OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Bonus buat kalian pembaca setia Obsessive loves



Setelah selesai melakukan pembayaran biaya rumah sakit Adara dengan harga fantastik. Rion tidak sedikitpun kecewa. Ia bekerja dengan keras untuk dapat membahagiakan istrinya itu.


Bisnis Rion juga semakin besar, merambat ke berbagai bidang. Flat di beberapa kota berhasil berdiri dengan nama Emirat. Tahun lalu juga Rion berhasil melebarkan sayap bisnisnya ke dunia perhotelan. Tiga hotel mewah berhasil berdiri di kota besar, tempat yang paling sering di datangi pelancong.


Benar adanya, Adara adalah rejeki baginya. Lima tahun pernikahan mereka segala urusan bisnisnya berjalan lancar.


Rion melambaikan tangannya ke arah Adara yang sedang melatih kaki barunya di sebuah ruangan besar di rumah sakit. Ruangan itu tampak seperti arena olah raga. Selain pasien dan tenaga medis tidak dapat masuk ke ruangan itu. Rion hanya bisa menikmati pertunjukan Adara dari dinding kaca pembatas.


Adara membalas lambaian itu, dengan senyum terbaiknya. Ia sedang dilatih dokter menggerak-gerakkan kaki barunya.


Tiga bulan Adara berada di Belanda untuk mendapatkan kaki palsu berteknologi tinggi. Saat Adara bergerak organ tubuh baru itu juga terasa. Kaki palsu berteknologi tinggi yang memiliki sensor mengirim sinyal ke otak. Adara seperti memiliki kaki asli yang membuat wanita itu semakin percaya diri.


Rion melihat Adara berlari berkeliling ruangan dengan beberapa pasien lainya. Ia melambaikan tangan saat Adara menciumnya lewat udara. Senyum Rion cerah, demi apapun ia merindukan istrinya. Selama ini Rion selalu berkunjung sekali seminggu, melepas rindu juga bermanja di pelukan wanitanya itu.


"Sayang ...." Adara berlari lalu melompat ke pelukan Rion, mengikat pinggang Rion dengan kedua kakinya.


Rion membeliak, ini yang pertama Adara melompatinya. Adara me"***** bibirnya panas. Rion membalasnya.


Muah, muah, muah, muah, muah .... kecupan terakhir sangat panjang.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Adara manja, ia masih dalam pelukan Rion.


"Aku juga," Rion mengeratkan pelukannya kemudian menurunkan Adara. Rion memperhatikan kaki baru Adara.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rion, ia berjongkok dan menyentuh kaki yang Adara yang terbungkus kulit elastis serupa kulit manusia.


"Aku merasakannya," ucap Adara.


"Sungguh?" Adara mengangguk semangat. Rion membelai kaki itu perlahan. Adara tertawa kecil.


"Geli sayang." Adara terkikik merasakan belaian tangan Rion.


Rion spontan berdiri, menarik Adara dalam pelukannya.


"Aku akan mencumbunya nanti malam, sampai kau menendangku dengan kaki barumu itu." bisik Rion, mengundang tawa Adara pecah.


"Mau berkeliling?" Rion berjalan mundur, mengulurkan tangan pada Adara. Wanita itu menggeleng cepat.


"Mau cepat -cepat pulang ke hotel dan kita balik ke rumah."


"Kita bertolak besok, Hun. Malam ini menginap ya." Adara mengangguk setuju.


"Sayang, terima kasih ya. Berkat kamu aku bisa berjalan seperti dulu lagi."


"Untukmu aku akan melakukan apapun."


"Aku akan membayarnya,"


"Aku banyak uang,"


Adara berlari kecil lalu melompat ke punggung pria itu, "Aku punya kaki sekarang, aku bosan main di ranjang, mulai sekarang aku akan mendesah dimanapun yang aku mau." bisik Adara sensual di telinga pria itu.


Rion tergelak, berjalan sambil menggendong Adara."Jadi itu gunanya kaki itu,"


"Tentu saja," keduanya tertawa riang, Rion berlari kecil sesekali membawa Adara berputar di punggungnya.


______________________________________________


Meski Jie sudah melahirkan dua anak, ia belum juga berdamai dengan mertuanya. Mertuanya masih sinis padanya. Seperti kata Emre, wanita itu akan terbiasa nantinya. Jie akhirnya terbiasa dengan sikap angkuh mertuanya.


"Hubby, jangan begini nanti mama datang dan makin kesal samaku," ucap Jie menolak Emre yang memesrainya saat memasak di dapur. Emre mengedus-ngendus aroma rambut Jie sambil melingkarkan tangan di perut besar Jie.


"Sudah kubilang kita pindah rumah saja, Pumpkin. Jadi kita bisa bebas melakukan apapun yang kita inginkan." desis Emre, masih berusaha merayu Jie.


