OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Tidak ada masa lalu ...



Mert menutup kamar dan mengamati kartu nama Adara, dari bentuk kartu nama itu saja Mert pastikan kalau Adara bukan wanita biasa. Terlebih disana ditulis Jabatan Adara sebagai Owner sebuah perusahaan ternama di negara itu.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama ini, tapi di mana?" Mert mencoba mengingat.


"Emirat?" gumamnya lagi. Ia beranjak dari tempat tidur ke meja kecil yang biasa ia gunakan kerja. Mert menyalakan Laptop dan menghubungkan ke internet. Mencari tahu profile Company Emirat.


Ada juga beberapa situs yang memberitakan mengenai wanita itu. Mengenai kesuksesan yang ia raih hingga pemberitaan miring mengenai dirinya.


Dahi Mert berkerut, sepertinya pria ini lebih tertarik dengan pemberitaan miring wanita itu.


Adara dituding menjadi dalang hilangnya Rion Emirat dengan motif untuk menguasai Harta Emirat terutama Company Emirat yang lagi naik daun di negeri ini.


Mert tersenyum membacanya. Rupanya dia wanita berbahaya. Batin Mert. Sebenarnya untuk memblokir berita itu bukan hal yang sulit untuk Adara namun, ia sengaja tidak perduli dan membuktikan kalau Adara bukan seperti yang dituduhkan dengan membawa tetap nama Emirat dibelakang namanya.


Mert mengklik untuk mendapatkan berita lengkapnya, ia membaca dan kemudian membeliak. Photo Adara dengan pria yang serupa dengannya terpajang di sana. Photo itu diambil di berbeda tempat dan disatukan.


Mert mengerjap, kemudian memperhatikan dengan fokus, ia mengambil ponselnya dan mencari fotonya lalu membandingkan. Rion berkulit bersih tanpa rambut tipis di rahang seperti dirinya.


Mert tersenyum, meraba wajahnya sendiri,


"Sangat mirip," lalu detik kemudian ia menyadari kemiripan Adara pada perempuan dalam bayangannya.


"Menghilang? Suaminya menghilang? Lalu mimpi itu? Aku ingin kau lenyap?" Mert berbicara pada diri sendiri, memikirkan itu kepalanya berdenyut seolah terpukul dengan kayu besar.


Suatu hari ia pernah bertanya pada Kenan, kenapa kehidupannya seolah terpotong. Tidak ada kisah masa kecil yang bisa ia kenang. Bahkan Ibunya sendiri ia tidak kenal. Abizard dan Ipek? Mereka juga asing. Mert merasa dirinya seperti di lempar dari suatu planet ke bumi ini.


"Ayah, kenapa aku merasa aneh tinggal disini? Abizard dan yang lain seperti orang asing untukku, tidak seperti yang kalian katakan kalau kami bertema sejak kecil."


"Memori otakmu hilang saat kecelakaan yang menimpa dirimu di Canada. Ingatanmu hilang semua dan itulah kenapa kau merasa asing. "


Mert mengambil kunci motornya dan bergegas keluar. Berlari cepat menurin anak tangga dan menabrak Kenan, ayahnya.


"Mert," sapa Kenan, dahi Kenan berkerut saat melihat Mert tampak kebingungan dan gugup. "Ada apa, Boy?" Kenan meletakkan tanggannya di bahu putranya itu. Refleks Mert menepisnya, Kenan bingung melihat sikap dingin putranya yang selalu ramah padanya.


"Katakan Ayah siapa aku sebenarnya?"


"Mert ada apa denganmu? Apa sesuatu terjadi?"


"Tidak ada kenangan masalalu, Izard, Ipek, aku besar dimana dan dilahirkan oleh siapa aku tidak ingat bahkan aku tidak merasa ada koneksi dengan Ayah. Itulah yang terjadi, Ayah."


Kenan terdiam lidahnya kelu ia tak mampu untuk berucap pada Mert yang menuntut jawaban darinya.


Mert tersenyum kecut, ia kecewa melihat diamnya Kenan.


"Bahkan Ayah tidak pernah membawaku ke makam Ibu." kata Mert, kemudian berbalik meninggalkan rumah itu.


"Mert," gumam Kenan, suaranya tercegat di kerongkongan seolah enggan untuk membantah ucapan Mert.


Kenan menyeret langkah kakinya menaiki anak tangga, setibanya di koridor ia melihat pintu kamar Mert terbuka. Kenan menghampiri dan membuka lebar untuk ia masuk.


Kamar itu tertata rapi dan aroma khas pria dewasa membaui ruangan itu. Kenan berjalan ke arah meja kerja Mert, melihat laptop yang masih stanby, ada juga kartu nama bewarna hitam dengan cetakan huruf timbul bewarna tinta emas di atas keyboard.


Kenan mengambil kartu nama itu, dan membacanya sekilas. Nama dalam kartu itu tidak mengejutkanya, hingga tatapan Mert beralih pada Laptop dan melihat yang ditampilkan layar itu. Kenan membeliak, bola matanya seolah melompat. Hanya karena melihat foto Mert dalam situs itu.


