
Setelah melakukan perjalanan delapan belas jam, akhirnya Adara tiba Bandara. Adara didampingi Saida dan Brian langsung ke rumah duka.
Di sepanjang jalan Adara berlinang air mata, sesugukan dengan tubuh berguncang. Saida membiarkan saja, ia tahu menenangkan bukan saat yang tepat. Biar Adara menuntaskan perih dalam hatinya sampai puas, ia tidak ingin keponakanya itu menahan hingga berujung sakit.
Saida hanya menggenggam tangan Adara, sebagai tanda kalau dia ada sisi Adara. Brian turut merasakan duka.
Mobil yang membawa mereka memasuki rumah duka, keluarga dari pihak Lidia sudah berkumpul dan menerima tamu yang datang melayat.
Jie dan Emre turut disana ikut berkabung. Jie, mengesampingkan masalah hatinya pada Emre, pria bodoh itu bahkan belum ingat apa yang terjadi dimalam mereka berciuman. Ia menempel pada Jie, sebagai teman dekat Adara.
"Dara," sapa salah satu kerabat Adara dari Ibunya, memeluk wanita itu dengan erat. Membiarkan ponakannya itu menangis. Dia kakak Lidia yang mengurus segalanya saat mengetahui adiknya berpulang.
Adara melepas pelukan itu, berjalan lunglai menuju peti tempat Lidia berada. Di tatapnya Lidia yang tengah berbaring di dalam sana tampak cantik dan tenang.
"Oh Mama, apa maksudmu? Hah ...? Kau, apa kau akan pergi begitu saja?" Adara berguman dengan getir, mengusap air matanya yang berlinang.
"Aku masih kecil dan butuh kasih sayangmu, kau ingin melepaskan tanggung jawabmu? Hah? Mama, apa yang harus aku lakukan hidup sendirian? Bangun Mama, kau tidak boleh pergi. Mama ... mmm, Lihat aku, Mama."
Adara mengeratkan tangannya di tepi peti yang hanya terbuka menampilkan wajah Lidia, suaranya terdengat menyayat hati. Tak satupun diantara kerabat yang mendekat. Mereka ingin Adara menumpahkan beban dan membuat perpisahan pada Ibunya itu.
"Kenapa secepat ini, Mama? Aku bahkan belum membahagiakanmu. Aku berantakan, aku banyak mengecewakanmu, aku menghancurkan harapanmu." isak Adara, "ah yang benar saja, ini terlalu sakit untukku ...." Adara mengusap hidungnya yang memerah. hatinya terasa perih seolah diremas di dalam dadanya kini tak ada yang tersisa dalam hidupnya selain pilu yang setia memeluk Adara.
"Dara, sudah saatnya kita mengantar ibumu. Kasihan dia sudah kedinginan." Kakak Lidia berbisik, Adara mengangguk, Jie langsung menghampiri membawa Adara ke satu ruangan untuk berganti pakaian sebelum prosesi pemakaman diadakan.
_____________________________________________
Hana mencoba menelpon Rion yang tiba-tiba hilang tanpa jejak. Hana juga mencoba menghubungi kantor tapi Rion tidak ada bahkan Anatha bilang kalau pria itu tidak masuk kerja semenjak hari kemarin.
"Kemana dia? Menghilang seperti setan. Rion ...!" Hana menggeram, menggenggam ponselnya geram.
Calista menyaksikan itu dan tersenyum miring, Hana melihat Calista yang tengah berjalan menaiki anak tangga.
"Calista, kau tahu Rion kemana?" Hana bertanya, menghentikan langkah Calista. Wanita hamil itu berbalik, menatap Hana dengan tenang.
"Aku tidak tahu Ibu, Rion bahkan tidak pernah menganggapku ada. Lalu kenapa aku harus peduli dengannya. Dia pergi kemana saja itu bukan urusanku."
"Apa?" Hana menatap Calista jengkel, wanita itu kembali menaiki anak tangga.
Apa dia pantas disebut seorang istri? Seharusnya dia berusaha mendapatkan hati suaminya bukan malah membalas tingkah Rion.
