kembali pada dinding kamarnya.
"Kau sudah pulang?" Pria itu berbalik, menghadap padanya.
Bagaimana dia masuk?
Seperti mengerti isi pikiran Adara, mantan suaminya itu menghampiri dan menarik lembut tangan Adara dan membawanya masuk ke tengah ruangan.
Adara mengikut tanpa menolak. "Lihatlah betapa sempurnanya pasangan itu," kata Rion. Ia meletakkan dagunya pada bahu Adara. Lalu menghirup aroma parfum yang melekat pada tubuh Adara. Adara menarik napas panjang.
Dan sekarang pasangan itu hancur berantakan.
"Aku tahu kau pergi dengannya," Rion mengangkat tangan Adara lalu mengecupinya dari lengan hingga telapak tangan wanita itu. Adara kaget sekaligu merasakan aliran darahnya mendesir dengan sentuhan itu.
"Apa kalian berkencan? Mmm?" Mata Adara terpejam. Takut melihat sikap Rion yang berubah menakutkan.
"Honey, apa dia menyentuhmu? Dibagian mana? Akan aku hapus sentuhan pria sialan itu."
Benar, Rion butuh bantuan medis.
Rion berbisik di telinga Adara, lalu menggeram seolah menahan sesuatu yang bergejolak pada dirinya. Ceruk leher Adara menggodanya.
"Kau berdandan untuknya?" Rion menyapukan lidahnya pada leher itu. "Kenapa begitu mudah melupakan aku, Honey. Aku bahkan menahan diri untuk tidak menyentuh wanita itu tapi kau ... membuatku kecewa." ujar Rion. Kali ini tangan pria itu menarik rambut tengkuk Adara.
Adara memekik dengan suara tertahan. Ia tidak ingin membangunkan Ibunya dan melihat kelakuan mantan lelakinya itu. Katakan dia bodoh karena masih menganggap Rion manusia.
"Bagaimana kau masuk Ion?" Adara bertanya, berusaha tenang. Ia tidak ingin mendebat Rion. Untuk saat ini biarkan saja begitu, sampai Adara mendapatkan jalan keluar dari pria itu.
"Kau lupa kalau aku menantu di rumah ini?" Rion menarik tangan Adara ke tempat tidur.
Mantan Bodoh! Kenapa aku lupa mengganti sandi kunci itu.
"Rion ... ini sudah malam, kau pulang, ya. Besok kita bertemu dan bicara." bujuk Adara dengan suara lembut.
"Kau mengusirku?" Adara menggeleng cepat, tatapan Rion menakutkanya dan posisinya saat ini sangat aneh. Pria itu duduk di tepi ranjang dan menjepit kedua kaki Adara di kedua pahanya yang terbuka. Rion mendongak sambil memeluk pinggul Adara.
"Aku menginginkanmu sekarang juga." katanya dengan parau dan mata penuh kabut hasrat.
Bersambung ...