
Pria brengsek! Umpatnya dalam hati, memalingkan wajahnya ke arah lain saat Rion menatapnya dari ambang pintu dengan tatapan rasa penuh sesal.
Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Pe*cur? Apa meniduri wanita panggilan bukan penghianatan?
Pernikahan yang ia jalani dengan, pasang surut dalam lautan waktu akhirnya pudar juga.
Adara berdecih, mengejek dirinya sendiri. Memikirkan betapa malangnya dirinya saat ini.
Aku iri, wanita itu hamil. Batinnya menatap perutnya yang datar.
______________________________________________
Ponsel Adara berdering, dengan malas ia meraihnya dari atas nakas. Dokter Kevin menelponnya, rasanya ia ingin mengabaikan panggilan itu. Untuk apa ia mengangkatnya? Hamil? Memikirkan hal itu membuat kepalanya berdenyut. Adara tidak ingin melanjutkan rencana bayi tabung itu. Ia hanya akan menyiksa dirinya sendiri nantinya.
Ponsel itu kembali berdering, perlahan Adara menarik napas lalu mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Iya dokter Kevin," sahut Adara, suaranya terdengar serak. Sepanjang malam ia menghabiskan air matanya dalam tidur-tidurannya. "Baiklah, aku akan kesana." katanya dengan suara ramah yang di paksakan.
Adara berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Ia ingat besok adalah rencana mereka melakukan penanaman Embrio ke dalam rahimnya.
Mungkin dokter Kevin, ingin menyapaikan sesuatu sehingga menelponnya di hari ini. pikirnya sembari melucuti pakaiaanya.
Rion terbangun dari tidurnya. Setelah mendapat pengusiran dari Dara semalam, ia memilih tidur di ruang baca. Perlahan ia memulihkan kesadarannya, melihat apa yang ia lakukan semalam. Minum alkohol dan menghisap rokok.
Rion, kenapa masih hidup? Seharusnya mati saja. gumamnya melihat meja di hadapannya berantakan dengan botol minuman dan sisa-sisa rokok.
Rion bangun sambil memijit kepalanya yang sakit, membuka pintu dan berjalan keluar menuju kamarnya.
Langkahnya berhenti saat melihat Adara berpenampilan cantik dengan tas di tangan. Sesaat mereka bersitatap dengan pikiran masing-masing.
Aku pengen menggigitnya, sampai berdarah batin Adara,
Kenapa dia sangat manis ... Rion menilai istrinya yang menatapnya sinis.
Adara mengabaikan Rion yang terlihat menyedihkan, "Dara, kau mau kemana?" Rion bergegas menghampiri istrinya itu. Menahan tangan Adara.
"Lepasin Ion!" Suara Adara terdengar dingin.
"Mau kemana?"
"Bukan urusanmu," Adara menghempaskan tangannya dari genggaman Rion.
"Dara!" Rion menggenggam kembali tangan itu, sangat kuat hingga terdengar ringisan dari Adara.
"Tanpa aku! Kau tidak boleh keluar."
"Apa katamu?" Seringai di wajahnya muncul. Pria itu ingin membelenggunya. Adara terkekeh, mengabaikan rasa sakit tangannya. "Lepaskan!" Perintahnya dengan mata membelalak.
"Katakan kau mau kemana? Aku akan mengantarmu."
"Mau mati!"
"Apa?" Rion langsung mengangkat Adara, membawanya menuju kamar.
"Rion ...! Lepasin! Aku mau ke rumah sakit." Teriak Adara memukuli pundak Rion.
"Kau sakit?" Rion menurunkan Adara, khawatir sambil mengecek suhu tubuh istrinya itu dengan tangannya. Menempelkan telapak tangan ke dahi, ceruk leher berulang kali.
Pria ini! Menjengkelkan!
"Suhu tubuhmu normal kok, apa kau sakit perut? Hah?" Rion hendak menyentuh bagian perut Adara. Namun, Adara langsung menghindar.
"Berhentilah, Rion. Kau tidak perlu khawatir denganku." Adara memutar bola matanya malas.
"Bagaimana aku tidak khawatir, kau istriku." Desis Rion. Adara berdecak.
"Dokter Kevin menelponku, jangan berlebihan." ujarnya, meninggalkan Rion terdiam tempatnya.
"Dara ... ayo kita pergi bersama." Teriak Rion dari dalam kamar, Adara mengabaikannya.
______________________________________________
Rumah sakit ...
Adara mencengkram stir mobilnya, apa yang terjadi dalam kehidupannya hingga harus merasakan kepiluan beruntun.
"Jika kita melakukan penanaman Embrio pada rahim, Anda. Kemungkinan besar tidak akan berhasil. Karena kualitas Embrio yang kita bekukan memiliki cacat yang menyebabkan mereka mati daripada tumbuh."
Begitu, dokter Kevin menjelaskan. Mendengar itu alis Adara tertarik dalam ke atas menyiratkan emosi kesedihan yang paling dalam.
