
Rion mengemudikan mobilnya sesuai share lokasi dikirim Mete, dimana Adara kini berada. Mete segera keluar dari mobil menghampiri begitu melihat mobil Rion mendekat.
"Dimana dia?" Rion bertanya dari jendela mobil, lalu mengikuti arah tatapan Mete memperlihatkan mobil Adara yang terparkir di pinggir jalan. Rion mengangguk, " baiklah, kau bisa pulang," Tambah Rion, menepikan mobilnya.
Mete meninggalkan tempat itu, ia menghela napas panjang merasa lelah setelah mengikuti setiap langkah wanita itu.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rion keluar dan menatap Adara duduk di tepi pantai sembari memeluk kedua kakinya merapat ke dada.
Adara lelah dengan segala masalah yang ia hadapi. Pantai menjadi pilihannya untuk berteriak, mengumpat dan menangis tanpa adanya rasa malu. Angin juga suara ombak mengimbangi suaranya dan bahkan menelan suara Adara hingga tidak menganggu para penikmat pantai yang tidak jauh dari pinggir jalan raya kota itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Adara seketika menolehkan kepalanya pada sumber suara. Rion menghampiri.
Dia ada dimana-mana seperti iblis. Mengerikan.
Adara mengambil sejumput pasir lalu melemparnya tepat mengenai wajah pria itu.
"Pergi!" Teriak Adara kesal.
"Honey ...," Rion membersihkan wajahnya, lalu melepas Jas yang ia pakai dan menyampirkan pada punggung Adara. Wanita itu tersenyum kecut.
"Darimana kau tahu aku disini?" Mata Adara menyipit dalam saat bertanya pada Rion. Adara penasaran, Rion selalu hadir seperti iblis disegala tempat.
"Naluri. Kau lupa? Kalau kau adalah tulang rusukku? Itulah kenapa aku bisa tahu kau ada disini." Rion, menepuk -nepuk pucuk kepala Adara lembut.
Aku nyakin, satu langkah lagi kau pasti masuk rumah sakit jiwa.
"Kenapa Honey? Kau ada masalah?" tanya Rion mengambil posisi duduk di samping Adara. Tawa Adara pecah, ia memukul punggung Rion keras. Apa pria ini bercanda? atau mungkin kurang asi saat bayi. Dialah yang menjadi masalah bagi Adara dan dengan polosnya ia bertanya.
Rion tidak peduli saat telapak tangan Adara memukuli punggungnya, pria itu terkesan menikmati seolah yang di lakukan Adara adalah menggodanya.
"Aku membencimu, Rion." gumam Adara, menarik napas panjang. Menghentikan tangannya memukul Rion dan kembali menatap ke tengah pantai yang membawa ombak kecil dan sesekali mencipratkan air mengenai mereka.
"Aku tidak perduli, yang penting aku sangat mencintaimu."
"Tapi aku lelah dengan cintamu itu, Ion."
Rion berdecak, menarik bahu Adara supaya mereka berhadapan. Tatapan Rion sangat hangat dengan senyum lembut. Adara terpaku di buatnya.
"Aku akan penuhi hidupmu dengan cintaku, dan kau cukup menerima saja jadi jangan katakan kau lelah."
Adara mengangkat tangannya, membelai rahang Rion lembut. Pria itu terpejam. lalu Adara berbisik tepat di wajah Rion.
"Aku takut menerima cintamu yang berlebihan itu. Karena segala yang berlebihan akan berakhir menyakitkan. Rion."
Adara menarik kembali tangannya dan kembali menatap hamparan laut. Rambutnya yang indah dimainkan angin.
Rion menarik kembali Adara dan mencium bibir Adara sangat lembut tanpa adanya nafsu pada ciuman itu.
Adara tersenyum pahit. "Kau selalu menciumku seenaknya. Kau pikir kita pasangan kekasih." Sungut Adara, menghela napas panjang. Rion merapakatkan tubuhnya pada Adara kemudian merangkul wanita itu.
"Ayo kita menikah, Dara." Adara menoleh dengan raut terkejut. Tatapan mereka bertemu dengan arti berbeda. Sorot mata Adara shock tapi sorot mata Rion teduh dan lembut penuh harap.
"Kembalilah padaku, ayo kita mulai dari awal hubungan kita. Aku janji kesalahan yang pernah aku lakukan tidak akan terulang lagi." Rion berjanji, sembari membenarkan rambut Adara yang dimainkan angin.
Kenapa semua begitu mudah untukmu, Rion. Pernikahan seolah hal yang gampang dilakukan.
