OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Adara kecewa



Adara di pindahkan ke ruang rawat inap. Mentari pagi mengusip alam sadarnya. Ia terbangun dan kebingungan, apa yang ia alami seolah sebuah mimpi tapi saat pagi hari ini Adara menyadari itu semua nyata.


"Rion," Adara memanggil saat melihat Rion tertidur menelungkupkan wajahnya di bangsal Adara. Adara tersenyum, ia mengulurkan tangannya mengusap kepala Rion hingga pria itu terbangun.


Rion mengedip-gedipkan matanya, mengusap pelan lalu mengambil tangan Adara dan mengecupnya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Rion seraya bangun dan mengusap kening wanita itu. Adara tersenyum.


"Kapan kau pulang dari perjalananmu?" Rion menghela napas berat.


"Aku tidak jadi pergi, kau tertembak," Adara mencoba mengingat lalu ia menutup mulutnya.


"Maafkan aku," ucapnya, dengan nada sesal ia bergeser dan merasakan ada yang aneh pada bagian kakinya.


"Rion ..."


"Yah?"


"Ka-kakiku tidak apa -apa kan?"


"Maafkan aku, Dara."


Adara menyibak selimut yang menutupi kaki dan membeliak. Satu kakinya tidak lagi utuh. Wanita itu histeris memukuli tempat tidur dengan tangannya.


"Tidak Rion, apa yang kau lakukan pada kakiku? Kau memakannya?"Rion memeluk Adara erat, mengizinkan wanita itu memukuli dirinya. Dicakar, dijambak digigit semua Rion terima, Rion tidak perduli.


"Lakukan sesuatu, Rion. Aku tidak mau ca-cacat. Tidak, tidak, tidak, aku mohon." Suara itu mengiba mengiris hati Rion.


"Cukup Dara. Kau tidak memerlukan itu selama aku ada di sampingmu."


"Apanya tidak butuh, aku butuh kakiku, kau, kau pergi saja. Menjauh dariku, sambungin kakiku lagi. Aku mohon, aku mohon. Sambungin, apa yang salah kenapa di putus begini." Isak Adara, mengeleng-ngelengkan kepalanya.


"Dara ...."Rion menarik Adara kembali dalam dekapannya. "Aku mohon berhenti menangis.


"Bagaimana aku hidup kedepannya, Rion. Hatiku sakit, mau mati saja."


"Diamlah!" Rion mengeratkan pelukanya. Adara semakin histeris, pria itu menekan tombol untuk memanggil dokter. Adara mendapatkan suntikan penenang.


"Itu hal yang wajar, Pak Rion. Nona Adara butuh waktu untuk menerima ini." Dokter menepuk bahu Rion, memberi semangat untuk pria itu.


"Saya mengerti, Dokter." Balas Rion, menipiskan bibirnya. Ia kembali duduk, mengamati wajah Adara yang tampak pucat.


"Maafkan aku, Honey, maaf ...," Lirihnya, Rion mendaratkan kecupan di sudut bibir Adara lembut. Ponsel pria berbunyi, ia mengambilnya dari atas meja kecil dekat bangsal Adara.


"Sudah kau temukan?" Tanya Rion.


"Hasil Cctv yang kami temukan di bandara menyatakan, Ipek ada di penerbangan Jepang di hari Nona Adara tertembak."


Rion memejam, "baiklah, suatu saat dia akan kembali. Kalian bisa hentikan pencariannya."


Rion mematikan ponselnya. "Rion, jangan lakukan apapun yang akan kau sesali," gumam Adara, Rion tersentak mengumpat dalam hatinya. Adara tidak boleh tahu apa yang sudah ia lakukan dengan Abizard.


Rion berdehem, ia mengambil tangan Adara. "Tidak akan Honey, " Rion tersenyum miring, ia tidak sedikitpun menyesal melenyapkan Abizard. "Aku pikir kau tidur," katanya lagi melihat Adara masih terpejam.


"Aku takut, sangat takut, Rion." gumam Adara, dari sudut netra wanita itu menitik dua bening air matanya.


Tiga hari kemudian ...


Sejak hari itu, Rion tidak pernah kembali ke rumah sakit. Ia hilang tanpa menampakkan batang hidungnya. Adara kecewa, memeluk Jie yang sedang berkunjung.


"Dia bahkan tidak menelponku, Jie." Adara sesugukan di pelukan Jie.


"Mungkin dia ada kesibukan," Jie mencoba menenangkan.


"Tidak, dia selalu ada setiap kali aku butuhkan. Bahkan saat tidakpun dia selalu hadir."


"Rion pasti datang, lagipula kemana pria itu tanpamu? Dia tidak akan hidup." Jie menyeka kedua pipi Adara.


Adara menarik napas panjang lalu menghembuskanya kasar.


" Ya, mungkin dia sudah sadar kalau cintanya sebatas itu. Siapa yang mau hidup dengan wanita cacat sepertiku."