"Itu sebabnya aku tidak suka dengannya, menyebalkan!" Sungut Hana, sengaja mengeraskan suaranya agar Calista mendengarnya dengan baik. Calista terkekeh, menghentikan langkah kakinya.
"Aku tahu itu Ibu, aku bukan Adara yang bisa menyenangkan hati Ibu. Aku Calista, bukankah seharusnya aku lebih berharga dari wanita itu, Ibu? Wanita itu bahkan tidak bisa memberimu penerus Emirat." Calista mendelik lalu melanjutkan langkahnya.
"Aku penasaran, bayi itu laki-laki atau perempuan?" gumam Hana, ia ingin menendang Calista keluar dari rumah itu.
Rion ...! Aku akan mencekikmu!" Hana geram kembali menghubungi Rion masih diluar jangkauan.
Hana memutuskan pergi sendiri untuk melayat. Ia tidak bisa melupakan Lidia mantan besannya itu. Selama tujuh tahun menjalin keluarga dengan Lidia semua baik-baik saja. Bahkan sampai Adara dan Rion bercerai Lidia tidak banyak mengomentari, atau terkesan menyalahkan Rion. Lidia orang yang care dan lebih bisa menjaga perasaan orang-orang di sekitarnya.
Hana bahkan merasa terpukul mendengar kabar duka itu.
______________________________________________
Hana tiba di rumah duka, ia disambut kerabat Adara. Wanita itu mengenakan pakaian serba hitam. Mendekati Adara yang tengah duduk memeluk photo Lidia.
"Dara ...," sapa Hana, Adara mendongak menatap Hana. Wanita itu menunduk menyamakan posisi dengan Adara lalu memeluk Adara.
"Aku turut berduka cita, Dara. Aku harap kau kembali tegar, semoga ibumu mendapatkan tempat luas di sisi kanan Tuhan." Adara bergeming, lalu tersenyum sinis. Berbisik ke telinga Hana.
"Pergilah, aku membenci putramu. Rion harus membayar ini semua." Hana membeliak, sangat terkejut mendengar bisikan Adara. Ia menatap Adara memastikan apa yang baru saja ia dengar. Mereka bersitatap, Emre yang tengah berdiri tak jauh dari tempat itu melihatnya dan memgundang tanya kenapa dengan raut tegang Hana.
Saida menghampiri, " Dara, ambunlace sudah bersiap kita akan kepemakaman ini sudah sore." Adara mengangguk, Ia bangun dari duduknya dan mengenakan kaca mata hitam menyembunyikan matanya yang sembab.
Hana mundur perlahan, mentok ke dinding ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa Adara menyalahkan Rion atas kematian Lidia. Bukankah dokter bilang kalau Lidia meninggal karena serangan jantung? Ya, begitulah kabar yang tersiar mengenai kepergian Lidia. Dimana Rion? Kemana perginya si bodoh itu. Apa benar Rion ...
Tangis Adara masih pecah saat peti itu utuh di tutup rapat.
Peti jenasah diangkat menuju ambulance dan kerabat mengikuti dari belakang. Jie, membantu Adara masuk ke dalam mobil dan beriringan ke pemakaman.
Hana, keluar dari rumah duka sekuat tenaga yang ia punya, masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menghubungi Rion. Masih sama, putranya itu menghilang seolah ditelan bumi.
"Rion dimana kau, sayang?"
Tangan Hana bergetar, lagi-lagi mencoba. Ia murka membating ponselnya di jok penumpang.
Rion harus membayar ini semua.
kata -kata itu terngiang-ngiang di telinga Hana. Berdentam masuk kedalam pikiranya dan memukul hatinya. Ia kembali mengingat kalau Rion akan menikahi Adara.
Apa Rion melakukan ini karena tidak mendapat restu dari Lidia. Ah, tidak putraku orang baik-baik dia tidak mungkin melakukan hal keji. Adara salah, dia sangat salah.
Kemana Rion? Aku akan mati Rion. Di mana kau bodoh?
