OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Mengirimmu Ke Neraka



Setiap orang berhak untuk menjaga kehormatan pribadi, keluarga, martabat. Itulah yang di lakukan Hana saat ini.


Kenapa wanita itu tidak melaporkan kejahatan Calista pada polisi atau Adara? Jawabannya hanya satu, 'Kehormatan keluarga'.


Dahulu Emirat hanya ekspedisi kecil, nyaris bangkut karena keserakahan keluarga pihak Hana. Tapi karena tangan dingin Rion, Emirat menjadi perusahaan elit yang sudah menjalin kerja sama dengan dua negara.


London dan Cina.


Hana tidak ingin, kehormatan keluarga yang dibesarkan Rion susah payah dihancurkan dalam hitungan detik. Disegel sebagai keluarga perenggut nyawa orang dan sialnya semua hanya karena cinta.


Menciptakan skandal, dimana menantu membunuh mantan ibu mertua putranya hanya karena cemburu. Dan sekarang hilangnya Rion sudah menjadi tanya besar bagi semua karyawan, orang dekat, dan kolega bisnisnya.


Hana tidak ingin permasalahan keluarganya di angkat ke media, menjadi komsumsi publik dan pada akhirnya akan terjadi pergunjingan yang luar biasa.


Di dunia gosip sangat laris.


"Apa yang harus aku lakukan, Rion. Putraku kau ada dimana sekarang? Ini sangat tidak adil, hanya kau yang aku miliki di dunia ini dan sekarang ..." Isakan pilu keluar dari mulut Hana. Hatinya hancur, tak teperih.


Calista melilitkan korset pada perutnya, ia ingin berjalan tegak tanpa harus memikirkan bekas sayatan yang ia dapat pasca melahirkan. Rautnya datar tanpa ekspresi berdiri di depan cermin seraya melilitkan kain pengencang perut itu.


Setelah rapi berpakaian, Calista kembali ke kamar Rion. Disana masih ada Hana duduk di lantai sambil menangis.


"Berikan padaku berkasnya!"


Suara dingin dengan raut datar Calista tunjukkan pada Hana, wanita tua itu bergidik ngeri melihat menantu sialnya itu menatapnya dengan tatapan mengerikan.


Hana menarik napas pelan, mengambil map yang tergeletak di lantai dan menyerahkan pada Calista.


Calista menyambar kasar, lalu membuka dan membaca ulang surat wasiat yang dibuatkan Hana.


Aku harus mendapatkan semua milik Emirat, sebagai imbalan sakit hatiku.


seringai licik tercetak di wajahnya. Calista berbalik meninggalkan Hana yang masih duduk di lantai.


_____________________________________________


"Apa yang terjadi, Lulu? Kenapa kau sangat ketakutan?" Adara membawa Lulu masuk kedalam rumahnya, gadis berusia dua puluh tahun itu menyeret koper miliknya masuk.


"Semenjak Nona berpisah dari Tuan, rumah itu seperti neraka, Nona." Adara menghentikan langkah kakinya. Menoleh pada Lulu yang tampak menjaga jarak, seperti tidak enak hati.


Adara tersenyum wanita muda di hadapannya itu masih mengingat dirinya.


"Baiklah, kau bisa bekerja disini. Ada empat kamar dirumah ini. Kau bisa pilih salah satu untuk kau tinggal tapi jangan yang itu. Itu kamar Mama. " Adara menunjuk kamar utama di rumah itu. Lulu tidak menduga kalau Adara sangat care padanya.


"Terima kasih, Nona. Aku berjanji akan merawat rumah ini dengan baik." Adara tersenyum melihat tingkah Lulu yang tampak kelimpungan. Lalu kemudian ia teringat akan Hana.


"Bagaimana dengan Ibu mertua?" Suara Adara terdengar kecil. Lulu menggelengkan kepalanya pelan, ada rasa bersalah di wajah Lulu karena melarikan diri dari majikannya.


"Hari ini Nona Calista menghancurkan kamar Nona Adara. Aku yakin kamar itu pasti hancur berantakan. " Adara mengerutkan kening, ia membawa Lulu duduk di sofa.


"Kamarku?" Adara bingung, kenapa dia masih punya kamar dirumah itu.


"Kamar Nona dulu sama Tuan. Semenjak berpisah dengan Tuan, tidak ada satu orang pun yang masuk ke sana tanpa seizin Tuan." kata Lulu mengadu.


"Maksudmu ..., kamar itu tidak di gunakan? Lalu Rion sama Calista?"


"Pisah ranjang." Lulu terkikik, lalu spontan menutup mulutnya merasa tidak sopan menertawakan Calista.


"Eih ...kau ini." Adara menahan senyum, "sungguh?" Akhirnya rasa penasaran itu muncul lebih besar.


Lulu mengangguk.


Kenapa denganku? Hatiku merasa senang mendengarnya. Tapi Rion sudah menyakitiku jadi percuma saja. Rion ....


Bel rumah terdengar, menarik pikiran Adara yang sedang memikirkan Rion.


"Pilihkan kamarmu, dan istirahatlah! Aku akan membuka pintu. " Kata Adara, bangun dari duduknya begitu juga dengan Lulu.


"Baik Nona." Lulu menarik kopernya dan memilih kamar yang ada di ruangan itu.


