
Hari ini Adara memilih pulang lebih awal, tubuhnya merasa lelah karena berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan semua orang.
Kepalanya berdenyut, dan rasanya ingin cepat sampai di rumah lalu berbaring dalam peraduaanya. Adara menyetir dengan kecepatan rendah mengikuti pergerakan jalanan padat di kota besar ini.
Setelah terlepas dari jalanan macet, Adara mempercepat laju mobilnya dan memasuki jalan sepi menuju perumahan tempat ia tinggal.
Suara klakson dari belakang mengusiknya hingga mendahuluinya dengan kecepatan tinggi membuatnya mengumpat keras.
Shiit!!!
Mobil sedan bewarna hitam tiba-tiba mengerem menghalangi jalannya. Membuat Adara spontan menginjak rem sembari menunduk menyembunyikan wajah dan mencengkram erat stir mobil.
Beruntung Adara berhasil mengendalikannya hingga terdengar bunyi decitan yang berasal dari rem dan roda beradu dengan aspal.
Napasnya terengah, dadanya terasa menyesakkan. Adara perlahan Mengangkat wajahnya menatap mobil yang berjarak setengah meter darinya.
Ekspresi Adara berubah muram, tatapan matanya menajam. Membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia harus memberi perhitungan pada pemilik mobil yang berani menghadangnya.
"Hei! Apa kau ingin mati? Kalau kau ingin mati pergilah ke neraka, sialan." Umpat Adara dari samping mobilnya pada si pengemudi yang hampir membuatnya mati konyol.
Pemilik mobil membuka pintu mobilnya, kakinya yang terbungkus sepatu pantofel mahal dan mengkilap itu keluar menginjak aspal.
Rupanya dia seorang pria dengan penampilan sedikit urakan tapi tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya.
"Rion ...," Gumam Adara, dengan segala kekesalan. Adara meneriakinya.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?" Rion menutup pintu mobilnya lalu berjalan menghampiri Adara yang berapi-api.
"Bagaimana kalau aku menabrakmu? Bagaimana kalau aku mati atau kau mati, Hah? Rion kau benar-benar brengk—,"
Teriakan Adara terhenti ketika tangan Rion meraih tengkuk Adara lalu membungkam mulut mantan istrinya itu dengan bibirnya, menyesapnya dalam dengan paksa.
Adara berusaha mendorong dada Rion tapi tangan kecilnya tak berdaya ditambah karena ia begitu kaget dengan perlakuan Rion. Adara menyerah, menjatuhkan tangannya kebawah kemudian dengan refleks matanya terpejam.
Rasa manis dan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuatnya lupa kalau ia tidak memiliki hak untuk rasa itu lagi.
Rion melepas ciumannya dengan napas terengah. Menatap bibir Adara yang di renggutnya paksa, bibir basa itu menggodanya dan rasanya ingin mengulanginya tapi tidak sekarang mungkin nanti. Rion menangkup dagu Adara membuat tatapan mereka bertemu, lalu dengan lembut ibu jari Rion mengusap bibir ranum milik Adara sambil berkata.
"Tunggu sampai Calista lahiran, aku akan menceraikannya dan mengambilmu kembali. Jadi jangan mendekati pria manapun apalagi dokter itu!" Rion menggeramkan kata-katanya dengan lambat supaya tidak satupun terlewatkan oleh Adara.
Rion kembali mengecup bibir Adara tapi kali ini sangat lembut sebelum kemudian pergi dari sana. Meninggalkan Adara mematung tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya.
Adara berpengan pada mobilnya, melihat mobil Rion memutar dan meninggalkannya. Wajahnya pucat kemudian ia tertawa dalam kepedihan, mengingat apa yang di katakan Rion padanya.
"Mengambilku kembali? Haha! Jadi aku yang terbuang?" Adara kesal, mengepal tangannya. "Akulah yang membuangmu, Rion!" Teriaknya dengan emosi yang berkecamuk dalam dirinya.
______________________________________________
Perkataan Rion ternyata mengusik pikiran Adara, wanita itu bahkan tidak dapat memejamkam matanya walau sedetikpun.
Mengambilku kembali? Hah! Batinya bangun dari tidurannya dan bersandar pada senderan tempat tidur. Tangannya terulur menyetuh bibirnya, ia masih merasakan bagaimana hangatnya ciuman Rion dan membuat seketika rasa hasrat muncul dalam pikirannya. Adara menggelengkan kepalanya.
Apa yang aku lakukan? Apa aku menikmatinya? Dia pria asing sekarang! Kalau dia mendekatiku harusnya aku berteriak memakinya, bukan malah membiarkanya menyentuhku.
Lagi-lagi Adara membatin dengan raut kesal.
"Bukankah dia bilang kalau aku harus bahagia? Kenapa tiba-tiba dia berubah? Cih ...! Menyebalkan! Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Menceraikan istrinya dan kembali mengambilku? Wah keterlaluan kau Rion! Kau menganggapku barang yang kau buang lalu kau pungut sesuka hatimu. Aku yang membuangmu, bodoh " Adara melempar gulingnya ke lantai dengan tatapan tajam.
