OBSESSIVE LOVES

OBSESSIVE LOVES
Alasan Ibu hidup adalah kamu Illy



Ipek masuk tergesa-gesa hingga menabrak Adara yang ingin keluar dari toilet.


"Maaf," ucap Ipek minta maaf, Adara mengangkat kepalanya melihat sosok yang menabraknya.


"Perhatikan jalanmu, Nona." ucap Adara dengan raut dingin. Mengibaskan tangannya pada perempuan di hadapannya itu.


"Sialan! Dia pikir siapa dirinya?" Ipek memutar bola matanya jengah memandang punggung Adara keluar dari tempat itu.


Ipek jengkel, lalu masuk ke dalam toilet dan mendapati Illy berdiri di sana seorang diri.


Gadis kecil itu mendengar umpatan Ipek pada ibunya."Maaf, dia ibuku." gumam Illy menunjukkan raut bersalah pada wanita dewasa itu.


"Oh ya ampun manisnya, tidak masalah sayang. Itu bukan kesalahanmu." Ipek tersenyum dan menepuk kepala Illy lembut sebelum kemudian ia masuk ke dalam bilik.


Anak manis, sayang sekali ibunya seperti iblis.


Tak lama kemudian Adara masuk membawakan celana Illy.


"Ayo ganti celanamu, sayang." ucap Adara membawa Illy masuk ke bilik dan disaat itu Ipek keluar dari sana.


Dini hari Adara tiba di resort yang sudah di booking Anatha untuk mereka. Adara memperhatikan Illy yang tengah tertidur di bangkunya. Pelan -pelan Adara membuka pintu dan mengangkat Illy memasuki resort. Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat datang di Resort Orucoglu, Nyonya." Sambut dua pelayan dan membukan pintu untuk Adara.


Adara melangkah tanpa menjawab sapaan itu dan membawa Illy masuk langsung menuju kamar. Adara meletakkan Illy di kasur, mencium lembut kening Illy dan menyelimuti gadis kecil itu. Adara keluar dan menutup pintu pelan.


Ia segera masuk kedalam kamarnya lalu berbaring. Memejamkan mata mengizinkan alam mimpi membuainya.


______________________________________________


Surya menyapa bumi, suara debur ombak terdengar syahdu di pagi hari menerpa batu karang dan membawakan pasir lembut ketepian. Gadis kecil yang sedang terbaring di peraduanya perlahan membuka mata. Ia mencari keberadaan ibunya disisinya tapi tidak ada. Illy bangun dan menurunkan kakinya ke lantai, berjalan mencari Adara.


"Mom," panggil Illy membuka pintu dan melihat pintu kamar tepat disamping kamarnya. Illy mendorong pelan dan rasa lega terlihat di raut gadis kecil itu. Adara masih terlelap.


Tak mau menganggu tidur lelap Adara, ia memilih keluar dari tempat itu dan disambut oleh keindahan alam. Tak jauh dari penginapan mereka, pantai menjadi hadiah terbaik dari alam untuknya. Illy berlari mendekati bibir pantai. Suara indahnya beradu dengan suara ombak.


Abizard melihat dari balkon rumah Mert. Lama pria itu mengamati, dan berpikir kenapa gadis kecil itu seorang diri di bibir pantai tanpa pengawasan orang dewasa.


Abizard menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang ia lihat kemudian memutuskan untuk menghampiri gadis kecil itu.


"Hei Nona manis, apa yang kau lakukan disini sendirian?" Izard mendekati Illy. Bukannya menjawab Illy bangun dari duduknya dan tampak takut.


"Hei, aku bukan orang jahat." ujar Izard begitu melihat raut takut Illy.


"Kau lihat itu? Paman tinggal disana." Izard menunjuk rumah Mert.


"Jadi paman pemilik rumah itu?" Tanya Illy, menjaga jarak dengan Izard. Ia ingat pesan Adara kalau dirinya tidak boleh berbicara pada orang asing.


Adara punya alasan untuk itu, setelah Calista masuk rumah sakit jiwa. Nenek dari pihak Calista selalu berusaha mengambil Illy dari tangan Adara.


"Kadang-kadang, ," jawab Izard dengan ramah. "Dengar kau tidak boleh berkeliaran disini tanpa pendamping, oke!" Tambahnya. Ia mendekati Illy dan mengambil tangan Illy kemudian membawanya menjauh dari bibir pantai.


