
Dara, ayo kita bertemu. Aku akan berkunjung ke rumahmu atau kita bertemu di tempat lain? Please ...
Adara membaca pesan Jie, perempuan itu memintanya bertemu. Adara menggenggam erat ponselnya, ia tampak berpikir sebelum kemudian ia mengetik dan menjawabnya.
"Mom," Illy menyadarkan wanita itu dari lamunan. Hari ini, ia meluangkan waktu untuk menjemput Illy di sekolah.
"Iya sayang,"
"Kapan Mommy pulang ke rumah?" Tanya Illy, seraya memainkan slime warna-warni di tangannya.
"Mmm, tidak lama lagi," jawab Adara, menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa tidak sekarang saja?" Illy menunduk sedih.
"Sayang, ada sesuatu yang mengharuskan Mommy dan Daddy tidak bisa tinggal satu rumah. Masalah orang dewasa, jangan bertanya lagi tapi doakan Mommy dan Daddy bisa bersama dan tinggal bersama Illy," Adara mengusap kepala Illy, memberi pengertian pada putri kecilnya itu. Illy mengangguk lalu memberi senyum terbaiknya.
"Baiklah Illy, kita pulang tapi kau harus mengenakan sabuk pengamanmu, sayang." Adara memasang sabuk pengaman Illy, "Oke ... kita pulang." Tambah Adara, mulai menjalankan mobilnya.
"Go ...." sorak Illy kegirangan.
__________________________________
_________________
Sudah lama Jie menunggu kedatangan Adara, entah kenapa wanita itu belum datang juga sementara janji temu mereka seharusnya satu jam yang lalu. Jie masih duduk di dalam mobilnya sembari menikmati hamparan laut dari jendela mobilnya.
Jie tersenyum, mengusap perutnya yang masih datar. Seolah berbagi keindahan yang ia nikmati pada bayi dalam rahimnya.
"Mama janji akan menjagamu, sehatlah disana." gumamnya, tersenyum menjatuhkan tatapannya pada perut datar itu, dengan tatapan kasih.
Adara menepikan mobilnya tepat di belakang mobil Jie. Ia menghembuskan napas panjang, membuka pintu mobil untuk menghampiri Jie.
"Jie," sapa Adara, menyunginkan senyum.
Jie menghela napas berat menatap Adara yang sudah berdiri di luar mobilnya. " Kenapa begitu lama?"
"Sorry, ada sesuatu yang harus aku selesaikan tadi, mau berjalan di bibir pantai?" Adara melipat tangan di dada, seraya mengamati laut biru yang tak jauh dari mereka.
"Boleh," Jie setuju. Mereka berjalan di bibir pantai, menikmati suara ombak dan gulungan air terlempar ke membanting kaki telanjang mereka.
Adara melepas cardigan yang ia kenakan dan dengan telaten menyampirkan pada bahu Jie.
"Ada bayi dalam rahimu, kau harus menjaganya." ucap Adara dengan lembut.
"Terima kasih," Jie tersenyum lalu mengenakan cardigan itu seutuhnya dan mengulurkan tangan, Adara menyambutnya mereka berjalan bergandengan tangan di bibir pantai.
"Sudah lama ya kita tidak jalan bareng," ujar Jie, Adara tersenyum mengiyakan.
"Bagaimana rasanya, Jie?" tanya Adara memperhatikan perut Jie.
"Mmm ... mual, nafsu makan berkurang dan lebih cepat lelah," Jie menipiskan bibir.
"Kau pasti kesulitan, ya?"
"Tidak juga, aku menikmatinya." Adara menghentikan langkah kakinya, berbalik menata Jie.
Menikmati? Dasar pembohong! Kau hamil di luar nikah dan masih bisa bersikap tenang di depanku hanya untuk menyenangkanku!
Adara menarik sudut bibirnya, senyum kepalsuan. "Aku senang mendengarnya," ucap Adara.
"Dara, aku akan pulang ke Toronto," gumam Jie dengan nada kecil. Adara tersenyum pahit, melepas tangan Jie dari genggamanya.
