OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Siapa wanita itu...?



Adara tahu kalau Tuhan adalah pekerja ajaib. Menyelematkan, menghancurkan, memberkati dan mengutuk itu semua dapat ia lakukan. Akan tetapi setelah apa yang terjadi dalam hidupnya ia enggan memanggil nama pemilik hidupnya itu walau hanya sekedar meminta untuk keselamatan Rion.


Adara berdiri di bibir pantai, mengizinkan angin membelai kulitnya, memainkan rambut indahnya. Ia terpaku menikmati suara ombak kecil yang terlempar sesekali ke arahnya.


Dalam dua tahun ini ia setia ke tempat ini. Tempat dirinya berpisah dengan cintanya dalam keadaan benci, marah dan kecewa. Hingga kata penyesalan ia lontarkan setiap kali rasa rindu melandanya.


"Rion ... aku merindukanmu," Bisiknya pada ombak berharap gulungan air itu membawah bisikan itu pada Rion yang ada di bawah laut sana.


______________________________________________


Adara melangkah memasuki office Emirat, berjalan didampingi Anatha dan beberapa pendamping sebagai pengawal di belakangnya. Tubuhnya tegap dengan kepala terangkat menunjukkan kepercayaan dirinya sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dan dihormati diperusahaan Emirat. Bagaimana tidak, dalam waktu dua tahun ini Adara sudah melebarkan sayap Emirat masuk ke negara Arab, Jepang, Thailand juga lagi berusaha menembus negara Donald Trump.


Nama Adara menjadi sorotan publik, dan satu-satunya wanita menjadi pengusaha bermodalkan ijasah sekolah menegah atas. Wanita berkelas dengan tatapan dingin dan datar.


Semua sudah berubah, Adara yang dulu ramah, lembut dan memiliki sifat manja tidak lagi ditemukan pada sosok Adara yang sekarang. Tatapan Adara tajam, senyumnya jarang terbit dan lebih suka menghabiskan waktu untuk bekerja. Ia merubah dirinya, menjadi sosok tak tersentuh kecuali pada gadis kecilnya, Illy.


Adara menghempaskan dirinya pada kursi kerja, mengambil berkas yang sudah disediakan Anatha untuk di tanda tangani olehnya. Ia membaca satu persatu penawaran -penawaran harga kerja sama yang meraka jalin dan dengan satu goresan tangannya dalam berkas itu maka kerja sama akan terjalin.


Adara menekan intercom yang ada di meja kerjanya. "Siapkan hotel untuk Clien dari Amerika atur kembali jadwal meating bersama mereka. Katakan pada Mete untuk mengosongkan satu gudang yang ada di bandara. Kita harus menjalin kerja sama dengan mereka." Perintah Adara dengan nada berwibawa.


Aku harus mendapatkan kontrak itu. Batin Adara membaca ulang kontrak kerjasama yang akan ia ajukan pada perusahaan ternama dari Amerika.


Adara berambisi, menjadikan perusahaan Emirat menjadi satu-satunya ekspor infor yang di akui oleh negara asing. Itu semua ia lakukan bukan untuk dirinya, melainkan untuk Illy, masa depan putri Rion harus terjamin hingga tujuh turunan. Ia ingin menebus dosanya karena menjadikan gadis kecil itu hidup tanpa seorang Ayah.


Sebuah ketukan pintu menarik perhatian Adara. Mengusik konsentrasinya dari kontrak kerja yang ia pelajari lewat tab pintar itu.


"Masuk!" Katanya meletakkan tab dan menunggu siapa dibalik pintu. Anatha dengan buket bunga mawar merah. Adara berdecak ia tahu siapa pengirimnya.


"Letakkan saja di meja itu," kata Adara menunjuk lewat dagunya pada meja di dekat sofa yang ada di ruangan itu. Anatha mengangguk dan meletakkan disana.


"Aku rasa ini buket bunga yang kelima ratus, Bu." kata Anatha pelan.


Adara tersenyum kecut. Ia juga tidak mengerti kenapa ada pria sebodoh Emre. Tidak ada respon dari Adara selain senyum kecut, yang membuat Anatha gugup. Ah, wanita itu lebih memilih bekerja dengan Rion ketimbang Adara yang tampak menakutkan.


Anatha keluar dan menutup pintu dibelakangnya. Segera ia menghembuskan napas panjang, seolah dirinya baru saja keluar dari tempat berbahaya.


Ponsel Adara berbunyi, ia tahu siapa yang menghubunginya. Maka dengan malas ia mengangkat tanpa menyapa.


"Kau sudah menerima bunganya?" Kekehan ringan terdengar dari seberang. Adara melanjutkan pekerjaanya sambil mengapit ponselnya diantara bahu dan telinga.


"Mmm," gumam Adara, terdengar tarikan napas dari seberang.


"Kau menyukainya?" Adara menghentikan tangannya mengetik pada benda itu.


"Berhentilah melakukan hal sia-sia, Emre." gumam Adara, entah sudah berapa kali Adara mengabaikan dokter itu tapi tetap saja pria itu kukuh mengejar dan berharap Adara membuka hatinya.


"Tidak ada kata sia-sia untuk mendapatkan hatimu, Adara. Kau tahu aku masih berharap."


"Emre, dengar ...," Adara menarik napas pelan sembari memikirkan kata -kata yang tepat untuk disampaikan pada pria keras kepala disana.


