OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Ahli Waris



Memang benar Adara meminta Rion untuk lenyap, tapi bukan berarti ucapannya itu tulus dari hatinya. Ia hanya kecewa di penuhi rasa marah yang kental karena perbuatan Rion kepadanya.


Lihatlah, wanita menyedihkan ini. Ia bahkan menyesal, mengecam, mengutuk dirinya karena terlalu licin lidah hingga berujung fatal. Ah, seandainya ia juga ikut terseret ombak, tentu rasa bersalah yang merayap pada dirinya saat ini tidak akan pernah terjadi.


Selama ini Adara diam, tidak pernah mengeluh tentang pria itu pada Lidia lalu kenapa Rion begitu tega menghabisi Ibunya. Mantan mertua yang pernah menganggapnya seorang putra. Itulah yang mendorong emosi Adara untuk meminta nyawa demi maafnya.


Adara mengeluh, pada sang Dalang yang mengatur skenario hidupnya. Bertanya, kenapa ia harus menjalani hidup yang begitu memilukan, dan kenapa juga sang Dalang mengabulkan ucapannya untuk meleyapkan Rion. Sekali lagi dia hanya emosi dan kecewa.


Sudah sepuluh hari semenjak kejadian itu. Adara masih setia datang ke tepi pantai. Menunggu, berharap pria itu muncul dari laut kepermukaan walau dengan wujud berbeda.


Adara mengikat rambutnya ke atas, angin laut terlalu usil memainkan helaian rambutnya yang tebal dan panjang hingga membuat Adara tidak nyaman.


Seketika Adara berbalik, begitu mendengar deheman dari arah belakangnya. Tatapannya beradu dengan Emre yang entah kenapa hadir di tempat itu.


"Hari terakhir pencariannya, mudah-mudahan ada kabar baik." kata Emre, mendekat berdiri di samping Adara.


Pria itu masih mengenakan pakaian formal. Mungkin ia kabur dari tempat kerja. Tapi kenapa? Apa yang diinginkan Emre darinya? Wanita pembawa sial seperti yang di bilang Hana. Wanita malang yang tidak pernah merasakan nikmatnya mengandung, wanita bodoh yang berharap Rion muncul dari dasar laut setelah sepuluh hari menghilang. Harusnya Emre menjauh darinya, mengambil jarak sebelum kesialan menimpa dirinya.


Adara tersenyum aneh begitu melihat Emre dengan tatapan tenang terarah padanya.


"Kau tahu, Emre. " Adara terdiam sejenak, ia tampak memikirkan kata-katanya sebelum di utarakan. "A-aku secara tidak langsung sudah jadi seorang pembunuh." katanya, menunduk melihat pasir pantai yang mengotori sepatunya.


Emre menghela napas berat, senyum tipis tercetak di bibir pria itu. Ia mendekat, mengambil tangan Adara mengelus punggung tangan mungil itu lalu berujar.


"Jangan berpikir demikian, Adara. Jangan terlalu menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi." Emre menyeka air mata Adara yang menitik pipi pucatnya, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Menenangkan Adara yang sudah terisak.


______________________________________________


Calista menatap bayi perempuan dengan bobot tubuh kecil, terbungkus lampin berbulu nan lembut dalam Inkubator . Bayi merah itu di tempatkan dalam ruang NICU untuk mendapatkan perawatan intens.


Apa yang harus aku lakukan pada bayi ini?


Semenjak bayi itu lahir ia tidak pernah menyentuhnya. Hanya memandang dari jarak jauh, entah apa yang terjadi dengan Calista. Mengetahui Rion menghilang karena Adara menimbulkan rasa benci pada bayi itu. Ia juga kesal saat perawat meminta asi darinya dan wanita itu berhati dingin tidak memberi setetes pun untuk menghilangkan dahaga bayi merah itu.


Bahkan sampai aku melahirkan bayi ini, Rion tidak perduli. Ia lebih tertarik dengan kamatian jadi untuk apa aku menghabiskan tenaga dan waktuku untuk merawat bayi ini.


Kilatan kebencian di matanya terpancar, ia berbalik meninggalkan tempat itu dan memilih pulang ke rumah.


Hana mengurung diri dalam kamar, kesedihan bercampur benci terpancar di biji mata wanita itu. Sedih untuk putranya, benci untuk kedua wanita yang menghancurkan hidup Rion hingga berujung maut.


