OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Cium aku Rion



"Ibu ...," Adara menjentikkan jemari di depan wajah Hana, Hana terkesiap dari lamunannya.


"Jadi?" Tanya Adara, Hana menggeram kesal dengan terpaksa mengangguk. Setuju.


Terdengar Rion memanggil lagi, kali ini pria itu sudah tidak sabar. Kakinya digerakkan menginjak lantai.


"Rion, tetap disana!" Peringat Adara, saat melihat Rion hendak berdiri. Rion kembali duduk di tepi ranjang, kepalanya berdenyut sementara rasa nyeri masih terasa hebat di punggungnya. Rion menggeram kesal.


"Katakan apa syaratnya?" Hana meringis melihat Rion.


"Belajarlah menerima Illy, saat ibu pulang luangkan tiga jam untuknya bermain."


"Tidak akan."


"Kalau begitu aku pulang," Adara menoleh pada Rion. "Dia pasti mengejarku dengan luka di tubuhnya itu."


"Baiklah, hanya tiga jam." Hana mengalah


"Tiap hari."


"Apa?" Hana menggeram kesal, seandainya Rion putranya mengenalinya sudah pasti Adara di jambaknya seperti dalam lamunannya. "Setuju, ini semua demi Rion. Aku juga tidak yakin Rion menerima anak itu begitu tahu ibunya manusia jahat." Hana mendesis.


"Akan kubuat dia menerima Illy, Bu." gumam Adara.


"Lakukan sesukamu." Hana mengibaskan tangannya kemudia melangkah mendekati Rion. Hana duduk di tepi tempat tidur Rion, menangkup wajah Rion yang masih setia memandangi Adara.


"Rion, saat kau pulih dari lukamu. Cobalah ingat siapa aku. Aku tidak akan memaksamu sekarang." ucap Hana, membelai wajah Rion, dengan alaminya Hana menitikkan air matanya.


Rion putranya yang menghilang selama dua tahun lebih kini kembali, Hana bersyukur sekalipun Rion tidak mengingatnya.


Rion mengangkat tangan dan menyeka pipih basa Hana. "Ceritakan siapa dirimu, aku akan mencoba mengingatnya." ucap Rion lembut, kisah lamanya hanya Adara yang terbawa jelas. Hana menggeleng, ia tidak ingin Rion menahan semua rasa sakit bersamaan. Untuk sementara biarkan saja begitu adanya, toh Rion mengingat Adara. Ia yakin mantan menantunya itu akan membantunya.


"Istirahat yang banyak, aku akan kirim makanan kesukaan kamu." ucap Hana, menepuk-nepuk wajah Rion, kemudian bangun dari duduknya dan berniat pulang.


Hana meraih handle pintu, "Ibu, tiga jam sehari." Adara mengingatkannya, tanpa mencoba protes Hana mengangguk.


"Kemarilah ...." Rion mengulurkan tanganya meraih Adara. Wanita itu bergeming, memandangi Rion yang tampak lebih dewasa dan tentu masih penuh pesona.


"Apa aku harus menggendongmu dari situ, Dara?"


Adara menautkan kedua alisnya, pria ini masih suka bertindak sesuka hati. Hati Adara menolak tapi kakinya seolah bersekutu dengan Rion. Ia melangkah mendekat.


"Apa yang menahanmu, Dara." Begitu Rion bisa menjangkau, ia langsung menarik tangan Adara dan menempatkan wanita itu duduk di pangkuannya. Adara terpekik, sementara Rion menahan denyut luka tembak yang ia dapat.


"Rion lepas, kau harus istirahat banyak." ucap Adara, ia melihat wajah merah Rion seolah menahan sesuatu.


"Kau kesakitan? Akan aku panggilkan dokter." Adara tampak panik, ia ingin beranjak dari pangkuan Rion namun tertahan tangan pria itu.


"Apa yang bisa mereka lakukan. Tetap saja menyutikkan obat penghilang nyeri aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kamu, Dara." bisik Rion, ia menyibak rambut Adara ke satu sisi hingga menunjukkan leher jenjang dengan warna kulit pucat milik Adara. Rion menelan salivanya kuat-kuat.


"Rion ...," desis Adara menyadari Rion terdiam, melihatinya. Rion menggelengkan kepala menahan kerinduannya pada wanita di pangkuanya ini, kemudian mengembalikan posisi rambut itu dan menutupi leher yang sangat menggoda itu.


"Oh iya honey, masalah ingatanku. Aku belum ingat semuanya. Aku sangat penasaran tentangmu selama kita tidak bersama." ucap Rion.


"Selain aku apa ada sesuatu yang kau ingat?" tanya Adara, ia berusaha melepas jalinan jari-jari Rion yang melingkar di pinggulnya.


"Diam Dara kau akan membangunkan sesuatu yang masih tertidur." gumam Rion saat merasakan Adara bergerak-gerak dalam pangkuannya. Seketika Adara terdiam dan mematung. Melihat reaksi Adara, Rion tersenyum kemudian ia melabuhkan ciuman di pipih Adara. Wanita itu terkesiap.


