
Adara membuka pintu saat melihat Rion lewat kamera pintu.
"Rion,"
"Bawa kembali pakaiamu kita pulang." Tanpa basa-basi Rion menerobos masuk, dan menarik lengan Adara.
"Pulang kemana? Ini rumahku." Adara mencoba melepaskan tangan Rion dari lengannya. Tapi itu sia-sia tangan kokoh itu bahkan tidak bergerak.
"Dara!" Rion semakin mengeratkan genggamanya. Adara meringis, seketika Rion melepasnya.
"Apa sakit? Maaf, Honey," Rion merasa menyesal
"Aku sudah terbiasa semenjak kamu gila," jawab Adara ketus sembari mengusap-usap lengannya.
"Ck, kemarilah ...," tanpa bisa ditolak kini Adara sudah berada dalam pelukannya. Rion mendekap, membenamkan kepala Adara dalam dadanya. Pria itu mengedarkan tatapannya ke segala arah. Rumah itu amat besar dan terasa sepi untuk Adara tinggal sendiri.
"Apa yang akan kau lakukan tinggal sendiri di rumah ini?" Rion, menangkup kedua sisi wajah Adara dengan telapak tangannya yang lebar. "Kenapa tidak menungguku tadi?" tanya Rion lagi sembari memandangi wajah mungil Adara.
"Kau pasti tidak mengijinkan aku keluar dari sana."
"Itu sudah pasti, dengar ... aku akan membawamu pulang. Dirumah itu kau seorang istri, ibu dan menantu,"
"Ck, tidak lagi Rion,"
"Siapa bilang tidak?"
"Aku," Lamar aku bodoh ....
"Dara aku mencintaimu, ayo kita menikah." Adara mendongak melihat kesungguhan pria itu lewat tatapannya.
"Kau tidak romantis, lamar dengan cara yang lain. Dulu juga saat kau melamarku pakai cara mengancam mati."
"Kapan?" Rion melepas tangannya dari wajah Adara. Menaikkan sebela alisnya penasaran.
"Dulu saat kau menabrakkan mobilmu karena aku menolak menikah muda,"
"Jangan bercanda aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu,"
"Sudahlah," Adara mencebik lalu berjalan ke arah sofa dan menempatkan dirinya di tempat duduk empuk itu.
"Jadi, kau mau aku lamar seperti apa?" Tanya Rion, setelah duduk dan menarik Adara ke pangkuannya.
Adara berdecak berusaha melepaskan diri, " Rion jangan dekat-dekat,"
"Dara, diam ...." Adara menghela napas panjang. Pasrah.
"Makan malam romantis? Diiringi musik lalu saat kau meminun wine atau apalah itu ada cincin dalam gelasmu. Kau mau yang seperti itu?" Rion terkekeh mengingat sebuah filim saat melakukan adegan itu.
"Tidak buruk,"
"Aku tidak mau melakukan itu," gumam Rion. Adara berdecak.
"Kalau begitu cara yang lain,"
"Akan aku pikirkan," Adara tersenyum, ia ingin pria itu melamarnya seperti di cerita -cerita novel atau filim yang suka ia tonton saat senggang.
Rion menangkup dagu Adara, dan membawah ke tatapannya lalu melabuhkan ciuman mesra di bibir tipis itu, Adara membalasnya dengan cara yang lembut. Rion menggigit kecil bibir bawah Adara tidak sakit tapi seksi. Ciuman itu semakin panas dan liar, Rion menguasai bibir Adara sepuasnya, mengisap sebanyak yang ia mau. Tangannya mulai melepas gaun malam Adara, dan setelah gaun itu lolos ia mengecupi lekukan lehar hingga berhenti di lengan.
Rion menghentikan gerakannya, saat melihat bekas luka di lengan Adara.
"Rion ...," desis Adara, ia benci kenapa pria itu berhenti.
"Honey, dari mana kau dapat luka ini?" Tanya Rion, menyentuh bekas lukas itu dengan jarinya. Adara spontan menutup bekas luka itu dengan tangannya. Ia beranjak dari pangkuan Rion dan menarik kembali gaun yang sudah melorot dan mengenakannya kembali. Sementara Rion masih terpaku.
"Pasti kelihatan buruk ya?" tanya Adara, mengusap-usap lengannya.
"Jangan bilang itu terjadi karena aku?" Adara menggeleng cepat.
"Pasti karena aku kan, Dara?" Rion menarik tangan Adara kembali ke pangkuannya.
"Ceritakan!"
"Calista," gumam Adara.
"Dia menyakitimu?" Rion menggeram kesal.
"Dia menginginkan semua hartamu, aku tidak setuju jadi dia menusukku dengan pisau buah . Tidak dalam tapi saat itu aku ingin sekali luka itu meleyapkanku." Rion memeluk Adara erat, kemudian Adara merasakan tubuh pria itu bergetar menangis.
"Rion ..., kenapa kau menangis? Seperti bukan dirimu." Adara mendorong pelan tubuh Rion memberi jarak di antara mereka, lalu menyeka air mata pria itu.
