OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Jangan pergi



Adara menaiki anak tangga dan melihat pintu kamar Hana, ibunya Rion terbuka. Ia berdecak lalu terkekeh garing, Adara melangkah mendekat dan membuka lebar pintu itu. Hana terlonjak kaget begitu melihat kehadiran Adara di ambang pintu.


Hana pucat pasi, di tangan wanita tua itu terdapat tas mahal keluaran terbaru dari brand ternama yang sengaja Adara beli dan letakkan di lemari pajangan Hana.


"A-aku hanya mencobanya saja." ujar Hana, ia tertangkap basa berdiri dengan kedua kaki sehat sementara kursi rodanya ada di lantai bawah. Semenjak Hana duduk di kursi roda ia menempati kamar di lantai bawah dan mengosongkan kamarnya di atas.


Adara menghela napas panjang, menatap Hana dengan tatapan menyedihkan. Sebenarnya ia sudah lama tahu hal itu tapi, Adara lebih memilih diam itulah kenapa Adara tidak terkejut saat melihat Hana berdiri dengan baik.


"Berhentilah berpura-pura Ibu, kau bisa lumpuh sungguhan." ucap Adara, memperhatikan Hana dari atas hingga bawah kaki.


Hana berdecih seraya melipat kedua tangan di dada. Membalas tatapan Adara yang tampak meledek.


"Kau pikir aku membeli semua barang-barang mahal itu untukku? Aku tahu Ibu berpura-pura lumpuh itu sebabnya aku membeli barang-barang itu dan meletakkan di lemari Ibu. Adara tahu Ibu akan penasaran dan naik ke atas untuk menyentuh mereka."


"Kau! Dasar wanita licik." Hana menggigit giginya sendiri saat berujar. Tabiat Hana yang suka pamer sudah lama Adara kantongin.


"Berhentilah! Kau bisa memamerkan semua benda itu pada teman-teman ibu dengan kepala terangkah keatas seperti dulu dan jangan menyiksa diri duduk di kursi roda." ucap Adara, melangkah berbalik meninggalkan Hana.


"Adara ... aku membencimu! Bagaimana bisa aku mengangkat kepalaku dan pamer pada mereka yang menertawakan kesengsaraanku? Hah! Mereka berteman karena aku memiliki Rion yang bisa aku andalkan dan banggakan pada mereka. Semua hancur karena ulahmu, kau yang membuatku begini ... kau Adara. Kau ...."


Adara memejamkan mata, mendengar semua teriakan kekesalan Hana padanya. Hana terduduk di samping ranjang sembari terisak pilu, mencengkram sprei sebagai pelampiasannya.


Adara menitikkan air mata, saat ia melangkah Lulu tengah berdiri di depan pintu kamar Illy, mendengar semua pembicaraan itu.


"Apa harinya baik?" Adara bertanya mengenai Illy.


"Baik Nona."


"Tidurlah disisinya," kata Adara, lalu melangkah ke ruang kerja Rion.


Adara menghubungi Emre, ia ingin tahu kabar mengenai Mert.


"Emre ...," sahutnya begitu tersambung. Adara berdiri seraya menggigit jemarinya.


"Dia ... mencarimu." Emre yang masih berdiri di depan pintu rawat Mert memperhatikan pria dalam ruangan itu sedang di tangani dokter dan sesekali meracau mengucapkan kata Honey. " Honey," gumam Emre setelah menjeda ucapannya. " Sangat manis panggilan untukmu." Emre menggigit bibir bawahnya. Ia menarik napas pelan agar Adara tidak mendengar rasa kecewa Emre lalu memutus sambungan telpon sepihak.


Mendengar itu, wajah Adarah berubah. Hatinya di penuhi beberapa rasa yang sulit ia tunjukkan. Bahagia, sedih, terharu dan marah.


Adara akhirnya melepaskan dadanya yang terasa sesak. Ia menangis meraung diruangan itu.


"Kau hidup, kau selamat, aku membencimu. Kenapa begitu lama menghilang. Kau menghukumku. Aku akan membalasmu nanti! "


Kening Hana berkerut mendengar tangisan Adara. "Apa itu? Apa dia menangis karena makianku. Tidak biasanya, dia selalu angkuh dan acuh saat aku menghinanya." Hana keluar dari kamar itu, mendekati ruang kerja Adara.


"A-aku akan memukulmu, a-aku akan menggigitmu sampai, sampai berdarah." gumam-gumam Adara, kini ia duduk di lantai.


"Sinting." Hana berdecih.


"Kau, kau sinting." Hana terlonjak, membeliak seraya mengelus dadanya.