"Aku ingat aroma tubuhmu, Dara. Shampo dan soap yang kau gunakan masih sama saat kau jadi istriku. Selain itu aku sangat merindukan bibirmu."


"Aku mencintaimu, hanya itu yang aku ingat."


"Awaslah, kau sangat menjengkelkan."


"Apa aku salah?"


"Katakan sesuatu, Rion. Misalnya mengenai Ipek." Adara spontan menutup mulutnya, ia melihat sorot Rion tajam.


"Jangan marah, aku akan mengirimu ke planet kalau kau marah. Aku bukan Adara yang lemah."


Rion menghela napas panjang, "kau sangat menggemaskan saat marah,"


"Menyeramkam Rion! Menyeramkan! Kau pikir aku —"Adara membeliak, saat Rion menyerang bibir Adara dengan bibirnya. Menyesap sangat keras dan dalam. Ciuman egois penuh gairah, hingga Adara merasakan sesak seolah kehilangan napas. Rion melepaskan ciuman itu dan Adara menginginkannya tentu dengan gerakan lembut.


Adara menelan salivanya, ia tersulut hasrat tatapannya sudah berkabut. Ia mendamba ciuman itu tapi sangat memalukan jika ia memintanya.


"Ciuman aku, Rion." bibir itu seolah bersekutu dengan Rion padahal Adara sudah berusaha menolak keinginannya.


Rion tersenyum puas, kemudian menangkup kedua sisi wajah Adara dan melabuhkan ciuman lembut dengan tempo yang lama. Lu*mtan - lu*mtan intens mereka lakukan dengan nikmat.


Adara merasakan sesuatu menonjol di balik celana Rion. Ia merasa tidak nyaman duduk di panggkuan pria itu sementara bibir mereka masih bercinta tanpa berniat berhenti.


Adara mendorong dada Rion pelan, meminta jeda untuk ia mengambil napas. Rion melepas pertautan mereka dengan napas terengah. Wajah Rion pucat penuh gairah, ia menggeram menahannya.


"Aku sangat menyesal, aku tidak bisa membawamu dalam kehangatan lebih." gumam Rion, membenci dirinya. Ia ingin memesrai Adara lebih jauh lagi atau sampai kedalam intim.


"Aku mencintaimu, Dara. jangan bicarakan wanita itu lagi." Tambah Rion mengangsurkan ibu jarinya membelai pipih Adara lembut. Adara merasa lega meski mencela dirinya karena terlalu muda tergoda oleh ciuman panas Rion.


Aku bahkan meminta pria ini menciumku.


Sesaat suasana hening, keduanya hanya saling tatap dan mencoba memahami apa yang telah terjadi di antara mereka.


"Bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini? Pasti sulit, bukan?" tanya Rion, Adara masih berada dalam pangkuannya.


"Setiap hari terasa sulit, Rion. Aku berjalan membawa beban di pundakku. Semenjak kau hilang semua orang yang mencintaimu menghukum diri. Wanita tadi yang memandangmu lembut, dia ibumu yang melahirkanmu dan mencintaimu dengan segenap hidupnya. Dua tahun ini dia menghukum dirinya dengan duduk di kursi roda." desis Adara, netra indah itu mulai berkabut.


"Aku sangat membencimu tapi lihatlah diriku ini, aku bahkan merindukan sentuhanmu, ingin berada dalam dekapanmu. Dibawah tubuhmu aku merindukan semuanya." gumamnya, bibir basah nan ranum itu bergetar menahan tagisnya ingin pecah.


"Kau harus membayar semua lukaku, Rion. Kau harus bertanggung jawab atas kesedihan yang aku rasakan. Aku membencimu, seandainya kau menerima perceraian itu, kejadian menyakitkan ini tidak akan terjadi ...." Adara memukul-mukul dada Rion, sembari terisak.


"Sttsss ..." Rion membawa Adara dalam dekapannya. "mulai sekarang aku akan mengobati luka itu, Dara. Aku akan membayar setiap tangismu dengan senyuman. Aku berjanji tidak akan mengizinkan air mata kesedihan keluar dari netramu selain air mata kebahagian tapi saat air matamu keluar karena debu jangan salahkan aku untuk itu." ujar Rion dan seketika mendapat pukulan keras di dadanya.


Adara merenggut mendengar ucapan Rion.


"Auh ...Dara, jangan pukul honey, tapi cium aja."


"Jangan harap." Adara kembali menenggelamkan wajahya dalam dada pria itu. Rion tersenyum, di peluknya erat wanitanya itu mengabaikan denyut pada punggungnya. Ia bersyukur bisa kembali meski harus berjuang mendapatkan semua ingatannya.


"Dara, saat di kota pesisir aku melihatmu dengan seorang gadis kecil. Siapa dia?" tanya Rion.


Bersambung ...


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.