Jie terkekeh, ia berbalik melingkarkan kedua tangannya di leher Emre. Pria itu menunduk sedikit Jie tidak boleh berjinjit karena sedang mengandung anak ketiganya.


"Aku sedang berusaha keras mengambil hatinya, kalau nanti kita pindah. Mama akan makin marah. Ia akan menduga aku yang memprovokasi kamu," desis Jie, mengecup mesra bibir Emre, pria itu menyambut dengan lembut dan tiba-tiba terhenti saat ada deheman. Mertua Jie, tiba-tiba saja sudah di tempat itu. Emre berdecak, mencium kening Jie, lalu berbisik.


"Cepat selesaikan kerjaanmu, Pumpkin. Aku tunggu di kamar aku mencintaimu." bisiknya, Jie menunduk malu.


Meski sudah berulang kali Emre mengatakan cinta padanya tetap saja Jie merasakan jantungnya berdegub, rasanya masih sama seperti pertama kali pria itu menyatakan perasaanya. Dihari putri pertama mereka lahir, Emre menangis memeluk Jie yang berjuang melahirkan putri kecil mereka.


"Aku mencintaimu, Jie. aku mencintaimu, sungguh! Dari hatiku." Emre mengecupi dahi Jie, setelah bayi itu lahir, rasa sakit yang di dera Jie seketika lenyap. Hatinya bergembira mendengar Emre mengatakan cinta padanya.


"Sungguh?" Jie bertanya, menatap mata Emre, mencari kebenaran di netra itu. Emre mengangguk.


"Maafkan aku, karena begitu terlambat mengakuinya padamu. Seharusnya aku mengakui ini sejak lama. Aku sudah mencintaimu di hari pernikahan Adara."


"Ehemm," Mertuanya sengaja terbatuk. Jie sontak kaget, ia melamun, buru -buru Jie mengaduk masakannya hingga tangannya terkena cipratan minyak. Jie memekik.


"Astaga wanita ini." Mertuanya segera menarik Jie, mendudukannya di bangku. "Hati-hati, jika kau kenapa-napa rumah ini akan sepi. Ibu tidak punya teman berantam." Jie tersenyum, melihat mertuanya meniup tangan Jie yang memerah.


"Terima kasih, Ibu. Aku akan terus sehat dan bertengkar sama Ibu." keduanya saling tatap, lalu terkekeh meski tidak saling berucap nyatanya mereka saling mengasihi.


Mension Emirat


Di tepi Danau itu ada pohon Angsana tumbuh rimbun dengan bunga-bunga kecil bewarna kuning. Adara bahkan pernah bercinta di sana, setiap kali ia menatap pohon itu dari jendela kamarnya ia akan tersenyum, betapa gilanya Rion mengajaknya bersetubuh di sana.


"Honey, kau mau kita mengulangnya lagi disana." Rion mengikat tangannya di pinggang Adara.


"Apa boleh?"


"Kapan saja kau mau," Rion memutar tubuh Adara lalu melu"mat bibir istrinya itu dengan lapar. Tangannya bergegas melucuti kemejanya lalu mendorong Adara mentok ke dinding.


Rion memutar tubuh Adara membelakanginya, Rion meloloskan gaun Adara hingga terjatuh ke lantai lalu dengan tergesa Rion menurunkan resleting celananya dalam satu dorongan kuat Adara mengerang. Terkadang Rion suka bermain kasar, sentakan demi sentakan yang pria itu lakukan membawa Adara melenguh, mendesah panjang. Adara lemas, tubuhnya bergetar ia mendapatkan nikmatnya. Tapi, tidak dengan Rion. Pria itu susah di puaskan dalam waktu singkat. Rion masih saja mendesak maju mundur tubuhnya pada Adara. Wanita itu muntah, mengagetkan Rion hingga ia spontan menghentikan gerakannya.


"Hun, kau tidak apa-apa, kan?" Rion meringis bagian intimnya masih berdiri kokoh, persetan dengan itu, ia segera menarik kembali celananya dan mengangkat Adara ke tempat tidur.


"Pusing," gumam Adara, matanya sayu seperti ingin tertidur. Rion panik, ia menelpon dokternya.


"Tidurlah, aku sudah telpon dokter. Aku mandi sebentar ya." Rion menyelimuti Adara setelah membantu istrinya itu berpakaian.


Tidak lama kemudian dokter Kevin tiba. Hana, Illy dan Rion menunggu di luar kamar saat Adara di periksa Kevin.


"Kau ingin kita pastikan tes darah?" Adara menitikkan air matanya, ia menggeleng lemah. "Baiklah, kalau begitu aku permisi ya. Sampai bertemu di rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya."


Kevin keluar dan tatapannya bersiborok dengan Rion. "Istri saya kenapa, Kev?"


