
"Marry me, Adara?" suasana tampak hening, tamu undangan pernikahan Jie seolah terbawa suasana. Adara melihat sekelilingnya. Wajahnya bersemu saat tatapan para tamu mengarah padanya.
Jie mengangguk supaya Adara mengatakan Ya.
Adara mengangguk semangat. "Yah, mari kita menikah, Rion Emirat."
Rion menegakkan kembali tubuhya, sorak tepuk tangan dari para tamu memberi semangat, pria itu menyerahkan bunga pengantin Jie pada Adara lalu me*mat bibir Adara. Para tamu bersorak turut bahagia pada pasangan itu.
Sebenarnya Rion hanya ingin menyampaian pada dunia kalau Adara miliknya dan memberi peringatan bagi para kaum adam supaya tidak sedetik menatap dan berpikir kalau Adara wanita bebas lalu datang mendekati tanpa terkecuali Emre. Pria itu sengaja memalingkan wajahnya dari adegan panas pasangan itu.
"Mari kita pulang," Desis Rion setelah melepas ciumannya lalu menarik wanitanya itu keluar dari tempat itu. Adara melambaikan tangannya yang bebas pada Jie.
Emre mendekati Jie, "Jie, sudahkah aku mengatakan sesuatu padamu tentang penampilanmu hari ini?" Emre memperhatikan Jie dari atas hingga bawah, wanita itu tampak cantik dengan gaun pengantinnya.
Jie menggeleng, "belum," lirihnya.
"Kau sangat cantik, Jie." bisik Emre, berdiri di samping Jie, pria itu perlahan mengambil tangan Jie dan menggenggamnya.
"Aku harap kau sabar, menungguku untuk mengatakan aku cinta padamu. Tulus bukan untuk menyenangkan." katanya, menatap Jie. Wanita itu mengangguk.
"Aku bersedia menunggu, Emre."
"Terima kasih, Jie. Meski begitu jangan menjaga jarak dariku, kau istriku dan tanggung jawabku mulai sekarang." Jie kembali mengangguk ada rasa lega di dalam hatinya, setidaknya Emre mengatakan itu padanya.
______________________________________________
"Jadi kapan kita menikah?" Adara meletakkan kopi panas di atas meja untuk Rion dan satu untuknya.
"Secepatnya," jawabnya tanpa mengalihkan tatapannya dari ponselnya. Rion menepuk pahanya, memberi isyarat supaya wanita itu duduk di sana.
Adara menempatkan dirinya di panggkuan Rion dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Adara mencebik, ia pikir pria itu ingin bermesraan tapi, Rion malah disibukkan dengan ponselnya. Bermain angka disana, Emirat berhasil mengembangkan sayap bisnisnya kebidang lain. Membangun Flat di salah satu kota yang sedang-sedang berkembang pesat di negara itu.
"Pergi ke kantor sana." Adara malas melihat Rion yang sibuk dengan kerjaanya.
"Mmm," gumam Rion singkat. "Diam Hun, jangan kemana-mana." tambahnya saat Adara hendak berdiri dari pangkuannya.
"Ion ...," suara lembut Adara nan menggoda terdengar di telinga Rion. Telunjuknya menyusuri pangkal hidung pria itu hingga kebibir. Sengaja menganggu Rion dari kesibukannya.
"Kau mau bercinta?" tanya Rion, menghentikan gerakan Adara. Adara mendengus bahkan saat mengatakan kata vulgar itu, Rion tidak melihatnya.
"Dalam mimpimu," Adara segera bangun dari pangkuan Rion dan pindah tempat duduk di sofa tunggal. Rion mengambil gelasnya dan mencicip kopi itu.
"Enak, Hun. " katanya, Entah apa yang dipikirkan pria itu. Adara memberengut, Rion bangun dari tempat duduknya dan menarik Adara berdiri. "Jangan menggodaku kalau menolak bercinta. Aku lagi menginginkan itu." Diciumnya dahi Adara lembut." Aku ke kantor dulu, terima kasih kopinya." sambungnya lagi. Adara kebingungan dibuat pria itu.
"Kau menginginkan itu, tapi kenapa kau pergi ke kantor?"
"Menyibukkan diri," Adara tersenyum, menikmati wajah Rion yang memang sudah berhasrat.
______________________________________________
Pernikahan yang diinginkan Adara sangatlah unik. Menikah di pantai. Rion bahkan tidak habis pikir kenapa wanita itu menginginkan itu padahal Adara sebelumnya membenci pantai.
