OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Sejak kapan kau tidak setia



"Apa yang kau bicarakan? Itu tidak benar." Adara memejamkan mata, kecewa. Suaminya itu masih saja menyangkal.


"Ion," ucap Adara, melepaskan tangan Rion dari lengannya. "Kau masih menyangkal? Hari ini kau ke rumah sakit bukan? Apa yang kau bicarakan dengan dokter itu, aku mendengarnya."


Rion menggeleng-gelengkan kepala, masih berusaha menyangkalnya, di saat bersamaan Hana melayangkan tatapan tajam ke arah Rion. Putranya itu entah mengapa pergi ke rumah sakit.


Sangat bodoh, batinnya mengepal kedua tangannya.


"Dara ...," gumam Rion, meraih tubub Adara.


"Jangan sentuh!" Adara menghempaskan tangan Rion, lalu menoleh pada mertuanya. "Mama tahu itu, kan? Mama wali mereka? itu sangat menyakitkan, Mama." Adara menangis, mendorong Rion untuk memberinya jalan menjauh dari sana.


"Dara ...."


"Adara ...."


Panggil keduanya bersamaan, melihat Adara berlari menuruni anak tangga hendak keluar rumah. Rion mengejarnya dan menarik tangan istrinya itu sebelum berhasil membuka pintu. Adara berbalik dan menghatam dada Rion.


"Jangan! Kau tidak boleh pergi." Kata Rion memeluk erat tubuh Adara.


"Lepaskan, Rion." Adara berontak berusaha melepaskan diri.


Hana memijit kepalanya yang terasa pusing. Semuanya berantakan karena kebodohan putranya. Ia hanya bisa menatap kedua orang itu dari lantai atas. Dua orang yang saling mencintai terusik karena satu kesalahan.


_____________________________________________


Adara lelah menangis, sekeras apapun ia melepas dirinya dari Rion tetap tidak berhasil. Suaminya itu mendekapnya, lalu membawa Adara dalam gendongannya ke dalam kamar. Istrinya itu kini berbaring tertidur setelah kelelahan menangis seperti anak kecil.


Rion duduk di tepi ranjang, menatap Adara yang meringkuk menghadapnya.


Maafkan aku Dara, kau boleh marah, menyakitiku sepuas hatimu tapi jangan membenciku. Apalagi berniat pergi, aku tidak bisa hidup tanpamu.


Rion, membelai pipi Adara lembut lalu menundukkan kepala mencium sudut bibir istrinya itu.


Aku mencintaimu batinya, ia menatap Adara dengan tatapannya yang hangat, sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar dan mengunci pintu dari luar.


Rion berjalan menuju kamar Hana, mengetok dan langsung masuk.


"Mama," sapa Rion, menghampiri Hana yang sedang berdiri memandang halaman belakang dari kaca pembatas balkon.


"Apa yang kau lakukan ke rumah sakit, Rion?" Tanya Hana tanpa mengalihkan pandangannya.


"Apa itu sekarang penting, Ma?" Hana mengumpat dalam hati. Sibodoh ini!


"Bagaimana keadaanya?"


"Ia tertidur, mungkin karena lelah. Apa yang harus aku lakukan, Ma?"


"Kau sangat menyebalkan," Hana menghela napas panjang. Berjalan ke sofa dan duduk di sana. "Jangan bilang, bayi itu benar-benar anakmu?" tanya Hana, melirik Rion yang masih mematung di tempatnya.


Rion ingat, kalau malam itu benar-benar membuatnya terbuai oleh sentuhan Calista, tubuh mereka seolah meminta satu sama lain untuk menyatu. Andai malam itu tidak terjadi badai dan mengharuskan mereka menginap di penginapan kecil yang hanya meyisahkan satu kamar tentu kejadian memalukan itu tidak akan terjadi.


"Rion ...?" Panggil Hana membangunkan Rion dari lamunanya. "Kau yakin itu bayimu?"


"Entahlah,"


"Lalu kenapa kau rumah sakit? Apa yang kau lakukan di sana? Atau jangan -jangan kau ingin ...,"


"Iya itu benar, seperti dugaan Mama. Aku kesana untuk meminta dokternya memalsukan tes DNA itu andai hasilnya positif." Sahut Rion, menjawab dugaan Ibunya.


"Lalu apa?" Bentak Hana.


"Mama, aku tidak takut kehilangan bayi itu," sahutnya kesal, " aku lebih takut kehilangan Adara." Tambahnya.


