OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Bermalam dengan mantan



Adara terkekeh mendengar ucapan Rion, tubuhnya bergetar dipelukan pria itu. Demi apapun yang ada di semesta ini, Adara memastikan Rion sudah hilang akal sehatnya.


Bagaimana tidak? Seorang mantan suami meminta tidur dengan mantan istri.


"Hun!" Rion mengeratkan tangan pada pinggang Adara hingga Adara merasa seperti dililit tali tambang. Rion tampak suram bercampur hasrat. Akan sangat susah menjinakkan pria emosi dan di lumuri gairah.


Adara menyesal kenapa ia harus terkekeh.


"Ion ...," Tujuh tahun lebih Adara bersama Rion, ia tahu cara melunakkan pria yang menatapnya berapi-api itu.


Hanya dengan memeluknya, pria itu akan luluh. Sebenarnya sangat simpel tapi entah cara itu masih ampuh atau tidak? Adara ingin mencoba. Ia harus mengambil resiko atas apa yang akan Adara lakukan, mungkin Rion akan menganggap kalau tindakan itu sebagai rasa Wellcome padanya.


Sebelumnya tatapan seperti itu belum pernah Adara lihat pada pria itu. Adara hanya melihat tatapan hangat dan penuh perhatian. Yah, setidaknya Rion selalu berhasil membuat hati Adara luluh saat keduanya bersitegang hanya karena masalah kecil. Seperti meletakkan handuk basah di tempat tidur. Mengeluarkan isi pasta gigi hingga mengotori lantai dan tidak pernah mengembalikan barang yang ia ambil ke tempat semula.


Adara memeluk Rion, melingkarkan tangannya di leher. Menenggelamkan wajah Rion di dadanya.


Apa kau pikir hanya kau yang terluka pada perpisahan ini, Rion. Ini lebih sakit untukku karena akulah yang terhianati. Tapi kenapa kau berubah menjadi menyedihkan seperti ini?


Rion merasakan detak jantung Adara yang berpacu. Irama jantung itu membuatnya tersenyum.


"Honey, aku suka ...," desis Rion, "Irama jantungmu, detakannya sama seperti saat kita melakukan malam pertama,"


Dasar tidak waras. jantungku meledak didalam karena takut, bodoh!


Adara tersenyum kecut, "Sungguh? Aku bahkan tidak ingat akan itu."


"Kau sangat gampang lupa, sama halnya seperti sekarang. Kau lupa samaku dan menikmati waktu dengan dokter itu." Rion mendongak menatap Adara. Penasaran dengan raut mantan istrinya itu. Adara berusaha menampilkan senyum manisnya.


"Apa kau masih mencintaiku, Rion?" Adara melepas jalinan jemari Rion pada pinggannya, lalu duduk di tepi kasur.


"Kau pikir aku disini karena apa?" Entahlah, memangnya saya cenayang.


"Kalau begitu, tolong jaga harga diri aku. Bagaimana orang bicara nanti jika mengetahui kau bermalam di rumah mantan istrimu, Mmm ...?"


"Kenapa memikirkan kata orang? Biarkan mereka berkomentar kita menjalani hidup."


"Oih! Kau benar-benar tidak waras. Aku sudah cukup kenyang di gosipin bercerai darimu karena mandul, Brengsek! Kau mau menambah bebanku?" Adara terkesiap, spontan menutup mulutnya dengan tangannya. Tidak menyangka akan mengatakan hal semacam itu pada Rion. Adara langsung memeluk kembali Rion. Takut pria itu marah.


Hati Rion perih mendengarnya. Semua salahnya hingga Adara mengalami gosip murahan itu. Tapi sedetik kemudian ia tersimpul, mengelus pundak Adara lembut.


"Aku kesepian dirumah itu, Dara. Hanya ada photomu yang bisa aku pandangi sebelum tidur. Aku janji akan pulang di pagi-pagi buta sebelum orang melihatku." Adara menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Rion.


"Tidak dengan tidur bersama," Adara mendorong dada Rion pelan.


"Aku mau kita tidur bersama,"


"Rion...." Memohon lewat tatapannya.


"Aku janji hanya memeluk," Tanpa rasa malu, Rion langsung mengambil posisi dan menepuk ruang kosong pada kasur itu. Adara menggelengkan kepala tidak percaya pada sikap Rion.


Andai membunuh bukan dosa, astaga pria ini.


Adara geram, sembari berjalan ke meja rias. Menatap dirinya dalam cermin itu, dan sesekali melirik Rion yang tengah senyum -senyum manis ke arahnya.


"Aku mau mandi, tidurlah duluan." ujar Adara, Rion langsung bangun dan menarik tangan Adara.


