OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Luka hati



Astaga Mete! rutuk Adara, tiba-tiba saja posisi Mete di luar jangkauan oleh jaringan.


"Cepat pak!" Pinta Adara pada Ahmed, supirnya. Jalanan tidak terlalu macet hingga Ahmed bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Adara segera keluar dari dalam mobil, begitu sampai di depan rumah sakit. Adara melangkah buru-buru, tujuannya ruangan Emre.


"Emre," panggil Adara saat melihat pria itu berjalan di koridor sambil membalas sapaan beberapa pasien. Emre menoleh, dan menghembuskan napas kasar. Ia sudah menduga Adara akan menemuinya karena di malam hari ia tidak mau menemui Adara.


Emre membuat Adara terus melangkah, pria itu mengacuhkannya. Emre tahu Adara menemuinya hanya akan membahas tentang Jie.


Adara menghentikan langkah kaki Emre dengan memeluk pria itu dari belakang. Emre terkesiap, merasakan tangan Adara melingkar di perutnya.


"Dara, apa yang kau lakukan?" tanya Emre, jantungnya berdegub hebat.


"Kau mengabaikan aku, Emre. Kenapa?" Beberapa pasang mata melihat mereka, dan itu membuat Emre tidak nyaman sebagai dokter disana.


Emre melepas jalinan jemari Adara, lalu berbalik melihat wanita yang sudah menangis itu.


"Bukankah ini yang kau mau?" tanya Emre lalu melanjutkan langkah kakinya. Adara mengikuti dari belakang.


"Tidak Emre, aku ingin kita tetap bersama sebagai sahabat,"


"Dara aku mencintaimu dan tidak akan pernah bisa jadi sahabat." Emre seketika berbalik, Adara hampir menubruknya. Emre menatap tajam sementara giginya saling mengatup Adara terdiam, menelan ludahnya. Kedekatannya dengan Emre membuatnya gugup.


Emre melanjutkan langkah dan membuka ruangannya.


"Aku mohon ... Emre, hari aku harus kehilangan teman baikku karena cinta egoismu itu. Jie dalam perjalanan ke bandara." Emre memijit pangkal hidunganya.


"Bukan urusanku,"ketus Emre setelah menghembuskan napas kasar. Pria itu berdiri membelakangi Adara.


"Kalau kau mencintaiku, bisa kau menghalangi Jie, Emre? A-aku tidak sanggup membayangkan penderitaan yang akan ia hadapi. Aku mohon lakukan demiku, cinta harus berkorban bukan?" Adara terisak, menghampiri Emre.


"Aku mohon ... Emre, kau hanya mencoba untuk membuka hatimu untuknya. Demi bayi itu, Emre. Demi darah daginmu. Kau tahu Rion, dalam waktu lama ia tidak menyukai Illy semenjak tumbuh dalam rahim ibunya. Tapi sekarang mereka menjadi ayah dan anak yang seutuhnya. Kau akan mencintainya nanti setelah terbiasa bersama atau setelah membuka hatimu untuknya. " kata Adara, ia tahu Emre tidak akan luluh hanya karena mendengar isakannya, maka karena itu Adara berlutut di belakang Emre dengan kedua tangan mengatup. Adara memohon dan merendahkan dirinya.


"Dara!" Gertak Emre, ia tidak menduga Adara akan melakukan hal semacam itu padanya. Emre berjongkok, membantu Adara bangun dan membawanya dalam pelukannya tanpa sepatah kata. Pelukan itu seolah meremukkan tubuh Adara. Wanita itu hanya diam menerimanya, hingga perlahan pelukan itu melonggar dan Emre meninggalkan Adara di sana sendirian.


Adara berbalik melihat Emre berlari setelah mengambil kunci mobil dari meja kerjanya. Adara tersenyum, sembari mengusap air matanya dan berlari mengikuti Emre.


Emre, melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata menuju bandara. Beberapa kali ponselnya berdering tanda pesan masuk dari Adara menyampaikan kalau Jie sedang diruang tunggu.


Mete berusahan menghalau langkah Jie sesuai perintah Adara. Mete bahkan memesan tiket perjalanan ke Toronto hanya untuk menganggu Jie di ruang tunggu. Tapi sayangnya penyamaran pria itu terbongkar, Jie mengenali pria yang mengenakan jaket kulit di padukan topi dan kaca mata hitam bertengger di matanya.


"Adara menyuruhmu bukan? Wah, dia punya usaha yang baik ya. Sampai kemana kau mengikutiku? Toronto? Kenapa dia tidak menyuruhmu sekalian menikahiku?" ucap Jie jengkel lalu terkekeh dengan suara mengejek. Mete kelimpungan pria itu ikut tertawa tanpa dosa.


