
Adara membawa langkahnya masuk ke ruangan itu dan menyaksikan adegan dan memukul hatinya seketika, Ia kecewa bibir kekasihnya yang selama ini menciumnya di nikmati wanita lain.
Rion mendorong wajah Ipek menjauh, memaksa wanita itu melepas ciumannya. Adara terseyum kecut menghampiri dengan langkah tenang, terpaksa.
"I'm so sorry about that—," Rion menghampiri Adara.
Adara menyerahkan tisu pada Rion tanpa melihat pria itu, tatapannya terarah tajam pada Ipek yang menyungingkan senyum padanya.
"Oo, kita bertemu lagi wanita angkuh." ujar Ipek, mengulum bibirnya sendiri seolah menunjukkan pada Adara bahwa ciumannya dengan Rion terasa nikmat.
Rion membersihkan bibirnya dengan tisu pemberian Adara dan melemparnya asal ke lantai.
"Keluar Ipek! Sudah cukup kau membuat kekacauan di tempat ini," Rion menarik tangan Ipek paksa.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Jangan terlalu kasar, bagaimana pun kalian pernah menjalin hubungan serius. Bukan begitu Ipek?" Adara mengambil posisi duduk di sofa panjang lalu menyilangkan kakinya memberi senyum kepalsuan pada Ipek.
"Honey ...." Rion menggeram melihat heran dengan sikap Adara. Napasanya panjang melihat Adara mengangkat kedua bahunya, acuh.
"Duduklah Ipek, kau diterima di tempat ini dengan terbuka," Ipek tersenyum miring, mengumpat dalam hati melihat sikap angkuh Adara bahkan setelah sengaja mencium Rion. seolah wanita itu tidak perduli.
Ipek duduk pada salah satu sofa, tak kalah angkuhnya dengan Adara wanita itu juga menyilangkan kakinya. Rion mendengus melihatnya.
"Katakan Ipek apa yang membawamu ke tempat ini?" Adara memecah keheningan yang sebelumnya tercipta di ruangan itu. Rion menghela napas panjang, sesungguhnya ia ingin Adara mengusir Ipek dengan kasar. Entah apa rencana Adara, Ia tidak mengerti. Rion memilih duduk di samping Adara.
"Tunanganku, itulah alasanku berada disini." Sahut Ipek menoleh pada Rion. Pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Siapa tunanganmu? Rion? Atau Mert yang sudah kalian bunuh?" Tanya Adara membuat Rion menipiskan bibirnya, ia meraih tangan Adara kemudian mengecupnya.
"Sayang, Ck. Kita sedang ada tamu," Seketika Adara bersikap manja, Ipek memutar bola matanya malas. Rion menahan tawa, ia tahu Adara hanya berlakon.
"Kau mau minum? Wine, Vodka, Brendi, Tequila?" Adara menawarkan sembari tersenyum pada Ipek.
"Siapa yang minum alkohol disiang hari, Honey? Yang benar saja." Sahut Rion, sejak kapan wanitanya itu mengenal minuman keras bahkan hapal dengan nama-namanya.
Rion menikahi Adara bak bunga yang masih kuncup berproses mekar. Adara bahkan benci bau alkohol tapi sekarang? Wanita itu seolah peminum baik Rion menghela napas berat lalu diakhiri dengan decakan, kurang lebih dua tahun kehidupan Adara berubah drastis.
"Kenapa? Kadang-kadang kita butuh minuman itu saat frustasi." ucap Adara santai.
Ipek berdecih dalam hati, "Aku tidak butuh itu Adara, saya tidak frustasi. Mungkin kau yang membutuhkanya, aku melihat betapa khawatirnya dirimu saat ini." Ipek ingin melempar ponselnya yang ada di atas meja pada Rion yang sedang merayu Adara dengan mengusap-usap hidungnya di kulit leher Adara dan sesungguhnya Adara pengen mencekik Rion hingga pria itu lupa bernapas. Adara merasa tidak nyaman.
"Sayang hentikan!" Adara tertawa. wajahnya bersemu saat Rion sengaja mempertontonkan betapa romantis dirinya di hadapan Ipek. Adara mendorong sedikit bahu Rion menjauh darinya.
"Sorry Ipek kau harus melihat betapa kekanak-kanakannya, Rion," ujar Adara pada Ipek dengan menyembunyikan raut wajah tersipu malu, "dia selalu seperti ini, kapanpun dan dimanapun. Kadang-kadang aku berpikir ingin membungkus diriku seperti Mumi tapi itu pasti percuma—,"
"Karena aku akan tetap mengenali dan mencintaimu," Rion menyela, menatap bola mata Adara yang indah. Adara bahkan tidak menduga Rion menanggapi bualannya dengan serius. Untuk sesaat mereka bersitatap membuat Ipek jengkel.
"Astaga aku sangat bahagia mendengarnya," Adara memukul dada Rion berulang kali dibarengin dengan kekehan.
Mengenaliku? Saat wanita itu menciummu kau hanya diam. gumam Adara dalam hati.
"Memalukan!" Ketus Ipek, menghentikan pasangan itu tertawa lalu membawa tatapannya padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Adara setelah menetralkan pernapasannya.
"Adara, apa kau sadar posisimu sekarang?" tanya Ipek.