Kepolisian memberinya kabar, kalau pencarian terhadap Rion telah hentikan.


Hana kecewa tapi tidak bisa berbuat banyak.


Ponsel Hana berdering, pelan ia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah sofa dimana ponsel itu berada. Ia membaca nama pemanggil, Ardan.


"Apa ada hal penting hingga kau menghubungiku malam-malam begini?" Hana menyahut, lalu seketika air mukanya berubah.


"Baiklah, besok saya akan ke kantor." Hana mematikan ponselnya. Ia menatap photo putranya yang terbingkai di atas nakas.


Kau punya seorang putri, tubuhnya sangat kecil. Istrimu si jahat itu lebih sibuk mengurusi kejahatannya hingga lupa kalau dia sedang hamil. Apa yang harus aku lakukan, Rion? Perusahaan Emirat tidak memiliki pemimpin.


______________________________________________


Office Emirat


"Apa maksudnya ini?" Hana tercengang setelah membaca dokumen yang di berikan Ardan padanya. Rion mengalihkan beberapa aset penting menjadi atas nama Adara. Bahkan Adara menjadi ahli waris dari Emirat Company.


"Wanita itu tidak berhak untuk ini. Dia bukan keluarga Emirat, Rion memiliki Istri dan seorang putri yang lebih berhak untuk harta Emirat." Hana menggeramkan satu persatu kata-katanya supaya terdengar jelas oleh Ardan.


"Kau seorang hukum tentu kau tahu pasalnya. Mereka bercerai sebelum putraku hilang. Artinya wanita itu tidak berhak menjadi ahli waris. Dokumen ini tidak sah! Ardan." Hana menatap tajam Ardan.


"Ambil kembali milik Emirat dari tangan wanita itu." Hana melempar dokumen itu ke atas meja. Tatapan suram terpancar darinya. Betapa gilanya Rion pada Adara hingga memberikan hak penuh Company Emirat yang telah sukses di tangan putranya itu.


"Tapi Nyonya, untuk mendapatkan itu kita harus membicarakan ini pada Adara terlebih dahulu, sebagai ahli waris sah." protes Ardan.


"Saya tidak mau tahu, bagaimana caramu mendapatkannya. Kotor atau bersih yang penting wanita itu tidak boleh menikmati kekayaan Emirat."ucap Hana, meraih tas dari atas meja dan bersiap meninggalkan ruangan Rion tempat dimana mereka berbicara.


Adara meminta jasa pemasangan CCTV di rumahnya. Tinggal sendirian di rumah itu sering membuatnya parno. Ia juga menyimpan panggilan darurat polisi dalam ponselnya. Adara melipat kedua tangan, memperhatikan pekerja yang memasang CCTV, di beranda rumahnya. Ada Emre disana. Pria itulah yang mengusulkan dengan alasan agar Adara merasa nyaman.


"Terima kasih, Emre. Mungkin aku ditakdirkan untuk berterima kasih terus padamu." Adara terkekeh ringan, mengingat hanya ucapan itu yang bisa ia berikan untuk Emre.


"Ini bukan apa-apa, Adara. Aku ingin kau merasa aman disini." ujar Emre, mengangguk tipis.


Ponsel Adara berbunyi, ia masuk ke ruang tamu dan mengambil benda itu. Sebelum ia menjawab timbul tanya dalam pikirannya. Ada apa pengacara Rion menelponnya.


"Halo Nyonya Adara." suara barito milik Ardan menyapa ramah.


"Mmm, ada yang bisa saya bantu pak Ardan?" kening Adara mengkerut menunggu jawaban dari seberang.


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya siang ini apa ada waktu?"


"Kalau boleh tahu untuk perihal apa, ya?" Emre dari luar memberi isyarat kalau cctv sudah selesai di pasang. Adara menganggukan kepala.


"Saya tidak bisa menjelaskan lewat telpon. Mari kita bertemu dan bahas hal ini. Mohon luangkan waktu Anda, Nyonya Adara." terdengar mendesak dan penting.


Adara memikirkan sejenak, " Baiklah, datanglah ke 'Adara kafe' kita bertemu disana atau apa mungkin pak Ardan menyuruhku datang ke kantor, Anda?"


"Tidak masalah Nyonya, saya akan menemui Anda di kafe saja."


