OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Aku mencintainya



Jie menghembuskan napas panjang setelah melakukan tes urine, ia menunggu beberapa saat untuk mendapat hasilnya. Jie menatap pantulan dirinya dalam cermin sembari memperhatikan lingkaran matanya yang menghitam.


Sangat buruk, Ck.


Jie mengambil test pack yang ia letakkan di samping wastafel dan membaca hasilnya. Jie membelalak begitu melihat dua garis merah disana tercetak jelas.


Tidak bisa di percaya ini. Benda sialan!


Jie melempar asal benda tipis itu ke dalam kotak sampah lalu merobek kemasan baru dengan merek berbeda dan mengulanginya.


Jie mulai panik, ia menghentak-hentakkan sebelah kakinya pada lantai menunggu beberapa saat, kemudian benda kedua memberi hasil yang sama. Jie terkekeh tidak percaya pada benda itu.


"Aku cuma tidur sekali dengannya, sialan. Tidak akurat!" Jie mengumpat dan melempar benda itu ke kotak sampah, meski demikian Jie tetap cemas.


_________________________


"Aku rasa sudah saatnya mengalihkannya posisi ini pada Rion,"


"Baiklah Ibu Adara saya akan siapkan berkasnya," sahut Ardan mengakhiri pembicaraan mereka. Ardan berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk memberi salam pada Adara lalu meninggalkan ruangan, tidak lama kemudian Adara kedatangan Rion.


"Honey ...," sapa Rion dari ambang pintu mengagetkan Adara.


"Kau kesini?" Adara tersenyum dari tempat duduknya. Rion menutup pintu di belakangnya.


"Kangen Honey ...," Rion mengerlingkan mata sembari menghampiri. Menarik tangan perempuan itu dan dengan cepat mengambil alih tempat duduk Adara.


"Honey, tadi saat kesini semua menyapaku, pagi pak, pagi pak, pagi pak. Hahaha aku tidak menyangka kalau Rion Emirat sangat dihormati," Rion menyilangkan kakinya dengan tangan bersedekap. Menunjukkan sikap angkuh.


Adara berdecih melihat senyum sumringah Rion. "Kau bangga?"


"Tentu saja," sahut Rion, kemudian ia duduk dengan kedua kaki terbuka. "Itu semua berkat kamu, Honey, " Rion menarik tangan Adara dan menempatkan wanitanya itu di pangkuannya.


"Rion ... jangan begini, di perusahaan ini aku seorang pimpinan, kalau ada yang lihat bisa hancur reputasiku,"


"Tidak akan ada yang berani masuk, Honey." Rion mengecup pipih Adara. "Honey, aku akan mengambil alih posisimu." tambah Rion.


"Kenapa? Kau menyesal menyerahkan semua hartamu padaku?


"Tidak ada yang berubah, Honey," Rion memainkan ujung-ujung rambut Adara. "Semua milikmu, aku ingin kamu fokus merawat aku, Illy dan Ibu. "


"Kenapa aku yang harus merawat kalian? Kau pikir aku pembantu?"


"Ck, kau minta di cium, ya?" Rion mencubit pipih Adara geregetan. "setelah menikah kau hanya boleh dirumah." tambahnya.


"Kapan?" Tanya Adara sembari memainkan rambut Rion. Penasaran.


"Tadi aku bicara sama Mama, soalnya perceraikanku dengan Calista. Mama memintaku untuk ketemu Ardan pengacara kita, untuk menyelesaikan semuanya. Kita akan menikah setelah itu,"


Adara mengangguk mendengar penjelasan Rion. "Honey ...," ujar Rion sedikit panik.


"Apa?" Adara mengerutkan kening, Rion menatap bibir perempuan itu.


"Ada sesuatu di mulutmu,"


"Apaan?" Adara panik, menjilati bibirnya sendiri.


"Coba buka mulutnya," spontan Adara membuka mulut.


"Oh ya ... ampun." Rion menarik napas berat, membuat Adara semakin panik.


"Rion ini tidak lucu," Adara memukul bahu Rion keras.


"Hun, sekarang dia ada di lidahmu,"


"Apaan?" Adara semakin panik.


"Julurin lidahmu biar aku ambil," spontan Adara mengeluarkan lidahnya dan dengan cepat Rion menangkapnya dengan mulut, Adara mengerjap ia ditipu. Rion memejamkan mata menarik Adara lebih erat kedalam pelukannya dan mulai mengisap lidah Adara seperti koktail. Memainkan dan saling memutar.


"Damn!" umpat Rion, setelah melepas Lidah itu, ia mengerang frustasi hasratnya muncul sangat besar.


"Rion ...." Adara terengah.


"Honey, ayo kita bercinta," Bisik Rion dengan tatapan berkabut.


Adara menggeleng, "kau sudah janji tidak akan melakukan itu sebelum menikahiku," Rion memejamkan matanya, ia masih merindukan bibir yang sudah meranum karena ciuman liar mereka. Rion masih ingin memesrai Adara. Tapi jika itu terjadi lebih lama Rion akan hilang kendali.


"Aku sangat menginginkannya," ujar Rion putus asa, ia memeluk Adara erat dan ingin meleburkan wanitanya itu hingga satu dengannya.


"Rion ... aku susah bernapas," ujar Adara, perlahan Rion melepasnya.