"Beraninya dia mengataiku sinting!" ucapnya dan mendorong pintu ruangan itu keras.


"Rion sinting." Adara menoleh saat mendengar pintu terbuka. "Dia ... dia masih hidup." kata Adara menyeka air matanya.


"Putramu masih hidup, ayah Illy masih hidup." ucap Adara dengan isakan-isakan.


"Apa maksudmu?"


"Jangan khawatir mulai, besok ibu sudah bisa berkumpul dan menyombongkan putramu itu pada teman-teman sosialitamu."


"Apa maksudmu, Dara! Sikurang ajar ini." Bentak Hana, ia sangat jengkel melihat Adara mengadu tak jelas.


"Rion ada di rumaj sakit saat ini, bersiaplah aku akan membawamu kesana."


Adara memeluk Hana, "Aku menemukan Rion. Dia pasti mencarimu. Bersiaplah aku akan mengantarmu." ucap Adara, menghentikan Hana memukulinya.


"Kau, kau, apa itu sungguhan?" tanya Hana masih tidak percaya.


"Ibu tidak percaya, kan? Aku juga haha." Adara tergelak, keluar dari kamar itu.


"Menantu sialan!" umpat Hana, mengikuti langkah Adara.


"Aku akan menciumnya, sampai dia tidak bernapas. Lihat saja nanti." gumam-gumam Adara, "tapi apa aku bisa melakukan itu? aku bukan siapa -siapanya." katanya lagi, sembari menangis. "Dia bahkan bertunangan. Rion sialan!" Adara berteriak memenuhi rumah itu.


"Beraninya kau mengumpat pada putraku! Katakan dimana dia?" Hana sudah tidak sabar, ingin sekali rasanya menendang Adara yang terlihat seperti orang mabuk.


______________________________________________


Malam itu Adara kembali ke rumah sakit, kali ini ia membawa Hana. Di dalam mobil mereka diam tanpa sepatah kata, Adara membuka jendela mobilnya dan membiarkan angin malam masuk kedalam mobil. Hana ingin protes, tapi melihat Adara masih menitikkan air mata ia mengurungkan aksi protes.


Hana memeluk tubuhnya agar terasa hangat sementara Adara fokus menyetir.


Setibanya di rumah sakit, Adara memimpin jalan. Ia membawa masuk Hana ke dalam ruang rawat Rion.


Rion kembali ditidurkan oleh dokter. Hana menjatuhkan tas tangannya ke lantai, ia mendekati bangsal Rion dengan raut tak percaya.


"Rion ... putraku." Bisik Hana, menggenggam tangan Rion dan membawanya ke wajahnya. "Ini mama sayang. Bangun Rion, kau dari mana saja? Kenapa kau terbaring disini? Apa yang terjadi, Rion." Tubuh Hana berguncang, menangis seraya menciumi tangan Rion.


"Dara ..." gumam Rion, membuka matanya perlahan.


"Rion, ini mama sayang."


"Di mana Adara."


"Berhenti menanyakannya! Kau mengabaikan aku bodoh." teriak Hana kesal. Orang pertama yang di cari Rion hanya Adara.


Adara mendekati tempat tidur Rion. "Aku disini, Rion." Adara menyusuri wajah Rion dengan tatapan tidak percaya. Lalu terdengar pintu terbuka, dokter mendatangi Adara.


"Ini hasil tes darahnya, Ibu Adara." Adara menerimanya dan membaca hasilnya. Ia bernapas lega setelah mengetahui kalau Mert adalah Rion.


"Honey jangan pergi." guman Rion lalu memejamkan matanya. Rasa kantuk efek obat sangat mempengaruhinya. Rion menggenggam tangan Adara erat, seolah tidak ingin terpisah.


"Terimakasih." kata Adara, dokter itu mengangguk dan melangkah keluar.


"Apa itu?" tanya Hana bingung.


"Hasil lab darah Rion."


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Rion lupa ingatan, dia hidup sebagai Mert selama dua tahun ini. Jadi untuk memastikan aku melakukan tes DNA."


Hana ingat sikat giginya hilang tiba-tiba.


"Jadi itu sebabnya sikat gigiku hilang?"


"Maafkan aku."


"Kau ini!" Hana menggeram, lalu menatap Adara cemburu, putranya itu sangat mencintai Adara. "Aku membencinya, dia bahkan tidak melihatku." guman Hana, tetapi jelas di wajah Hana tercetak rasa gembira. Putranya masih hidup. Mulai sekarang ia akan kembali ke teman-teman sosialitanya dan membanggakan Rion putranya berikut barang -barang mahal yang di belikan Adara padanya.


Bersambung ....