"Dia calon istriku," sahut Rion
"Oh ya, dan aku masih resmi tunanganmu?" Ipek menunjukkan cincin yang melingkar di tangannya. Rion menertawakan Ipek.
"Itu hanya sebuah cincin, Ipek. Tidak lebih."
"Untukmu, tapi untukku ini adalah pengikat kita," sahut Ipek.
"Terserah! Yang pasti hubungan kita sudah berakhir dan bisakah kamu sedikit mengerti situasi ini?"
"Tunanganmu Mert bukan Rion," ujar Adara membuka suaranya setelah menyimak perdebatan Ipek dengan Rion.
"Dia hilang ingatan saat kalian bertunangan, apa menurutmu itu adil?" Adara tersenyum miring, menatap Ipek dengan tajam.
"Tentu saja adil. Mert, hidup karena pertolongan keluargaku," balas Ipek tak mau kalah.
"Dan keluargamu juga yang sudah mengembalikan Rion kedalam kematian, Ipek." ucap Adara dengan nada datar.
"Itu semua karena kamu!" Ipek menatap sinis Adara.
Adara tergelak, "Jadi itu salahku? Abizard kakakmu, apa dia yang menembak Rion?" tanya Adara membuat Ipek melebarkan matanya. Ipek terdiam, Adara menghela napas berat membaca raut gugup Ipek.
"Dia menembak Rion karena tidak mau menikah denganmu, bukan?"
"Bukan kakakku!" Hardik Ipek.
"Beraninya kau menggertak istriku," Teriak Rion menatap tajam Ipek."Kalau bukan Abizard lalu siapa? Ayahmu?!"
"Itu karena kau meninggalkan pernikahan kita, dan aku nyakin semua itu ulahmu," ujar Ipek menyalahkan Adara.
"Ion, apa aku pernah memintamu kabur dari pernikahanmu?" tanya Adara membela diri.
"Sama sekali tidak. Dengar Ipek, Mert sudah mati dan ayahmu membununya artinya kau tidak berhak menjadi istriku dan satu lagi aku juga tidak menyesal meninggalkanmu. Andai waktu di putar kembali. Aku akan mengulangi hal yang sama, Ipek. Kabur darimu." ucap Rion, mengambil tangan Adara dan menciumnya. "Cintaku harus kembali pada pemiliknya." Katanya lagi, kali ini Adara tersanjung.
Ipek tampak suram, ia berdiri sembari menyambar ponsel juga tasnya dari atas meja lalu berujar, " sampai kapan aku tidak akan membiarkan kalian bersatu." katanya dengan nada kesal dan aura perempuan itu menggelap meninggalkan ruangan itu dan membanting pintu. Adara tersentak, Rion menahan senyumnya puas melihat Ipek kecewa.
"Honey ...." Rion memutar bahu Adara agar mereka saling berhadapan tapi dengan cepat Adara menepisnya.
"Aku marah sama kamu," ketus Adara, menyambar tas dan ponselnya dari atas meja dan dengan cepat menjauh dari Rion.
"Tapi kenapa, Hun?" Rion mengejar langkah Adara, hampir saja wanita itu meraih gagang pintu.
"Kenapa? Dia menciummu dan kau diam saja."
"Astaga, aku minta maaf untuk itu. Apa kau lihat aku menikmatinya? Dia sengaja melakukan itu begitu tahu kau yang ada di balik pintu," Adara terpekik, Rion tiba-tiba mengendongnya dan membawa ke dalam kamar yang ada di ruangan itu. Menghempaskan wanitanya itu di atas ranjang dan Ia sendiri naik tepat berada di atas Adara.
"Jangan menciumku! Aku jijik, aku jijik sama kamu!" Adara nyaris tertawa saat mengatakan itu.
Rion mendengus, "Sekalian nyanyikan Kumenangis ...." katanya sembari menyentil kening Adara.
"Auh ah ah sakit, ah ...." Adara mendesah usil
"Dara!" Rion menggeram melihat sikap nakal Adara. "Jangan nakal saat aku belum menjadi suamimu." Adara tergelak, mengangkat sedikit kepalanya dan mengecup bibir Rion lembut.
"Terima kasih, Hun." gumam Rion, menatap bola mata Adara yang cerah seperti mutiara terkena sinat matahari.
"Terima kasih untuk apa?" Dahi Adara mengkerut.
"Sudah membantuku menghadapi wanita itu," ucap Rion, suaranya terdengar dalam.
"Itu karena aku mencintaimu," Bisik Adara, tersenyum simpul.
"Aku pikir kau akan lari dan menjadikan ini salah paham, kau sangat dewasa dan aku bahagia saat kau meghampiriku." Adara menelan salivanya, napas hangat Rion terlalu menggodanya.
"Sejujunya aku ingin melakukan itu Rion, hatiku sakit saat melihat wanita itu menyentuh bibirmu, tapi entah kenapa kakiku tidak setuju dengan kata hatiku. Dia diam ditempat." gumam Adara.
"I love you so much, honey." bisik Rion mendekatkan bibinya pada bibir Adara.
" I love you too," balas Adara, dan Rion mel*mat bibir itu dengan agresif. Adara membalasnya dengan liar. Pasangan itu bercumbu mesra saling berbagi kenikmatkan pada siang hari itu.
Bersambung ....
Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.