Adara berjalan ke arah pintu, melihat kamera pintu yang telah dipasang belum lama ini supaya ia bisa melihat siapa yang datang sebelum membukakan pintu untuk tamunya.


Adara mengerutkan keningnya, begitu melihat Calista berdiri di luar pintu rumahnya.


Apa yang kau inginkan Calista?


"Apa yang membawamu datang kesini?" Tanya Adara, ia melipat kedua tangan di dada memperhatikan Calista yang tampak pucat.


"Masa depan putriku, itulah alasannya aku kemari." Calista menunjukkan map tepat di hadapan Adara.


"Sudah kuduga," Adara menebak maksud kedatangan Calista tidak lain adalah pundi-pundi Emirat.


Rion belum dinyatakan meninggal tapi memang sudah menjadi sifat manusia serakah.


"Yah, tentu. Aku tidak munafik sepertimu." Adara terkekeh mendengarnya.


"Andai Rion kembali aku akan melompat kepadanya dan meminta untuk di nikahi kembali. Aku tidak menyanggka kalau dia sangat mencintaiku hingga memberikan hartanya padaku."


"Sayangnya dia sudah lenyap, dia tenggelam dan menjadi santapan ikan di lautan. Jadi kembalikan semua milik Emirat padaku. Kau harus tahu diri, itu bukan hak mu. Itu hak putriku dan hak aku sebagai istri sah Rion Emirat."


Calista menyenggol bahu Adara, masuk ke dalam rumah seenaknya.


"Dasar tidak punya sopan santun. Kau bahkan tidak tahu menyambut tamumu." Sungut Calista.


Adara berdecih, menatap Calista berjalan masuk ke ruang tengah. Calista melempar map ke atas meja, lalu mengedarkan tatapannya ke semua ruangan.


Mengangumi, dan menempatkan bokongnya di sofa. Di meja itu ada keranjang buah berikut pisaunya. Adara sengaja meletakkan di sana karena sebelum Lulu datang ia sedang menikmati buah itu.


"Aku rasa kau sudah tahu isi surat itu, Adara. Ibu mertua yang membuatkannya. Ia bilang kau keras kepala dan memintaku untuk mengambil darimu."


Adara memutar bola matanya jengah, lalu memperhatikan map yang dibawakan Hana sebelumnya.


"Aku sudah mengatakan pada mantan mertuaku itu, kalau aku bersedia memberikan hak ahli waris itu pada putri Rion."


Calista terkekeh suaranya terdengar sesumbang.


"Kalau begitu berikan hak Wali." Tentu Calista tidak ingin kembali dengan tangan kosong, harga dirinya mau diletakkan di mana jika Adara menjadi wali putrinya sementara dia sendiri masih hidup dan sehat.


"Maafkan aku Calista, sepertinya kau akan kecewa." Adara tersenyum sedikit.


"Selain munafik kau tamak juga," Kilatan kebencian terlihat jelas di mata Calista. Ia meletakkan kembali buah apel yang ia kupas pada tempatnya.


Adara mengangkat kedua bahunya, "Yah, kau benar. Aku memang tamak tapi aku rasa tidak masalah kan? Aku tidak meminta itu dari Rion, dia sendiri yang memberikannya dan garis bawahi, 'Diberikan'." ujar Adara penuh penekanan di kata terakhir.


Calista menunduk sembari ketawa. Terdengar menakutkan dan mencekam seolah hawa dingin menyeruak masuk dan menerpa kulit Adara hingga membuatnya merinding.


"Kau memang berjodoh dengan Rion. Kalian tampak serasi dan sangat pintar menyakiti hati seseorang."


"Aku tidak pernah menyakitimu, Calista? Bukankah itu terbalik? Kau datang dalam hubunganku dengan Rion, aku melepas pria itu karena aku tahu kau hamil. Apa menurutmu akulah yang menyakitimu?" Sanggah Adara dengan tatapan jengkel.


"Lalu kau berniat kembali padanya?"


"Aku?" Adara terkekeh kenapa wanita dihadapannya ini berpikir demikia. "Sama sekali tidak, itulah kenapa aku pergi ke London."


"Dusta!" Calista spontan mengambil pisau dan menusukkanya pada lengan Adara. Tertancap.


"Auh, aa ... kau gila Calista?!" Adara kesakitan, kelimpungan antara mencabut benda itu dari lengannya atau tidak. Matanya membeliak merasakan sakit luar biasa menjalar keseluruh tubuhnya.


"Oh maafkan aku, Adara. Aku tidak sengaja melakukannya." Calista mengeluh lalu terbahak. " kau pasti ingin aku mengatakan itu bukan?" Calista tergelak, lalu meringis mengejek melihat darah mengucur di lengan Adara. Ia tampak senang melihat darah mengalir dari lengan Adara hingga pergelangan tangan


"Kau ingin melompat pada pria itu, bukan? Maka dengan senang hati aku akan mengirimmu ke neraka. Kalian bertiga akan berkumpul disana. Kau, Rion dan Ibumu." Calista mendesiskan kata -katanya layaknya seekor ular berbisa.


Bersambung ...



Foto gugel


Terima kasih sudah sabar menunggu Adara dan Rion ya teman-teman.


Kita lanjutin disini aja, dan semoga peminatnya makin bertambah dan kontraknya di lolosin.


Kasih poin, like dan ulasan terbaik kalian...


Terima kasih.


Regards


Kirei