"Aku akan pulang, aku tidak tahan melihatmu rasanya aku ingin memakanmu." ujar Rion membuat Adara terkekeh geli. Rion mengecup pipi Adara lalu keluar dari ruangan itu dengan isi celananya yang sudah membesar. Semoga tidak ada yang melihatnya di luar sana.


Dia pikir cuma dia yang menginginkannya? Aku juga merindukan sentuhanmu Rion. Aku kesepian.


Adara berjalan ke dalam toilet, untuk merapikan diri yang sudah berantakan. Ia melihat bayangannya di dalam cermin.


"Ciuman hebat ...." gumam Adara menyentuh bibirnya yang sudah bengkak dan memerah. Rion mengisapnya dengan rakus dan liar.


_____________________


Hasilnya? Positif.


Jie, melipat hasil pemeriksaan itu dan memasukkanya ke dalam tas. Ia berpikir akan menemui Emre ayah dari bayi yang tengah Jie kandung. Sesampainya di depan ruangan Emre. Keringat Jie timbul besar-besar di dahinya. Degub jantungnya bergemuruh, semenjak percintaanya dengan Emre waktu itu. Keduanya tidak pernah lagi bertemu. Emre bahkan tidak pernah berkunjung ke Adara kafe.


Kejadian itu seolah terlupakan begitu saja.


Bagaimana bisa aku memintanya untuk bertanggung jawab, Emre sendiri bahkan tidak perduli kepadaku atau menemuiku setelah kejadian itu. Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri.


Jie menarik napas berat, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu.


______________________


📩 Pria bodoh : Honey, aku tidak bisa datang menemanimu malam ini. Aku masih berusaha menahannya dan ini sangat tidak nyaman. Kalau aku kesana ... takutnya tidak terkendali.


Adara tergelak membaca pesan yang di kirim Rion.


Itu masalahmu.


📩My Wife : Tidak apa -apa, gantikan aku mencium Illy.


Rion tersenyum, ia berbaring di samping Illy. Sesuai pesan yang ia baca, Rion mengecup pipi Illy dua kali. "Ciuman untukmu dari Mommy." bisik Rion lalu beranjak dari tempat tidur meninggalkan Illy yang sudah tertidur kembali ke kamarnya.


📩 Pria bodoh : Ciumanmu sudah kukirim cintaku, sekarang giliranku mana ciuman untukku.


Dia pikir dirinya anak remaja apa? Tangannya sendiri mengetik lalu menekan tombol send.


📩 My Wife : Muah ...


Rion tersenyum, dasar kau Dara .... ciuman apaan begitu?


📩 Pria bodoh : Aku mencintaimu, Honey. Tidurlah.


Adara tersenyum membacanya, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang sembari menggenggam ponselnya tanpa sadar Adara mulai mengantuk dan tertidur.


____________________


Adara berkunjug ke Adara kafe, Jie tidak ada di tempat padahal wanita itulah yang meminta Adara mengunjunginya.


"Belum datang, Nyonya Adara." jawab Bahar dengan sopan saat Adara bertanya dimana Jie berada. "Dua hari yang lalu, Nona Jie pingsan —"


"Pingsan?" tanya Adara memotong ucapan Bahar.


"Iya nyonya Adara,"


"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja." Adara keluar dari kafe itu dan mengemudikan mobilnya ke Apartemen Jie. Ia khawatir Jie sakit hingga tidak bisa datang ke kafe.


Adara menekan tombol bel pintu apartemen Jie dan tidak lama Jie membukakan pintu.


"Dara,"


"Jie,"


keduanya serentak menyapa dengan raut berbeda. Jie tampak kaget melihat Adara datang ke Apartemen itu sementara Adara menampilkan raut khawatir pada Jie.


"Kau sakit, Jie? tanya Adara begitu melihat wajah pucat Jie.


"Tidak, masuklah." Jie membuka pintu lebar untuk Adara masuk.


"Aku kan memintamu ketemu di kafe, kenapa datang kesini?" Jie berjalan menuju dapur mini yang ada di ruangan itu dan memasak air untuk membuatkan kopi.


"Aku sudah dari sana Jie, pekerjamu bilang kau pingsan itulah kenapa aku kesini." Adara duduk di mini bar menunggu Jie membuatkan kopi.


"Kental?" tanya Jie saat hendak meracik kopi.


"Mmm ..."


"Hanya maag, bukan penyakit parah." jawab Jie berbohong. "Bagaimana hubunganmu dengan Rion?" tanya Jie, menyajikan kopi untuk temannya itu.


"Dia mengajakku menikah, tapi setelah mengurus perceraiannya dengan Calista." Adara menghirup aroma kopi kental racikan Jie.


"Kau setuju?" tanya Jie dan diangguki Adara.


"Aku mencintainya, Jie." gumam Adara, ia menatap Jie. "pasti orang akan menganggapku bodoh karena masih mau kembali padanya setelah apa yang terjadi." ujar Adara menunjukkan wajah sedihnya.


"Itu tidak penting Dara, orang akan bergosip sampai kiamat datang. Sekarang bagaimana dengan kamu. Bahagia tidak?"


"Dia Rion yang masih mencintaiku, masih sesuka hati. Keras kepala dan posesif. Aku sudah terbiasa malah kalau dia berubah itu akan membuatku khawatir. Jadi aku bahagia saat dia mencitaiku dengan sangat." jawab Adara.


"Aku turut bahagia mendengarnya," Jie memperhatikan Adara lalu memberanikan diri bertanya. " Bagaimana dengan Emre?"


Bersambung ....


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.