
Jie Ranita, memperhatikan Emre dari meja kasir. Pria itu tengah mabuk sembari mengamati gelas vodka di tangannya. Kemudian ia terkekeh, mengingat kilasan bagaimana ia mencium Adara.
"Berakhir sudah," gumamnya dengan perasaan sedih. Emre bahkan belum mendapatkan cinta Adara kini Rion kembali. Ah, bodohnya Emre yang hanya menunggu selama ini.
"Apa aku bodoh? Kenapa bisa lamban untuk mendapatkan cinta Adara? Harusnya aku memaksanya saja." desis Emre menegak minumannya lalu bahunya berguncang, ia menangis. Dasar pria bodoh.
Jie berdecak melihat pria menyedihkan di yang ada di kafenya itu.
Cinta itu hanya lima huruf tapi susah didefinisikan. Cinta banyak melukai juga cinta bisa mengobati luka. Semua tergantung orang yang mengalaminya.
Jika Rion menggebu mencintai Adara, maka Emre tampak santai dan setia menunggu kemudian terluka. Lalu Jie? Dia hanya menyukai Emre diam -diam, mengangumi pria itu dari kejauhan. Seperti saat ini, wanita berdarah asia itu hanya bisa mengamati Emre dari tempatnya berdiri. Terluka melihat Emre terluka, bahagia melihat Emre bahagia. ya begitulah cinta. Aneh tapi nyata.
Emre mengangkat tangannya, namun kepala pria itu tertunduk lemah. Ia ingin menambah minumanya. Jie melihat waktu dalam ponselnya, sudah dini hari.
Semenjak kejadian waktu itu, Jie tidak lagi berani mendekati Emre saat mabuk. Ia tidak ingin Emre menciumnya dengan panas lalu besoknya lupa.
Jie berdecak, karyawannya sudah bubar hanya tinggal dirinya dan pria mabuk di meja sudut kafe itu.
"Astaga, kapan dia pergi." gumam Jie, ia menghembuskan napas panjang mengumpulkan keberanian menghampiri Emre. Jie berjalan mendekatinya.
"Hei pria mabuk, kafe ini mau tutup —,"
"Jie, pria itu kembali lagi." Emre menyela ucapan Jie sembari tertawa dengan raut menyedihkan.
Jie menaikkan sebela alisnya, " pria siapa?" tanya Jie penasaran.
"Rion." Emre menarik tangan Jie agar duduk di sampingnya. Jie terpekik sembari kaget mendengar Rion kembali.
"Kau melihatnya?" tanya Jie.
"Mmm, sore tadi di rumah sakit. Adara menemukannya."
"Apa yang terjadi? Jadi pria itu sungguh Rion."
"Kau tahu tentang itu?"
"Mmm, Adara cerita waktu itu." Emre terdiam, ia menatap Jie membuat gadis di hadapannya itu canggung. Jie melipat bibirnya ke dalam, jantung Jie berdegub lebih cepat sampai-sampai telinganya dapat mendengarnya.
Jangan permalukan aku jantungku, aku mohon.
"Jie,"
"Ya."
"Apa kau pernah mencintai seseorang tapi sepihak?"
"Aku tidak yakin." Jie terkekeh, memalingkan wajahnya yang bersemu. Ia menghembuskan napas perlahan. Saat ini itulah yang terjadi pada Jie. Mencintai sepihak.
"Adara cinta pertamaku, bahkan sampai sekarang aku masih mencintainya." Emre mengakuinya, hati Jie berdenyut perih mendengarnya. Gadis itu cemburu.
"Benar kata orang kalau cinta pertama itu tidak selalu berhasil kita miliki." gumamnya, Jie mengangguk asal. Ia mulai bosan mendengarkan Emre. "Kau terlihat cantik Jie." Emre menyentuh rambut Jie. Gadis itu menelan ludahnya kasar.
"Kekasihmu pasti sangat mencintaimu." suara Emre terdengar sedih. Jie tersenyum, sedetik kemudian mereka bersitatap lama. Entah apa yang membuat Jie mendekat lalu mencium Emre.
Apa ini? Aku yang memulainya. Apa yang aku lakukan? Aku sudah gila! Murahan!
Jie mencela dirinya sendiri.
Jie segera menarik dirinya saat bibir keduanya menempel. Emre mengerjap, lalu kemudian tangan pria kokoh itu menarik Jie dalam pelukannya. Mencium penuh hasrat yang tertahan. Jie membalasnya, keduanya berdiri masih menyatukan bibir. Emre mengangkat tubuh Jie lalu gadis itu melingkarkan kakinya sembari menikmati bibir Emre. Hayut dalam keheningan malam yang nikmat. Emre membawa Jie ke ruang istirahat dan membaringkannya di sofa panjang.
"Ibu bisa pulang, biar Rion aku yang jaga." ucap Adara ketika melihat Hana berusaha menahan kantuk.
"Tidak, aku ingin ada saat dia bangun." Hana menolak, melipat tangan di dadanya dan menyederkan punggunya pada kursi tunggu di samping Rion.