"Kenapa kau keras kepala untuk membesarkan bayi itu sendiri, Jie? tanya Adara, melanjutkan langkahnya beriringan dengan langkah Jie.
"Aku pikir itu yang terbaik, Dara." Adara terkekeh garing mendengarnya.
"Jie, saat aku melepas Rion, aku dipandang sebelah mata oleh orang. Status janda, sangat menyakitkan selama ini kau menjadi saksi dari kepedihan yang aku alami." kata Adara, ia melihat Jie tampak kedinginan oleh angin pantai. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pandangan orang padamu nantinya, melahirkan anak tanpa menikah." tambah Adara.
"Aku pasti bisa melaluinya, Dara," Adara menghela napas berat, berhenti melihat Jie yang tegar.
"Jie ..., kenapa tidak kau coba mengatakan pada Emre?"
"Aku kedinginan, ayo kita ke mobil." ucap Jie sengaja mengalihkan pembicaraan. Adara mengangguk dan keduanya melanjutkan langkah kakinya meninggalkan bibir pantai.
"Jie, apa Emre sudah menemuimu?" tanya Adara lagi, ia ingin tahu karena Mete mengatakan sempat melihat Emre berkunjung ke kafe Adara.
Jie menggelengkan kepala, "Untuk apa dia menemuiku, kami tidak ada hubungan apa-apa," katanya Jie.
"Kau mengandung anaknya, Jie. Kalau kau mau aku akan membantumu. Mungkin kau bisa menutup mata dan telinga saat orang bergosip di belakangmu tapi bayi itu aku tidak nyakin dia bisa menerima keputusanmu yang bahkan kau belum mencoba untuk membuka hati Emre."
"Keputusanku sudah bulat, Dara. Aku akan membesarkan bayi ini sendirian, aku tidak bisa hidup dengan pria yang mencintai orang lain. Terlebih aku tidak ingin cemburu padamu."
"Alasanmu menyakitiku, Jie." kata Adara, membuka pintu mobil Jie, dan mengizinkan wanita hamil itu masuk. "Aku pikir kau mengajakku bertemu karena ingin menjalin persahabatan ini lebih lama. Kau mengecewakanku, aku tidak bisa menahanmu untuk tetap tinggal disini. Kembalilah ke Toronto dan bahagia disana." kata Adara, menutup pintu mobil Jie membuat wanita itu terkesiap.
Jie segera menurunkan jendela mobil dan memanggil Adara.
"Dara, kau tetap sahabatku. Aku akan terus mengabarimu sampai kau memaafkan aku." seru Jie, Adara berdecih dan membuka pintu mobilnya. "Cardigan ini, akan aku bawah ke Toronto dan akan aku kenakan setiap kali merindunkanmu." Tambahnya, dengan setengah berteriak. Ia masih bisa mendengar Adara membanting pintu mobilnya, kasar.
_________________________________
_______________
Adara berulang kali menghubungi Emre, tapi tidak dijawab. Keputusan konyol Jie membuatnya jengkel, ia tidak ingin cinta Emre kepadanya menjadi alasan Jie merahasiakan kehamilannya. Seolah hamil di luar nikah bukanlah aib.
"Angkat Emre!" Teriak Adara melempar ponselnya ke sofa tanpa ia sadari Rion memperhatikannya dari ambang pintu.
"Apa sesuatu terjadi?" Tanya Rion, dan langsung mendapat tatapan membunuh dari Adara.
"Apa ini rumahmu? Kenapa kau selalu datang tanpa kabar?" Rion terperanjat, spontan menghentikan langkah kakinya. Wanitanya meneriakinya dengan tatapan sinis.
"Pulanglah! Besok datang lebih awal ke kantor jangan seperti pria pengangguran. Sudah saatnya kau mengurus perusahaanmu." ketus Adara, menyambar kunci mobil berikut ponselnya dan melewati Rion yang mematung di tempatnya. Melihat Adara marah begitu membuatnya kelimpungan.