Apa ini?


Kenan membacanya dan melihat nama Adara Emirat tertulis di situs itu kemudian ia mencocokkan nama itu pada kartu nama yang ada di atas meja. Kenan menelan air ludahnya, tangannya gemetar.


Jadi ini alasan Mert bertanya? Dari mana ia dapat kartu ini?


Kenan segera keluar dari kamar itu, dan berlari dengan gerakan cepat. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya, kemudian menghubungi Abizard.


______________________________________________


Mert tidak tahu harus kemana membawa dirinya. Kenan seolah menyimpan rahasia tentang hidupnya entah apa alasannya. Mert memutar gas motornya penuh beruntung jalanan tidak macet bisa dibilang hanya satu dua tiga mobil bejalan. Ia sengaja mengambil jalanan sepi.


Separah apa kecelakaan yang membuat ingatanku hilang. Kenapa tidak dapat di sembuhkan?


Mert menginjak rem hingga terdengar decitan ban beradu aspal. Kalau ia tidak mahir mungkin dirinya akan terjungkal ke depan. Ia membuka helm dan menghirup oksigen banyak untuk melegakan dadanya yang menyempit.


______________________________________________


Kenan tidak akan diam, Mert putranya, apapun itu ia akan mempertahankan Mert di sisinya hingga jiwanya terambil dari tubuhnya. Mert putranya yang lama tenggelam di laut bersama wanita murahan yang ia sebut Istri. Tuhan mengembalikan putranya yang berusia lima belas tahun menjadi sosok pria dewasa.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Abizard, melihat ke arah Iskak.


"Siapa wanita itu? Kenapa Mert memiliki kartu nama itu?" tanya Iskak dengan raut datar, kedua tangannya melipat ke belakang.


"Tamu di resort, aku bahkan tidak menyadari itu." kata Abizard setelah berbicara cukup lama dengan Adara. Pria itu tidak bertanya siapa nama wanita itu. Bodohnya Abizard yang hanya terpesona pada Adara.


"Menurutmu dia istrinya?" tanya Iskak pada Abizard.


"Aku rasa begitu, wanita itu punya seorang putri mungkin berusia dua atau tiga tahun. Mert menyelamatkan gadis kecil itu saat tenggelam tadi siang. Aku ada disana juga mungkin wanita itu mengenali Mert dan memberikan kartu pengenalnya."


"Tidak, tidak, mereka tidak bertemu. Aisyah memberikan kartu nama itu pada Mert. Mungkin Mert penasaran dan mencari tahu di internet mengenai wanita itu dan menemukan fotonya di sana. Aku bahkan tidak kepikiran kalau dulunya Mert orang sukses." Kenan menimpali, di rautnya tercetak gelisah yang kental.


"Menurut kakak, apa Mert mengingat dirinya?" tanya Ipek, gadis itu tampak cemas. Ia tidak ingin kehilangan Mert begitu saja.


"Entahlah,"


"Aku rasa dia mengingat sesuatu ...." ujar Kenan kembali, "aku menemukan ini di meja kerjanya." Kenan mengeluarkan selembar kertas dari laci nakas yang ada di dekatnya kemudian menyerahkan pada Abizard.


Abizard mengambilnya dan melihat, sebelah alisnya naik." Mert tidak bisa menggambar, paman." ucap Izard.


"Sini aku lihat." Ipek mengambilnya dan melebarkan matanya. "Ini kan wanita sombong itu, kak." kata Ipek dan ia teringat saat mereka berkunjug ke kota A.


Ipek menangis, membuat semua yang disana bingung. "Saat itu, dia bertanya pada Elif desainer pakaian itu. Apa Elif bisa membuatkan sketsa. Aku tidak tahu kalau Elif membuatkannya dan ini pasti hasil tangan Elif."


"Itu sebelum kejadian hari ini?" Tanya Izard, mereka saling pandang, suasana itu hening dan mencekam.


Mereka setuju kalau Mert mulai mengingat tentang dirinya.


"Kalau begitu, segera bawah Mert berlayar." kata Iskak.


"Lalu pernikahanku, Daddy?" Ipek panik.


"Kita akan melakukanya di kapal sebelum Mert menyadari kalau dirinya Rion Emirat." kata Iskak.


"Tapi Dad ...."


"Kau mau memilikinya atau tidak sama sekali." Ipek terdiam, ia memilih menikah sederhana di kapal daripada kehilangan Mert selamanya.


"Abizard, siapkan segala sesuatunya. Besok sore kita berangkat." Perintah Iskak dan dianggukin putranya itu.


Benar, Abizard akan melakukan itu, supaya punya harapan untuk bertemu dengan Adara, tentu setelah pernikahan Ipek dan Mert.


Bersambung ...


Ini baru aku buatin sambil makan siang. Terima kasih masih bersedia membaca Obsessive loves. Jangan lupa kasih vote, like dan ulasan terbaik kalian ya.


Regards


Kirei