
Pintu lift itu hampir saja tertutup andai Lidia tidak segera masuk.
"Kau mau terus berdiri di sana?" Tanya Lidia pada Adara yang terdiam di tempatnya dengan tatapan kosong. Lalu detik kemudian wanita itu menarik napas panjang sembari berjalan masuk ke dalam lift.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Lidia khawatir, melihat Adara menampilkan raut sedih. Adara menipiskan bibir kemudian mengangguk.
Sementara di sisi lain, Rion menghentikan langkahnya, ia segera berbalik dan melihat kearah lift yang sudah menutup.
Calista menyadari itu, meskipun hatinya sakit ia tetap harus berdiri di samping Rion demi bayi yang ada di kandungannya. Ia harus berpura-pura menerima ketidakpedulian Rion terhadapnya. Sampai kapan? Entahlah! Mungkin sampai ia memiliki senjata yang kuat untuk memiliki Rion seutuhnya.
"Rion, aku tidak mengapa kalau kau mau pergi menghampirinya." ujar Calista, dan membuat pria itu berbalik melihatnya. Rion menarik napas berat.
"Ayo," ajaknya dengan nada datar. Berjalan di depan Calista menuju ruang dokter kandungan.
______________________________________________
Jie menerima kiriman bunga dari jasa pengantar untuk Adara. Jie membaca si pengirim atas nama Rion.
Apa ini? Kenapa dia mengirim bunga kesini? Apa hari ini spesial?
Jie, membawa bunga mawar putih menghampiri Adara yang tengah duduk di meja bar kecil kafe itu.
"Dara, ada kiriman bunga dari Rion." Adara mengerutkan kening, melihat bunga yang ada di tangan temannya itu.
"Untukku?" Tanya Adara bingung. Jie mengangguk.
"Apa hari ini spesial?" Tanya Jie, menyerahkan bunga itu. Adara mencoba mengingat tapi memang hari ini bukan hari spesial buat mantan suami istri itu.
"Sekalipun spesial dia tidak perlu mengirim bunga kesini," kata Adara, mengambil bunga itu lalu meletakkan di atas meja bar.
"Aku rasa juga begitu," Jie mengendikkan bahu. Adara tampak memikirkan sesuatu.
"Jie," gumamnya. "Waktu itu, Rion bertingkah aneh."
"Aneh?" Jie langsung menajamkan telinganya. Adara mengangguk.
"Dia bilang mau mengambilku," gumamnya. "Menurutmu apa dia masih waras? Kenapa dia bertingkah seolah-olah dia yang membuangku?" Mengingat itu raut Adara langsung kesal.
"Tunggu! Mengambil dengan artian apa ya?" Jie bertanya dengan bingung.
Adara merinding, " lupakan, dia sangat aneh." katanya meraih bunga itu lalu membawanya keluar kafe dan membuangnya ke tong sampah.
Kirim sebanyak yang kau mau, aku akan membuangnya dengan senang hati.
Mete yang ada di kafe itu, diam-diam mengambil gambar dan mengirimnya pada atasannya.
"Pekerjaan macam apa ini? detektif dadakan." gumam Mete, kemudian menikmati makananya.
Ditempat lain, Rion menyeringai sinis saat melihat bunga yang ia kirim berakhir pada tong sampah. Pria itu mengambil kunci mobilnya dan keluar dari Company Emirat menuju Kafe Adara.
Rion melajukan mobilnya kencang, mendahului beberapa mobil yang menghalagi jalannya kemudian memarkirkan di area parkiran kafe itu.
Rion melangkah dengan angkuh, membawa aura angkuh nan dingin memasuki kafe dan mencari keberadaan Adara.
"Honey, " sapanya, membuat Adara berbalik saat mengenali suara itu. Adara mengeryitkan kening melihat Rion yang menunjukkan raut pogah.
"Kau salah orang! Aku bukan Honey tapi Adara," ucap Adara mengundang tawa Rion.
"Kenapa kau sangat menggemaskan meskipun kelihatan marah?" Tanya Rion, mendekat. Adara bergeming menatap mantan suaminya itu.
Rion menundukkan kepala, "aku sangat menyukainya dan tidak sabar ingin memilikimu kembali." Bisiknya tepat di belakang telinga Adara. Seolah sangaja menggoda dengan napas hangatnya.
"Kau pernah berjanji akan selalu menerimaku di kafe ini, kan? Dan bahkan menjadi pelanggan spesial?" kata Rion setelah menegapkan kembali tubuhnya. Matanya mengitari ruangan itu, sudah lama tidak ketempat ini dan bisa dibilang ini kali pertama setelah perceraian mereka.
"Tentu. silahkan duduk, tuan." Adara tersenyum manis dengan kepura-puraan. "Pelayan kami akan menyiapkan apapun yang anda inginkan." kata Adara lagi, memberi isyarat pada karyawannya supaya melayani Rion. Rion mengambil posisi duduk.
