
Ipek memejamkan mata, memberi izin untuk dimesrai Mert. Ibu jari Mert membelai bibir itu , merekah dan menggoda perlahan Mert menunduk untuk mendapatkan bibir Ipek.
"Ipek ...," Suara Ny. Denir memanggil, mengangetkan pasangan yang ingin bermesraan itu. Ipek menggeram dalam hati, sangat susah mendapatkan kesempatan itu dan sekarang ....
Ya ampun, Mom. Menganggu saja!
"Kalian disini?" tanya Ny. Denir menuruni anak tangga, menghampiri kedua orang itu di ruang makan. Mert menggaruk tengkuk, ia sedikit gugup lalu menarik kursi untuk ia duduki.
"Ayo kita pulang, sudah malam." ajak Ny. Denir.
"Aku menyusul, Mom." ujar Ipek " Mert akan mengantarku, Iya kan Mert?" Ipek memberi kode lewat matanya pada pria itu.
"Eh, mmm. Pergilah Ipek aku ada urusan sedikit di luar." Ipek kecewa, dan mendengkus meninggalkan Mert yang terang-terangan menolak.
Ipek membanting pintu mobilnya, ia duduk dan menunggu Iskak untuk mengemudi. Ipek tampak kesal, pada Ibunya dan Mert.
"Ada apa denganmu?" tanya Ny. Denir, melihat Ipek menggerutu tidak jelas.
"Mom, tidak mudah untuk mendapatkan ciuman Mert dan Mom tiba-tiba saja menggagalkannya."
"Astaga anak setan!" Ny. Denir memukul lengan Ipek yang terang-terangan memperlihatkan kenakalannya. Ipek meringis.
Iskak datang melihat pertengkaran antara Ibu dan anak itu.
"Ada apa?" Iskak menolehkan kepala kebelakang setelah duduk dibangku kemudi.
"Tidak ada." Ny. Denir menyahut, melipat tangannya di dada sementara Ipek mengerucutkan bibir seraya memalingkan wajah kesisi lain. Iskak berdecak, kemudian menghidupkan mesin mobilnya.
______________________________________________
Keesokan harinya ....
Mert ragu-ragu melangkahkan kakinya memasuki ruangan dokter Psikiater. Sebelumnya ia sudah mengatur janji temu dengan dokter itu. Tidak ingin di nilai bermental rusak, Mert berniat membatalkan rencananya.
Aku harus bagaimana? Ini terasa aneh. Bagaimana kalau dia menganggapku gila?
Mert menggelengkan kepala dan ingin pulang tapi seseorang menyapanya, menghentikan langkah kakinya.
"Selamat datang, Mert. Silahkan duduk." Dokter berambut uban itu menyarankan Mert duduk berhadapan dengannya. Mert menipiskan bibir dan melangkah ke tempat duduknya.
Dokter meminta Mert menjelaskan apa yang menganggu pikirannya. Mert menghembuskan napas panjang dan mulai bercerita mengenai mimpi yang menganggunya.
"....dalam mimpi itu, aku selalu melihatnya samar-samar. Hanya tawa indahnya yang jelas aku dengar. Lalu akhir-akhir ini aku juga mendengar teriakan marah darinya. Ia seperti menyuruhku lenyap. Entahlah, mungkin ... aku menyakitinya." Rion terkekeh saat melihat dokter itu mendengarnya dengan serius.
"K-kau pasti menganggapku aneh tapi itulah yang terjadi. Aku memanggilnya 'Hun'. Entah itu sebuah nama atau panggilan sayang aku tidak mengerti, aku merasa ada dalam dua kehidupan. Mungkin Dejavu," Mert kembali terkekeh, "Ah sudahlah lupakan dokter aku hanya menganggu waktumu saja." ujar Mert.
"Apa kau mengkonsumsi obat-obatan?" tanya dokter itu dengan nada kecil. Menyelidik.
"Narkoba?" tanya Mert balik seraya Mert menelengkan kepalanya.
