OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Rencana Adara untuk Mert



Adara mencium kening Illy, gadis kecil itu tengah terlelap saat Adara pulang dari tempat kerja kemudian. Lama ia mengamati wajah kecil Illy hingga rasa kantuknya hadir. Adara melangkah pelan keluar dari kamar itu.


Ponsel Adara berbunyi, Mete menghubunginya.


"Liburanmu berakhir, Mete."


Mete mengumpat dalam diam saat mendengar suara dingin Adara. Wanita diseberang sana terlalu menyakiti hati dan telinganya.


Dia pikir aku berlibur disini? Astaga wanita ini minta dicium.


"Ada info baru mengenai tuan Mert, Ibu Adara."


"Sebaiknya itu penting."


"Putra Kenan yang bernama Mert sudah lama meninggal."


Adara melebarkan matanya, ia duduk di sofa ruang kerjanya dan mendengar dengan telinga tajam.


"Lanjutkan!"


"Gosip mengatakan—,"


"Aku butuh fakta, Mete!" Hardik Adara.


Aku sangat ingin menciumnya. Mete menghela napas panjang, beruntung mereka ada di kota berbeda.


"Putri pelayan yang sudah lama bekerja pada Tuan Kenan mengatakan kalau Mert sebenarnya sudah meninggal saat usia lima belas tahun, istri Kenan mendorong Mert dari kapal dan disusul oleh ibunya. Bunuh diri karena Kenan mencurigai Istrinya berselingkuh saat ditinggal berlayar. Tuan Kenan membawa mereka berlayar dan terjadi perdebatan hingga istrinya melakukan tindakan bunuh diri, begitu Ibu Adara."


"Kau seperti pembaca berita, Mete." Adara tersenyum simpul. Pria disana pasti kehabisan napas saat bicara dengannya.


"Salah lagi." gumam Mete menjauhkan telponnya.


"Lalu Mert yang sekarang?"


"Mert mengalami hilang ingatan, butuh waktu untuk menyelidikinya."


"Kembalilah, akhir tahun aku akan mengirimu ke erofa berlibur." Adara mematikan ponselnya, Mete membeliak ia melompat kegirangan. Hadiah liburan sebagai penguntit akhirnya dia kantongin.


Sementara di tempat lain.


Mert tersenyum ke arah ipek, sangat pempesona hingga jantung Ipek meledak-ledak dibuatnya. Ini yang pertama pria itu tersenyum manis padanya, sungguh di luar nalarnya. Mert selalu dingin dan suka membuatnya marah tapi lihatlah pria itu bahkan membawakan wine berikut gelasnya.


"Mert," Sapa Ipek, ia langsung bangun dari tempat duduknya. Mert seperti malaikat yang ingin memberi berkat padanya.


"Mau minum?" tanya Mert mengulurkan gelas pada Ipek. Perempuan itu mengangguk setuju. Mert menuangkan wine kedalam gelas Ipek dan juga untuknya.


"Untuk malam yang indah, ini yang pertama aku mengajakmu minum."


Dentingan gelas beradu di udara, lalu kemudian mereka menikmati minumannya.


"Aku berharap ini menjadi awal hubungan baik kita, Mert." ucap Ipek.


"Ya, aku juga harap begitu, tapi sebelum kita menikah maukah kau jujur padaku?" Mert meraih tangan Ipek lalu membawanya ke mulutnya. Ipek tersentak, ia mendamba hal ini dan sangat ingin di romantisi pria tampan di depannya ini.


"Mengenai apa?"


"Ada sesuatu mengganjal hatiku, Ipek." Mert memilin ujung rambut Ipek, sementara perempuan itu menautkan kedua alisnya penasaran.


"Satu gelas lagi sayang." ucap Mert, ia kembali mengisi gelas mereka.


"Aku peminum yang baik, Mert." Kata Ipek kemudian menyesap wine dengan satu teguk.


"Aku tahu, itulah sebabnya aku mengajakmu minum," Mert berujar, ia membawa Ipek ke tempat tidur.


Manisnya Mert ...Batin Ipek.


Duduk di tepi ranjang, Mert mengelus pipi Ipek lembut. Kemudian ia meletakkan gelasnya asal di ranjang.