"Aku pikir kau tidak akan mengenaliku," ujar Mete, melepas penyamarannya. "Ibu Adara teman yang baik. Dia ingin yang terbaik untuk Anda,"


"Aku tahu itu, tapi sampai kemana kau mengikutiku. Kau bahkan sengaja mengotori bajuku, sialan! Baju kotorku tidak akan menghentikanku pulang ke Toronto." ujar Jie, membersihkan blouse yang terkena kopi Mete.


"Sudah waktunya aku naik pesawat, pergilah pulang."


"Aku akan mengikutimu, Nona. Sampai kemanapun sesuai perintah Ibu Andara." Mete menunjukkan Boarding pass seketika membuat Jie terbahak.


"Aku baru sadar kalau Adara sangat gila. Kalau begitu, ayo kita pergi bersama." ujar Jie, dibarengi kekehan ringan. Ia berdiri dan menarik koper kecilnya.


Emre ...


"Kau mau kemana membawa bayiku?" Jie menelan ludahnya, mendengar ucapan Emre. "Kau mau membesarkannya sendiri tanpa aku?" Emre melebarkan langkahnya menghampiri dan langsung memeluk Jie.


"Bodoh, harusnya kau datang padaku. Dan bunuh aku karena sudah mengabaikanmu setelah malam itu." gumam Emre, Jie memejamkan mata, tangannya sedikit terangkat untuk membalas pelukan Emre.


"Kau tahu aku mencintai Adara? Itulah sebabnya kau merahasiakan ini dariku? Kau sangat bodoh, pertemanan macam apa itu?" sambung Emre, Jie menangis


"Katanya luka hati hanya bisa di sembuhkan oleh waktu, karena itu aku mohon berikan aku waktu untuk menyembuhkan luka ini dan bantu aku dengan cara tetap di sampingku." Mendengar itu Jie langsung mengeratkan pelukannya pada pria itu. Sebagai tanda dia setuju untuk membantu Emre.


"Baiklah, akan aku coba, Emre." gumam Jie.


"Terima kasih, Jie Ranita." Emre melepas pelukannya dan mengulurkan tangan membawa Jie pergi dari tempat itu.


Mete berkaca-kaca melihat adegan itu, tanpa sadar air hidunganya keluar dan spontan ia menghirupnya kembali, "Ah sial, asin!" katanya, pengen muntah.


Adara tersenyum saat melihat Emre membantu Jie masuk ke dalam mobilnya, lalu ia mengetik di ponselnya dan mengirimnya pada Emre.


Terima kasih, Emre. Kau sahabat baikku. Aku akan setuju menikah denganmu di kehidupan berikutnya. Jika ada.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Jie, saat melihat Emre membaca pesan Adara.


"Tidak apa, hanya ada sesuatu yang menggelitik hatiku. Aku akan mengantarmu pulang tapi ...," Emre memperhatikan Jie dengan intens. "Jie, maafkan aku sudah menghancurkan masa depanmu. Kau mungkin punya harapan menikah dengan pria idamanmu tapi karena ba-bayi itu—"


"Bayi kita, Emre." Sahut Jie, "setelah dia ada aku tidak menyesal sekalipun kau bukan pria idamanku." Tapi bohong ... aku menyukaimu dari awal kita kenalan.


"Katakan padaku jika kau menginginkan sesuatu," Jie mengangguk. "Kau ingin sesuatu? Hamil muda biasanya banyak inginnya," tambah Emre dengan raut penasaran.


"Mungkin nanti, Emre." Jie menunduk malu, "Oh iya Emre, apa ini semua karena Adara?" tanya Jie, memastikan.


Emre mengangguk, "Dia ... menemuiku, bagaimana kalau kita makan siang?" tanya Emre.


"Baiklah, aku setuju." Emre tersenyum, ia belum bisa mencintai Jie tapi sebelumnya mereka berteman meski tidak terlalu akrab. Mungkin Emre akan memulainya dengan cara mengakrabkan diri.


________________________________


_______________


"Pergi tanpa kabar," Rion mengusap wajahnya kasar. Beberapa kali Adara mengabaikan telponya. Pria itu kini duduk di meja kerjanya, menghubungi Adara terus menerus.


"Dia pergi begitu saja." Sungut Rion, ia keluar ruangan dan berniat mencari Adara ke rumahnya.


Sesampainya di pintu keluar gedung Emirat, mobil Rion telah stanbay di depan gedung itu. Rion mengambil kunci dari tangan Valet parking.


"Mert," panggil seseorang menghentikan gerakan Rion saat membuka pintu mobilnya.


sudah lama nama itu Rion lupakan dan sekarang entah siapa pemilik suara itu. Berani mengingatkannya kembali. Rion menutup kembali pintu mobilnya dan menoleh ke sumber suara.


Bersambung ..