Adara mengingat ucapan Calista saat mereka bertemu.
"Kenapa kau mendekat dan bahkan menjadi ancamam untuk masa depan bayiku ini."
Adara tersenyum pahit, ia menunduk dan helaan napas panjang terdengar darinya.
"Kau tidak pulang?" Adara mengabaikan ucapan Rion. Ia berdiri dari duduknya, " Ambil kembali jas mu. Terima kasih." Adara mengembalikan jas Rion yang ada di pundakknya.
"Honey, kau kira aku bercanda. Aku serius mengajakmu menikah." Seru Rion, berlari kecil mengejar langkah Adara.
Adara berhenti, ia berbalik kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rion dan memeluknya.
Aku tidak bisa Rion, aku akan pergi jauh dari hidupmu jadi biarkan aku memelukmu sebentar.
Rion tersenyum ia berpikir Adara setuju, Rion melempar jas yang ada di tangannya dan membalas pelukan Adara erat. Ia sangat bersemangat dan bahkan mengangkat sedikit tubuh Adara.
"Rion, apa yang kau lakukan? Lepaskan ...," Rion melepas pelukannya dan menangkup sisi wajah Adara kemudian memberi ciuman singkat.
"Ayo kita pulang, aku akan kasih tahu sama Mama kabar bahagia ini."
"A-apa maksudmu?" Rion menarik tangan Adara meninggalkan pantai dan mengantarnya masuk ke dalam mobil.
"Menyetirlah duluan, aku akan mengikutimu dari belakang."
"Rion, apa maksudmu me—,"
Tap.
belum selesai Adara bertanya apa maksud ucapan Rion, pria itu sudah menutup pintu mobil Adara dan berlari riang ke mobilnya.
Adara berdecak, menyesal kenapa juga ia memeluk pria itu hingga mengundang salah paham.
Adara menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya di ikuti mobil Rion dari belakang.
______________________________________________
Sesuai rencana Adara, ia sengaja mengambil penerbangan pagi ke London. Adara menyeret kopernya menuruni anak tangga menghampiri Lidia yang sudah di dalam mobil.
"Kau sudah siap?" Tanya Lidia begitu Adara duduk di kursi penumpang. Adara mengangguk kecil. "Baiklah kita berangkat." Tambah Lidia mulai melajukan mobilnya.
Adara memainkan ponselnya dan terlihat sibuk, Lidia melirik sesekali.
"Kau sudah pamit sama Jie?" tanya Lidia sambil menyetir.
"Sudah," jawab Adara singkat, ia tersenyum pada ibunya itu.
Setelah tiba di Bandara, Adara menyeret kopernya bersiap masuk, dengan wajah hangat, Adara mencoba untuk tetap tegar supaya tidak menangis saat berpisah dengan Lidia. Suasana Bandara masih sepi belum terlalu banyak orang mengantri di barisan cek-in mengingat ini masih pagi. Lidia menahan tangannya agar tidak bergetar dan tidak menangis memberangkatkan putrinya itu.
"Jaga dirimu dan jangan lupa makan yang banyak. Tubuhmu makin kurus saja. Kalau kamarmu tidak hangat di sana kembalilah pada kamarmu yang disini. Mengerti?" Adara mengangguk lalu memeluk ibunya erat.
"Mama juga jaga kesehatan, jangan lupa cek rutin ke rumah sakit, saat mama merasa sesuatu tidak enak telpon aku. Dara janji akan pulang." ujar Adara, kemudian ia melepas pelukan itu.
"Pergilah ...," Lidia mencium kedua pipi putrinya dan mereka berpisah di tempat itu.
______________________________________________
Emre, maaf aku tidak sempat datang meminta maaf secara langsung padamu. Atas apa yang terjadi antara kau dan Rion karena aku.
Maafin aku Emre, kau tidak seharusnya terlibat dalam masalah kami. Aku sangat menyesal tentang itu.
Emre, aku sangat beruntung bisa mengenalmu dan menjadi teman baik selama ini untukku. Kau sudah banyak membantu dan aku hanya menyusahkan sejak dulu. Terima kasih dan maafkan aku.
Ah menyebalkan! Aku pengen menangis saat mengetik pesan ini, aku tidak sanggup untuk mengatakan selamat tinggal untukmu. Karena saat ini aku tengah berada di perjalanan ke bandara. Aku akan meninggalkan kau dan kota ini. Doakan supaya aku bisa bertahan di tempat asing itu.
Jaga dirimu dan aku berharap hidupmu di penuhi kebahagian.
Adara.