Begitu lebih baik ... Ia membatin, mencoba menerima kenyataan sekaligus berputus asa bahwa dirinya memang tidak akan pernah merasakan yang namanya mengandung.
Rion terdiam, mendengar penjelasan dokter Kevin mengenai rencana penanaman Embrio pada rahim istrinya. Gagal.
"Masih ada harapan, kalau pak Rion dan istri anda setuju kita boleh melakukannya kembali." ujar dokter Kevin, menjelaskan ulang pada Rion yang datang terlambat. Pria itu bahkan tidak menemukan Adara di sana lagi. Rautnya sedih, ia sangat berharap bisa mendapatkan anak dari Adara, hasil cintanya dengan wanita yang ia cintai.
Rion keluar dari ruangan dokter Kevin dengan raut sedih.
Rion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, kembali pulang rumah. Setelah sampai ia membuka pintu mobil cepat dan berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Dibukanya pintu kamar itu keras hingga membuat Adara yang tengah berdiri di depan cermin terperanjat.
"Hun ...," sapanya dengan napas terengah. Menghampiri dan memeluk Adara dari belakang. "Dokter Kevin bilang, masih ada harapan. Karena itu ayo kita coba lagi." Bujuk Rion.
Adara menggigit bibir bawahnya, apa yang ada dipikiran pria ini? Apa dia bodoh? Seharusnya dia tidak perlu pusing. Toh dia akan memiliki anak dari wanita lain.
"Tidak, kita tidak perlu melakukan itu. Lupakan saja." ujar Adara, melepas pelukan Rion.
"Hun! Kenapa bicara begitu? Bukankah kita sudah sepakat?"
"Itu dulu saat! Sebelum penghianatanmu."
"Itu lagi? Semua orang melakukan kesalahan, Dara. Apa kau tidak bisa mengabaikan kesalahan itu. Aku sudah meminta maaf."
Adara tergelak mendengarnya, " apa kau pikir kesalahan yang kau buat itu kesalahan kecil, Rion? Seperti kamu menaruh handuk basah di atas ranjang, meletakkan sikat gigimu sembarangan dan aku akan selalu memaafkanmu? Rion, kau menghamili anak orang, menurutmu apa permintaan maaf cukup?" Adara menyahut cepat, berteriak di hadapan Rion dengan tatapan marah.
"Lalu aku harus apa? Bagaimana supaya kau memaafkan aku, Hun? Aku mohon katakan!" kata Rion, berlutut di bawah kaki Adara. Air matanya menitik, mengiba pengampunan.
______________________________________________
Setelah empat belas hari, tes DNA di lakukan. Calista menunggu kedatangan Hana dan Rion di rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA itu.
Ia terlihat gugup, penampilan Calista terlihat semakin cantik, tubuhnya makin berisi mungkin karena kehamilannya.
Lima belas menit kemudian Hana datang dan menghampiri Calista. Ia mencari keberadaan Rion namun tak menemukannya.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Hana, menyapa Calista dan diangguki sebagai jawabannya.
Apa yang aku harapkan dari pria itu? batinnya, kecewa karena ketidakhadiran Rion menunjukkan sikap acuhnya pada bayi dalam rahimnya itu.
Hana mengajaknya masuk ke dalam ruangan dokter Emre.
"Dokter Emre," sapa Hana dengan ramah dan segera di sambut hangat oleh pria itu. Mempersilahkan duduk.
"Silahkan duduk, Nyonya." Emre melirik Calista, menilai penampilan wanita itu.
Wanita ini memang cantik. Batinya.
"Ini hasil dari pemeriksaanya." Rion menyerahkan amplop putih pada Hana. Tangannya meragu untuk merobek dan mengeluarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Dibukanya perlahan kertas itu lalu membacanya. Ia terdiam tanpa ekspresi mengetahui hasilnya, lalu menyerahkan kertas itu pada Calista.
sementara di tempat lain, Adara mencoba menelpon ke call center Rumah sakit MF dan meminta di sambungin pada Emre.
"Emre," sapa Adara begitu tersambung.
"Dara, hei kau menelpon langsung ke rumah sakit?"
"Maaf menganggumu," Adara terdiam memberi jeda, membuat Emre mengerutkan keningnya. "aku dengar hasil tes DNA sudah keluar, apa mereka sudah mengambilnya?"
"Baru saja,"
Adara menarik napas perlahan lalu menghembuskannya perlahan juga.
"Kalau boleh tahu apa hasilnya?" tanya Adara ragu-ragu.
"Kau yakin?"
"Mmm ... aku juga harus tahu, hanya saja mendengar darimu lebih baik ketimbang dari mereka." ujar Adara.
"99,9 persen."
Bersambung ...
Catatan kecil : Boleh dong minta like
: Boleh dong minta poinnya🤗
: Boleh dong minta klik ❤️
: Boleh dong minta klik Rate 5
Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author!