
📩 Mr. X : Saya minta pelunasan untuk perkerjaan yang anda minta. Secepatnya!
Jemari lentik wanita itu mengetuk-ngetuk di meja rias. Memandang bayangannya dalam cermin. Mencari tahu apa yang tengah mengubah sosoknya menjadi seorang berhati jahat dan mengerikan. Ia menyeringai sinis pada bayangannya dalam cermin itu.
"Bukan salahku" katanya menyeringai.
Pikirannya terbawa kembali saat malam dimana ia mendengar suaminya tergelak puas lewat ponselnya, sayangnya gelak tawa itu bukan untuknya yang tengah kepayahan mengadung bayi dalam rahimnya. Tawa itu untuk wanita lain yang bernama mantan.
Malam itu Ia menunduk, di depan pintu kamar Rion, tempat pria itu menyimpan bayang-bayang Adara. Mendengar dengan telinga yang tajam, rencana Rion yang akan menikahi Adara jika wanita itu kembali hingga berujung pada ancaman jika Adara menolak kembali.
Hatinya berdenyut mendengarnya, membawa langkahnya dari tempat itu menuju kamar.
"Mereka yang memaksaku melakukan itu." gumamnya lagi, ia mengelus perutnya yang membuncit penuh kasih sayang.
Ponselnya berdering, ia melirik benda itu disana tidak tertulis nama pemanggil tapi wanita itu mengenali tiga angka nomer terakhir.
Ia mendengus, lalu mengangkatnya.
"Tidak ada pelunasan, kau mengacaukan segalanya. Aku tidak membayarmu membunuhnya." sahutnya begitu panggilan itu tersambung. Ia bangun dari duduknya dan kembali duduk di tepi ranjang.
Hana melintasi dari depan kamar Calista, ia ingin menghampiri Rion ke rumah Adara. Hana berniat mengajak Calista untuk menemaninya tapi ia mendengar Calista tengah berbicara lewat ponsel dengan seseorang. Hana mengurungkan niatnya dan lagipula hubungannya dengan Calista tidak terjalin baik.
"Apa kau mencoba memerasku?" Calista menggeramkan kata-katanya saat pria itu meminta dua kali lipat untuk pekerjaannya, dan suara itu menghentikan langkah Hana yang hendak pergi. Ia penasaran dan berbalik, menajamkan telinganya pada daun pintu itu.
"Baiklah, kalau Nyonya tidak mau membayar sisanya tidak masalah bagiku, saya tinggal melaporkan kasus ini pada polisi dan Nyonya tentu ingat dengan cincin yang anda berikan? Cincin itu saya letakkan pada korban saat itu."
Calista membeliak, mengingat, bagaimana ia mengambil cincin Adara dari dalam kamar Rion saat pria itu ke kamar mandi, lalu memasukkan benda itu pada amplop bewarna coklat untuk di berikan pada pria itu.
"Aku hanya menyuruhmu menakutinya, bukan membunuhnya."
Hana melebarkan matanya, terkejut mendengar perkataan Calista. Ia menutup mulutnya dan tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Wanita itu lemah, jadi itu bukan salahku. Sekarang pilihannya ada sama Anda. Melunasi atau masuk penjara?"
Calista mendengus, "Baiklah, aku akan kirimkan sisanya tapi kalau suamiku menjadi tertuduh karena cincin itu aku akan mencarimu kembali." Ancam Calista.
Hana mendorong pintu kamar itu, membuat Calista terperanjat.
"Kau! Apa yang kau lakukan ?" tanya Hana, ponsel Calista terjatuh. Wajahnya pucat, Calista menggelengkan kepalanya kelimpungan.
"Kematian Lidia ada hubungannya denganmu? Kau dalangnya, Calista? Apa maksudmu anakku akan tertuduh? Kau menjebak putraku? Hana memberondong Calista dengan pertanyaan. Tapi wanita itu tidak ingin mendengar penjelasan Calista. Ia berbalik dan akan menghampiri Rion untuk mengadukan segalanya yang ia dengar.
"Ibu ...." Calista berteriak memanggil Hana, berjalan cepat sambari menahan perutnya agar tidak terguncang. Hana menuruni anak tangga mengabaikan panggilan wanita itu.
"Ibu mertua ...." Panggil Calista, "kira-kira apa yang akan terjadi jika aku menjatuhkan diri dari tangga ini." Calista berdiri di puncak tangga mengancam akan menjatuhkan dirinya ke bawah.
Hana menghentikan langkah dan berbalik menatap Calista." menurutmu apa yang terjadi?" Hana balik bertanya dengan nada mengejek. "lakukan sesuka hatimu, kau pikir aku peduli setelah apa yang kau lakukan pada putraku?" Hana berdecih, metanap Calista dengan tajam.
"Kau akan kehilangan cucumu dan mungkin aku juga tidak akan selamat. Putramu akan masuk penjara dan kau kemungkinan akan menjadi tertuduh untuk kejadian ini."
Hana membeliak mendengar ancaman Calista dan tiba-tiba saja wanita itu mengalami kontraksi pada kandungannya. Calista mengeluh, seraya menahan diri pada pengangan tangga.
Hana menghembuskan napas panjang, menaiki anak tangga membatu Calista.
_____________________________________________
Emre penasaran apa yang sedang di perdebatkan Adara dengan Rion. Ia hanya menatap dari jarak jauh dekat mobilnya terparkir.
Sementara di bibir pantai, Adara masih bersitegang.