"Terlalu berbahaya, dimana orang tuamu?" tanya Izard.


"Mommy? Dia sedang tidur." jawab Illy jujur. Izard menautkan kedua alisnya.


Orang Tua macam apa yang mengizinkan anaknya berkeliaran di tempat berbahaya.


"Illy ...," panggil Adara, berlari kecil menghampiri Illy. Ia menarik Illy dari genggaman Izard.


"Lepaskan!" Ketus Adara, menatap dingin Izard sementara pria itu terpaku melihat penampilan polos Adara di pagi hari.


Cantik dan natural.


Adara membawah Illy menjauh dari Izard, "Apa yang kau lakukan? Kau keluar tanpa Mommy? Bagaimana kalau terjadi sesuatu, Hah?" Adara marah melepas tangan Illy kesal. Wanita itu panik begitu tidak menemukan Illy di kamarnya.


"Sorry, Mommy." Illy menunduk dengan rasa bersalah.


"Sorry? Illy siapa yang membawamu kesana? Siapa pria tua itu?"


"Hei saya belum tua, Nyonya."


"Dan saya tidak perduli." Gertak Adara pada Izard yang kini sudah berdiri di antara mereka.


Abizard mengoyangkan kedua bahunya. Sementara kedua mata Illy sudah berkaca-kaca.


"Kau membawa putriku kesana?" Tanya Adara dengan sinis.


"No, Mom ..."


"Diam Illy!" Gertak Adara, tanpa mengalihkan tatapan menusuk pada Abizard.


"Sepertinya Anda salah paham, aku melihat putri Anda bermain sendirian. Jadi aku pikir itu tidak baik dan aku ingin membawanya menjauh dari pantai." ucap Izard menjelaskan.


"Baiklah, karena Anda sudah disini maka saya permisi." Abizard melangkah melewati Adara yang terdiam di tempatnya. Pria itu menyempatkan diri mengusap kepala Illy yang masih menunduk diam.


Adara menghembuskan napas kasar. Ia menyesal karena sudah membentak Illy. "Dengar, jangan ulangi lagi! Oke?" Adara menunduk menyamakan tingginya dengan Illy. Gadis kecil itu mengangguk patuh.


"Maafkan Mommy, kau tahu Mommy ketakutan saat tidak melihatmu di dalam kamar." Adara menyeka air mata Illy yang sudah menitik. "Kemarilah," Adara membawa putrinya itu dalam pelukannya.


Alasan Ibu hidup di dunia ini hanya karena kamu, Illy.


"Kau mau main pasir?" tanya Adara, setelah melepas pelukannya.


"Tentu, sekarang kau bebas karena Mommy sudah disini." Adara merapikan rambut Illy yang dimainkan angin pantai. " Tapi sebelum itu kita harus kembali ke kamar, sarapan, mandi dan kita langsung bermain pasir." ujar Adara dan langsung di angguki Illy senang.


Dari balkon Abizard memperhatikan ibu anak itu. Ia tersenyum mengingat bagaimana tajamnya tatapan Adara padanya.


Sayang sekali dia wanita bersuami.


"Kau disini?" Abizard terkejut melihat kedatangan Mert yang tiba-tiba. .


"Menjemput Ipek, gadis itu tidak mau pulang semalam." Kata Abizard tanpa mengalihkan tatapannya dari Ibu anak yang sedang berjalan menuju resort mereka.


"Kau melihat apa?" Mert penasaran dan mengikuti arah tatapan Abizard. "Siapa mereka?" tanya Mert menatap Adara dan Illy dari kejauhan.


"Tamu di resort kamu."


"Anak dengan Ibu." Mert menertawakan Abizard yang tampak menyukai dua orang di bawah sana.


"Pergilah!"


"Hei, ini rumahku ..." protes Mert tergelak dan meninju bahu Abizard.


"Bagaimana dengan Ipek? Kau sudah mencintainya?" Tanya Abizard, menoleh pada Mert. Pria itu menghela napas panjang.


"Jangan bahas hal itu," Mert memasang tampang malas.


"Dia adikku, Mert."


"Yah, aku tahu itu."