"Baiklah, kau ingin apa?" Adara memberikan lembar menu ke meja yang di tempatin Rion.
Rion dengan sikap kurang ajarnya, menarik Adara dan mendudukkanya di pangkuaanya. "Aku mau kau!" Mata Adara membeliak, menarik tubuhnya tapi Rion merengkuh pinggannya sangat kencang.
"Rion!" Adara menggeram, ia menjadi pusat perhatian di tempat itu. Beruntung pengunjung tidak ramai mengingat kafe ini memang lebih khusus di malam hari.
Jie dan karyawannya tidak bisa berbuat apa-apa selain membisu. Mete yang tengah menikmati minumannya itu ikut tercengang.
"Ayo kita bicara di tempat lain," Adara bergumam, berusaha melepas diri. Rion tersenyum licik.
"Baiklah, Honey." katanya, melepaskan rangkulannya. Adara menelan salivanya memperhatikan Rion yang terang-terangan menganggunya.
Wanita itu berjalan keluar kafe menuju area parkiran kemudian masuk kedalam mobilnya.
Rion mengetok jendela mobil Adara, "Kau ingin ke suatu tempat?" tanya Rion, "kalau benar, naik mobilku saja."
"Masuklah!" perintah Adara, kemudian Rion mengitari mobil itu untuk duduk di bangku penumpang.
"Apa yang kau inginkan dariku, Rion?" Setelah Rion duduk, mata tajam Adara terarah padanya.
"Menerima apa saja yang aku berikan! Tidak ada penolakan apalagi membuang."
"Kenapa aku harus melakukan itu?" Adara mendengus kesal.
"Lakukan saja seperti yang aku mau."
"Kau tidak waras, kita sudah berakhir dan tidak ada alasan untuk aku menerima yang kau berikan."
"Tidak ada yang berakhir Adara, kau tetap milikku."
" Rion ..., kita sudah bercerai."
"Aku tidak perduli, kau tetap milikku. Tidak ada yang akan mengubah itu, sekalipun surat perceraian itu." Rion mengambil dagu Adara, matanya menyipit tajam dan dalam menatap wanita itu.
Adara melepas tangan Rion dari dagunya, lalu tersenyum menutupi rasa takutnya. " Kita sudah berpisah Rion! Kita sudah menjadi orang asing. Apa kau lupa itu?"
Rion menatap Adara lekat, "apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali ke sisiku, Dara?" suara Rion terdengar menyedihkan, tatapannya pun terlihat sendu. Ada bongkahan di dalam netranya itu yang siap tumpah.
Rion menunduk, menertawakan dirinya sendiri seiring itu air matanya menitik. Adara merasakan kalau Rion benar-benar dalam masalah.
"Aku masih sangat mencintaimu," bisik Rion, mengangkat kepalan, melihat adara dengan mata merah.
Adara menghembuskan napas panjang, "karena itu bisakah kau merelakan aku? Kita tidak berjodoh Rion. Itu sebabnya ada Calista."
"Tidak! Calista bukan jodohku, tapi kau Adara." Rion mendelik, aura dingin memenuhi mobil itu "aku akan melakukan apapun itu, untuk mendapatkamu kembali."
"Rion ..., aku mohon. Apa kau tidak lelah? Ayo kita hidup tanpa saling mengenal. Mari kita kubur masa lalu kita dan menjalani masa depan bersama orang -orang yang kita cintai."
"Cinta? apa kau mencintai seseorang?" sorot mata tajam Rion kembali terlihat mengerikan.
"Jangan bilang kau menyukai dokter itu?" Rion menarik tangan Adara keras dan menggenggamnya erat.
"Kau tidak boleh menjatuhkan hatimu pada pria lain," Rion menekan kata-katanya. " Kau hanya milikku. Aku memintanya baik-baik tapi kalau kau ingin aku bersikap kasar? Akan aku lakukan."
Rion memiringkan kepalanya, melepas genggamannya. Kedua tangan itu menangkup sisi wajah Adara dan mencium paksa Adara. Kesal dengan sikap kasar Rion, Adara mendorong tubuh Rion dan melepaskan ciuman itu, entah keberanian dari mana Adara mengangkat tangan lalu menampar Rion keras.
Plak!
"Hentikan Rion! Kau sangat keterlaluan! teriak Adara tapi bukannya mengalah, Rion malah menarik wanita itu duduk ke pangkuannya Adara memekik, kepalanya terbentur atas mobil. Rion tidak peduli sakit atau tidak ia hanya berambisi kembali mencium Adara Sangat kuat dan dalam.
Adara memukul, berontak. Ciuman egois yang di lakukan Rion semakin dalam namun perlahan menjadi lembut. Adara hayut dan tanpa sadar wanita itu memejamkan mata dan turut menikmatinya.
Bersambung ...