OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Terima aku tanpa masa laluku



Setelah mengetahui Jie hamil dari Adara, kini Emre berada di area parkir Adara Kafe, pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobilnya. Perkataan Adara kembali teringat olehnya, Emre sejenak memejamkan mata mencoba memahami situasi yang ia alami.


Sangat rumit! Haruskah ia bertanggung jawab atas hamilnya Jie? Sementara hatinya sudah ia jatuhkan untuk Adara, wanita yang mencuri hatinya dari masa remaja hingga sampai saat detik ini. Lantas hubungan macam apa yang akan ia jalin dengan Jie nantinya, seandainya ia menerima Jie. Hanya bertanggung jawab tanpa ada rasa cinta? Entahlah!


Aku tidak pantas untukmu, Jie. Maafkan aku.


Cinta memang akan selalu begitu, melukai dan menyanyangi. Diantara yang saling jatuh cinta harus ada yang rela terluka, Jie salah satunya.


Malam semakin larut, langit tampak terang meski tanpa bintang. Walau sedang musim panas tetap saja angin malam menusuk kulit dan itu membuat Emre memeluk dirinya sendiri, tanpa ia sadari kafe itu sudah tutup. Jie menjadi orang terakhir yang keluar dari kafe.


Emre sedikit menunduk saat Jie berjalan keparkiran khusus miliknya yang tidak jauh darinya. Diam - diam Emre mengawasi Jie dari kaca mobil, perempuan itu tampak lusuh dan berjalan malas masuk ke dalam mobilnya. Jie menyalakan mesin mobil dan tak lama kemudian meninggalkan tempat itu.


"Aku harus bagaimana? Sial,sial,sial!" Emre mengumpat sembari memukul stir mobilnya berulang kali memperhatikan mobil Jie menghilang dari pandangannya.


_____________________________________________


Adara nyaris mengumpat dan menjatuhkan Rion dari ranjang saking terkejut mendapati pria itu tiba-tiba saja berada dalam kamarnya dan memeluknya tidur. Ia memperhatikan wajah Rion yang terlelap dengan mulut sedikit terbuka. Adara tersenyum, mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap untuk leluasa memandangi wajah Rion yang menurutnya begitu mempesona sekalipun dalam keadaan tertidur.


Dia tetap tampan meski mulutnya terbuka saat tidur. Aku rasa saat dia dalam rahim Ibu Tuhan membentuknya dengan senang hati. Tapi sifatnya kadang menjengkelkan melebihi iblis. Tanpa sadar tangannya sudah menyentuh rahang Rion dan menganguminya.


"Rion ...." Bisiknya membangunkan, pria itu tetap dalam posisinya. Adara mengangkat sedikit dadanya dan mengecup sudut bibir Rion. "Rion bangun ...." bisiknya lagi sambil menepuk sisi wajah Rion hingga pria itu membuka matanya perlahan.


Adara tersenyum, lalu mendaratkan satu kecupan lagi. " Muah, bangun," bisiknya manja. Rion tersenyum, lalu menarik Adara dalam dekapannya.


"Kau terjaga?' tanya Rion mengusap punggung Adara lembut.


"Mmm, jam berapa kamu kesini?" Bisik Adara, meletakkan dagu runcingnya di dada Rion sembari memandangi wajah pria- nya itu.


" Jam 23 lewat atau kurang yang pasti kau sudah sangat pulas," Suara Rion terdengar serak khas pria bangun tidur.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Kali ini Adara menikmati degub jantung pria itu, iramanya tenang.


"Aku bangunin, Hun, tapi sepertinya kau sangat nyenyak." Rion memainkan rambut Adara lembut.


"Ion," Adara bangun menggeser tubuhnya ke untuk bersandar pada sandaran tempat tidur, Rion juga melakukan hal yang sama."Jangan terlalu bebas masuk kerumahku," kata Adara, Rion menautkan alisnya penasaran.


