
Adara terjaga saat merasakan pelukan suaminya dari belakang. Tubuhnya yang mungil menempel pada tubuh kokoh suaminya. Adara tersenyum dan ingin berbalik tapi tertahan saat merasakan Rion terisak di punggungnya.
"Maafkan aku. Itu sebuah kesalahan, aku tidak sengaja melakukannya." racaunya mengeratkan pelukannya. Dahi Adara mengerut, mencoba mencerna dalam pikirannya apa yang digumamkan suaminya.
Adara menahan diri, tetap di posisinya menunggu Rion terlelap.
"Apa maksudnya dengan kesalahan?" Adara perlahan melepas pelukan Rion. Berbalik menatap wajah teduh suaminya yang tengah tertidur. Pria itu bahkan tidak mengganti pakaianya.
Apa yang menganggumu? Kau bahkan minum alkohol.
Adara menghela napas mengingat apa yang di racaukan Rion, membuatnya penasaran. Perlahan Adara turun dari tempat tidur, berjalan ke ujung ranjang. Melepas kaos kaki yang masih Rion kenakan. Adara melakukannya dengan sangat hati-hati agar suaminya itu tetap berada di alam mimpinya.
_____________________________________________
"Semalam kau minum?" Tanya Adara saat memasangkan dasi suaminya itu. Rion menipiskan bibir kemudian mengangguk kecil.
"Maaf," katanya lembut dengan sorot sesal. Adara tersenyum. Setelah selesai menyimpulkan dasi di leher Rion ia memeluk lelakinya itu.
"Masih masalah pekerjaan?" tanya Adara, menempelkan telinganya tepat pada detakan jantung Rion. Degup menyenangkan yang selalu Adara rasakan setiap kali menyentuh dada itu bidang itu.
"Mmm," jawaban singkat Rion yang tak bersemangat membuat Adara merasa meragu. Adara mendongak menatap mata hitam suaminya itu.
"Aku pergi ya," Rion menampilkan senyumnya yang terasa manis nan teduh. Adara mengangguk setelah mendapatkan kecupan di keningnya. Kali ini istrinya itu tidak ikut mengantar ke depan pintu.
Adara merasa ada sesuatu yang menganggu pikiran suaminya itu, ia menghela napas panjang. Pandangan menerawang mencoba mengingat racauan Rion di malam hari.
Ada apa?
____________________________________________
"Apa kita harus melakukan ini, Ma?" Tanya Rion pada Hana yang tengah duduk di sampingnya.
"Harus!" Bagaimana kalau dia menipu?
Rion mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat mereka berjanji.
Calista sudah menunggu di sana. Tepat di koridor ruangan dokter yang di pilihkan Hana. Wanita itu duduk lemah di bangku panjang setelah mengalami mual sepanjang pagi tadi.
"Maaf karena menganggapmu beban selama ini, Sayang." Gumamnya mengelus perutnya. Memberi kehangatan bagi pemilik jiwa di dalam sana.
Detakan hak sepatu terdengar mendekat ke arahnya membuatnya menoleh. Hana dengan tatapan mencela menghampirinya. wanita itu terlihat elegan dengan tataan rambut sanggul modern. Menunjukkan kalau dia wanita paruh baya berkelas.
Rion dimana?
Pertanyaan yang ia lontarkan dalam hati terjawab saat melihat pria jangkung menghampirinya. Pria itu tampak berwibawa mengenakan setelan jas hitam dengan dasi senada terselip rapi. Calista terpesona dibuatnya dan entah kenapa ia ingin menatap pria itu secara terang -terangan. Tapi apalah dayanya, Rion bersikap dingin, bahkan mengabaikannya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Hana, Rion mengangguk begitu juga dengan Calista.
___________________________________________
Adara memasuki area parkiran kantor suaminya. Ia merasa bosan di rumah hingga memutuskan mengunjungi Rion.
Wanita pemilik surai bergelombang itu, menenteng paper bag berisikan makan siang Rion. Wajahnya berseri melangkahkan kakinya memasuki gedung Company Emirat yang bergerak di bidang Ekspor-impor.
"Sayang," katanya mendorong pintu kaca, menyapa seolah memberi kejutan tapi, Rion tak berada di sana.
Adara melangkah masuk, meletakkan paperbag yang ia bawa di atas meja kerja Rion.
Kemana dia?
Adara menempatkan dirinya di kursi kerja suaminya, memperhatikan seisi ruangan dengan netranya yang cerah. Tangannya tidak bisa diam, meraih bingkai photo yang dijadikan ornamen meja. Adara tersenyum melihat dirinya dalam photo dicium mesra Rion.
Kemana Rion?
Adara mengeluarkan ponselnya, Ia ingin menghubungi tapi tertahan saat melihat Anatha memasuki ruangan dimana ia berada kini.
"Ibu kesini?" Tanya Anatha, "tapi pak Rion belum masuk dari tadi pagi." Tambahnya.
Alis Adara mengerut menatap Anatha yang berdiri di ambang pintu.
Belum masuk? Tapi pagi-pagi ia sudah berangkat. Lalu kemana Rion?
"Apa jadwal Rion ada di luar kantor hari ini?" Tanyanya, Anatha tampak berpikir lalu menggeleng.
"Saya rasa tidak ada, bu." jawab Anatha dan di angguki Adara.