"Semacam itu,"
Mert tergelak, ia ingin menonjok pria tua di hadapannya itu. Hanya saja pria itu sudah tua dan itu hanya akan membuatnya dianggap gila nantinya.
"Aku rajin mengkonsumi obat kuat, Dokter, ketahuilah aku pria menggebu." Menyebalkan. Tergelak masa bodoh. Dokter itu mengerjap mendengar kejahilan Mert.
Mert menyudahi pembicaraan mereka dan tidak mendapatkan hasil malah tertuduh.
Apaan-apaan dia? Narkoba? Dibanding aku dia lebih gila. Mert menggeram melangkahkan kakinya dari ruang itu.
______________________________________________
Adara menyelesaikan pekerjaanya di ruang kerja dalam rumah Rion. Perhatiannya tertarik pada suara pintu yang bergerak pelan.
Illy terbangun dari tidurnya dan mencari Adara.
"Mom," panggil Illy sembari memeluk boneka beruang di dadanya.
"Hei, kau bangun sayang? Ada apa?" Adara menghampiri dan membawa Illy masuk.
"Boleh aku tidur sama, Mommy?"
"Tentu, dengan senang hati putriku. Ayo kita tidur." Adara mengangkat tubuh Illy dan membawanya ke kamarnya.
"Bermimpilah yang indah," Adara mengecup pipih Illy dan menyelimuti tubuh kecil itu. Lalu dirinya sendiri berbaring di samping Illy.
"Mom, apa Daddy sayang sama Illy?" tanya Illy, Adara menggigit bibirnya. Apa yang harus ia katakan, mengingat Rion tidak pernah menginginkan Illy.
"Tentu saja ya." Adara menyentuh pipi tembam Illy, "Daddy ... sangat mencintai kita berdua." ucap Adara menyakinkan.
"Illy ingin menyentuh wajah Daddy."
Adara mengambil tangan Illy dan menyentuhkan pada wajah gadis kecil itu.
"Wajahmu milik Daddy, kalian berdua sangat mirip." Itulah mengapa aku selalu merindukan si brengsek itu. Tapi manikmu milik perempuan sialan itu. Itulah sebabnya aku tidak pernah menatap matamu.
"Selamat malam, Mom. Aku ingin Daddy pulang cepat dari surga." gumam Illy polos berbalik memunggungi Adara.
"Illy, kau ingin kita berlibur? Hanya berdua." Adara memberi usul, akhir-akhir ini Adara sibuk dan hampir melupakan Illy.
"Pantai, aku ingin bermain pasir." gumam Illy setuju.
"Mmm, oke akan Mom pikirkan."
"Thanks, mom." Illy memejamkan mata. Adara memeluk Illy dari belakang, membelai rambut kriting itu dengan lembut agar anak malang itu tertidur nyenyak.
______________________________________________
Mert dan Ipek dalam perjalanan menuju kota.
Kota A adalah kota terbesar di negara itu dan sudah pasti dipadati penduduk. Ipek sudah membuat janji temu dengan Desainer pakaian yang akan merancang gaun pernikahannya.
"Sayang, aku ingin gaun pengantinnya begini." ujar Ipek. Menunjukkan ponselnya. Ada senyum usil di wajah perempuan itu.
"Mmm, indah kau pasti cantik mengenakannya." ucap Mert tanpa melihatnya.
Ipek berdecak lalu memukul lengan Mert kuat-kuat.
Mert memekik, " Apa?" Ipek kesal lantaran yang ia tunjukkan bukan sebuah gaun tapi Lingering.
"Jadi kau ingin aku mengenakan ini saat kita menikah nanti?" gerutu Ipek. Suara tarikan napas berat terdengar dari Mert.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin bercinta denganku ya?" ucap Mert kesal begitu melihat gambar yang ditunjukkan Ipek padanya.
Shakil yang mengemudi spontan terkikik mendengar ucapan kurang ajar Mert.
"B-bukan begitu, kau sibuk jadi aku menganggu sedikit kan tidak apa-apa," Ipek gugup, wajahnya merona dan mengalihkan tatapan ke arah lain.