"Mert, pernikahan kita tinggal satu hari lagi, kalau kau menginginkan aku, aku tidak masalah."


Tentu saja tidak masalah bagimu bodoh.


Mert mengangguk, "dengar Ipek, sebuah hubungan harus di awali dengan jujur, bukan?


Ipek mengangguk. "Tentu,"


"Ada seseorang di hatiku, mungkin masa lalu saat berada di Canada, sebagai teman apa aku pernah bercerita tentang dia?" Ipek menggelengkan kepala.


"Andai suatu hari nanti aku mengingat wanita yang aku cintai itu apa kau mau melepaskan aku?"


"Mert ...,"


"Pernikahan kita Ipek tidak didasari cinta,"


"Cinta bisa tumbuh kapan saja, Mert."


"Kau benar, tapi ... wanita dalam mimpiku semakin hari semakin nyata." ucap Mert, ia mendekat dan memiringkan kepalanya untuk mencium Ipek.


"Pergilah, kau hanya membuatku kesal saja." Ipek mendorong dada Mert. Pria itu tersenyum kecil.


"Katakan pada keluargamu untuk membatalkan pernikahan kita sampai ingatanku kembali." bisik Mert, napasnya beraroma wine menerpa wajah Ipek.


"Tidak Mert, aku menginginkanmu menjadi suamiku."


"Kalau begitu bersiaplah sakit hati setiap saat. Aku tidak tanggung jawab saat hatimu terluka nantinya." gumam Mert, lalu menepuk pucuk kepala Ipek dan berlalu dari kamar itu.


_____________________________________________


Semenjak mengetahui Mert seorang pria hilang ingatan Adara langsung memberi perintah untuk melakukan pelacakan posisi pada Mert melalui Nomer ponsel yang di dapat Mete dari seorang pelayan.


Posisi Mert masih di perairan negara mereka.


Tidak sampai disitu, wanita itu benar-benar gila dengan merencanakan sesuatu yang mengcengankan bagi Mete. Adara meminta Mete mencari tiga orang dari bagian angkatan udara secara Ilegal untuk melakukan penculik Mert dari kapal Orucoglu.


Sementara di kapal, Mert berencana kabur menggunakan sekoci, tapi untuk menurunkan benda itu butuh beberapa orang. Mert mengingat di geladak lantai dasar ada speed booat.


Abizard mencari keberadaan Mert, kedalam kamarnya tapi kosong. Pria itu kemudian berlari naik ke geladak atas. Ia melihat Mert berdiri disana sendirian.


"Mert, Ibu menyuruhmu untuk mencoba pakaian pengantin kalian." ucap Izard menepuk bahu Mert.


"Oh, ya ... aku akan kesana." Mert membalas menepuk lengan Abizard, ia harus menunjukkan kalau dirinya sedang tidak merencanakan sesuatu.


"Mert," panggil Abizard menghentikan Mert. "aku senang kau jadi bagian keluarga Denir."


Mert mengangkat kedua bahunya, "Aku juga begitu." Mert berbalik dan seketika wajah ramahnya berubah kecut.


Adara sepakat memberi nilai tinggi untuk mendapatkan Mert dari kapal itu. Ia ingin memastikan siapa Mert sebenarnya, sekalipun itu mengecewakan dan kin suruhannya mencari keberadaan Mert menggunakan Helikopter.


Mert berhasil melepaskan Speed boot dengan bantuan penumpang ilegal yang ada di geladak bawah.


"Terima kasih," ucap Mert, pria itu sudah rapih berpakaian formal. Hari ini ia akan menikah.


"Lokasi terlacak." kata Mete memperhatikan tab di tangannya. Mert berada di geladak bawah, pilot mengambil posisi ke arah kapal besar yang tidak jauh dari mereka.


Satu ruangan khusus sudah di sulap mewah oleh crew kapal sebagai tempat pernikahan. Pastor yang sengaja mereka bawah sedang menunggu acara di mulai.


"Panggil Mert, waktunya sudah tiba." kata Ny. Denir, pada Abizard lalu pria itu berbisik pada Shakil yang ada di sampingnya. Shakil berdiri dan keluar untuk memanggil Mert ke kamarnya.