"Hun, kau mau kemana?" Rion berbalik mengikuti langkah Adara keluar rumah. Adara berhenti di samping mobilnya.
" Pulanglah ada yang ingin aku selesaikan,"
"Masalah temanmu itu?"
"Mmm,"
Rion menghela napas berat, "Hati-hati di jalan atau kau mau kutemanin?" Rion mengambil tangan Adara dan mencium punggung tangan itu lembut.
Adara mencoba menetralkan emosinya. "Maaf sudah berteriak padamu," lirih Adara dengan raut menyesal. "Aku akan pergi sendiri."
Rion tersenyum manis, "Suaramu hampir menelanku tadi, tapi entah kenapa aku ingin memelukmu untuk meredam kemarahanmu," Rion membawa Adara kedalam dekapannya.
"Maaf ... Ion," Adara menangis dalam pelukan Rion, "Aku benci situasi ini, kenapa harus aku yang jadi alasan mereka." Isak Adara pilu, Rion mengusap lembut kepala wanitanya itu.
"Kalau kau mau, aku akan menghajar dokter itu," ucap Rion.
"Kau hanya akan memperkeruh masalah," Adara menepuk dada Rion. "Aku pergi, ya." pamit Adara dengan kecil, air matanya sudah membanjiri pipi lembutnya.
"Dara, aku sudah menerima surat perceraian dari pengadilan," ucap Adara menghentikan tangan Adara membuka pintu mobilnya, ia menoleh.
"Aku ingin kita menikah lebih cepat." kata Rion lagi, Adara mengangguk kecil.
"Terima kasih, Hun." Rion mengecup kepala Adara sebagai rasa terima kasihnya lalu menyeka air mata calon istrinya itu dengan jemarinya. "Jangan menangis, aku sakit hati melihatnya." bisik Rion.
___________________________________
____________________________
Seluruh staf karyawan Company Emirat dari berbagai devisi kini berkumpul di dalam ruang rapat untuk menghadiri penyerahan jabatan direktur utama yang di pimpin oleh Adara dan akan di serahkan kepada Rion.
Setelah berkas di tanda tangani di depan Ardan sebagai pengacara dan beberapa petinggi di perusahaan itu saling berjabat tangan dan di saksikan oleh karyawan yang hadir di dalam ruangan itu.
Adara dengan sikap kepemimpinannya, menjabat tangan Rion sebagai sah nya Rion menjadi pimpinan baru Emirat Company.
"Terima kasih," gumam Rion, ia ingin menarik Adara kedalam pelukannya saat melihat betapa datarnya wajah Adara dan tatapan itu sangat tajam. Wanita itu saat berada di kantornya terlihat seperti orang asing.
"Sama -sama pak Rion, saya berharap Anda sebagai pimpinan baru perusahaan ini bisa membangun, melatih, memotivasi para pekerja Anda." Kali ini Rion ingin menarik Adara dan menciumnya sampai kehilangan napas. Bisa-bisanya wanita itu menatapnya penuh penekanan di depan para karyawanya.
"Baiklah, Anda bisa memberi sambutan sebagai pimpinan baru," ujar Anatha mempersilahkan Rion maju ke podium dan mempersilahkan Adara, Ardan, Hana dan pemimpin-pemimpin berpengaruh dalam perusahaan itu.
Rion melangkah maju ke podium dan menyapa satu persatu orang penting yang tertulis dalam pidato yang di sediakan Antha sebelumnya.
Ponsel Anatha bergetar, ia merogoh dari dalam tasnya dan membaca pesan Mete yang meminta agar Adara memeriksa ponselnya.
Anatha melirik Adara yang tampak serius mendengar pidato Rion. Ia mengurungkan niat menganggu tapi ponsel itu kembali bergetar.
Urgent!
Anatha menghampiri Adara, berbisik. Wanita itu mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya dan seketika ia membeliak kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu, mencuri perhatian Rion yang masih menyampaikan pidatonya.
"Ke rumah sakit!" Perintah Adara pada Ahmed, supirnya. Adara menekan nomer Mete dan menunggu di jawab.
Bersambung ....