
"Pak Rion."
Mert mengingat nama itu, kemudian ia berbalik melihat penyapanya. Mete membeliak, memindai Mert dari atas hingga ujung kaki pria itu.
Jangan terkejut saat melihatnya. Mete teringat pesan Adara
Apa pria ini yang bernama Mert?
Mete menelan air ludahnya ia juga menyumpah kenapa perempuan tukang pijit itu tidak segera memberinya foto Mert dengan begitu ia tidak perlu menunjukkan sikap terkejut di hadapan pria ini.
"Apa Anda mengatakan sesuatu?" Tanya Mert berbasa -basi, telinganya masih tajam saat Mete memanggilnya dengan nama Rion.
"Oh, tidak tuan. A..apa Anda pengunjung juga sama sepertiku?"
Jelas -jelas dia memanggil Batin Mert.
"Bukan, aku pemilik Resort Orucoglu." Mert mengarahkan tatapannya ke arah Resort.
Jadi dia Mert? Pantas Ibu Adara mengirimku kesini.
"Namaku Mete Akyurek," Mete mengulurkan tangannya. Dari jarak jauh Ipek memanggil nama Mert.
Ck, Perempuan ini. Batin Mert. Kemudian tersenyum ke arah Mete dan menerima uluran tangan pria itu.
"Mert,"
"Senang berkenalan dengan Anda tuan Mert. Satu keberuntungan bisa langsung berkenalan dengan pemilik tempat ini. Aku sangat menyukai penginapan Anda. "
"Mert, kita harus jalan sekarang." Ipek menginterupsi perkenalan mereka. Ipek melihat ke arah Mete dengan sedikit tatapan curiga. Mete membungkuk kecil memberi salam pada Ipek dan dibalas senyum simpul Ipek.
"Baiklah Tuan Mete, saya tinggal dan silahkan nikmati hari Anda." ucap Mert, ia menepuk lengan Mete ramah, kemudian berlalu dari sana diikuti Ipek.
Mete melihat punggung Mert, menjauh dari pandangannya. Mete mengeluarkan ponselnya dan menelpon Adara.
"Katakan!"
"Hari ini tuan Mert akan berlayar dan mengadakan pernikahan di kapal. Itu info yang saya tahu, Ibu Adara."
Adara menggigit bibir bawahnya, duduk di kursi kerjanya sambil melihat foto Rion yang ada di meja kerjanya.
Bukankah katanya dalam bulan ini? Tapi kenapa Izard tidak menghubungiku? Katanya mau mengundangku?
"Cari tahu profile dia juga tentang orang tuanya. Satu lagi dekatin siapa saja yang dekat dengan Mert. Tawari dia uang untuk memberi info apapun mengenai pria itu."
"Baik, Ibu Adara."
Adara meletakkan ponselnya, berpikir kenapa pernikahan Mert dilakukan di kapal apa memang itu rencana awal mereka? Adara tidak mengerti lalu kemudian ia melanjutkan pekerjaanya.
Sesuai rencana kini keluarga Kenan Orucoglu tengah berlayar. Kapal berkapasitas 2.600 orang itu mulai bergerak memasuki laut menuju negara Jepang.
Ruangan VIP di kapal itu menjadi tempat terindah untuk menikmati pemandangan. Mert memandang mengenakan kaca mata hitamnya memandang jauh ke tepian. Gedung -gedung masih terlihat oleh netranya. Semakin mengecil dan lama-lama menghilang hingga senja menjemput malam.
______________________________________________
"Kau yakin itu, Rion?" tanya Jie, saat mereka berada di arena tembak.
"Aku tidak yakin hanya saja suaranya mengingatkanku pada Rion." Adara mengenakan penutup telinganya dan mengambil posisi fokus membidik sasaran, mengatur napas agar rilesk lalu perlahan menarik pelatuknya dan tembak.
Dorr ...
"Di dunia ini ada tujuh manusia yang mirip kita, Dara." ucap Jie, setelah Adara selesai menembak.
"Kau percaya sama mitos?" Adara melepas segala peralatan menembaknya.
"Misalnya, Cinta Laura dengan Rosie Whiteley. Bentuk wajah dan tubuh mereka hampir serupa. Mungkin pria itu salah satu kembaran Rion di dunia ini." Jie memberi gagasanya.
