
Rion bersiul kembali ke kediaman Emirat, binar matanya bahagia. Saat berpapasan dengan Hana ibunya, ia langsung memeluk dan mencium pipi Hana.
Hana terkejut, mengerutkan kening penasaran apa yang membuat putranya itu bahagia. Hingga terlihat dunia serasa miliknya. Hana ingat perkataan Adara saat mereka bertemu. Seketikan wajah Hana pias.
"Ada apa sayang? Kau terlihat bahagia," Rion mengangguk semangat, menghempaskan tubuhnya di sofa. Mengingat kembali percintaannya dengan Adara beberapa jam lalu.
Ia tersenyum, saat mengatakan pada Adara. "Aku berharap benih yang aku tanam tadi tumbuh di dalam rahim kesayaganku ini." ucapnya sambil membelai perut datar Adara dan mengecupinya membabi buta.
"Mmm, aku menghabiskan waktu dengan Dara, calon menantu mama." ucap Rion dengan lugas, Hana kaget mendengarnya.
"K-kalian mau rujuk kembali?" tanya Hana menatap Rion.
"Rencanaku begitu, Ma."
"Bagaimana dengan Adara?"
"Aku akan menyakinkannya."
"Rion ..., bagaimana dengan Calista?"
"Aku akan bertanggung jawab penuh pada bayi itu, kalau Calista tidak setuju aku rujuk dengan Adara dia bisa pergi."
"Kenapa begitu gampang untukmu mengatakan itu?"
"Mama, aku tidak ingin menghabiskan waktu bersama orang yang tidak aku cintai. Adara hidupku, aku akan menikahinya kembali."
Rion bangun dari baringannya dan ingin ke kamar. Keinginannya tidak ingin dibantah oleh siapapun termasuk Hana. Tanpa ia sadari Calista yang tengah berdiri di tengah tangga mendengar segalanya. Calista mengepalkan tangannya ketika melihat Rion menatapnya dari bawah tangga.
"Kau pasti mendengar segalanya, Calista. Ya, apa yang aku katakan tadi benar adanya. Mari kita akhiri hubungan ini setelah kau melahirkan. Maaf ini terdengar kejam tapi akan lebih kejam jika kau hidup denganku yang sama sekali tidak mencintaimu. Kau berhak bahagia dengan orang yang mencintaimu." Rion dengan tegas mengatakannya. Calista hanya terdiam, menahan sakit hatinya.
Pria itu menaiki anak tangga, melewati Calista yang masih berdiri tanpa suara. Hana menghembuskan napas panjang, sembari menggelengkan kepala melihat sikap Rion yang seenaknya.
Tidak akan kubiarkan Rion. Tidak akan! Batin Calista
______________________________________________
Adara mengaduk kopinya berulang kali di atas meja, ia merutuki kebodohannya yang telah terjadi. Mencibir kalau ia sama dengan wanita murahan yang menjajalkan diri. Ah bukan! Dia bahkan menganggap dirinya lebih rendah dari wanita yang menerima jasa pemuas nafsu para pria hidung belang. Mereka di bayar sementara dia?
Adara tersenyum mengejek dirinya sendiri. yang begitu hina. Kenapa hidup begitu rumit?
Lidia memperhatikan Adara dari jauh. Tatapan kosong Adara seolah menyiratkan penyesalan luar biasa. Lidia menghampiri.
"Kopimu sudah dingin," ujar Lidia menyadarkan Adara dari lamunannya.
"Oh," lirih Adara memperhatikan gelas berisi kopi itu. Kedatangan Lidia membuatnya kelimpungan.
"Apa terjadi sesuatu?" Lidia membuatkan kopi baru, sementara Adara memilih duduk di meja makan.
"Mama, aku berpikir akan pergi ke London."
Lidia berhenti mengaduk kopi yang ia seduh. Meletakkan sendok lalu memberikannya pada Adara.
"Kenapa begitu mendadak?" Tanya Lidia, menarik kursi untuknya, mereka bertatap muka.
Aku ingin lari dari semua ini, persetan dengan Rion yang gila. Dia bisa mati kapan saja kalau dia mau.
"Sebenarnya Dara sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari. Hanya saja aku berpikir dua kali. Dara takut meninggalkan mama sendirian."