"Itu tidak masuk akal," protes Rion saat Adara menyampaikan gagasannya.
"Aku menginginkan itu, Rion." ucap Adara dengan nada memohon.
"Mama sudah memutuskan kita menikah di hotel, kolega, seluruh karyawan dan yang lain harus nyaman. Kau ingin angin pantai mengibas-ibaskan rambut dan mengacak-acak pernikahanmu."
"Aku mohon ... kita sudah pernah menikah mewah, Rion. Dulu mama yang mengatur pernikahan kita, kali ini aku ingin yang menentukan konsepnya. Pernikahan sederhana hanya ada kita dan kerabat Rion. Itu mimpiku sejak dulu."
"Entah dari mana kau dapat ide itu,"
"Fantasiku,"
"Honey, fantasimu ditolak." ucap Rion tegas.
"Kalau begitu jangan menikah," Adara bersungut nyaris tak terdengar namun, teliga pria itu sangatlah sensitif.
"Katakan sekali lagi!"
Adara menggeleng lemah, menarik kembali ucapannya. Ia takut Rion marah tatapan pria itu sudah menajam ke arahnya sementara dirinya menunduk lemah. Terdengar helaan napas panjang dari Rion. Ia berpindah tempat pada sofa dimana Adara duduk.
"Aku aturan hidupmu, Honey." ucap Rion, merangkul bahu Adara.
"Aku tahu itu," jawab Adara lemah.
"Apa salahnya kalau aku berbahagia, mengumumkan pada dunia kalau Adaraku kembali pada kehidupanku." Rion menggigit-gigit cuping Adara.
"Dara, kau setuju?" Tanya Rion kembali. Adara mengangguk menolak bukan gagasan yang tepat, Rion tidak akan menoleren mimpi Adara.
"Terima kasih," Rion menelusuri ceruk leher Adara, mengisap kuat di leher pucat itu hingga meninggalkan segelnya.
______________________________________________
Sembilan puluh persen persiapan pernikahan Rion sudah jadi, pria itu hanya menunggu cincin yang khusus ia pesan dari seorang desainer perhiasan ternama di new york. Selain Marilyn Monroe tentu Adara adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini karena Rion langsung bertatap muka dengan desainer ternama itu. Harry Winston.
Hari ini Rion berencana menjemput pesanan itu setelah membuat janji temu dengan Harry Winston melalui asistennya. Namun, sebelum itu Rion mengirim tiga bodyguard ke rumah Adara. Ia ingin wanita nya itu aman selama berjarak jauh darinya.
"Aku kirim tiga pengawal ke rumahmu," ucap Rion melalui ponselnya. Pria itu kini berada dalam pesawat pribadinya.
"Untuk apa?" Adara meletakkan gelas berisi susu di meja bar. Semenjak Jie menikah ia kembali bekerja di cafe miliknya. Emre menjaga Jie dan bayi dalam rahim istrinya dengan baik, Adara bahagia mendengarnya.
"Kau dimana sekarang?" Rion balik bertanya, telinganya menangkap suara musik yang di putar.
"Di kafe, semalam aku tidak pulang. Rion bukankah berlebihan mempekerjakan pengawal untukku? Aku bukan pebisnis seperti dulu."
"Calon istri pengusaha tertampan di dunia ini, Dara. Banyak yang iri denganmu." Rion mengucapkannya dengan nada sombong. Adara berdecih.
"Aku akan mengirim alamat kafe pada ketua teamnya. Supaya mereka datang kesana."
"Rion ..., aku mau kau yang datang, sudah tiga hari kita tidak bertemu." Adara mengubah suaranya manja berharap lawan bicaranya itu terganggu.
"Aku ada urusan di luar, Honey. Pagi ini aku berangkat ke New York. Lagipula aku tidak merindukanmu," Rion tersenyum mengatakannya. Ia ingin menggoda Adara, membuat wanita itu jengkel.
"Aku tidak butuh pengawal!" ketus Adara. Ia meletakkan gelas berisi susu yang hampir saja ia minum.
"Untuk saat ini kau butuh mereka, Dara."
"Aku juga tidak merindukanmu!" Adara mendengus, memutus sambungan telponya. Mencebik sembari melipat kedua lengannya. Menatap benda itu ia berharap Rion menelpon kembal, trik bodoh.
Ponselnya berbunyi singkat, pesan masuk dari Rion.
"Aku mencintaimu, jangan kemana-mana tanpa mereka."
"Cih, "Adara tersenyum membaca pesan itu seraya mengoyang-goyangkan pinggulnya bahagia.