"Apa kau putraku, Rion? Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Aku membesarkanmu dengan cinta, segala hidupku kuserahkan untukmu. Papamu juga melakukan itu semasa hidupnya, tapi sekarang kau menunjukkan sifat kurang ajarmu dan itu membuat Mama seperti gagal mendidikmu menjadi seorang manusia." Hana kesal, mendengar kata-kata egois yang di lontarkan Rion.


"Mama tahu kau sangat mencintai Adara, tapi kau tidak boleh berasalan mengabaikan bayi itu."


"Mama ..., aku melakukan itu untuk mempertahankan pernikahanku dengan Adara." ujar Rion, mengambil posisi duduk di sofa menghadap Ibunya.


"Rion, mulai sekarang hubunganmu dengan Dara tidak akan sama seperti beberapa jam lalu," Hana berujar, "Kepercayaanya sudah hancur."


"Saat ini, bukan penghianatanmu yang menyakiti hatinya tapi dia terpuruk saat mengetahui kau akan punya anak dari wanita lain yang belum bisa dia berikan padamu."


"Karena itu aku tidak ingin anak itu,"


"Mama ingin bayi itu jika hasilnya positif."


"Mama, aku bisa memiliki bayi dengan Adara,"


"Rion!" Hana menggeram, "apa kau pikir aku tidak peduli dengan Adara? Tunggu sampai tes DNA keluar akan kuputuskan yang terbaik buat kalian."


Rion menghela napas panjang, bangun dari duduknya dan kembali ke kamar.


Membuka pintu pelan, supaya Adara tidak terbangun. Tapi saat ia masuk, Adara sudah bangun dan duduk di atas tempat tidur memeluk kedua kaki merapat ke dadanya.


Rion menghampiri, ragu-ragu duduk di tepi ranjang. "Hun, makan ya ini sudah malam,"


Dasar sialan! Kau pikir aku bisa makan dalam keadaan begini? Aku ingin mati saja.


"Aku ambilin ya," bujuk Rion, mengelus kepala Adara. Adara membisu mengabaikan ketulusan Rion. Berpikir Adara sudah lapar dan haus, Rion tergerak hendak keluar kamar mengambil makanan.


"Sejak kapan kau tidak setia padaku, Rion?" Tanya Adara, menghentikan langkah kaki suaminya itu. Mendengar itu Rion memejamkan matanya. lalu berbalik melihat Adara yang menatapnya dengan mata sembab.


"Aku tidak pernah menghianatimu, Dara." ujar Rion.


Adara terseyum, "wanita itu hamil," Adara menggeramkan kalimatnya.


"Dara dengar, aku mengakuinya. aku tidur dengan wanita itu," Rion mendekat, duduk kembali di tepi ranjang. "itu hanya sebuah kesalahan yang tidak sengaja. Aku dengannya hanya satu—,"


"Kapan itu terjadi?"


"Itu tidak penting, " Rion meraih tangan Adara.


"Lepaskan! Jangan menyetuhku!" Adara menarik tangannya kasar.


"Dara ...,"


"Apa salahku, Ion? Kenapa kau tidak setia? Apa karena aku belum bisa memberimu keturunan? Kenapa kau tidak sabar menunggu anak dariku? Kenapa? Kenapa, kau jahat? Kau bilang kau cinta, sayang, aku oksigen dalam hidupmu, kau benar-benar sialan, Rion!" Adara, menarik rambut Rion, membuat kepala pria itu bergerak ke kiri dan kekanan. Rion diam menerima apapun yang akan membuat Adara puas.


"Dara." gumam Rion setelah terlepas dari siksa istrinya. "maafkan aku, sungguh aku minta maaf."


"Apa kau mencintainya?" tanya Adara penasaran.


Rion menghembuskan napas kasar. " aku tidak pernah mencintai wanita lain selain kamu!"


"Cinta? kau sudah membaginya,"


"Cuma kamu!"


"Lalu kenapa wanita itu hamil!" teriak Dara memenuhi ruangan itu.


Rion menyugar rambutnya kasar.


"Hubungan satu malam, anggap saja aku meniduri p*lacur. Cukup dan jangan bahas! Paham?" Rion berdiri dan menatap tajam Adara.


"Aku berharap apa yang kudengar hari ini adalah mimpi buruk, tapi saat aku terbangun rasanya sangat sakit. Semua nyata." Adara menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar.


"Dara ...," Adara melebarkan matanya menatap Rion, seolah memberi peringatan untuk tidak menyebut namanya. " Baiklah, aku akan minta Lulu mengantar makan malammu," katanya pergi dari dalam kamar itu.


Bersambung ....


Catatan kecil : Boleh dong minta like


: Boleh dong minta poinnya🤗


: Boleh dong minta klik ❤️


: Boleh dong minta klik Rate 5


Yang berkenan terima kasih, karena sudah bantu author!