"Memangnya kenapa?"


"Takutnya ada yang lihat kamu menginap disini, kita bisa diarak nanti seperti di negara berflower " ujar Adara membuat Rion terkekeh.


"Tapi Hun, sebenarnya kita di belahan dunia mana sih?"


"Tidak tahu, penulis cerita ini kan kurang garam,"


"Sttss, aku pikir juga begitu," keduanya terkekeh menertawakan author bodoh itu.


Rion menatap Adara intens, kemudian mengulurkan tangan menarik pelan tengkuk wanita itu lalu memiringkan kepala untuk mendapatkan bibir wanitanya itu dan menikmatinya. Adara memejam, menerima tapi tidak berniat membalas ciuman Rion. Malam yang sempurna untuk beradu, saling berbagi kehangatan tapi Rion berhasil menguasai dirinya, maka ia berhenti di waktu yang tepat.


"Tidur lagi, ya." Rion mengansurkan tangannya membelai bibir ranum Adara yang baru saja ia nikmati. Adara menggeleng, merasakan lapar.


"Jam berapa ini?" Tanya Adara, bergeser untuk mengambil ponselnya dari atas nakas. "Jam satu pagi," gumamnya sendiri. "Aku lapar, baru ingat kalau tadi malam aku tidak makan."


Rion berdecak, "apa ada sesuatu yang bisa di makan di rumah ini, kecuali kamu?" Tanya Rion sembari menggoda.


"Kamu! Nyam,nyam,nyam ...," Adara mengigit-gigit bahu Rion hingga membuat pria itu tergelak. "Mau makan mie instan?" Tanya Adara, Rion tampak menimbang.


"Boleh," Rion turun dari ranjang dan segera mengangkat tubuh Adara kedalam gendonganya dan membawanya keluar kamar mengabaikan pekikan Adara karena perlakukan spontan Rion.


"Saat kita suami istri, apa aku pernah melakukan seperti?" Adara terkekeh, mengeratkan lingkaran tangannya pada leher Rion lalu berbisik.


"Sering tapi setelah kau puas di ranjangmu,"


Mata Rion membola, "Kesannya aku pria mesum ya haha ... kalau begitu mulai sekarang aku akan lebih sering menggendongmu," ujar Rion, Ia menurunkan Adara setelah sampai di dapur.


"Aku akan memasak," Adara mengeluarkan panci dan mengisi air kemudian menyalakan kompor untuk memanaskan air. Rion mencoba membantu, pria itu mengeluarkan sayur hijau dari dalam kulkas dan mencucinya. Sementara Adara dengan cekatan mengiris bawang lalu memasukkannya kedalam didihan air.


"Makasih," Adara menolehkan kepala saat pria itu sudah menempel di belakangnya dan melingkarkan tangannya di pinggang. "Rion, jangan mengangguku,"


"Kau sangat cantik saat memasak seperti ini," Puji Rion dengan suara mesra. Adara berbalik dan melingkarkan tangannya di leher pria itu, bernjijit mengecup mesra Rion.


"Duduklah dan jangan menganggu karena aku sangat lapar," balas Adara tak kalah lembut, Rion mengecup kening Adara dan menurut, duduk di meja makan sembari menikmati setiap gerak-gerik Adara saat memasak.


Rion teringat akan pertemuan Adara dengan Emre, " Hun, mengenai masalah temanmu apa sudah selesai?" tanya Rion dari tempat duduknya.


Adara menghentikan gerakanya, menggeleng pada Rion. Sepulang menemui Emre Adara langsung ke kantor dan meminta Mete juga Ardan menemuinya.


Mete di perintahkan mengawasi Jie dan melaporkan apapun mengenai perempuan itu pada Adara. Sementara Ardan sipengacara itu memberikan berkas yang sudah rampung mengenai pengalihan posisi direktur utama pada Rion Emirat, pemilik yang sesungguhnya. Lagipula pria yang sedang menatapnya dari tempat duduk itu sudah seharusnya mengurus perusahaan itu.


