
Adara mengunjugi dokter tempat Lidia biasa melakukan cek rutin kesehatannya. Ia penasaran saat kepolisian menyampaikan sebab kematian Lidia, serangan jantung. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh pasien.
"Belum lama ini Nyonya Lidia datang. Ia mengalami serangan jantung ringan, pasien mengeluh nyeri pada dadanya dan sesak napas. Mungkin karena tabrakan kecil yang terjadi saat itu. Saya turut berduka cita atas kepergian mendiang Lidia, Nona Adara."
Mama merahasiakan ini dariku, mama berbohong supaya Adara tidak cemas.
Adara ingat sebelum mengedarai mobilnya itu ia masih melihat bekas tabrakan di bagian belakang mobil Adara yang di pakai Lidia dan itu belum di perbaiki.
Mama tidak pergi ke bengkel tapi menemui dokternya.
"Sebelumnya mama tidak ada riwayat jantung, Dok. Apa bisa mendadak begitu?"
"Itu bisa terjadi pada siapapun Adara, tidak mengenal tua atau muda. Untuk penyebab pastinya, jika Nona Adara merasa curiga atas kematian ibu anda. Nona bisa ajukan pada polisi untuk melakukan autopsi." ujar dokter berlensa tebal itu.
Adara mengangguk, "baiklah Dokter, terima kasih untuk penjelasannya. Saya akan memikirkannya." Adara berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan menjabat dokter itu dan keluar dari sana.
Adara kembali memperhatikan Bumper bagian belakang mobil yang di pakai Lidia saat itu. Sebenarnya tidak terlalu parah akan tetapi benturan yang di rasakan Lidia saat itu membuatnya sedikit terguncang.
Tanpa sadar air mata Adara menitik, ia menyeka dengan jari telunjuknya. Menarik napas berat, kemudian membuka pintu dan melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
Peristiwa tentang hidup yang ia jalani dalam waktu dekat ini sangatlah rumit. Terluka, kecewa dan kesedihan selalu datang silih berganti. Adara bahkan lupa kapan ia tertawa lepas. Namun dari semua masalah yang ia hadapai, kepergian Lidia yang paling menyayat hatinya. Hidup Lidia seolah direbut paksa darinya tanpa adanya peringatan.
Adara mengemudikan mobilnya lebih cepat menuju rumahnya. Klaksson mobil Adara terdengar setelah tiba di halaman rumah. Ia keluar dan di sambut Saida juga kakak Lidia.
"Tante mau pulang, Dara. Tapi ada yang ingin aku kembalikan padamu milik ibumu," Tantenya merangkul Adara masuk ke ruang tengah, Saida mengekor.
"Apa tante?" Adara menautkan kedua alisnya penasaran. Wanita setengah abab itu mendaratkan bokongnya di sofa begitu juga dengan Adara dan Saida. Wanita itu mengeluarkan kantong plastik bening berisikan perhiasan yang di kenakan Lidia saat ditemukan pembantunya tergeletak di lantai.
Adara mengulurkan tangan menerimanya.
"Polisi menyerahkan ini pada tente saat penyerahan mendiang ibumu." katanya.
Perhiasan yang dikenakan Lidia saat kejadian itu berupa Kalung, anting juga cincin. Adara mengerutkan keningnya saat melihat benda bewarna putih berkilau mencuri perhatiannya.
Adara penasaran lalu mengeluarkan semua di atas meja. Ia mengambil benda yang tak asing baginya.
Cincin pernikahannya dengan Rion. Adara tercengang melihat benda itu. Benda yang sudah ia lepas dan tinggalkan di rumah Emirat saat kembali ke rumah ibunya.
"Ke-kenapa cincin ini disini?"
Adara melihat ke dalam ring itu. Disana tercetak dua huruf R dan A, berikut tanggal pernikanan mereka. Adara memastikan kalau benda itu benar-benar miliknya.
Kenapa cincin ini ada disini? Kenapa bisa ada sama mama?
Wajah Adara pucat, wanita itu spontan menutup mulutnya, matanya kembali berurai membasahi pipi. Rasa curiganya semakin besar pada Rion.
"Ada apa dengan cincin ini? Kenapa kau menangis?" Saida mengambil benda itu lalu melihatnya dengan jelas. Saida menghela berat.
"Pernikahanmu dengan Rion sudah gagal. Kau tidak perlu bersedih untuk itu. Kau harus melupakanya. Ia bahkan tidak datang saat kakak ipar meninggal. aku muak melihatnya." ujar Saida, ia menganggap Adara menangis karena mengingat pernikahannya dengan Rion lewat cincin nikah itu.
Lutut Adara bergoyang gemetar, pikirannya benar-benar kalut memikirkan kenapa cincin pernikahannya ada pada Lidia.