Ting ... bunyi ponselnya berdeting, tanda pesan masuk. Adara mengambilnya dari meja kecil yang ada di dekat ranjangnya.
📩 Teman sekelas : Kau sudah tidur?"
Adara menghela napas panjang, membaca pesan dari Emre.
Adara meletakkan ponselnya kembali. Menarik kedua kakinya dan memeluknya sembari menumpukkan sisi wajahnya pada lutut yang terbungkus selimut itu.
Apa yang harus ia lakukan dengan Emre. Menjauhinya?
Adara tidak ingin melibatkan hatinya tapi pria disana, entahlah.
📩 Teman sekelas : Baiklah, aku hanya mau mengucapkan selamat malam. Aku harap malam ini mimpimu indah hingga tidurmu terasa nyenyak. Selamat malam Adara.
Adara memejamkan matanya, lalu mengetik beberapa kata untuk menjawabnya namun berulang kali di hapusnya.
Bahkan Emre yang menantikan jawaban itu menyungingkan senyum saat di layar pesannya tertulis.
Typing ...
Emre menggelengkan kepala dengan senyuman hangat. Apa yang ingin wanita itu coba katakan kenapa begitu lama mengetik balasnnya.
Emre, menarik napas seraya memejamkan matanya sembari memeluk ponselnya di dadanya.
Ting. Emre segera membuka mata, mengambil benda itu dan membacanya.
📩 Cinta pertama : Terima kasih.
Emre terkekeh tidak menyangka dalam dua puluh menit menunggu hanya mendapat balasan seperti ini.
Adara melihat pesan yang ia kirim dan langsung centang dua dengan warna biru.
Jawaban yang menyebalkan. Kecamnya pada diri sendiri.
______________________________________________
Kediaman Emirat.
"Rion, bisakah kau mengantarku ke rumah sakit untuk periksa kandungan?" Takut-takut Calista mengutarakan keinginannya saat mereka menikmati sarapan pagi.
Rion meletakkan sendoknya, menatap wanita yang duduk di sisi kirinya itu.
"Biar mama yang antarkan," sahut Hana, melihat Rion yang acuh. Bagaimanapun Calista mengandung cucunya, ia tidak boleh ikut mengabaikan wanita hamil itu.
"Dokter selalu bertanya tentang ayah bayi ini, mereka pikir aku wanita hamil yang menyedihkan tanpa suami." gumam Calista, menatap Rion dengan tatapan mengiba.
Terdengar helaan panjang dari Rion. Ia memperhatikan perut buncit Calista.
"Baiklah, jam berapa?" meski suara itu terdengar dingin, Calista kaget dibuatnya. Ia melebarkan mata tak percaya dengan apa yang ia dengar. Hana pun demikian.
"Habis makan siang, aku sudah menjadwalkannya." ujar Calista dengan gugup, tidak ada jawaban dari Rion. Menolak atau setuju. Tapi cukup membuat hati Calistan senang.
_____________________________________________
Adara mengantarkan ibunya ke rumah sakit untuk melakukan cek rutin pada kesehatannya. Dimasa muda wanita itu ia berjuang membersarkan Adara dengan tangannya sendiri setelah kehilangan suami karena di renggut paksa oleh serangan jantung. Dan itulah alasan Adara selalu mengingatkan Lidia cek kesehatan untuk mencegah masuknya penyakit pada ibunya itu.
Adara dan Lidia menunggu di pintu Lift yang akan membawa mereka ke tempat dokter yang akan memeriksa Ibunya.
Ding!
perlahan pintu itu terbuka, Adara terkejut ketika melihat dua manusia di dalam sana. Rion dan Calista dengan perut besarnya. Tapi dalam situasi itu bukan hanya Adara yang terkejut, ada Lidia mantan mertuanya yang seketika menampilkan wajah datar saat melihat pasangan suami istri dengan calon bayi mereka.
Lidia melirik Adara dari ekor matanya, putrinya itu mencoba mengabaikan dua orang itu. Rion menganggukkan kepala tipis sebagai rasa hormatnya pada Lidia.
Calista terdiam tanpa ekspresi, melihat Adara memalingkan wajah ke arah lain. Lalu Rion menghela Calista keluar dari dalam lift, istrinya itu bahkan merasa sedikit gugup karena Rion menempatkan tangannya di pundak Calista saat menghela istrinya itu keluar lift. Lalu senyumnya terbit seketika sembari mengelus perutnya yang besar, melewati Adara dan Lidia.
Cih! Sungguh menyebalkan!
Dunia memang sempit tapi tidak harus mempertemukan orang-orang yang sedang sengaja menghindar, kan?
Bersambung ...
Catatan kecil : Ada saran buat judul nggak ya?
Judul mau di ganti soalnya ambigu buat pembaca. kira kira kalau di ganti dengan judul ini bagaimana ya ? Obsessive Loves.
Perhitungan: Rion yang terobsesi pada mantan istrinya? Mohon bantu ya teman.