"Dia ingin lari dari tanggung jawabanya. Cih!" Rion setengah jengkel melihat gelengan Adara.


"Sebuah kesalahan, itulah yang terucap dari mulutnya," Adara membawakan baki berisi dua mangkuk mie lengkap dengan telur juga irisan cabai langsung membaui ruangan itu.


Adara meletakkan di meja makan, "bawa ke ruang nonton," ucap Adara dan Rion tidak sabar ingin mencicip langsung mengekori ke ruang nonton.


Adara menyalakan televisi dan mencari acara yang pantas di nikmati.


"Saat mendengar alasannya, aku ingin mencekiknya," ujar Adara, memperhatikan Rion meniup-niup mie nya.


"Kenapa kau tidak cekik saja dia," sahut Rion.


"Kau dan dia sama saja,"


"Aku tidak sama denganya,"


"Saat kau tidur deng—"


"Hun," Rion menyela dan meletakkan kembali mie yang siap santap ke dalam mangkuknya. Seleranya hilang. Rion berdecak, menatap Adara.


"Harus ya kau menyamakan aku dengan pria itu?" Rion bertanya dengan nada bersungut.


"Alasannya mengingatkan aku sama kesalahan kamu, Rion," gumam Adara.


Luka hati tidak mudah disembuhkan. Akan selalu ada yang mengingatkan, sengaja ataupun tidak sengaja. Seperti yang dialami Adara. Luka hatinya kembali menganga saat mendengar alasan bodoh Emre padanya. Kesalahan tidak sengaja.


Rion berpindah tempat ke sofa panjang dimana Adara duduk dengan raut menyendu. Pria itu menyesal sudah menciptakan suasana canggung. Rion meraih kedua lengan Adara dan membawa tatapan perempuan itu padanya.


"Maaf," lirih Rion penuh sesal. "Dara, tolong terima aku kembali tanpa masalaluku yang buruk. Aku mohon, Dara. Aku ingin hidup baru denganmu tanpa membawa kisah lama yang menyakitkan. Anggap saja Rion yang lama sudah tiada." ucap Rion, kedua matanya mulai berkaca-kaca.


Adara menggelengkan kepala "Ada Illy Rion," gumam Adara. Illy adalah bukti yang tidak bisa di hapus dari kesalahan Rion. Namun, Adara masih waras dan memiliki hati untuk tidak menempatkan Illy atas kesalahan orang dewasa. "Tapi, meski begitu, aku akan menerimamu dan Illy dalam hidupku. Karena aku mencintai Illy dan mencintaimu juga, sedikit."


"Terima kasih, Honey. Walau sedikit itu tidak masalah," Rion membawa Adara dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung Adara. Perempuan itu tersenyum simpul, Enggan mengakui cintanya yang sangat besar untuk Rion


"Tapi apa kita sudah bisa makan mie nya?" tanya Rion, dan segera mendapatkan cubitan di lengan pria itu. Saat serius masih memikirkan makanan.


"Auh, honey ... cubitnya lembut dong." Rion mengaduh, keduanya terkekeh dan sedetik kemudian saling bersitatap.


"Aku mencintai, wanitaku." Bisik Rion lembut, mengulurkan tangan memainkan ujung rambut Adara.


"Aku juga mencintaimu sedikit, pria bodoh." Adara tersenyum manis.


"Saat menikah nanti, jangan sekali-kali kau menyebut namaku." Rion mengingatkan.


"Aku suka memanggil namamu," sahut Adara, sembari mengangkat mangkuk mie nya lalu menikmatinya. Begitu juga dengan Rion, mereka menghabiskan waktu, tergelak, berpelukan, saling mengecup hingga Rion tertidur berbantalkan paha Adara sampai matahari menyapa bumi.


Bersambung