"Aku terlalu banyak menyakitimu, Dara. Pasti sangat sulit bagimu selama ini. Maafkan aku Honey. " Rion terisak, pria itu terlihat cengeng tidak seperti beberapa saat lalu. Tanpa malu memperlihatkan betapa hancurnya hatinya.
Adara mengecup bibir Rion lembut. "Saat kau kembali, semuanya sudah aku lupakan." ucap Adara, meraih kedua lengan Rion dan memejamkan matanya. Minta di cium.
"Aku akan membawamu ke kamar," Spontan Adara membuka matanya.
"Kau belum menikahiku, kita tidak boleh melakukan itu." protes Adara. Rion mengerutkan dahinya.
"Kita hampir saja melakukannya, Honey," balas Rion, meniup mata Adara.
"Karena itu jangan ke kamar," Adara merendahkan kepalanya, malu.
"Baiklah Honey, aku tidak akan menyentuh bagian yang itu," Rion mengerlingkan matanya membuat Adara semakin malu. "Tapi ... ini semua kapanpun dimanapun aku akan menyentuhnya, sesuka hatiku." Rion mengecupin semuan bagian yang ia sebutkan.
"Tidak akan kubiarkan ...," Adara mencoba mendorong dada Rion saat tangan nakal itu menyelinap ke dalam gaun Adara.
Rion terkekeh, ia tidak ingin memaksa lalu membawa Adara kembali kedalam pelukannya.
"Honey. Kau yakin tidak mau pulang denganku? Biar aku yang keluar dari sana untuk sementara waktu,"
"Kau baru kembali Rion aku tidak mau mengecewakan Ibu dan juga Illy,"
"Illy mencarimu tadi,"
"Aku sudah telpon dan bilang kalau aku ke luar kota," kata Adara, sebelum Rion tiba Adara menghubungi Illy supaya putrinya itu tidak mencarinya.
"Baiklah, ayo aku antar ke kamar,"
"Ngapain?"
"Setidaknya aku akan menjagamu sampai kau terlelap,"
Adara bersemu, "aku bisa tidur sendiri, pulanglah Illy pasti menunggumu."
"Setelah kau tidur," Rion hendak mengangkat tubuh Adara dan dengan cepat Adara menolak, mengingat luka pada punggung Rion belum pulih.
"Jangan melakukan hal bodoh, kau bisa terluka nanti," Adara mengulurkan tangannya dan membawa Rion menaiki anak tangga hingga ke kamar.
"Sungguh aku bisa tidur sendiri,"
"Aku tahu Honey," Rion berbaring miring, tubuhnya belum bisa terlentang karena luka tembak itu. Rion menepuk lengannya supaya Adara menempatkan kepalanya disana.
"Aku mencintaimu," bisik Rion, membelai rambut Adara dan menarik wanita itu menempel padanya.
"Aku juga mencintaimu, Rion. Kalau aku sudah tidur pulanglah, jangan lupa saat Illy bangun berikan dia ciuman pagi."
"Bagaimana dengamu? Apa aku harus datang memberi ciuman selamat pagi juga?" Tanya Rion, mengecup pucuk kepala Adara.
"Dasar kau ini." Adara melingkarkan tangannya pada tubuh Rion dan menikmati hangatnya tubuh pria itu juga belaian tangan Rion pada rambutnya sampai ia terlelap.
______________________________________________
Jie merasa pusing dalam tiga minggu ini ia merasa tubuhnya lelah dan juga selera makan gadis itu hilang. Entah kenapa, Jie sering merasa lelah padahal sudah mengurangi aktifitasnya di kafe.
Seperti siang ini, pandanganya nanar dan merasa kepalanya berputar-putar. Ia ingat sedari pagi dirinya belum mengisi perutnya.
Brak ...
Jie terjatuh membuat suasan kafe riuh, membuat panik pekerjanya. Tubuh Jie di bopong masuk ke ruang istirahat dan dibaringkan di sofa.
"Nona, Jie." Berulang kali tubuh Jie diguncang mencoba menyadarkan Jie. Beruntung minyak telon yang aromanya hangat mampu menyadarkan Jie dari tidurnya.
Jie perlahan membuka matanya, melihat sekitar kemudian berdecak. "apa yang terjadi, Bahar?" tanya Jie pada salah satu pekerjanya.
"Nona pingsan," Bahar membantu Jie untuk duduk.
"Saya mau pulang tolong kau handle pekerjaan saya." ucap Jie, mencoba bangun dari duduknya.
"Apa Nona Jie bisa pulang sendiri?"
"Mmm, jangan khawatir." ujar Jie, keluar dari ruangan itu dan mengambil tasnya di meja kasir.
Jie menepikan mobilnya di pinggir jalan dan membuka jendela mobil itu kemudian memperhatikan apotek yang tak jauh dari jalan itu. Ia ingin mampir dan membelikan sesuatu di dalam sana.
Jie memutuskan keluar dari mobil dan berjalan ke arah apotek itu lalu meminta tes kehamilan.
Jie meminta beberapa dengan merek yang berbeda dan segera memasukkannya ke dalam tasnya. Setelah melakukan pembayaran Jie segera meninggalkan tempat itu.
Bersambung ....