"Kau tampak bahagia, Adara," suara itu mengejutkannya, Ipek tengah berdiri menyusuri seisi ruangan itu dengan tatapannya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" Ipek menunjuk pintu yang terbuka.
"Pintunya terbuka, jadi aku pikir singgah dulu breakfast." Adara tersenyum kecut.
"Baiklah silahkan duduk dengan nyaman Nona Ipek, pelayan saya akan melayani Anda tapi satu jam lagi. Karena kafe ini buka jam sembilan pagi."
"Sebagai pemilik kafe ini, tentu kau tidak ingin pelangganmu kecewa."
Adara terkekeh ia tahu maksud Ipek. Wanita itu ingin Adara melayaninya."Tapi kafe ini belum buka, Nona. Anda kepagian datangnya."
"Sayang sekali," Ipek meletakkan tas nya di atas meja.
"Aku tahu kau datang bukan untuk sarapan, katakan aku akan mendengarnya," Adara mendekati Ipek.
"Sungguh? Ah padahal aku hanya ingin sarapan tapi tidak masalah jika kau ingin mendengar keluhanku." Ipek mengeluarkan pistol dari dalam tasnya lalu mengarahkannya pada Adara.
Adara membeliak kaget, ia refleks mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu.
"Nyawamu atau tinggalkan Mert." Ancam Ipek menodongkan pistol pada Adara.
Adara menelan salivanya, demi Tuhan ia menarik kembali ucapannya mengenai pengawal yang di kirim Rion. Adara sangat membutuhkan itu saat ini.
"Ipek, jangan main-main dengan benda itu," ucap Adara ia berusaha tenang. Senyum sinis tercetak di wajah Ipek.
"Aku sangat kesal Adara. Kau menghancurkan kehidupanku yang nyaris sempurna. Tapi, saat ini aku berusaha memperbaikinya kembali. Jadi, pilihan ada di tanganmu." kata Ipek.
"Kau tidak takut jika seseorang melihatmu membunuhku?" Adara menunjuk Cctv yang menempel di beberapa sudut ruangan itu. Ipek terbahak sebelum masuk ke dalam kafe itu Ipek sudah mengetahui kafe itu ada kamera pengintai. Lagipula ia tidak berniat membunuh.
"Itu hanya kamera yang dapat di hancurkan dalam sekejab." ucap Ipek. " Tinggalkan Mert atau kau kehilangan nyawamu."
"Kau yakin akan membunuhku?" Adara mendekat tanpa takut lalu memukul tangan Ipek tiba-tiba kemudian dengan sigap menarik pinstol dari tangan Ipek lalu menodong perempuan itu.
Ipek meringis kesakitan memengangi tangannya yang dipukul Adara dengan tangan kosong.
"Saat kau menodongkan pistol pada musuhmu, jangan lupa menarik pelatuknya lalu lepaskan!"
Dorr ...
Adara menembak ke sudut ruangan, Ipek terkesiap, menunduk ketakutan. Adara tersenyum sinis.
"Kau bahkan tidak tahu menggunakanya," ucap Adara sinis. "Ipek aku tidak akan meninggalkan Rion juga tidak akan menyerahkan hidupku ke tanganmu. Kau sangat menyebalkan rupanya. Pergi dan jangan mengangguku." Adara melempar pistol itu ke lantai.
Dengub jantung Ipek berkejaran, ia menoleh pada pistol Abizard yang terlempar ke lantai. Adara benar ia tidak tahu menggunakan benda itu. Ipek hanya berniat mengancam Adara tapi, nyatanya dialah yang terancam. Ipek menelan salivanya kasar, ia mengambil benda itu dengan tangannya yang gemetaran. Wajahnya memerah melihat Adara menatapnya sinis.
Ipek menopang dengkulnya hendak berdiri dengan kedua tangannya yang memengan pistol dan tanpa sengaja telunjuk jari Ipek menarik pelatuk pistol itu hingga menembak dengkul Adara.
Dorr ...
Adara tersentak begitu juga dengan Ipek. Wanita itu seolah ketarik kebelakang. Ipek tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa benda itu berbunyi.
Adara terjatuh ke lantai, darah mengucur dari kakinya. Ipek ketakutan, ia menutup mulutnya.
"Da da dara bbukan aku," gumam Ipek, bangun dan ingin menolong Adara namun, ketakutan perempuan itu semakin besar hingga memutuskan keluar dari kafe itu bersama dengan pistolnya.
Bersambung ....