
"Dara ...." Teriak Rion mendadak bangun dari tidurnya. Napasnya terengah-engah sementara pelu membanjiri dahi dan dari sudut matanya menitik air mata. Rion mencoba menetralkan napasnya yang membuatnya terasa sesak. Mimpi itu seolah nyata.
"Sial,sial,sial!" Rion mengumpat sembari menyugar rambutnya kebelakang.
"Jam berapa ini?" Rion mengambil ponselnya dari atas nakas dan melihat waktu. Jam satu dini hari, ia teringat kembali mimpi buruk itu. Darah dan kematian Adara menjadikan tubuhnya menggigil.
Rion bergegas ke walk in closet sembari melepas baju yang ia pakai dan melempar asal, mengambil kaos casual bewarna putih dan mengenakannya sembari berjalan keluar ruangan itu.
Rion menyambar ponsel dan kunci mobil bersamaan dari atas nakas lalu berlari keluar rumah, menemui Adara.
_____________________________
___________________
Abizard mengisap jerutunya dan memainkan asap dari mulutnya, membentuk gumpalan-gumpalan dan pecah di udara. Abizard tersenyum miring, memikirkan pertemuannya dengan Mert ia benci pria itu masih hidup.
Andai saja Mert lenyap saat peluru menembus punggungnya, cih.
Abizard kembali mengisap jerutu dan meneguk alkohol yang ada dalam gelasnya.
Akan sangat mudah mendapatkan Adara andai keparat itu lenyap.
Seringai jahat muncul di wajahnya. Seharusnya ia masih berlayar tapi adiknya Ipek berkeras hati meminta pulang saat kapal mereka sandar di Jepang. Iskak dan istrinya meminta Abizard mendampingi Ipek pulang menggunakan pesawat, tentu itu sebuah keuntungan buat Abizard untuk menemui Adara.
Abizard dan Ipek menyewa Apartemen untuk mereka tinggal dalam waktu sementara. Sudah sepekan kedua kakak beradik itu tinggal di kota itu dan mencari tahu info tentang Mert juga Adara.
Abizard meletakkan gelasnya pada pembatas balkon dan menghembuskan napas panjang. Abizard berniat kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya, besok ia akan menemui Adara.
Sementara di tempat lain ....
Rion membuka pintu kamar Adara, dilihatnya wanita itu tertidur pulas. Rion mendekat dan duduk di pinggiran ranjang memandang wajah manis Adara.
"Hun, bangun ...," Rion menepuk wajah Adara pelan dan sedikit menguncang tubuh itu supaya terbangun.
"Ion, k-kau datang," gumam Adara membuka mata, Rion membantu Adara duduk dan langsung memeluk wanita itu erat.
"Hun, kau baik-baik saja, kan?" tanya Rion, mendorong sedikit tubuh Adara memberi jarak lalu menyusuri seluruh tubuh Adara dengan tatapanya.
"Aku baik-baik saja," Adara menyipitkan mata mencoba mencerna makna pertanyaan Rion.
"Ah syukurlah," Rion kembali memeluk Adara sangat erat hingga Adara terpekik.
"Ri-Rion, ada apa? Lepasin aku bisa mati nanti,"
"Maaf Hun," gumam Rion, melepas pelukan itu lalu mengelus rambut Adara lembut.
"Kau berlari kesini? Keringatmu besar-besar," Adara menyeka keringat di dahi Rion dengan dengan punggung tangannya. "Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Adara lagi, melihat wajah pucat Rion.
"Aku baik," Rion menarik kembali Adara kedalam pelukannya. "Aku mencintaimu, Hun. Aku sangat mencintaimu, sangat." ucap Rion lirih.
"Aku juga mencintaimu, Ion." Adara membalas pelukan itu erat. Lama mereka berpelukan saling berbagi kenyamanan hingga kemudian Rion melepas pelukannya, lalu mengecup lembut bibir Adara. Ia memperhatikan intens wajah Adara dan berujar.
"Dara, ayo kita pergi ke tempat lain dimana hanya ada kita tanpa penganggu," Rion membelai pipih Adara dengan punggung jemarinya.
"Ion, ada apa? Aku minta maaf masalah tidak menjawab panggilanmu. Ponselku benar-benar mati tolong jangan berlebihan menganggap Jie dan Emre penganggu." ujarnya lembut.
Rion menghela napas panjang, mimpi sialan itu membuatnya takut.
"Abizard menemuiku," gumam Rion membuat alis Adara bertautan.
"Siapa?"tanya Adara bingung, ia tidak mengerti maksud Rion.
"Pria yang menyelamatkan Illy saat di kota pesisir. Ipek juga ada di kota ini," ujar Rion,
"Tunanganmu itu?" Rion mengangguk, rasa cemas tampak di wajahnya.
"Jadi kau ingin kita pergi jauh karena mereka?" Rion kembali mengangguk, Adara tersenyum.
"Apa yang kau takutkan, Rion sampai-sampai kau ingin menjauh dari mereka?" tanya Adara menyandarkan wajahnya di bahu Rion.
"Dia menyukaimu, Dara." gumam Rion nyaris tak terdengar karena suara itu bersamaan dengan helaan napasnya.
"Siapa yang menyukaiku?" Tanya Adara, mendongak menatap Rion.