"Kalau begitu, tidurlah di sofa itu."
Hana menghela napas, melihat ke arah sofa di ruangan itu. Cukup untuk ia berbaring tapi Hana bertekad, ia berharap Rion bangun dan memanggilnya.
"Aku tidak apa-apa. Kalau kau mengantuk tidurlah disana. " Adara mengangguk, lalu melepas genggaman tangan Rion. Adara menahan senyum saat melihat betapa gilanya Rion bahkan saat tidur genggamanya sangat erat.
Kau sangat takut kehilangan aku, ya? Aku akan menghukummu saat kau pulih. Batin Adara, ia berhasil melepas tangan Rion lalu berniat istirahat di sofa.
"Bukankah Rion lupa ingatan? Tetapi kenapa dia mengingat namaku? Saat di kota pesisir ia bahkan tidak mengenaliku." Gumam Adara, ia membaringkan tubuhnya di sofa panjang itu sembari memikirkan Rion.
Apa ingatan Rion sudah kembali?
Spontan ia bangun dan menoleh ke arah Rion.
Apa karena itu dia melarikan diri dari Kenan? Lalu kenapa Rion harus ditembak?
Adara mengusap wajahnya gusar, ia kembali teringat mengenai pernikahan Rion yang akan diadakan di kapal.
"Ipek. Aku yakin Rion menolak menikah dengan wanita itu." guman Adara, ia tampak gusar.
"Kau teelihat gelisah Adara? Ada apa?" tanya Hana, ibu tua itu tiba-tiba saja mendatanginya dan duduk di salah satu sofa. Ia tampak mengantuk.
"Ibu, Rion ... punya tunangan."
"Apa?" Hana terkejut mendengarnya, ia melebarkan mata akan tetapi rasa kantuk itu tidak bisa berbohong. Wanita itu menguap lebar, Adara tersenyum melihatnya.
"Tidurlah, besok akan aku ceritakan."
"Tida, tidak. Ceritakan bagaimana bisa dia bertunangan. Oh ... katakan! Bagaimana kalian bertemu aku lebih tertarik mendengar itu daripada tunangannya itu." kata Hana, lalu ia kembali menguap.
"Cih, tidurlah ... kau ingin aku mendongen?"
"Eih ... aku selalu ingin mengutukmu." Hana mengalah ia memejamkan matanya dan tidak menunggu lama deru napas Hana teratur pertanda ia sudah terlelap.
"Keras kepala." gumam Adara sembari tersenyum. Ia menoleh ke arah Rion. "Bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini, Rion." Adara melangkah mendekati tempat tidur Rion.
Duduk, dan mengangkat tangan lunglai pria itu dan membawanya ke pipi. Hangat dan nyaman, reflesk Adara memejamkan mata menikmati suasana. Rasa hangat yang dihantarkan pipi Adara melalui telapak tangan Rion, membuat pria itu terbangun dari tidurnya.
Rion perlahan membuka mata lalu melihat bagaimana Adara tersenyum dengan mata terkatup. Rion tersenyum, ia ingin mengelus wajah kecil Adara dengan ibu jarinya yang bebas tapi melihat Adara nyaman Rion memilih diam dan memandangi raut Adara yang tampak bahagia.
Adara membuka matanya, disaat itu juga Rion memejamkan mata, jantungya berdegub. Sudah sangat lama ia tidak melihat Adara dan sekarang wanita yang selalu hadir dalam mimpinya saat ia menjadi Mert kini benar-benar ada di sisinya dan menjaganya.
Rasa kantuk memulai menghinggapi Adara ia meletakkan tangan Rion pelan, agar pria itu tidak terganggu dan terbangun. Kemudian ia mencondongkan tubuh ke tepi ranjang dan menggunakan tangan sebagai bantal untuk ia menenggelamamkan wajahnya dan memejamkan mata.
Rion membuka matanya, dan menjatuhkan tatapannya pada Adara yang tengah tertidur. Ingin rasanya pria itu bangun dan mengangkat tubuh Adara ke tempat tidur, disisinya dan tentu dalam pelukannya. Rion menunggu cukup lama sampai merasa kalau Adara sudah dalam dunia mimpi, ia memberanikan diri menyentuh kepala Adara dan membelai rambut Adara dengan gerakan lembut.
Aku tidak ingat apapun, tapi aku mengingat dirimu. Saat dalam dunia gelapku aku melihat wajahmu jelas. Kau memanggilku dengan suara merdumu. Aku tergoda dan berusaha bangun kemudian dihadapkan pada dirimu, Adaraku. Disaat itulah aku mengingatmu sebagai Cintaku, kehidupanku dan mantan istriku. Dara, aku mencintaimu. Batin Rion masih memainkan rambut Adara.
Bersambung ...
Ket pic: Kalian pernah tidak nonton drama Chelsea Olivia dengan Glend alisky yang berjudul Buku haria Nayla? Nah yang dua ini juga memainkan peran yang sama dengan judul Bir litre Gozyasi jadi nggak ada sama sekali kaitannya ya sama cerita yg kubuat.