
Rion mengetik pesan di ponselnya dan mengirimnya pada Adara.
📩 Kesayangan : Honey, sudah makan?
Ceklis dua tanpa di baca, Rion mengetik kembali.
📩Kesayangan : Aku rindu, kita makan siang bersama. Kau di mana Hun. Di kafe, kan?
Pesan kedua juga masuk tanpa di baca. Rion terlihat cemas. Ia mengusap kepalanya kebelakang.
📩 Kesayangan : Dimana honey? Kenapa tidak di baca?
Lima menit setelah terkirim tidak ada balasan, Rion gusar. "Bisa lebih cepat tidak?" Geram Rion dari belakang pada Ahmed.
"Maaf tuan," apa dia tidak melihat kalau jalanan macet?
Ahmed memutar bola matanya jengah, melihat majikannya itu berubah menjengkelkan semenjak perceraiannya dengan Adara.
Rion bolak balik mengintip ponselnya, menunggu jawaban dari Adara.
Apa? Kemana dia sampai mengabaikan pesanku?
Rion mendengus, lalu menghubungi Mete.
"Apa saja yang kau kerjakan? Kenapa belum ada kabar mengenai Adara? Apa kau tidur?"
Suara Rion memenuhi ruang mobil hingga membuat Ahmed bergidik ngeri melirik majikannya itu lewat kaca spion.
"Maaf Tuan, Nona Adara sedang di rumah sakit."
"Apa!?" Rion mematikan ponselnya, "Ambil jalan ke rumah sakit MF!"
"Baik Tuan." Ahmed menyalip beberapa kendaraan untuk mendapatkan jalan memutar ke tujuan mereka.
Rion mengetatkan rahangnya. Tatapan Rion tajam seperti elang yang siapa menerkam mangsa.
Dia mengabaikan pesanku! Apa yang kau lakukan di rumah sakit itu? Menemui dokter itu?
Rion mengusap wajahnya gelisah, rasa cemburu yang kelewat batas terlihat jelas pada dirinya. Bukan hanya cemburu tapi rasa khawatir kalau Adara sudah menjatuhkan hatinya pada Emre. Ia merasa takut dan sekaligus menganggap kalau Emre sebuah ancamam untuk mendapatkan Adara kembali.
Rion menggeram, menatap keluar jendela. Ia ingin teriak pada pengemudi yang menjadi penghalang mobilnya sampai pada tujuan.
Sementara di tempat lain, Di rumah sakit MF, Adara keluar dari ruangan dokter. Ia menutup pintu dan membawa langkahnya meninggalkan tempat itu.
Ia mengingat kembali penjelasan dokter Psikiater dalam langkahnya.
"Dari cerita Anda, kita bisa kategorikan kalau mantan suami anda terkena gangguan Obsessive Love Disorder atau dikenal dengan gangguan mental yang membuat pengidapnya terobsesi pada seseorang. Dia akan memperlakukan anda seperti porselin mahal yang langka atau mungkin seperti yang ada bilang tadi. Dia menganggap anda bayinya. Rasa cintanya terkesan berlebihan."
"Apa gangguan semacam itu bisa di sembuhkan, dokter?"
"Tentu bisa, untuk lebih jelasnya anda bisa membawanya untuk tes kepribadian. Nanti disana bisa di ketahui suami anda mengalami gangguan apa saja."
"Nona Adara, jangan biarkan berlarut-larut karena penyakit mental yang seperti itu tidak baik dalam hubungan. Jika sampai pasien akut, akibatnya bisa jadi fatal."
Sekarang Adara sudah berada di depan lift, menunggu pintu itu terbuka dengan pikirannya yang masih berkecamuk mengenai Rion.
"Adara," suara pria memanggilnya dari belakang, tapi karena sibuk dengan pikirannya Adara tidak mendengarnya.
"Dara ...." Emre pemilik suara itu menyentuh bahu Adara, membuat Adara terkesiap.
"Astaga!" gumam Adara menepuk dadanya saking terkejutnya.