"Terimakasih karena sudah menyatakan perasaanmu kau tahu aku sangat tersajung karena dari sekian banyak wanita disisimu kau memilih aku dan menjadikan aku menjadi orang bagian terpenting dalam hidupmu dan aku sangat bahagia untuk itu. Tapi ...maafkan aku Emre aku tidak bisa memberimu lebih. Aku ingin kita tetap berteman tanpa memasukkan perasaan lebih dari sekedar itu." ucap Adara pelan-pelan, tapi ia tak yakin pria disana mendengarnya mengingat ini bukan kali pertama Adara menolaknya.


______________________________________________


Di sebuah kota pesisir, tampak pria berdiri di bibir pantai dengan tampilan sederhana. Ia menulis dengan induk jari kakinya kata 'Hun' di atas pasir. Berulang kali ia lakukan karena saat angin membawa gulungan air ke tepi tulisan itu akan hilang.


"Hun," gumamnya seraya menatap lurus ke tengah laut yang tampak indah siang itu. Ia mengingat mimpinya belum lama ini.


Seorang wanita dengan senyum secerah mentari dipagi hari, seindah bintang dimalam hari melompat padanya dan anehnya dalam mimpi itu ia menangkap dan membawa wanita itu berputar-putar.


Hanya sampai dibagian itu, Mert merasakan bahagia sebelum akhirnya ia terpisah dari wanita itu dalam gulungan air. Wanita itu hilang menjadi buih dan Mert memanggilnya. "Hun".


Siapa wanita itu ...?


"Mert, Mert ...." seseorang memanggil menghancurkan ingatannya tentang mimpi yang membuatnya berkeringat setiap kali mimpi aneh itu datang dalam dunia gelapnya. Ia menolehkan kepala, seorang wanita seusianya dengan balutan jeans bolong-bolong dipadukan dengan kaos ketat menghampiri.


Namanya Ipek Denir.


"Ada apa?"


"Mana aku tahu ... mungkin mereka akan membahas pernikahan kita." ucap perempuan itu, mendaratkan ciuman pada pipi Mert.


"Aku sudah tidak sabar ingin menikah denganmu," tambah Ipek dengan nada sensual. Kemudian berjinjit melingkarkan tangannya pada leher Mert. Menatap rahang tegas dan brewok tipis milik pria itu.


Mert tampak sempurna.


"Berhentilah Ipek, kau terlihat seperti perempuan nakal." Mert menjauhkan bibirnya saat mau di raup perempuan itu.


Ipek kecewa, lalu melepaskan tangannya dan mulai merajuk.


"Berapa usiamu?" tanya Mert dengan tatapan malas.


"Tiga puluh," jawab Ipek mengedip-ngedipkan matanya berharap ia seksi.


"Aih, berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Sangat aneh dan tidak enak dipandang."


"Mert, kau pria aneh ... jika bukan karena paman kau—,"


"Ipek!" Suara panggilan keras menghentikan ucapannya.


Abizard kakaknya datang menghampiri, melempar tatapan mematikan pada Ipek yang baru saja ingin membongkar rahasia tentang pria yang akan dinikahinya itu.


"Ayah memanggil kalian." Katanya, tatapan itu kembali teduh saat beralih pada Mert.


"Kau yakin ini adikmu, Izard?" Mert menyelidik penampilan urakan Ipek, sebenarnya perempuan dewasa itu cantik hanya saja terlalu seksi di bagian-bagian tertentu dan Mert tidak suka akan itu.


Mungkin waktu dan pergaulan mengubah perempuan itu saat kuliah di Amerika.


"Apa yang salah denganku?" Ipek memperhatikan dirinya sendiri. Jengkel, pria dihadapannya ini tidak pernah memujinya mulai dari mereka di jodohkan hingga sampai saat ini.


"Pergilah kalian, tidak baik membuat orang tua menunggu lama." kata Izard mengusir dua orang itu.


"Kapan kita berlayar?" Tanya Mert, ia ingin segera kembali ke lautan.


"Mungkin setelah pernikahan kalian." jawab Izard, mengalihkan tatapannya pada Ipek adiknya itu.


"Aih, ck jaga sikapmu kalau tidak aku lebih memilih menikahi ikan paus daripadamu." ucap Mert pada Ipek dan membuat Izard tersenyum. Ipek memberenggut, memukul bahu Mert kesal dan langsung berjalan mendahului.


Izard melipat kedua tangannya di dada, melihat kedua orang itu menjauh darinya. Ia menghela napas, ingatannya membawanya pada malam hari dimana mereka menolong Mert dari dalam laut saat menyelam.


Kepanikan terjadi ketika tubuh Mert di angkat ke atas kapal, butuh waktu lama untuk membuat pria itu kembali bernapas. Segala cara mereka lakukan hingga Izard menonjok bagian dada Mert dan mereka menyebut itu sebuah keajaiban. Mert bergerak.


"Apa ada indentitasnya?" kata Kenan pada Izard, pria itu merongoh semua isi saku celana dan menemukan dompet, Izard membukanya. Sebuah photo pernikan dalam ukuran mini terselip dalam dompet itu hingga beberapa kartu dan tanda pengenal.


"Rion Emirat, usianya dua puluh delapan tahun dan sudah menikah." kata Izard, memberikan dompet itu pada Kenan.


Bersambung ...


Terima kasih banyak untuk like, vote dan juga komentarnya. Kalian yang terbaik dan terus dukung Obsessive Loves ya, teman ...


Regards


Kirei


Tampilan Rion sekarang lebih dewasa



foto gugel.