OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Cinta tidak harus memiliki



" Bagaimana dengan Emre?"


Adara mengangkat kedua bahunya. "Cinta tidak harus memiliki,"


"Dia menunggumu lama," balas Jie, menghirup aroma kopi miliknya.


"Aku tidak pantas untuknya, Emre layak mendapatkan yang terbaik," gumam Adara, sepintas ia mengingat perkataan ibunya Emre mengenai dirinya.


Aku tidak ingin mantan menantu orang menjadi menantuku. Cukup main-main saja dengannya, setelah puas lepaskan. Uangku sudah habis menyekolahkanmu menjadi seorang dokter dan kau hanya akan mendapatkan remahan orang.


Adara menyeringai mengingat ucapan itu, terlalu menyakitkan saat menyadari dirinya dianggap sampah.


"Dara, aku akan pulang ke Toronto," Adara menyembur kopi dari mulutnya saat mendengar ucapan Jie. "ini bukan berita kematian Dara, kau berlebihan." Jie, mengambil tisu dan menyerahkannya pada Adara.


"Ini alasan kamu memanggilku?Tapi kenapa?" Adara membersihkan mulutnya dan semburan kopi di meja bar itu.


"Aku merindukan keluargaku," ujar Jie, Adara menghela napas panjang mendengarnya.


"Kenapa tiba-tiba, Jie?"


"Seperti yang aku bilang, aku merindukan keluargaku." Jie terkekeh.


"Aku ke kamar mandi dulu," Adara berjalan ke kamar mandi yang ada di dekat dapur mini dalam ruangan itu, meninggalkan Jie duduk dengan raut berubah sedih.


Adara mencuci tangannya dan membersihkan percikan kopi yang menempel di blouse nya.


"Ini tidak akan hilang, aku akan berganti pakaian sebelum ke kantor," ujar Adara memperhatikan bintik hitam yang menganggu di blouse warna putih yang ia kenakan.


Adara membuang tisu ke kotak sampah dan matanya memperhatikan benda tipis dengan bungkus tercecer di lantai kamar mandi itu.


Test pack?


Adara mengambil dan memperhatikan benda itu. Apa ini? Adara memperhatikan benda tipis itu dan melihat hasilnya. "Strip dua," Ia menghela napas berat dan keluar dari kamar mandi.


"Jie, apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan selain kepulanganmu ke Toronto?" tanya Adara kembali duduk di tempatnya.


Jie tampak berpikir, "Aku rasa tidak ada,"


"Berapa lama kau disana?"


"Mmm ... satu tahun mungkin,"


Adara tersenyum pahit, "Lama ya," katanya


"Selama ini aku pulang dalam waktu yang singkat jadi aku pikir tidak masalah jika mengambil libur pan—" ucapan Jie terputus saat melihat Adara meletakkan test pack yang ia pungut di atas meja.


"Kau boleh cerita tentang ini," ujar Adara, menatap Jie tajam.


Jie tampak pucat, ia memalingkan wajah dari tatapan Adara. "Itu bukan milikku," sanggah Jie.


"Katakan Jie ...,"


"Apa yang harus aku ceritakan? Benda itu bukan milikku,"


"Kau bohong!" Hardik Adara memukul meja bar membuat kopi dalam gelas Adara berguncang, Jie bahkan tersentak.


"Hubungan satu malam dan sialnya aku hamil," ujar Jie, ia menelan ludahnya susah payah.


"Astaga, Jie." Adara menggeram kesal." Dia tidak mau bertanggung jawab?"


"Setelah malam itu kami tidak lagi bertemu," tatapan Jie menyedu.


Adara berdecak, ia turun dari tempat duduknya dan mengusap lembut punggung Jie.


"Hubungi dia dan katakan kalau kau hamil," bujuk Adara, Jie menggeleng. Menolak.


"Dia pria beristri?"


"Tidak, hanya saja dia mencintai seseorang," jawab Jie, tanpa sadar ada lelehan bening menitik dari netranya.


"Jie, mungkin setelah dia tahu kau mengandung anaknya dia akan mencintaimu,"


Jie tersenyum pahit, "tidak mungkin Dara. Akulah yang salah dalam hal ini. Aku tahu dia mencintai seseorang dan dengan bodohnya aku menggodanya." Jie merendahkan kepalanya, membiarkan air matanya menitik. Adara turut sedih. " A-aku yang menciumnya duluan,"


"Apa aku boleh tahu siapa pria itu?" tanya Adara penasaran, kakinya terasa pegal berdiri dan ia kembali ke tempat duduknya.