"Iya Adara, lagipula kau masih muda. Kau juga cantik sayang. Mendapatkan pria tidaklah sulit untukmu." Kakak Lidia menyahuti. Bibir Adara gemetar menahan tangisnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf tante, terima kasih sudah mengurus mama kemarin. Aku akan berkunjung lain waktu ke rumah tante. Jika tante sudah mau pulang. Hati-hati di jalan." Adara mengambil tangan tantenya itu lalu menciumnya dan membawa perhiasan Lidia ke kamarnya.
Tanpa sadar air mata saida menitik, melihat betapa sedihnya Adara saat ini.
"Kapan kalian pulang ke London?" tanya kakak Lidia, ia berharap Saida tinggal lebih lama lagi untuk menemani Adara.
"Rencananya besok, kak. Suamiku pekerja kantoran aku juga begitu. Kami hanya izin tanpa cuti."
"Apa Adara akan ikut?"
"Entahlah."
______________________________________________
Rion melebarkan langkahnya, keluar dari Bandara. Selama dalam penerbangan ia uring-uringan setelah mendapat kabar tentang kepergian Lidia. Tak sekejap matanya tertutup meski terlihat sangat mengantuk. Rion ingin merasakan apa yang tengah di rasakan Adara saat ini.
Adara pasti kesulitan saat ini. Maafkan aku Adara, maaf ini semua salahku.
Rion merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Lidia. Tidak seharusnya ia melakukan itu, tidak seharusnya ia mengancam Adara lewat Lidia.
Seandainya Rion bisa menghilang, Ia ingin melakukan itu dan tepat berada di hadapan Adara. Rion ingin memeluk wanita itu, menenangkan dan tentu juga memohon untuk di maafkan.
Ponsel Rion berdering, Ia mengangkatnya seraya mengawasi jalanan yang semakin sempit karena macet.
"Rion?" Hana dari dalam kamarnya menelpon Rion, memastikan kalau putranya itu sudah tiba di bandara.
"Aku sedang dalam perjalanan, dan langsung ke rumah Adara."
"Apa?" Hana spontan berdiri dari duduknya, begitu mendengar ucapan Rion. "Jangan Rion, mama minta kau kerumah dulu." suara Hana terdengar khawatir sekaligus memohon. Rasa takut menyeru di dalam dirinya, ucapan Adara masih melekat di dalam pikiran Hana hingga saat ini.
"Tidak bisa, Ma. Aku harus menemuinya, dan meminta maaf padanya." Hana membeliak dengan mulut terbuka, rasa terkejutnya luar biasa mendengar perkataan Rion. Wajah Hana memucat, sepintas pikiran negatif muncul dalam diri Hana membayangkan kalau Rion kehilangan akal sehatnya hingga menghabisi Lidia.
Tidak! Lidia menepis pikiran itu jauh-jauh. Ia menyakinkan dirinya kalau Rion tidak akan pernah melakukan hal sekejam itu. Hana mendidiknya dengan baik.
Tapi kenapa Rion harus meminta maaf? Kesalahan apa yang dilakukan Rion? Apa ada hubungannya dengan kepergian Lidia?
"Ma ...?" Rion menarik perhatian Hana kembali fokus. "sudah ya, aku sudah mau sampai."
"Rion sudah sampai di rumah Dara, Ma." Ahmed membukakan pintu mobil agar tuannya itu keluar. "Sudah ya." Rion mematikan ponselnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat tatapan tajam dari Adara yang sedang berdiri di dekat mobilnya. Wanita itu sepertinya hendak keluar rumah.
Rion menghampiri dengan raut tampan yang memesona. Kemeja putih berbalut mantel melekat pada tubuh sempurnarnya. Rion mengulas senyum selembut tatapannya saat itu. Adara tersenyum sinis, melihat keberanian dan percarya diri Rion saat ini.
Pria sialan! Aku lupa kalau dia sakit jiwa.
"Dara, aku turut berduka —"
Plak.
Rion terdiam, menggigit bibirnya sendiri begitu menerima tamparan Adara di wajahnya.
"Kau benar-benar iblis, Rion."
"Aku minta maaf," Lirih Rion.
"Kau bilang apa? Minta maaf?" Adara terkekeh dengan sorot menakutkan.
"Dara, dengar ... aku minta maaf atas apa yang aku lakukan pada mama."
"Kau tidak punya hak memanggil Ibuku dengan sebutan itu. Kau bukan anaknya atau menantunya." Kecam Adara, mengarahkan jari telunjuknya pada Rion.
"Dara ak—," Adara membuka pintu mobilnya, dan menutupnya keras. Rion menghela napas panjang, berlari mengitari mobil Adara dan memaksa masuk kedalam.
"Keluar!" Teriak Adara, begitu melihat Rion duduk di dalam mobilnya.