"Ya kau benar, itu sebabnya aku mengirim Mete kesana." Adara mengambil posisi duduk di hadapan Jie. "Aku harus memastikan kalau dia hanya mirip dengan Rion." tambahnya menatap Jie dengan serius.
Mete mengirim pesan pada Adara, bahwa Mert adalah anak Kenan Orucoglu yang besar di Canada dan baru dua tahun ini kembali ke rumah Ayahnya. Mete mendapatkan informasi itu dari pelayan resort.
Adara berdecak, seolah tidak puas dengan hasil yang ia terima. Apa yang ia harapkan? Menginginkan kalau pria itu Rion? Wajah Adara tampak suram, ia meninggalkan arena tembak kesal.
Jie mengerti, meski tidak bertanya ia tahu kalau Adara dalam keadaan stres. Terutama saat waktu mempertemukannya dengan pria yang mirip dengan Rion. Adara semakin terlihat menyedihkan. Jie menggelengkan kepalanya, mengikuti Adara seraya membawa ponsel Adara yang terlupakan di mejanya.
Sementara Mete, kebigungan karena tidak ada jawaban dari Adara kemudian ia meninggalkan kamarnya untuk berkeliling mendapatkan informasi lebih untuk memuaskan Adara.
Mete memperhatikan rumah besar di samping penginapannya. Ia melihat seorang gadis berpakain ala-ala pelayan seperti di eropa sana sedang menyiram bunga di halaman itu. Mete mencoba menyapa dengan mengoyangkan pintu pagar besi itu. Ia berencana menggunakan pesonanya untuk mendapatkan info lebih. Gadis itu menoleh kemudian menghampiri.
Sementara di dalam kabin VIP, Mert mencoba mengingat tentang Adara. Tentang wanita yang baru sekejab ia temui kemudian tentang pria yang menyapanya di bibir pantai.
Mert berdecak kesal, kenapa pikiranya tertarik pada sosok Rion suami Adara yang menghilang. Nama itu mulai melekat dalam pikirannya. Mert mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia keluar dari kabin dan menuju Dek.
Dua hari lagi pernikahannya akan di adakan di kapal ini. Pernikahan kecil yang hanya di hadirkan dua belah pihak. Abizard dan Ny. Denir sudah menyiapkan segalanya dan mengatur satu ruangan tertutup untuk acara pernikahan agar tidak menganggu kenyamanyan penumpang kapal itu.
Aku rasa sudah terlambat untuk menemui wanita itu, bodoh Mert! Bodoh! Seharusnya kau menghubungi wanita itu saat dia menitipkan kartu namanya.
Mert mengutuk dirinya sendiri tidak berguna. Ia tidak menyadari maksud dari Adara meninggalkan kartu nama itu pada Aisyah. Lagi-lagi Mert merutuk dirinya, meninju udara melepas kekesalannya.
Ia menyusuri koridor, angin menerpa dan menusuk kedalam kulitnya. Mert hanya mengenakan kaos kasual bewarna putih dipadu dengan celana jeans hitam.
"Sayang, bagaimana kalau ingatan Mert kembali?" Suara Ny. Denir terdengar khawatir.
"Jangan pikirkan." Iskak mengoyangkan gelas berisi wine lalu menyesapnya hingga habis.
"Ipek putri kita satu-satunya, aku lihat Mert seolah menjaga jarak dengannya. Aku khawatir pernikahan mereka tidak berjalan lancar." Ny. Denir kembali mengeluh.
"Lalu apa? Kau ingin membatalkan pernikahan itu? Ipek sudah berharap lebih." Iskak menyahuti. Ny. Denir menghela berat.
"Setelah mereka menikah, Mert akan dalam pengawasan ketat." Tambah Iskak, menyakinkan istrinya itu agar tidak khawatir.
"Aku serahkan padamu, demi kebahagia putri kita." Imbuh Ny. Denir, menyandarkan kepalanya pada bahu Iskak dan tangan pria itu merangkul bahu istrinya erat.
Senyum getir tercetak di bibir Mert. Ia tidak sengaja mendengar percakapan pasangan suami istri yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Menyedihkan." gumamnya dan berbalik melangkah pelan kembali ke kabin.
Bersambung ...
Terima kasih masih di Obsessive Loves.
Terima kasih vote, like dan ulasan kalian. salam hangat dariku.
Kirei