"Demi Tuhan aku tidak melakukan itu, Honey." Rion masih berusaha menyakinkan Adara. Namun, hati Adara sudah dingin membeku tanpa dapat tersentuh oleh kehangatan tatapan Rion. Adara muak, bencinya tumbuh berlipat-lipat pada pria itu.
"Apa kau pikir aku sekejam itu? Aku mencintaimu, bagaimana bisa aku menyakiti orang yang telah melahirkanmu, Dara."
Adara menyeringai sinis, Rion terlalu pintar merangkai kata-katanya untuk mencairkan hati Adara yang beku.
"Lihatlah wajahmu, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Matamu tidak sedikitpun bergerak saat kau berbohong. Kau sangat lihai Rion. Sayangnya, aku tidak percaya lagi padamu." Adara melipat tangan ke dada, pria itu menjatuhkan dirinya ke pasir dan berlutut di hadapan Adara.
Adara memalingkan wajahnya, ia tidak peduli sama sekali. " Dara, apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya padaku." Rion memohon putus asa.
"Kau ingin tahu apa yang kuinginkan?"
Rion mengangguk, apapun itu ia akan terima asalkan Adara memaafkannya dan percaya padanya.
"Mati!" Rion mendelik, " aku ingin kau lenyap hanya itu caranya untuk mendapatkan maaf dariku, Rion." ucap Adara dengan aura gelap.
Rion terpejam ia tahu kesalahan yang telah ia lakukan pada Lidia tidak gampang untuk di maafkan tapi Rion tidak percaya Adara menginginkan nyawanya demi sebuah kata maaf. Itu terlalu kejam.
"Kalau aku melakukan itu, siapa lagi tempatmu bersandar Adara. Sekarang hanya aku yang kau punya. Hanya aku tempatmu berpulang."
Adara terbahak, mendengar perkataan Rion.
"Aku tidak sudi pulang padamu, Rion. Kau gila mentalmu bermasalah. Kau ingat waktu di rumah sakit? Aku kesana untuk memeriksakan jiwamu yang bermasalah itu."
"Cukup Dara! Apa tidak cukup membenciku sampai kau mengatakan aku gila? Pembunuh? Aku bilang aku tidak melakukan itu! Kau dengar!?" Adara kini ada di rengkuhan Rion. Tubuh kecil itu melekat erat pada tubuh kekar Rion. Wanita itu merasa sesak.
Adara membalas tatapan tajam Rion, bergumam di wajah Rion. " Buktikan apa yang aku katakan tadi." Rion spontan melepaskan Adara hingga terjatuh ke pasir.
"Baiklah, kau ingin aku mati?" Adara mengangguk. "Kalau begitu ayo kita mati bersama." Rion mengambil tangan Adara, menariknya paksa dan membawanya kedalam air. Adara berusaha melepas genggaman tangan Rion.
"Lepasin Rion!" teriak Adara, memukul-mukul tangan Rion yang tengah menariknya masuk ke dalam air.
"Aku rasa memang ini caranya untuk kita tetap bersama-sama Dara. Haha dipisahkan oleh maut seperti janji kita dulu. Iya kan, Dara? Ia kan Honey ...." Rion berhenti, tangganya mengerat di pergelangan Adara.
"Aku tidak membunuh siapapun untuk mendapatkanmu. Aku tidak gila, Dara. Aku mencintaimu." Rion menarik dagu runcing Adara lalu menyesap bibir Adara kuat.
"Apa yang mereka lakukan?" Emre melihat dari tempatnya berdiri, kemudian berlari menghampiri saat menyadari Adara dalam masalah. Ombak setinggi satu meter bergulung mendekat dan menyeret keduanya kedalam.
Emre berlari masuk ke dalam air untuk mencari Adara.
"Tolong ...." Teriak Emre, saat tidak menemukan kedua orang itu. Emre berlari ke tepi pantai dan kembali minta tolong. Beberapa orang menghampiri dan bertanya apa yang terjadi.
"Hubungi polisi ada dua orang terseret ombak." kata Emre pada mereka. Emre membeliak begitu melihat tubuh Adara di lempar ombak tak jauh darinya. Emre berlari mengejarnya dan membawanya menjauh ke darat.
"Dara ...," Emre menepuk-nepuk pundak Adara, pria itu panik saat melihat Adara tidak merespon. Emre menggosok pundak itu hingga terasa panas tetap saja tidak ada respon.
"Bangun Dara, aku mohon." Emre meletakkan Adara di pasir dan melakukan resusitasi jantung atau yang di kenal CPR pada dada Adara. Memompa hingga beberapa kali dan berhasil. Adara terbatuk, Emre langsung membawanya duduk dan memeluk Adara erat.
"Astaga Dara ... aku takut sekali." ujar Emre dengan napas tersengal.
"Rion ...." gumam Adara, dalam dekapan Emre, membuat pria itu memejamkan matanya. Ia cemburu.
Apa itu cinta? Derita! itulah yang aku rasakan saat ini Adara. Jika kau bertanya aku mencintaimu atau terobsesi. Aku akan menjawab. Aku mengalami keduanya. Mencintaimu dangan sangat membuatku gila dan akan melakukan apapun itu untuk mendapatkanmu. Tapi tidak untuk membunuh Ibumu. Adara andai aku tidak selamat, aku ingin kita bertemu di sisi lain dengan keadaan berdamai dan saling mencintai.
Rion tenggelam kedalam laut dan kepalanya beberapa kali terbentur batu karang.
Bersambung ...
Foto gugel. Yang jadi Calista. Aku nggak tau siapa nama aslinya yang pasti pernah di satukan dalam drama turki juga.