"Kau menjadikan aku alasanmu? Anak ini." Lidia mengelus tangan Adara yang ada di atas meja. "Pergilah, tenangkan hatimu."
Adara tersenyum, "aku akan kuliah disana, Mama." kata Adara, mengatakan rencana dadakannya. "Ikutlah denganku, Ma." Pinta Adara.
Lidia tertawa kecil, " apa yang bisa aku lakukan di sana? Negara itu tempat asing bagiku." Lidia menghela napas panjang. " Pergilah jangan khawatirkan, Mama." Lidia memberi izin. Adara mengangguk pelan. Lidia tahu kuliah hanya alasan bagi putrinya itu.
Mungkin dengan perginya aku, Rion bisa melupakanku dan berdamai dengan hatinya untuk menerima Calista. Untukku, aku akan mencoba melupakanmu, Rion. Aku ... akan pergi.
_____________________________________________
Calista keluar dari mobilnya, usia kandungannya sudah berjalan tujuh bulan hingga membuatnya sedikit lambat bergerak.
Ia mendengus kesal, begitu melihat mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya parkir. Mobil salah satu staf Rion, yang di perintahkan menguntit Adara.
Calista mengetuk jendela mobil itu, Mete tercengang. Ragu-ragu membukakan pintu mobilnya. Calista memutar matanya jengah lalu mengetok kembali. Kali ini lebih keras penuh emosi. Jendela itu terbuka.
"Nyonya," sapa Mete lewat jendela mobil.
Calista berdecak, " aku tahu suamiku menyuruhmu menguntit wanita itu. Hentikan untuk sesaat. Aku ingin bicara dengan Adara." Mete tampak memikirkannya, lalu mengangguk setuju.
"Terima kasih." Calista tersenyum tipis, sebelum berlalu dari sana.
Sekarang Adara berhadapan dengan Calista mereka saling bertatap muka. Calista menyombongkan perutnya yang semakin besar sementara Adara bertahan dengan sikap tenang. Namun, sesungguhnya ia sangat terluka dengan tatapan Calista.
"Bagaimana kabarmu Adara? Aku rasa kau lagi berbunga-bunga, bukan? Setelah menghabiskan waktu bersama suamiku."
Dari mana Calista tahu? Apa Rion mengumumkan kalau aku tidur dengannya? Astaga! pria tidak waras.
Wajah Adara pias, sudut bibirnya mengerut.
"Kau bicara apa? Duduklah! Wanita hamil tidak baik berdiri lama." Calista berdecih, wanita itu menunjukkan sikap intimidasinya. Dan juga ia tidak suka dengan basa basi Adara.
Adara duduk dan di ikuti Calista. " Adara, apa yang terjadi denganmu? Jika kau ingin menerima suamiku rujuk kembali, kenapa dulu kau menceraikannya? Aku pikir kau wanita bermartabat setelah mengetahui suamimu selingkuh kau kekeh menceraikannya meski Rion mengiba tapi sekarang," Calista terkekeh, tidak percaya kalau Adara ternyata wanita munafik. "Apa kau menyesali perceraian itu?" Tanyanya dengan nada mengejek.
"Rujuk?" Adara tampak bingung, "apa Rion mengatakan itu?" Tanya Adara penasaran.
"Adara," Calista tampak sedih, wajahnya tak setajam beberapa saat lalu. " Kau ..., apa begitu susah menjauh darinya? Jika suamiku mengejarmu bukankah seharusnya kau berlari jauh? Kenapa kau mendekat dan bahkan menjadi ancaman untuk masa depan bayiku ini."
Saat mengatakan itu wajah Calista menyendu, ia mengelus perutnya mengingat bagaimana Rion hanya menjanjikan yang terbaik dalam artian materi tanpa kasih sayang.
"Bahkan Rion tidak sekalipun bertanya keadaan bayiku atau apa hamil itu sulit? Apa aku menginginkan sesuatu? Atau hanya sekedar menatapku, dia sibuk memeluk photomu dalam tidurnya dan sibuk dengan bayang -bayangmu." Calista mendongak menahan air matanya yang hendak menitik. Betapa menyedihkan dirinya saat ini di hadapan Adara. Tapi ia harus melakukan itu, untuk tetap mempertahankan miliknya.
"Maafkan aku," lirih Adara merasa bersalah.