Mert menendang kursi Shakil dari belakang. "Jangan tertawa, fokus saja mengemudi." ucapnya kesal dan Shakil menurut.
Perjalanan panjang yang mereka lakukan akhirnya sampai. Ipek keluar dan diikuti Mert. Melangkah masuk ke gedung itu dan meninggalkan Shakil di dalam mobil.
Ipek segera menggandeng tangan Mert posesif masuk ke dalam dan menghampiri meja informasi.
"Saya sudah mengadakan janji dengan Nona Elif" ucap Ipek. Resepsionis itu menekan telpon dan menghubungi asisten Elif.
"Tamu untuk Nona Elif sudah datang,"
"Maaf atas nama siapa?" tanya perempuan itu pada Ipek.
"Ipek Denir." ucap Ipek.
"Atas nama Nona Ipek Denir, oh baiklah."
"Nona Ipek anda sudah ditunggu." Perempuan itu membawakan mereka ke ruangan Elif.
"Selamat datang di Elif Desainer. Silahkan duduk," Elif menyambut dan mempersilahkan kedua tamu mereka duduk di sofa.
Mert melihat dinding ruangan yang dihiasi sketsa hasil rancangan Elif.
"Apa kau bisa menggambar?" tanya Mert tanpa basa basi. Elif sedikit bingung dan...
"Ya, tentu. Aku perancang pakaian, menggambar adalah modal utama, bukan?" Elif terkekeh.
"Bagaimana dengan menggambar orang? Apa kau bisa menggambarnya sesuai keinginan kita?"
"Sayang ... kau ingin menggambar siapa?" Ipek ikut bingung dengan pertanyaan aneh Mert.
"Sketsa ... lupakan!" gumam Mert menipiskan bibirnya dan menyandarkan dirinya di sandaran sofa.
"Oh baiklah, jadi Nona Ipek mau gaun seperti apa?"
Mert sibuk dengan pikirannya, pandangannya berkeliling ruangan dan menikmati gambar-gambar pakaian itu.
".... Baiklah, Nona Ipek asisten saya akan membawakan anda berkeliling ke galeri untuk menunjukkan hasil karya kami. Sementara saya akan menggambar sesuai keinginan Nona." ujar Elif lalu Arju menghampiri mereka.
"Ayo sayang," ajak Ipek pada Mert.
"Ipek, kau saja yang kesan. Aku ingin istirahat sebentar."
"Sayang ...,"
"Kumohon."
Ipek menghembuskan napas panjang. Menyerah dan setuju. Sepeninggal Ipek dengan asisten itu. Mert menghampiri Elif yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Ada apa tuan Mert? Sepertinya anda menginginkan sesuatu dariku."
Mert terkekeh, tebakan Elif benar.
"Aku, mmm tidak pandai menggambar tapi aku ingin menuangkan isi pikiranku kedalam gambar itu."
"Kau ingin aku melakukannya?"
"Terima kasih, jika Nona Elif berkenan."
Elif tersenyum, "Apa yang mesti aku gambar?"
"Seorang perempuan."
Elif mengerutkan dahinya, "Calon istri, Anda?"
"Bu, Bukan."
"Selingkuhan?"
"Perempuan dalam mimpiku."
Elif mengerutkan kening bingung. " Oke, katakan sebelum istri anda kembali." Elif bersiap dengan kertas dan pensilnya lalu Mert menceritakan sosok perempuan dalam mimpinya itu.
Bersambung ...
Terima kasih atas dukungannya untuk Obsessive Loves.
Unek-unek penulis yang butuh perhatian. Ci ... ele ... tapi ini serius.
Ayolah kawan yang baca diam tanpa jejak. Cerita ini gratis kok, setidaknya like kalian sangat membantu membangun semangat, Iya kan? Jadi meskipun nggak suka setidaknya ulasan beri ya.
Santai ikuti alurnya. Akan sedikit panjang saya harap betah di sini. Bantu Like, Vote dan Ulasan kalian. Kalau ada yg berkanan Share boleh dan sangat diperbolehkan buat bantu author promosi.