"Tidak apa-apa, hanya kelelahan saja." Hana menghembuskan napasnya lega. Ia cukup khawatir. Rion segera masuk dan melihat Adara menangis.


"Honey, maaf ya semua salahku seharu—," ucapan Rion terpotong Adara memeluknya erat. "Maaf, Hun." lirih Rion, ia menyesal mengajak Adara bersetubuh di pagi hari.


Adara melepas pelukannya, lalu menunjukkan sesuatu yang ia genggam.


"Tes pack?" Rion mengambil benda itu dari tangan Adara lalu melihatnya dengan teliti. "Strip dua?" Adara mengangguk. Rion melebarkan matanya, ia mencium benda itu seolah itu seorang bayi. Rion bangun dari duduknya dan berlari keluar. Memanggil Ibunya.


"Mama, Illy, semuanya yang ada di rumah ini." Teriak Rion dengan lantang. Semua yang mendengar teriakan itu berkumpul di lantai bawah. Hana dan Illy menghampiri.


"Istriku Hamil, Istriku hamil." Rion mengatakannya dengan jelas, ia bisa melihat kebahagian terpancar dari para pekerjanya. Hana juga tak kalah terkejut.


Tuhan memang pekerja yang baik. Diusia Adara yang ke ketiga puluh tiga tahun ia bisa merasakan nikmatnya mengadung.


"Sebagai rasa syukurku gaji kalian naik sebulan gaji. " para pekerja dirumah itu bersorak bahagia. Mengucapkan terim kasih. Mereka berjanji akan menjaga Nonanya. Illy berlari ke kamar Adara dan memeluk Adara. Ia tak kalah bahagia.


"Adara, menantuku terima kasih akhirnya kau akan memberiku cucu," ucap Hana, air matanya menitik. Ia bahkan tidak berharap lagi, mengingat Adara berjalanpun kesulitan.


"Kalau boleh adik laki-laki," Sahut Illy.


"Kalian berdua keluarlah, aku akan menemani istriku." Rion berjalan santai, duduk di tepi ranjang. Hana berdecih, Illy turun dari ranjang Adara setelah mendapatkan ciuman Adara.


"Aku mau adik laki-laki, Mom, Daddy." suara Illy masih jelas terdengar dibalik pintu. Adara tertawa.


"Katakan, kau ingin sesuatu?" Rion bersemangat. Adara menggeleng, pria itu mengerutkan kening. Setahu dia perempuan hamil muda banyak maunya.


"Aku akan membelinya, Hun." Rion penasaran, pria ini memaksa.


"Tidak, mungkin nanti." Adara tersenyum simpul.


"Katakan apapun itu, oke." Adara mengangguk, ia memeluk suaminya itu bahagia. Pikiran usil terlintas dibenaknya.


"Aku ingin rembulan, kau bisa mengambilnya?" Adara merasakan tubuh Rion gemetar karena terkekeh.


"Ku usahakan," keduanya bersitatap masih saling terkekeh.


"Sekalian bintangnya," Rion mengangguk.


"Bunuh saja aku itu lebih baik." gumam Rion, Adara menggelengkan kepalanya. Ia memeluk Rion.


"Aku mencintaimu, bawah aku dalam pelukanmu. Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita yang tertunda tadi." Rion tergelak, ia menarik dirinya agar bisa melihat jelas wajah Adara.


"Kau membuatku panik tadi, istirahatlah. Waktu milik kita." Peluk Rion, Ia menikmati segala berkat yang ia terima saat ini.


Ia akan menikmatinya, selama ia hidup karena esok saat ia di hadapkan pada kematian. Rion akan bertemu dengan Abizard orang yang sudah ia lenyapkan. Tentu neraka tempat Rion. Pria itu menyakini itu, meski demikian ia tidak perduli selama ia bisa membahagiakan orang-orang yang ia cintai selama hidupnya.


Rion tidak pernah lupa akan itu, suatu saat Ipek datang menemuinya. Rasa bencinya tumbuh lebih besar pada wanita itu. Adara yang menjadi malaikatnya, menenangkan hati Rion. Istrinya itu meminta supaya Rion memaafkan Ipek. Tentu saja Rion mengangguk, lalu dikemudian hari Rion menemuinya dan memberi Ipek kesempatan untuk menjauh selamanya.


"Abizard menghilang sejak hari itu, Rion." Ipek tampak menyesal, Rion bergeming. Ipek tidak perlu tahu tentang Abizard, begitu juga dengan Adara. Rion tidak ingin Adara tahu dirinya pernah jadi moster yang menakutkan.


Dosanya biarlah menjadi rahasia selamanya.


__________________________________________________________________________


____________________


Buat yang minta bonus, aku memenuhi keinginan kalian. Selamat membaca dan salam hangat dariku.


Kirei