______________________________________________
Sekembalinya dari pemakaman, Adara memilih istirahat sementara kerabat masih sibuk melayani pelayat yang datang untuk menguatkan keluarga.
Adara lelah, ia bahkan tidak ingin bertemu siapapun. Duduk di lantai, memeluk kedua kakinya merapat ke dadanya. Sampai ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Dengan malas Adara membuka pintu Emre dan Jie datang.
"Aku ingin istirahat, Jie." Adara menarik napas, wajahnya lengket oleh air matanya. Jie memeluk lalu membawa Adara masuk ke tengah ruang kamar.
"Yang sabar ya, Dara. Jangan merasa sendiri, kita ada kok untukmu." ujar Emre duduk di tepi kasur Adara.
"Emre benar, kita keluarga." Tambah Jie yang ada di sisi kira Adara menguatkan. Adara mengangguk, menatap kedua temannya itu bergantian.
"Terima kasih." gumamnya.
"Kau boleh tidur, kalau kau mau aku dan Jie akan menjagamu di sini." Emre, merapikan rambut Adara yang berantakan. Wajah Jie pias melihatnya. Ada yang salah pada hatinya mengenai Emre.
"Iya kan, Jie?" Tanya Emre pada Jie, perempuan itu mengangguk cepat, tersenyum pada Adara.
"Terima kasih, tapi aku ingin sendiri. " ucap Adara, menghembuskan napas melegakan hatinya. Jie dan Emre saling tatap lalu mengangguk.
"Dara, aku akan ada untukmu, aku tidak akan pulang. Aku ada di bawah. Kalau kau butuh sesuatu hubungi aku ya." ujar Emre lembut.
Adara mengangguk. Jie melihat Emre yang begitu khawatir pada Adara. Hatinya merasa aneh, ingin marah, sedih tapi ia tak punya hak untuk itu. Emre bukan siapa-siapanya. Salahnya sendiri jika menaruh hati pada pria yang tengah tergila-gila pada wanita lain.
Sementara di tempat lain, Hana masih berusaha menghubungi Rion. Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat supaya tak seorangpun yang mendengarnya jika Rion mengangkat telponnya.
Tersambung
Hana menelpon menggunakan aplikasi WhatsApp.
"Mama ...," sahut dari seberang dengan nada tenang. Berbeda dengan Hana yang sudah mengeluarkan tanduk tinggi-tinggi.
"Kau di mana?" Hana bertanya setengah berbisik.
"Kenapa?"
"Rion, kau dimana?"
"Di London."
"Apa?" Hana berteriak kali ini ia tidak menjaga suaranya. "Apa yang kau lakukan disana, Rion?"
"Kenapa mama berteriak, aku sangat kesal. Adara tidak mengangkat telponku untuk menjemputku di bandara, sekarang aku sedang istirahat di hotel."
"Kau, Kau kesana untuk Adara?"
"Mmm, aku akan menyeret kakinya pulang." Hana menghembuskan napas panjang.
"Sejak kapan, Rion?"
"Kemarin!"
"Kau tidak tahu kalau Lidia meninggal?"
"Siapa Lidia, kenapa dia meninggal?"
Hening.
Hana bahkan tidak tahu menjelaskannya. Putranya itu seolah hilang akal dengan cintanya pada Adara. Pikiran dan fokusnya hanya pada Adara seorang. Kemudian seketika Rion berteriak.
"Apa? Suara terkejut yang luar biasa memukul gendang telinga Hana. "Maksud mama, Mertuaku?"
"Pulanglah, aku ingin bicara denganmu ini masalah serius Rion. Hari ini mantan mertuamu di makamkan. Adara sudah di sini."
"Apa yang terjadi, Ma." Telpon terputus, Hana mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Menarik napas berat. Memikirkan apa yang dikatakan Adara padanya.
Saat Adara menolak kembali, Rion menyusul ke London sementara Adara meninggalkan London begitu menerima telpon kematian Lidia.
Bersambung...
Foto gugel. Mert Yazicioglu ( Rion)
Mert " Tampan begini di tuduh pembunuh, mana lu Thor biar lu aja yang gue kulitin.
Author : ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