Ipek tampak cantik dengan balutan gaun putih melekat ditubuh seksinya. Ia menunggu Mert menjemputnya dan membawanya ke ruang pernikahan. Ipek duduk di depan cermin di temani penata rambut. Gaun yang ia kenakan bukan buatan Elif. Ipek merencakan gaun itu akan digunakan saat mereka mengadakan resepsi jika sudah sandar sesuai rencana ibunya.


"Nona Ipek, saya tidak menemukan tuan Mert di kamarnya. Apakah ada disana?" Tanya Shakil dari luar pintu, Ipek bangun dari duduknya dan membuka pintu.


"Tidak." katanya tatapannya gusar.


Shakil membungkuk kecil meninggalkan Ipek dan kembali menemui Abizard. Pria itu berbisik mengatakan kalau Mert menghilang.


"Kau sudah cari diatas?" bisik Abizard


"Sudah Tuan." Abizard langsung berdiri dan berlari keluar membuat yang hadir di tempat itu terkejut.


Iskak dan Kenan mengikuti, membuat pastor tanda tanya dengan gerakan keburu-buruan mereka.


"Ada apa?" tanya Kenan.


"Mert menghilang."


Seketika Ipek menjerit mendengar ucapan Abizard.


"Kita di laut Izard, mungkin dia disuatu tempat." Kenan berujar.


Iskak mengeraskan rahangnya melangkah cepat dengan mata melebar masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sesuatu dari penyimpanan barang rahasianya.


Abizard dan yang lain berlari ke atas kapal, menyusuri keberadaan Mert menggunakan teropong.


Shakil berlari terengah-engah menghampiri Abizard dan mengatakan bahwa salah satu perahu motor mereka hilang.


Abizard menggeram, Kenan terduduk diam tidak ada kata yang keluar dari mulut pria itu. Abizard menangkap Mert lewat teropong mengemudikan perahu motor mulai menjauh dari kapal milik mereka.


"Keparat!" umpat Abizard.


Iskak mengeluarkan pistol dari belakang tubuhnya, lalu membidik ke arah Mert yang semakin menjauh.


"Daddy, jangan lakukan itu!" Mohon Abizard, bukan untuk melindungi Mert tapi ia tak ingin ayahnya menjadi seorang pembunuh.


Kenan bangun dari duduknya, "Tidak Iskak, kau tidak boleh melakukan itu. Mert bukan putraku. Dia orang asing." ucap Kenan, memohon, selama dua tahun Mert sudah menjadi putranya tapi sekarang ia tidak ingin menahan pria itu lagi. Dia harus menerima kenyataan kalau Mert anaknya sudah meninggal.


"Seharusnya pria itu tidak bernapas dua tahun yang lalu. Aku hanya ingin mengembalikannya ke dalam lautan." kata Iskak dengan tatapan tajam. Kemudian melepas tembakan pada Mert.


Tembakan pertama gagal begitu juga dengan kedua tapi sayangnya peluru ketiga tidak dapat Mert hindari saat jengah melihat helikopter mendekat ke arahnya.


Dorr...


Tembakan itu mengenai punggung Mert. Iskak menyerigai jahat tapi saat berbalik ia melihat Ipek menatapnya penuh kebencian.


"Aku ingin dia hidup, Daddy." ucap Ipek kemudian meninggalkan tempat itu.


"Jika putriku tidak bisa memilikimu, orang lain pun tidak bisa. Lenyap adalah solusinya." Iskak meninggalkan Kenan yang gemetaran melihat Perahu Mert tidak bergerak lagi.


Abizard menghela napas berat. Tapi ia penasaran kenapa Helikoptern itu mendekat di atas Mert detik kemudian Abizar membeliak melihat seseorang turun mengenakan tali lalu mengikat tubuh Mert pada tubuh pria itu dan ditarik ke udara.


Mert ...


Abizard menggepalkan kedua tangannya erat.


Bersambung ...


Terima kasih masih tetap di Obsessive loves. Terima kasih untuk Vote, like dan ulasannya. Maaf ya nggak balas komentar kalian. Harap mengerti tapi saya sangat antusias membacanya.