"Aku mohon Adara, setidaknya untuk bayi ini. Pergilah menjauh dari hidup Rion. Kau masih muda, masih ada kesempatan untuk jatuh cinta pada pria lain. Lagipula kau tidak memiliki beban untuk berlari."
Mendengar itu hati Adara berdenyut perih, beban yang di maksud Calista adalah anak yang belum ia miliki dengan Rion.
Adara terdiam, mengigit bibirnya. Ia pantas mendapatkan penghinaan itu setelah apa yang terjadi dengannya dan Rion.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jie setelah Calista pergi dari tempat itu. "Astaga dia begitu menyombongkan perutnya." Jie menggerutu.
"Bagaimanapun dia benar, jangan pikirkan." Adara tersenyum tapi tidak dengan sinar matanya yang redup.
_____________________________________________
Adara mengunjungi Emre di rumah sakit, ia belum bicara pada pria itu sejak pertengkaran yang terjadi antara Emre dan Rion.
Adara membawakan buah tangan berupa buah, berjalan menyusuri koridor menuju ruangan Emre. Saat ia berdiri tepat di depan ruangan Emre ia mendengar suara seorang perempuan mengomel.
"Dasar anak bodoh, bagaimana bisa kau menyukai wanita bersuami! Hah! Astaga."
Adara menarik tangannya kembali dari handle pintu. Ia mundur selangkah. Mencerna apa yang ia dengar dari dalam ruangan itu.
"Dia sudah lama bercerai, Ma. Mantan suaminya aja yang gila."
"Apa? Jangan bilang mereka cerai karena kamu,"
"Astaga Mama, apa aku terlihat seperti pria pecundang yang akan merusak rumah tangga orang?"
"Jangan berkencan dengannya, berkencan dengan gadis bodoh! Apa kau tidak laku, Hah, ah menyebalkan."
"Aku mencintainya sejak lama, Ma. Sejak.di bangku sekolah." Adara tercengang mendengarnya tidak menduga apa yang di katakan Emre.
"Tetap saja mama tidak setuju kau berkencan dengan wanita itu, mengerti!"
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin mantan menantu orang menjadi menantuku. Cukup main-main saja dengannya, setelah puas lepaskan. Uangku sudah habis menyekolahkanmu menjadi seorang dokter dan kau hanya akan mendapatkan remahan orang." Bagaikan pukulan keras mengenai dada Adara mendengar kata-kata itu.
Remahan? Serendah itulah Adara di mata orang saat ini? Hatinya sakit, ia melangkah menyeret kakinya sekuat tenaga yang ia punya. Adara menangis, memberikan keranjang buah yang ada di tangannya pada perawat yang kebetulan melintas.
"Nona, ini ..."
"Ambil saja untukmu." kata Adara, pergi meninggalkan tempat itu. Perawat itu mengangguk sebagai rasa terima kasihnya.
Adara melajukan mobilnya kencang, membelah jalanan membawa rasa sedih dan kecewa yang meliputi hatinya bersamaan. Suasana hatinya makin buruk setelah mendengar percakapan Emre dengan Ibunya.
Kenapa hidup memperlakukan aku begitu dingin, membelaiku pada kekecewaan, mendorongku pada kesedihan dan tanpa berbelas kasihan padaku yang rapuh ini. Apa yang salah dengan kehidupanku? Aku bukanlah orang jahat yang harus di hukum menderita setelah di manjakan dengan rasa kepalsuan.
Adara menepikan mobilnya, menarik napas panjang. Memperhatikan ponselnya berdering.
Rion pria bedebah yang menciptkan neraka baginya di dunia ini memanggilnya.
Adara menyalakan tape mobilnya dan memenuhi volume kemudian menjawab ponsel itu.
"Rion brengsek aku membencimu ....! Aku membencimu! Aku muak padamu ...,ini salahmu Brengsek. Kau sialan! Hiks ...., aku ingin meyeretmu ke neraka. Kau sangat jahat!"
Suaranya melengking memenuhi mobil itu, beradu dengan suara musik dari tape dan membuat Rion menjauhkan ponselnya saat teriakan Adara memenuhi telinganya.
"Dara, ada apa? Kau ada dimana?"
Terputus, Rion meletakkan ponselnya di atas meja dan meraih jas dari sandaran kursi kerjanya. Mengenakan dan bergegas keluar. Ia sangat khawatir bercampur marah pada Adara.
Bersambung ...