"Hei, maaf kau kaget?" Adara melihat Emre, yang memasang raut rasa bersalah. Adara menggeleng.
"Emre," gumam Adara, membiarkan pintu lift itu tertutup kembali.
"Ada apa kau kesini? Kau sakit?" Adara kembali menggeleng, sorot matanya seperti orang kebingungan.
"A-aaku lagi ketemu dokter mama." ujar Adara berbohong.
"Kau sudah makan?" tanya Emre, Adara terdiam sejenak lalu menggelengkan kepala.
"Ayo kita makan, Emre." ajak Adara, Emre terkekeh sekaligus bingung melihat wajah pucat Adara.
"Baiklah, kau bisa tunggu sebentar? Aku mau menutup ruanganku." Adara mengangguk sambil tersenyum. Emre langsung berlari kecil menuju ruanganya. Adara melihat punggung pria itu menghilang pada belokan koridor.
Bagaimana kalau aku menghilang saja?
Adara menarik napas panjang, memutar tubuhnya saat mendengar dentingan tanda lift terbuka.
"Masuklah!" Suara dingin pria itu terdengar memerintah.
Adara tersenyum sinis masih menatap ke arah lain. Kenapa dia harus bertemu dengan pria ini. Ia mengabaikan perintah Rion sekaligus bingung kenapa pria itu menyuruhnya masuk, juga tatapan Rion membuatnya tak nyaman.
Dia selalu muncul seperti Iblis. Kenapa dia ke rumah sakit ini? Apa dia sakit?
Rion menautkan kedua alis tebalnya, melihat Adara mengabaikannya. Rion bergerak, melangkah. Menggenggam tangan Adara erat lalu menariknya masuk ke dalam lift.
"Rion!" Adara menggeram, tubuh kecilnya terseok paksa masuk ke dalam lift disaat bersamaan Emre dari jarak jauh melihat kejadian itu. Emre berlari menghampiri, menekan tombol lift tapi sayangnya kotak berjalan itu sudah beroperasi.
"Rion! Lepaskan! Kau menyakiti tanganku!" Teriak Adara, berusaha melepas dari cengkraman Rion. "Rion ini sakit!" Adara merintih kesakitan, spontan Rion melepasnya.
"Dimana ponselmu, Honey?" Rion menarik Adara, menekan wanita itu ke dinding Lift. Rion menangkup kedua sisi wajah Adara memaksa Adara menatap matanya yang tajam.
"Kau mengabaikan pesanku, dan bersenang-senang disini, mmm?" Adara terpejam.
"Rion lepasin." Suara Adara tercegat di tenggorokannya.
"Kenapa sekarang kau suka membuatku marah, Honey? Dulu kau tidak seperti ini. Dimana wanitaku yang penurut? Mencintaiku dengan sangat? Mengatakan kalau aku napas dalam hidupnya? Aku tidak lagi menemukannya padamu. Kau membangkang sekarang Honey." Suara Rion penuh penekanan pada setiap kata-katanya.
"Kau menemuinya? Sedekat apa hubunganmu dengannya?" Rion menarik tengkuk Adara, membuat Adara menegadah ke atas.
"Rion hentikan! Disini ada kamera." Adara memberi peringatan pada pria itu.
Rion menyeringai, melirik kamare kecil yang menempel di sudut ruang lift. Pria itu melepas tangannya dari tengkuk Adara lalu beralih pada dagunya sementara tangan satunya menempel pada dinding lift.
"Aku tidak peduli," desis Rion di wajah Adara, menghembuskan napasnya yang hangat lalu merenggut bibir Adara dengan paksa.
Adara mengerjap, Rion merangkul Adara dengan satu tangannya yang kokoh dan sedikit mengangkatnya tubuh mugil itu. Meyesap bibir itu kuat dan dalam kemudian mendorong indra pengecapnya masuk meyusuri sudut mulut Adara.