Setelah membaca surat itu kini Emre berada di bandara, berlarian mencari sosok wanita itu. Info mengenai kepergian Adara terlalu kecil hingga menjadikan Emre seperti orang tak waras. Setiap barisan cek -in Emre perhatikan, kadang juga ia salah orang karena adanya kemiripan dari belakang.
"Auh shiit!" umpat Emre, menendang udara karena tidak berhasil menemukan Adara.
Telpon? Emre sudah melakukan itu semenjak membaca isi pesan yang di kirim Adara padanya tapi, hasilnya nihil. Ponsel Adara sudah tidak aktif.
Emre mengacak rambutnya hingga berantakan ia kembali ke parkiran dan tampak memikirkan sesuatu. Kemudian melajukan mobilnya sembari mencari alamat tempat tinggal Rion lewat web site perusahaan milik Emirat.
Ketemu! Emre segera memasang GPS map tujuannya sembari melajukan mobilnya kencang.
sementara di kediaman Emirat, sarapan pagi sedang berlangsung. Meski hening tapi raut Rion terlihat bahagia, Calista yang duduk di sisi kiri penasaran apa yang membuat wajah tampan itu berbinar-binar. Begitu juga dengan Hana ia bahkan merasa aneh saat melihat Rion tersenyum sendiri.
"Terima kasih untuk sarapannya, Mama." ucap Rion meletakkan sendoknya setelah menghabiskan sarapan itu.
"Aku akan membeli rumah di perumahan Bellevue Grand." ucap Rion menyebut nama perumahan ternama di kota itu. "atas nama Adara sebagai hadiah pernikahan kami."
Mendengar itu Calista terbatuk saat menikmati sarapannya. Wajahnya pucat, Rion begitu santainya mengatakan itu di meja makan ini.
Hana menghembuskan napasnya kesal. Ia menatap Rion dengan tajam. Meski Hana tidak terlalu menyukai Calista tapi, melihat sikap abai Rion membuat Hana muak.
"Istrimu sedang hamil dan kau mau menikahi Adara, apa kau sudah gila Rion?" tanya Hana, kali ini Hana tidak dapat bersikap sabar lagi.
Rion melirik Calista yang tengah berusaha melegakan tenggorokannya. Batuk yang tiba-tiba itu membuat sedikit sakit pada bagian perutnya.
"Tidak masalah kan, Calista?" Tanya Rion, dengan sikap dinginnya.
"Aku ...," ucapan Calista terhenti saat bel rumah berbunyi berulang-ulang bersamaan dengan gedoran pintu keras.
Calista dan Hana penasaran bercampur takut. Rion bangun dari duduknya dan berjalan.
"Biar saya yang bukakan!" Ucap Rion menghentikan Lulu yang sedang berlari kecil ke arah pintu.
Begitu Rion membuka pintu, ia di hadapkan pada sosok Emre yang tampak urakan. Rion menyeringai berpikir Emre kesal karena mengetahui Adara menerima ajakannya rujuk.
Emre mencengkram kerah baju Rion dan menariknya keluar lalu mengayunkan tinju pada wajah Rion.
"Keparat! Semua karenamu, Adara meninggalkanku."
Rion tergelak, mengusap sudut bibirnya yang berdenyut. Seringai iblis muncul di wajahnya.
Calista, Hana, Lulu dan Ahmed tercengang melihat kejadian itu.
Cuih! Rion meludah, " pasti sakit bukan mendengar Adara akan menikah denganku?" Rion tergelak kembali, Emre menautkan kedua alisnya bingung. Calista menyumpah dalam hati semoga Emre menghajar Rion sampai babak belur.
"Apa kau gila? Menikah? Adara pergi manusia tidak waras. Hari ini dia meninggalkan kota ini. Menyedihkan dia bahkan kabur darimu Iblis." Emre melayangkan tinjunya lagi. Menghamtam pelipis Rion. Hana berteriak melerai. Calista terkejut lalu detik kemudian bibirnya menahan senyum.
"Apa?" Rion bangun dari jatuhnya dan berlari ke dalam rumah
"Kita belum selesai pecundang! Aku akan menghajarmu, Keparat." teriak Emre.
Rion mencoba menghubugi ponsel Adara tapi tidak aktif.
"Ah Shiit! "Rion membanting ponselnya ke lantai hingga pecah.
Bersambung.
Bagaimana cara Rion supaya Adara kembali? ada saran nggak? atau kita buat Adara hamil saja? Hingga ia kembali dengan sendirinya?
Kasih komentar terbaik kalian ...