"Abizard," lirih Rion, mendaratkan ciuman lembut di sudut mata Adara.
"Jadi itu yang menganggumu? Aku bahkan tidak mengenal pria itu."
"Dia pria berambisi," Adara tersenyum, menikmati wajah Rion yang tampak cemas. "Kau tersenyum?" tanya Rion saat menangkap senyum di bibir wanitanya itu.
"Aku akan mematahkan hatinya, jadi jangan khawatir dan berpikir untuk melarikan diri dari mereka. Kau pengecut rupanya." Desis Adara di wajah Rion, tangan Adara memainkan dada pria itu dengan jemarinya seperti menggoda.
"Aku justru khawatir denganmu, Ion. Apa kau sanggup menghadapi tunanganmu itu?" Adara berhenti memainkan jemarinya di dada Rion. Ia segera menarik diri dan menatap serius pria dihadapannya itu.
"Tunangan apaan?" Rion, mengansurkan tangannya menyentuh bibir Adara dan langsung ditepis Adara. Wanita itu berdecih, mengingat hubungan Rion dengan Ipek belum berakhir.
"Hun, aku bahkan tidak tertarik padanya. Hubungan kami terjalin karena perjodohan," ujar Rion sembari memainkan ujung rambut Adara.
"Sudah berapa lama kalian tunangan?" tanya Adara penasaran. Rion tampak berpikir mengingatnya.
"Satu tahun," jawabnya ragu, Adara melipat kedua tangannya di dada, mengerucutkan bibir layaknya anak kecil yang merajuk.
Satu tahun menjadi tunangan wanita itu membuat Adara berpikir kalau Rion sudah melewati hal romantis dengan Ipek.
"Tidak terjadi apa-apa Hun di antara kami. Kau harus percaya padaku," ujar Rion, menebak isi pikiran Adara.
"Memeluknya? Menciumnya? Bercinta? Aku tidak percaya kau tidak melakukan itu."
"Eh? Wah kau ini, ya ...." Rion mencubit kedua pipi Adara gemes. "Aku bisa mengatasi masa kesepianku,"
Adara menggigit bibir bawahnya, "dengan cara apa?" tanya Adara dan Pikirannya mulai usil.
"Banyak cara mengatasi itu,"
"Aku ingin tahu, bagaimana kau mengatasinya?" Adara meraba rahang Rion, dengan tatapan genit. "Apa kau pergi ke rumah bordil?"
"Mulutmu," Adara terbahak melihat wajah Rion memerah.
"Ion, katakan!"
"Kau sungguh ingin tahu?"
"Mmm,"
"Kau pernah mendengar main solo?" Adara menggeleng bingung. "Polosnya," Rion tergelak dan itu membuat Adara berdecih.
"Aku biasa melakukannya sendirian di kamar mandi, di ranjangku sembari membanyangkan wajahmu. Jadi aku bercinta baya–"
"Diamlah!" ketus Adara menahan malu. Rion terbahak melihat rona di wajah Adara.
"Kemarilah, Hun," Rion menarik Adara kembali ke dekapannya setelah puas terbahak. Memeluknya erat dan mencium pucuk kepala Adara, " i love you so much, Honey." bisik Rion.
"Ion, jangan lihat tunanganmu lagi," gumam Adara, meski ia tampak tenang Adara tidak menepis perasaan takutnya kalau Rion akan tergoda Ipek, terlebih wanita itu sangat menggoda.
"Aku janji, Hun. Tidak akan, lagipula dia bukan tunanganku. Mert sudah mereka bunuh," desis Rion, merapatkan pelukannya. "Kalau Abizard menelponmu angkat saja," tambahnya.
"Kenapa dia menelponku?" Sahut Adara mendongak. Rion menghela napas berat.
"Kau punya janji padanya,"
"Janji apa?"
"Masalah Illy,"
"Aa-aku, dia meminta nomerku saat itu. Aku ingin berterima kasih pada kalian karena sudah menolong Illy, lalu dia bilang mungkin aku akan membayarnya dengan cara datang ke pernikanmu," Adara menjelaskannya dengan suara terbata di awal dan pada kata berikutnya dengan nada cepat.
"Aku tahu itu, mungkin dia akan menangihnya," ujar Rion.
"Jadi kau ingin aku membayarnya?" Tanya Adara dan di angguki Rion.
"Aku akan mendampingimu,"
"Rion! Kau tahu siapa yang menembakmu? Kalau sampai pria itu aku akan meledakkan kepalanya."
"Wah istriku, aku makin mencintaimu,"
"Aku bukan istrimu, kau bahkan masih tunangan wanita lain," Adara mendegus.
"Jangan lakukan apapun untuk melindungiku, aku yang harus melindungimu, mengerti? Dan satu lagi jangan bahas masalah Ipek karena aku tidak suka kau menyebut wanita itu tunanganku."
Adara tersenyum mendengarnya, "cintaku bertambah sedikit padamu, Ion."
"Dasar kau ini, kau ingin berciuman sampai pagi hari menyapa?"
"Jangan, nanti kau bisa kehilangan arah," Rion terbahak, membawa Adara tiduran dan memberi lengannya menjadi bantalan Adara.
"Masih ada waktu untuk tidur, aku akan menemanimu, Hun." Bisik Rion, membelai rambut Adara lembut hingga wanita itu terlelap.
Bersambung ....