______________________________________________


Setelah sepakat bertemu di kafe. Adara dengan Emre menuju ke tempat itu, dalam perjalanan Adara berpikir kenapa Ardan meminta bertemu. Ada apa? Untuk apa? Banyak tanya, seketika itu ia mengalihkan tatapannya pada Emre yang lagi fokus menyetir dan sekelebat wajah Rion terlihat di wajah Emre. Tersenyum sedih dengan sinar mata redup.


"Rion!" Panggil Adara, menarik perhatian Emre.


"Apa Dara?" Adara segera menggelengkan kepala, memejamkan mata dan perlahan membukanya.


"Tidak apa-apa." gumam Adara, menatap lurus kedepan. Emre harus menelan rasa pahit dari yang namanya cemburu. Sedih, gundah yang belum bisa ia lontarkan pada Adara. Harus berapa lama lagi ia bersabar untuk menemukan cinta Adara? Entahlan.


Adara memejamkan matanya, Hatinya berdebar-debar mengingat kembali tatapan Rion lewat Emre.


Apa ini? Aku membencinya tapi ..., aku sangat merindukannya. Sialan kau Rion!


Mobil itu memasuki Area parkir. Adara keluar dan di ikuti Emre, masuk kedalam kafe yang sudah cukup ramai.


Jie menyambut kedatangan mereka. "Dara, tamu kamu sudah datang." Jie menunjuk meja yang ada di sudut ruangan. Sedikit tersembunyi karena adanya pohon buatan berdiri di tempat itu. Adara mengangguk ia berbalik melihat Emre.


"Aku akan menemuinya. Kau bisa duduk dan bersantai." ujar Adara merasa canggung karena sudah mencuri waktu Emre.


"Santai aja. Lagian ini hari liburku." Jie melihat Emre, tanpa sadar tangannya menyentuh bibir yang pernah di cium panas pria yang tengah senyum-senyum pada temannya itu.


Apa saat itu dia benar-benar mabuk berat. Sampai-sampai kejadian itu tidak dapat ia ingat. Ah sialan, andai saja aku bisa melupakan bagaimana hagatnya bibir ... apa yang aku pikirkan.


Jie merutuk dirinya sendiri, Emre menyadari itu dan menatap Jie bingung.


"Kenapa Jie? Kau sangat lucu." Emre melangkah ke meja kosong. Jie menajamkan matanya manatap punggung pria itu.


Tapi dia sangat tampan. Andai saja Adara bukan temanku. Pasti akan aku rayu pria ini.


lagi-lagi Jie sibuk dengan pikirannya, ia menggelengkan kepala kala kejadian malam itu menari-nari kembali dalam ingatannya.


Adara tersenyum, ia tidak percaya apa yang di bacanya dalam dokumen itu.


"Saya tidak tahu mengenai ini. Saya rasa ini bukan hak saya lagi. Saya orang asing di keluarga Emirat. Lagipula bukankah terlalu dini membahas hal ini. Rion, aku yakin dia akan kembali." kata Adara, meletakkan dokumen yang ia baca. Disana jelas tanda tangan Rion dan Cap kantornya.


"Itu sebabnya saya meminta Nyonya untuk membahas hal ini." Ardan tampak bingung harus menjelaskan bagaimana pada Adara. Pria itu ingat saat Rion mantap menjadikan Adara ahli warisnya.


"Adara bagiku Rejeki. Kau tahu Emirat sudah lama bangkrut dipenuhi hutang, tapi saat saya menikahi Adara Emirat tumbuh dan berkembang menjadi Ekspedisi ternama yang sudah melayani beberapa negara. Itulah alasanku menjadikannya ahli warisku. Dia berhak untuk ini semua. Ini rejeki istriku." kata Rion saat itu pada Ardan.


"Nyonya Hana, mau mengambil kembali dari tangan Nyonya. Saya minta kerja samanya Nyonya Adara. Jika anda berkenan kita bisa alihkan kembali pada yang berhak. Mungkin untuk putri Pak Rion."


Jadi Calista melahirkan perempuan, apa dia mirip kamu Rion? Batin Adara.


Bersambung ...


Rion belum ketemu ya ... di tahan duyung mungkin.


Nantikan bagaimana Calista menghadapi baby blues. Hingga berniat membunuh Adara setelah tahu kalau dia ahli waris Rion.


Jangan kabur karena saya belum muncul. Author sialan itu menitipkan saya ke putri duyung.