"Baiklah, terima kasih." Anatha kembali ke meja kerjanya.
Adara mencoba menelpon dan dalam dering ketiga pria disana mengangkatnya.
"Honey?" Sahutnya dengan lembut.
"Sudah makan?"
"Uda barusan di kantor." Seketika mata Adara melebar, suaminya berbohong.
"Baiklah, aku tutup ya." Adara mematikan ponselnya. Melihat Anatha yang tengah sibuk, ia menghampiri.
"Apa ada masalah kerjaan akhir-akhir ini?" tanya Adara penasaran.
"Tidak ada, Bu. Lancar-lancar aja." Anatha menjawab setelah memikirkanya terlebih dalu.
Adara tersenyum simpul lalu kembali keruangan Rion. Pikirannya bercampur aduk, seketika ia ingat Racauan suaminya itu. Adara menggelengkan kepala membuang hal negatif yang ada di otakknya.
Tangannya terulur, membuka laci meja kerja dan menemukan sebungkus rokok yang sudah tersobek. Alis Adara mengerut sedikit.
Rokok? Rion merokok lagi? Tapi karena apa? Biasanya suamiku merokok kalau lagi frustasi. Ion apa masalahmu?
_____________________________________________
Rumah sakit.
"Hasilnya bisa diambil setelah empat belas hari. Mohon pasien di jaga dengan baik-baik. Seperti yang saya jelaskan tes DNA pada janin bisa berisiko gangguan hingga mengakibatkan keguguran." dokter menjelaskan pada Hana sebagai wali mereka.
"Aku akan menjaganya," ujar Hana, "kalau begitu saya permisi dokter, dan mohon pengertiannya jangan sampai ada yang tahu masalah ini." tambahnya dan diangguki dokter itu.
Rion dan Calista menunggu di koridor ruangan itu. Diam tanpa menyapa. Rion lebih memilih sibuk dengan pekerjaanya lewat ponsel sementara Calista duduk termangu.
"Bagaimana, Ma?" tanya Rion begitu melihat Hana keluar dari ruangan dokter.
"Kita tunggu dua minggu lagi," Hana melirik Calista yang sibuk dengan pikiranya. Wanita itu bahkan tidak menyadari kehadiran Hana.
"Pergilah, aku akan mengurusnya." kata Hana pada Rion.
"Mama tidak pulang?" Rion menautkan kedua alisnya penasaran. Hana berdecak, lalu mendekat pada Rion.
"Aku akan bicara dengannya." Rion melihat Calista yang masih duduk, menunduk diam.
_____________________________________________
"Apa menurutmu itu tidak aneh?" Adara mengerutkan keningnya dalam. Jie menggigit bibirnya bingung menanggapi cerita Adara mengenai Rion. Baru saja sahabatnya itu mengungkapkan rasa curiganya pada suaminya yang akhir-akhir ini menunjukkan sikap tak biasa.
"Mungkin saja, masalah itu benar-benar masalah pekerjaan, Dara." Jie berkomentar.
"Jie, sekretarisnya bilang pekerjaanya baik-baik aja." Adara tampak kesal. Jie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa menurutmu dia selingkuh?" Gumam Adara.
"Aish! Kau ini. Rion sangat mencintaimu tidak ada perempuan yang bisa menggantikanmu di hatinya. Jangan berpikir kesana." ujar Jie.
"Entahlah, manusia bisa berubah kapan saja kan, Jie. Cinta ada juga masa kadaluarsanya. Hubungan kami sudah tujuh tahun mungkin ia merasa bosan denganku." Entah kenapa saat mengatakan itu Adara tampak sedih.
"Apa maksudmu? Percayalah Rion tidak akan melakukan itu." Jie, mengelus bahu Adara lembut.
Maaf Dara, aku juga tidak suka kau terluka kalau mengetahui masalah Rion saat ini.
"Dari suka termangu, minum alkohol, merokok hingga berbohong hari ini. dan semalam ia bahkan meracau mengatakan kalau ia melakukan kesalahan. Yang buat aku penasaran racauan dia itu, Jie." Adara masih penasaran.
Jie Ranita terdiam, ia bingung harus apa. Satu sisi ia ingin jujur sama Adara sebagai sahabat yang mengetahui masalah Rion tapi, satu sisi. Jie ingin Rionlah mengatakan pada Adara.
______________________________________________
Sepulang rumah sakit, Rion langsung ke kantornya. Pekerjaanya menumpuk bahkan klien dari beberapa daerah komplin karena keterlambatan armada yang mengangkut barang kliennya.
"Maaf pak, tapi posisi truk kontainer kami sudah ada di wilayah Bapak. Mungkin akan terlambat dalam dua jam saja. Mohon pengertianya." Rion menjelaskan saat kliennya komplin. "Baiklah terima kasih dan maaf sudah mengecewakan Bapak." tambahnya, panggilan terputus. Rion berdecak, menghempaskan dirinya pada kursi kerjanya. Ia memijit pangkal hidungnya memberi sensasi ketenangan dan tidak sengaja melihat paperbag di atas mejanya.
Rion penasaran dan membukanya. Matanya melebar melihat isi tas karton itu. Kotak makan.
Astaga! Dara ke sini?
Rion menekan nomer Adara dan menghubungi istrinya itu.
Bersambung ...