"Kita harus bicara, Dara."
Adara menghidupkan mobilnya, dan memutar arah lalu melaju kencang keluar dari halaman rumahnya dan di saat bersamaan Emre yang hendak berkunjung melihat mobil Adara keluar. Pria itu penasaran dan memutar balik mengikuti mobil Adara dari belakang.
"Dara hati-hati, apa kau gila ini jalanan bukan arena balap." Rion berpengan pada hand grip mobil itu, gugup saat melihat Adara menyetir dengan emosi.
Adara keluar dari mobil begitu menepi. Rion mengikuti langkah Adara menuju bibir pantai.
Suara ombak dan angin bersahut-sahutan juga mempora-porandakan rambut panjang Adara. Ia tampak seksi meski dengan raut marah.
"Katakan Rion, bagaimana caramu membunuh Ibuku?" Rion terkejut mendengar perkataan Adara, wajahnya pucat mendengar kata membunuh yang di lontarkan Adara padanya.
Ya Rion memang bersalah telah menyuruh orang menakuti Lidia untuk mengancam Adara supaya wanita itu kembali padanya. Hanya itu rencana Rion tidak lebih.
"Apa? Itu terlalu kejam Adara," Adara tergelak menyedihkan.
"Lalu apa yang cocok untuk menggantikan kata-kata itu, Rion? Malaikat?" Adara meludah, mendekat pada Rion.
"Aku membencimu, dan itu sangat. Kau seorang pecundang, hanya karena cinta kau gila dan meleyapkan seorang tak berdosa." Adara berjinjit meraih kerah mantel Rion, menarik agar pria itu menunduk.
"Bagaimana caramu membunuhnya, Rion? Kau memukulnya? mendorongnya atau menakutinya? Apa ibuku memohon supaya kau mengampuninya, Rion? Dia menangis bukan? Dia pasti ketakutan, kan? kenapa kau tidak mengasihinya, kenapa Rion? Dia pernah dekat denganmu, bahkan lebih peduli padamu ketimbang padaku putrinya sendiri. Kenapa kau membunuh ibuku? Jawab keparat!" Teriak Adara melepas cengkramannya pada kerah mantel itu dan mendorong Rion mundur.
Rion terdiam, bahkan menitikkan air matanya, menyesali segalanya.
"Aku minta maaf, Dara. Aku melakukan itu karena sangat mencintaimu. Aku tidak menyangka kejadian ini akan terjadi."
"Maaf? Hanya minta maaf? Rion seseorang meninggal karena ulahmu. Apa menurutmu minta maaf cukup?" ucapan Adara memukul hati Rion, pria itu tergugu.
"Aku menyesal pernah mengenalmu, bahkan aku menyesali pernikahan kita pernah terjadi. Kau tidak pernah mencintaiku Rion, kau hanya terobsesi."
"Aku mohon jujur padaku, apa ibuku melihat wajahmu saat membunuhnya."
"Dara! apa maksudmu? Aku bahkan tidak berani menatap mata Mama. Lalu bagaimana aku membunuhnya. Kau keterlaluan! Dari tadi kau menyebutku pembunuh." Rion menangkup sisi wajah Adara, kilatan suram di sorot matanya terpancar.
"Tapi kenapa kau mengatakan itu? Aku hanya menyuruh orang menabrak mobilnya dari belakang. Mereka pastikan mama baik-baik saja, tidak ada yang terluka." Tambahnya.
Adara menepis tangan Rion dari wajahnya.
"Kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri, bukan?" Mata Adara menyipit dalam, saat bertanya.
"Apa?" lagi-lagi Rion tertengun dibuatnya.
"Cincin pernikan kita, apa kau menyimpannya?" Adara menatap tajam Rion.
"Kenapa kau menayakan itu, saat kau melepaskanya dan meninggalkan cincin itu dirumah aku menyimpannya baik-baik. Lihatlah aku masih memakai cincinku dan milikmu aku berniat akan menyematkan cincin itu kembali ke jarimu." Rion menunjukkan cincin di jari manisnya. Adara tersenyum kecut
"Dimana cincin itu, Rion?"
"Aku menyimpannya di rumah, Dara." Kali ini Adara terkekeh geli melihat Rion.
"Cincin itu ada samaku Rion. Apa kau mengembalikannya sama mama? Atau mungkin kau menjatuhkanya saat membunuhnya? " Rion membeliak, mencoba mencerna apa yang baru saja di katakan Adara.
"A-apa maksudmu?"
Bersambung ...
Foto gugel. Nama asli Miray Daner ( Adara)
Terima kasih buat yang sudah memberi like, komen dan vote ya. Terima kasih juga buat yang baca diam-diam hehehe tapi alangkah baiknya tinggalkan jejak kakak.😊😊😊😊