"Dara, jangan berpikir demikian. Aku yakin Rion akan kembali."


"Lebih baik begini, Jie. Bantu aku keluar dari sini. Aku mau pulang, memang apa lagi yang harus aku lakukan di tempat ini. Kakiku tidak akan kembali utuh." Adara tampak putus asa.


"Tapi Rion walimu," Adara menggelengkan kepala. Baginya tidak perlu menunggu Rion supaya ia keluar dari rumah sakit.


"Aku ingin pulang," Jie menghela berat.


"Sehari lagi ya? Kalau Rion tidak datang, Emre akan mengurus kepulanganmu." Bujuk Jie, Adara tampak berpikir lalu mengangguk setuju.


Ya Rion setidaknya kau menemukan jawaban atas cintamu padaku. Aku juga tidak ingin beban untuk siapapun.


Waktu seolah berjalan lambat, Adara semakin menyedihkan. Terkadang ia lupa kalau dirinya tidak dapat berjalan lagi. Wanita itu ingin turun dari ranjang tapi saat melihat kakinya pendek sebelah air matanya kembali menitik.


Perawat yang di bayar Rion, melakukan pekerjaannya dengan baik. Tentu, ia dibayar mahal begitulah Adara berpikir.


"Nyonya butuh sesuatu?" tanya perawat itu, saat melihat Adara menunduk duduk di tepi bangsal. Adara segera menggelengkan kepala. Ia kembali meluruskan diri dan berbaring. Menutupi dirinya dengan selimut kemudian meratap.


"Dara," Sapa seseorang, ia mengenal suara itu. Adara makin terisak hingga selimut yang menutup dirinya bergoyang.


"Hei, jangan menangis." Adara menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. Ia merentangkan kedua tangannya.


"Peluk aku," katanya. Pria itu mengangkat tubuh Adara supaya duduk lalu memeluknya erat.


"Jangan menangis, mmm. Kau tidak sendirian, Jie tadi menemuiku dan bercerita apa yang kau inginkan. Aku akan membantu besok tapi, kau yakin sudah baikan? Aku bukan doktermu yang bisa menentukan kapan kau keluar dari sini."


"Emre, aku tampak menyedihkan bukan? Mulai sekarang aku hanya akan melihat tatapan kasihan padaku."


Emre memejamkan mata, "kata siapa, kau bahkan masih mempesona,"


"Dengan satu kaki?"


"Yah, tidak ada yang berubah darimu."


"Menyebalkan, jangan menenangkan hatiku, Emre. Bahkan Rion yang menyatakan cinta setiap saat bisa pergi tanpa pamit." Adara mengusap air matanya.


"Rion pasti kembali,"


"Dan aku akan menolaknya,"


"Dia akan bilang kau miliknya,"


"Aku akan tetap menolak,"


"Dia akan memaksamu,"


"Aku tidak yakin itu."


Emre memeluk Adara kembali. "terima kasih Emre, setidaknya aku masih punya teman bicara."


"Kapanpun, aku dan istriku akan tetap jadi sahabatmu." ucap Emre.


Esok harinya Adara dibangunkan paksa oleh silau matahari yang memantul dari dinding kaca ruangan itu. Perawat dan tiga wanita yang tidak di kenal Adara berdiri tepat di samping bangsalnya.


"Selamat pagi Nona Adara," sapa perawatnya dengan ramah.


"Apa Rion Emirat semalam datang?" tanya Adara, ia ingat dirinya menahan rasa kantuk menunggu berharap Rion datang malam itu. Meski kecewa, rasa rindunnya pada pria itu kini semakin besar.


"Tidak nyonya," jawabnya, Adara kecewa.


"Hari ini aku bisa pulang? Emre akan menggantikan Rion sebagai waliku. Seharusnya bibiku yang ada di London tapi telponnya tidak dapat kuhubungi. Rion bukan siap-siapaku. Dia hanya pria yang bermurah hati merawatku di sini." suara Adara semakin redup mengatakan ucapannya.


"Nyonya Adara anda bisa tenang. Dokter akan memeriksa kembali kepulihan Anda hingga bisa dinyatakan bisa pulang." ucap perawat itu, kemudian tak lama dokter datang dan memeriksa kesehatan Adara.


"Oke, hari ini anda bisa pulang. Perawat kami akan menjadwalkan cek rutinnya, ya."


Setelah melakukan pemeriksaan pada kaki Adara lalu dengan gerakan santai Dokter itu menempelkan saputangan di penciuman Adara. Adara menghirup dalam waktu sekejab Adara tertidur ia dibius menggunakan bius hirup herbal tanpa efek samping.


"Baiklah, kalian bisa melakukan tugas kalian." ucap dokter itu. Ketiga perempuan itu mengangguk dan segera melakukan pekerjaan yang di perintahkan tuan mereka pada Adara.


Bersambung ....