Adara yang sadar sepenuhnya, berusaha meletakkan tangannya di dada Rion dan mendorong pria itu sekuat tenaga yang ia punya. Rengkuhan pria itu sangat kuat hingga dorongan Adara tidak dapat menggerakkannya.
Ding !
Lift yang mengantar mereka ke basement terbuka. Rion melepaskan bibirnya, begitu pintu terbuka. Napasnya terengah, dan langsung menarik Adara keluar. Mengabaikan pandangan orang yang sedang menunggu lift itu.
Ditariknya Adara menuju mobilnya terparkir. Disana Ahmed sudah menunggu di samping mobilnya, begitu melihat tuannya datang menarik paksa mantan istrinya ia segera bersiap membukakan pintu.
"Hentikan Rion!" Adara merasa Rion melewati batasannya. Wanita itu menggigit tangan Rion yang menyeretnya paksa.
"Aoh, Hun!" Spontan Rion melepaskan tangannya yang di gigit Adara. Adara berdiri, menghembuskan napas kasar yang menyesakkan dadanya. Menatap pria kurang ajar di hadapannya itu dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan ini?" wajah Adara berubah gelap menatap pria yang berjarak satu meter darinya. "Kau sudah tidak waras Rion, kau sakit. Mentalmu bermasalah!"
"Honey ...."
"Berhenti memanggilku begitu! Aku muak mendengarnya dari mulutmu itu." Rion membeliak mendengar teriakan Adara. Pria itu melangkah selangkah, "Berhenti! Jangan mendekat!" Adara mundur, terlihat Rion menarik napas panjang.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa Rion? Kau bertingkah seolah-olah aku istrimu. Kita bukan pasangan itu lagi! Kita sudah bercerai dan seharusnya kau! Menjadi orang asing. Kau tidak tahu itu?" Adara mengertak dengan sinis. Lalu ia meludah ke arah samping, sebagai sikap jijiknya melihat Rion.
Rion tidak menerima sikap merendahkan yang ditunjukkan Adara padanya. Tubuhnya menengang lalu melangkah lebar, menarik paksa tangan Adara hendak memasukkan tubuh kecil itu kedalam mobil yang sudah bersiap-siap.
"Hentikan Rion!" Suara dingin terdengar menggema di area parkir itu. Rion menolehkan kepala ke sumber suara.
Emre hadir di sana setelah berlari mengejar lift yang lain untuk membawanya ke lantai bawah tanah itu. Rion menyeringai, lalu mengembalikan tatapannya pada Adara.
"Masuklah, Honey." perintah Rion dengan datar.
Adara menggelengkan kepala ke arah Emre, seolah mengingatkan agar pria itu tidak berurusan dengan Rion lewat tatapannya. Sayangnya Emre tidak mengerti hal itu, Emre malah mendunga kalau Adara meminta tolong agar terlepas dari pria yang mengasarinya.
Adara berdiam di tempatnya, tapi sebelum itu Rion mengambil tas kecil milik Adara yang menyampir di bahunya. Adara mengerutkan dahi ketika tas itu terlempar ke arah Ahmed.
"Cari kunci mobil Nonamu dan bawah pulang ke apartemen." Perintah Rion, pria paruh baya itu mengangguk dan melakukan tugasnya.
Rion menyeringai dengan tatapan suram pada Emre yang menatapnya dengan sikap menantang.
"Enyahlah! " suara dingin dan datar terdengar memerintah seperti seorang Tirani yang menghukum penghianat negara. Emre menunduk kecil mengambil sikap tenang, bibirnya menyungingkan senyum acuh.
"Kenapa kau menganggunya? Bukankah hubungan kalian sudah berakhir?" tanya Emre, pria itu menggulung tangan kemejanya.
"Itu bukan urusanmu!" Rion memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Emre terkekeh, berhasil menggulung tangan kemejanya.
"Adara calon istriku, kami sudah sepakat dengan itu." Mendengar itu Rion membeliak, bukan hanya dia tapi Adara yang masih berdiam diri samping pintu mobil Rion ikut tercengang.
Bersambung ...