"Cobalah buka hatimu, Ipek sebenarnya gadis yang sangat baik. Hanya saja Carlie merusak mentalnya disana."


Dan aku yang harus bertanggung jawab untuk itu.


Mert, tersenyum pada Abizard. "Aku mau ke kamar dulu. Nikmati harimu, kawan." ucap Mert meninggalkan Abizard di balkon.


______________________________________________


Mert duduk di tepi pantai sambil menatap bayang semu dalam lamunanya. Tersenyum manis bak bidadari, dengan binar mata yang indah. Mendekat lalu membelai wajah Mert dengan tangannya yang lembut. Mert tersenyum ia memejamkan mata saat bidadari itu mendekat dan memberinya kecupan singkat dibibirnya.


"Illy, hati-hati jangan masuk kedalam air. Oke!" suara itu membuyarkan lamunan Mert.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Mert melihat Adara dan Illy berkejar-kejara di bibir pantai sambil tertawa riang, sesekali Adara mencipratkan air ke wajah Illy membuat keduanya tergelak bahagia.


Mert hanya bisa melihat tanpa jelas ibu anak itu tapi suara keras mereka berhasil mengusik lamunan Mert.


Mert menggambar bentuk hati di pasir dengan jarinya, lalu menulis Hun di tengah hati itu. Ia tersenyum, merasa kalau dirinya memang sudah gila pada bayangan semu itu.


"Help me!" Suara teriakan itu mengangetkan Mert, ia bangun dari duduknya dan melihat Adara masuk kedalam mencari Illy.


Mert mencari keberadaan Illy dengan tatapannya dan seketika membuatnya panik. Gadis kecil itulah alasan Ibunya berteriak minta tolong.


Illy tidak sengaja masuk kedalam air saat Adara mengambilkan air minum untuknya. Ombak berukuran kecil menghayutkanya.


"Aku mohon seseorang tolong saya!" Adara mencoba menyelam mencari Illy.


Mert melempar ponselnya di atas pasir dan berlari ke tempat dimana Illy tenggelam. Mert menyelam. Adara keluar dari air tanpa hasil. Ia berteriak memanggil Illy.


"Illy ..., Illy ...!" Suara itu mengundang banyak orang, begitu juga dengan Ipek dan Abizard yang tengah berbicang di balkon.


"Astaga, apa yang terjadi?" Abizard menuruni anak tangga dan berlari dengan segala tenaga yang ia punya menghampiri Adara.


"Apa yang terjadi, Nyonya? Tanya Abizard mendekat.


Adara menjatuhkan dirinya berlutut memohon.


"Tolong selamatkan putriku, aku mohon." katanya berulang kali sambil menunjuk ke arah air. Abizard melepas bajunya, dan berniat menyelam, tapi saat ia masuk ke dalam air. Mert muncul dari dalam air dan mendapatkan Illy.


"Astaga, Mert." Abizard mengambil Illy dari tangan Mert dan membawanya ke tepi pantai.


"Illy ...," Teriak Adara.


"Minggir Nyonya, biar saya tangani." Abizard memberi pertolongan pada Illy dengan cara apapun.


Sementara Mert berusaha mengatur napasnya yang tersengal-senggal. Ipek menghampiri dan panik melihat wajah merah Mert. Pria itu tidak pandai menyelam tapi entah keberanian dari mana hingga ia memutuskan masuk kedalam air.


"Mert, kau tidak apa-apa?" Ipek menepuk-nepuk punggung Mert sementara jarak lima meter darinya Abizard berhasil membangunkan kembali Illy.


"Illy ... kau tidak apa-apa sayang?" Illy terbatuk, memuntahkan air yang ia minum. Adara segera membawa putriya itu kepelukannya. Abizard melentangkan tubuhnya di atas pasir setelah berhasil menyelamatkan Illy.


"Terima kasih ...kau kembalikan dia padaku, Tuhan." gumam Adara memeluk erat Illy.


Masih posisi memeluk Illy ia tidak sengaja melihat ke arah Mert yang tak jauh darinya begitupun dengan Mert. Tatapan mereka bertemu dan terkunci.


Bersambung ...


Terima kasih masih setia di Obsessive loves. Terima kasih poin, like dan ulasannya. Jangan lupa terus dukung ya .. Diketik di malam hari jadi abaikan bila ada typo ya.


Regards


Kirei