"Kau tidak perlu tahu, Dara." jawab Jie, mengusap air matanya lalu menarik napas dan menghembuskanya kasar.


Jie terdiam, Adara benar ia hanya akan mempermalukan keluarganya dengan membawa anak tanpa ayah.


"Jie ...." Adara memohon, Jie menggelengkan kepalanya ia tidak ingin mengatakan apapun tentang Emre pada Adara.


Adara menghela napas berat, "kalau begitu pulanglah ke Toronto dan lukai hati orang tuamu! Dan sampai disini persahabatan kita tapi jika kau ingin tetap bersahabat denganku? Maka sebelum kakiku keluar dari pintu itu aku sudah harus tahu siapa pria itu." Ancam Adara dengan nada datar menunjuk pintu keluar.


"Aku menganggapmu sahabatku tapi kau Sepertinya tidak." Tambah Adara, turun dari tempat duduknya dan memutar badan untuk keluar dari ruangan itu.


Jie menghembuskan napasnya berat, ia malingkan wajah mencoba mengabaikan ucapan Adara.


Adara benar, aku akan mempermalukan orang tuaku, mengecewakan mereka yang sudah kepayahan membesarkan aku dengan penuh cinta.


Jie, menatap punggung Adara yang sudah mendekat pada pintu keluar, lalu dengan sekali tarikan napas berujar.


"Emre," ucap Jie menghentikan langkah Adara.


"Siapa?" Adara berbalik, keriput di dahinya tercetak jelas Adara tidak tuli hanya saja ia ingin mendengar sekali lagi nama itu.


"Bayi ini milik Emre." Jie menunduk, memperhatikan perutnya yang masih sangat datar, tangannya refleks menyentuh bagian perut itu. Lembut penuh kasih.


Adara tertawa tanpa suara, tidak habis pikir mendengar pengakuan Jie.


Pria sialan itu belum lama ini menciumku.


Ada apa dengan para pria? Kenapa begitu mudah mengatakan cinta kepadanya dan dengan mudah pula melukai hatinya.


Hati Adara sakit mendengar Jie hamil anak Emre. Bukan masalah cemburu tapi Adara merasa Jie menjadi korban kekecewaan Emre padanya.


"Bukan salah Emre, akulah yang memancingnya," gumam Jie tanpa melihat Adara yang tengah menetralkan diri dari tawanya.


"Apa yang terjadi sebenarnya, Jie?" Adara menghampiri dan kembali duduk disamping Jie.


"Hubungan satu malam, Dara." ujar Jie menoleh pada Adara.


"Kapan itu terjadi?"


"Setelah kepulangan Rion,"


"Kau tahu Emre mencintaiku?"


"Yah, bahkan saat kami menikmati malam panas itu dia mendesahkan namamu,"


"Menjijikkan!" umpat Adara.


Hening


"Jadi kau tidak ingin Emre mengetahui bayi ini?" tanya Adara memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.


"Aku akan melahirkannya sendiri—"


"Sudah pasti! Bayi itu tumbuh dalam rahimmu," Ketus Adara, ia menghela napas berat, "Ayo kita temui Emre dan minta pertanggung jawabannya," Bujuk Adara mengelus lengan Jie lembut.


"Tidak ada hubungan spesial diantara kami, dan k-kau tahu dia mencintaimu," Jie menolak, Adara tersenyum pahit.


"Aku mohon jangan jadikan aku alasanmu, Jie. Pikirkan bayi itu," Jie menggeleng menolak.


"Apa karena aku? Aku tidak mencitai Emre, lagipulan Rion akan menikahiku. Emre akan melupakan aku secara perlahan Jie." Bujuk Adara.


"Rion tidak bisa melupakanmu meski sudah menikah dengan Calista,"


"Itu berbeda Jie, orang -orang punya cara mencintai. Kau tahu? Aku obsesi Rion sementara kau bisa mengubah hati Emre untuk mencintaimu. Aku mohon ... aku akan terluka jika kau jadikan alasan." Mohon Adara seraya terisak.


"Dara, Emre mencintaimu dari kalian remaja sampai sekarang. Kau hitung itu sudah cukup lama dan cintanya belum pupus hingga sekarang. Aku tidak ingin cemburu padamu." sahut Jie.


"Kau menyakitiku Jie," Adara menyeka air matanya lalu tanpa pamitan ia keluar dari Apartemen itu. Menutup pintu keras membuat Jie tersentak.


"Emre ... kau harus bertanggung jawab," gumam Adara, melihat test pack dalam genggamanya yang ia ambil dari meja bar.


Bersambung ....


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.


Baiklah ini Jie Ranita dan Emre