"Jangan mandi, kau akan semakin seksi nanti. Dan aku bisa ingkar janji." kata Rion menghentikan Adara yang berniat mandi.


Adara mengerjap, lalu mengangguk dan memilih tidur di samping Rion. Adara membelakanginya memberi jarak.


"Hun ...," Rion langsung menariknya dalam dekapanya membuat Adara menggigit giginya sendiri.


Malam semakin larut, dalam heningnya kamar itu tidak satu diantara mereka yang tidur. Rion membelai rambut Adara seperti saat mereka suami istri. Adara berpura-pura tidur hingga pagi menyapa dunia. Rion melepaskan pelukannya dari Adara. Mencium lembut kening Adara dan berbisik.


"Tinggal tiga bulan lagi, aku akan membawamu kembali ke rumah kita." Lalu perlahan turun dari tempat tidur dan keluar kamar.


Adara membuka matanya, setelah mendengar pintu tertutup pelan. Napasnya terasa lega setelah berjam-jam menahan diri agar tetap terjaga.


Apa yang harus aku lakukan? Baiklah aku akan mencoba bicara pada Mama Hana.


Adara menarik selimut dan menutup dirinya. Ingin tenggelam ke alam mimpi walau hanya sebentar.


______________________________________________


Adara menarik napas panjang, setelah berdiri di pintu kafe tempat ia bertemu janji dengan Hana. Jantungnya berdetak seolah ini pertemuan pertama mereka.


Adara menyeret langkahnya masuk, saat melihat Hana sudah duduk menunggunya di sebuah meja kafe itu.


Tak banyak orang dalam kafe itu mengingat meski siang hari.


"Kau sudah datang? Duduklah." Seperti biasa Hana menatap Adara dengan tatapan lembut dan wajah ramah. Meski mereka bukan lagi siapa-siapa. Adara menganggukkan kepalanya memberi salam buat mantan mertuanya itu, lalu menarik kursi untuknya.


"Aku tahu kau penyuka kopi. Cicipilah, kopi disini sangatlah enak. Aromanya menenagkan hingga membuat suasana hati tenang. Barista di kafe ini yang terbaik, dan Rion yang merekomondasikan tempat ini." ujar Hana, mendorong gelas berisi kopi ke hadapan Adara.


Adara tersenyum, lalu menikmati kopi itu dan membuktikan apa yang di katakan Hana.


"Apa Rion tahu kita bertemu?" Adara meletakkan gelasnya pada tatakannya tanpa suara.


"Bagaimana kabarmu?" Hana mengabaikan pertanyaan Adara, lalu ia berpikir kalau Rion memang tahu pertemuan itu.


"Aku tidak yakin, kalau aku baik-baik saja."


"Dia menganggumu?" Adara menatap Hana, sejenak ia ragu-ragu mengatakannya. Tapi mengingat apa yang dilakukan Rion padanya mendorongnya untuk mengadu.


"Yah, itulah kenapa aku meminta Ibu bertemu."


Hana berdecak, memalingkan wajah sembari menyesap kopinya. "sudah kuduga." gumamnya.


Adara menghela napas panjang, ia merasa bersalah ketika melihat tatapan redup Hana. Tak seharusnya ia menambah beban pikiran wanita itu.


"Maaf, aku sudah berusaha menahan diri dari gangguan Rion." Adara mengambil nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Semalam Rion diam-diam masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarku." Hana terkejut mendengarnya. Hana mengetahui kalau Rion pulang subuh-subuh dan wanita itu menganggap kalau Rion menghabiskan malam di Bar.


Adara terdiam sesaat, lalu berujar. "tidak terjadi apa-apa, tapi aku tidak yakin untuk lain waktu. Rion bahkan mengatakan kalau dia akan menceraikan Calista."


Hana tertegun mendengarnya, lalu mengambil tangan Adara yang ada di atas meja. "Maafkan sikap Rion, Dara. Aku akan mencoba mengingatkannya."


"Tolong bantuanya, Ibu." ujar Adara, penuh harap. Hana mengangguk setuju.


______________________________________________


Di gedung Emirat Company.


Rion terkejut melihat pesan yang masuk kedalam ponselnya. Pertemuaan Adara dengan Hana yang di ambil oleh Mete.


Apa yang coba kau lakukan Adara? Tidak ada yang bisa mencegahku mendapatkanmu termasuk Mama. Aku akan menganggap pertemuan ini sebagai pengakrapan kalian.


"Astaga aku sangat merindukannya." Rion tersenyum simpul dengan binar mata yang indah. Menekan intercom dan, "siapkan mobil saya mau keluar!" perintahnya pada Ahmed.


Bersambung ...